#BloggerHangOut Saatnya Blogger Mengisi Cawan Ilmu

Blogger HangOut

Halo Sahabat ngiringmelali….

Blogger : Mereka yang menulis di blog.

Jadi semua orang yang punya blog bisa disebut blogger dong ya.  Baiklah, berarti saya juga blogger meskipun ngisi blognya gak rutin seperti yang lain.  Makin kesini, ngeblog berkembang menjadi profesi, bukan sekedar hobi nulis atau cerita kisah sehari-hari.  Blogger sekarang menjadi salah satu garda depan bagi brand-brand tertentu untuk melakukan promosi dan campaign.  Blogger juga kerap mendapat kesempatan untuk hadir diberbagai acara yang diadakan oleh perusahaan, organisasi, bahkan instansi pemerintah.  Untuk apa? Untuk menjadi corong informasi kepada publik yang lebih luas.

Lalu apa kabar blogger curhat? Yo monggo.  Masing-masing bebas memilih dan punya segmen sendiri kok.  Tapi yang pasti, menjadi blogger adalah siap mempertanggungjawabkan semua yang ditulis dan diterbitkan.  Meskipun berupa opini dan pengalaman pribadi, kita (ehm… K.I.T.A) punya tanggung jawab yang besar terhadap apa yang tampil di blog.  Karena itu, sebisa mungkin tulislah konten positif, kabarkan berita baik, hindari provokasi dan gunakan sebaik-baiknya blog untuk memberi manfaat bagi pembaca.

Baca juga : #BloggerDay2017 Ajang Seru Temu Blogger di KWRJ

Bulan Maret  kemarin saya mendapat kesempatan untuk gabung bersama ratusan kawan blogger dalam rangka #BloggerCronyAnniversary yang ke-2.  Berlokasi di Kampoeng Wisata Rumah Joglo, Ciampea.  Bukan hanya sekedar ngumpul, kami juga mendapat banyak sekali bekal ilmu dari workshop yang berlangsung.  Bagaimana blogger, sebagai bagian dari hiruk pikuk sosial media seharusnya mengambil tempat.  Bahwa menjadi blogger bukan sekedar menulis tapi ada tanggung jawab moral yang kita emban dalam setiap kata yang tertulis.  Well, gak perlu berlama-lama, ini dia oleh-oleh ilmu yang dikemas dalam workshop bertajuk #BloggerHangOut

“Social Media VS Real World”

by Ferri Yuniardo (Founder dan Creator of Dikidi.com)

Saya agak telat mengikuti materi dari mas Ferri.  Pakai acara nyasar dulu soalnya dijalan.  Gaya sih, sok-sokan mau berangkat sendiri hehe.  Meski begitu, saat tiba,  sepertinya materi sedang seru-serunya.

“Ini kawan-kawan blogger kok serius banget ya semuanya,” begitu pikir saya

Lalu mata saya beralih ke slide demi slide yang ditampilkan, ternyata memang menarik.  Mas Ferri memberi contoh beberapa foto-foto para pelaku sosia media, antara kehidupan nyata dan postingan sosial medianya.

Blogger HangOut

Jadi ya, kehidupan di sosial media itu jangan sampai dimasukin ke hati.  Semua orang bisa berakting di media sosial. Kehidupan di sosmed itu gak nyata.  Sebagian besar isinya adalah pencitraan diri.  Contoh ada yang posting foto jalan-jalan terus, lalu beberapa kontaknya baper, padahal bisa jadi itu sebenarnya jalan-jalan sebulan atau bahkan setahun yang lalu.  Atau ada saat dimana melihat salah satu teman posting foto makan di restoran A, restoran B dan seterusnya.  Lantas kitanya ngiri. Ini salah.  Media sosial itu bukan hidup kita yang sesungguhnya, jangan sampai terbawa ke dunia nyata.  Perdebatan dan persaingan di media sosial itu tidak menggambarkan kondisi dunia nyata yang sesungguhnya.  Jadi ya, jauh-jauh deh dari baper hanya karena lihat postingan atau komentar seseorang.

Blogger HangOut
Waktu posting foto ini di media sosial, seorang teman komen, “enak bener sih jalan-jalan melulu!”
Yang dia gak tahu adalah, ini foto lama yang saya posting beberapa bulan kemudian

Pun, saat kita sedang galau atau ada masalah.  Sebaiknya hindari untuk curhat atau marah-marah dan sejenisnya di sosmed.  Meskipun bukan dunia nyata, sosmed bisa jadi menggambarkan diri kita.  Ibarat buku yang terbuka, orang akan membaca cara pandang, pergaulan dan sifat kita dari apa yang tampil di sosial media.  Hindari konten negatif yang hanya akan menjadikan kita terlihat tidak professional.  Kecuali jika memang tujuannya untuk cepat terkenal dan sudah siap dengan segala komentar yang nyinyir dan sejenisnya.

Lihatlah Awkarin, salah satu seleb sosmed yang ngehits banget tahun lalu.  Kurang apa dia dinyinyirin banyak orang.  Tak terhitung jumlah komentar yang menjelek-jelekkannya, tapi di sisi lain, jumlah followersnya terus bertambah.  Bahkan dia menjadi idola remaja masa kini, yang bisa jadi mereka adalah anak, keponakan atau tetangga kita.  Padahal dalam sudut pandang sebagian orang, kontennya negative lho, kok malah jadi idola? Iya, itulah cara dia membrandinng dirinya. Untuk apa? Banyak kemungkinana jawabannya.  Bisa jadi itu jalan untuk ceat terkenal.  Bisa jadi karena kurang perhatian.  Atau jadi jalan pintas untuk mendapatkan uang dan berbagai kemungkinan lainnya.  Tapi sekali lagi, tugas kita bukan menjudge dia, karena tetap saja kita tak tahu apa motivasi yang sesungguhnya.

Apa efek terbesar dari ramainya komentar pedas dan tulisan yang membahas Awkarin? Dia semakin terkenal.   Banyak orang yang awalnyabtidak tahu, lalu mencari tahu dan akhirnya malah turut menyebarkan kisahnya.  Tanpa sadar, sebagian besar orang justru menjadi marketing gratisan.  Katanya baper, katanya benci, katanya sebal, tapi justru turut mempopulerkan.  Nah!

Satu tips yang paling penting dari mas Ferri bahwa untuk sukses di sosial media, kita harus bisa tampil beda.  Mengemas konten dengan unik dan cantik agar mudah diingat, dicari dan tentu saja butuh kedisiplinan dari diri sendiri.  Selain itu, sebagai pegiat sosial media, jangan pelit-pelitlah untk saling memberi dukungan pada teman.  Misalnya saat butuh view, like atau retweet dan sejenisnya.  “Yang kayak gini masih kurang banget di Indonesia,” begitu kata mas Ferri.

“Orang Indonesia kadang itu masih suka egois dan gak rela liat orang lain maju.  Jadi gak heran ya kalau liat instagramer punya follower 10 ribu, tapi likenya hanya 500 misalnya.  Ya karena itu, orang kita itu susah dan pelit banget untuk saling mendukung. Padahal harusnya nggak begitu, saat kita memberi dukungan (harusnya tanpa diminta) pada konten-konten positif, kita juga sudah turut menyebarkan kebaikan, selain saling support tentu saja.” Lanjutnya.

Selanjutnya tak lupa mas Ferry mengingatkan agar kita rajin bersilaturahmi.  Bukan lewat media sosial tapi lewat acara-acara di dunia nyata.  Contohnya ya #BloggerHangout seperti ini.  Dengan begitu kita akan mendapatkan “rasa” yang nyata.  Kedekatan akan diperoleh saat bertemu langsung dan menyapa.  Bukan sekedar sumbangan jempol dalam postingan.

“Attitude Penting Ya?” Personality & Personal Branding

by Ririn Rosaline (Founder & Creator pf MOMEIRA apparel)

Blogger HangOut

Saya merasa tertohok berkali-kali saat mengikuti materi dari mbak Ririn ini.  Personal branding bagi blogger sangatlah penting karena dari personal branding kita akan dikenal sebagai pribadi seperti apa.  Sebuah refleksi tentang siapa diri kita dan apa yang kita percayai dan diekspresikan dengan apa yang kita lakukan dan bagiamana melakukannya.

Salah satu indikator keberhasilan personal branding adalah ketika orang lain mudah mengingat diri kita berdasarkan kemelekatan ciri yang kita brandingkan.  Personal branding bukan sebuah pencitraan semu yang hanya ingin menampilkan kemasan menarik saja.  Yang paling penting personal branding jangan sampai mengubah kepribadian kita dan meniru orang lain.

Blogger HangOut

Dalam Personal Branding, Attitude adalah segalanya.  Attitude itu seperti label harga.  Itu adalah nilai kita.  Makin positif attitudenya makin tinggi nilainya.  Attitude meliputi etiket, perilaku dan  pendirian.  Ada beberapa etiket dasar yang sebaiknya kita terapkan untuk meningkatkan nilai, misalnya :

  • Berkenalan dengan cara berjabat erat, eye contact dan tersenyum
  • Berbicara dengan suara rendah dan sopan (tidak berteriak)
  • Tertawa dan bercanada seperlunya (terutama pada acara formal)
  • Tidak touch up (berdandan) di sembarang tempat pada waktu yang tidak tepat
  • Tidak berbicara di telepon saat orang lain sedang berbicara. Jika terpaksa, mintalah ijin pada lawan bicara
  • Tidak datang berombongan pada acara formal, kecuali diminta
Blogger HangOut
Errr…. kalau lihat foto seperti ini, kira-kira personal branding saya seperti apa ya?

Mewujudkan personal branding bukanlah sesuatu yang instan melainkan sebuah proses panjang dan konsisten.  Akan lebih mudah jika kita menjadi unik atau berbeda dari yang lain.  Gali potensi terbaik kita lalu jadikan itu sebagai label agar orang lebih mudah mengingatnya.

Menulis Review Elegan dan Berdampak

by Anwari Natari (Editor, Trainer dan Fasilitator Bahasa dan Komunikasi)

Baca baik-baik tiap artikel yang akan kita posting.  Terutama artikel yang membutuhkan data valid, bukan sekedar terima lalu post. Kalau ada kata atau kalimat yang kurang pas atau memiliki makna yang sekiranya membingungkan, jangan ragu untuk melakukan edit.  Ini penting karena data atau informasi yang kita tuliskan itu adalah presentasi dari brand dan tentu saja blog kita.  Salah menyampaikan info, bisa fatal akibatnya.

Blogger HangOut

Usahakan menggunakan kalimat yang bermakna jelas.  Jangan sampai menimbulkan multi tafsir atau ambigu sehingga malah membingungkan pembaca.  Pun jangan juga, menulis review sebuah produk sembari menjatuhkan brand lain di bidang yang sama.  Tuliskan review secara elegan dan berimbang, tak perlu berlebihan memuji berlebihan sebuah produk seolah sempurna tanpa cela.  Fokus pada kelebihan, tanpa harus membandingkan dengan produk sejenis dari brand lain, apalagi sampai menyebutkan nama produk lawan dengan jelas.

“Ibu mau dibungkus?”

Familiar dengan pertanyaan seperti itu khan.  Iya, itu pertanyaan yang sering banget terlontar saat kita ingin berbelanja makanan, lalu penjualnya bertanya apakah pesanan kita akan dibungkus atau makan di lokasi.  Karena terbiasa, kita tidak merasakan ada yang aneh dari pertanyaan itu.  Secara alami kita menjawab iya atau tidak.  Padahal coba perhatikan kalimatnya, kok yang mau dibungkus malah si ibu (pembelinya).

“Terjadi perampokan, Polda tembak 2 pelaku.”

Ada yang menyadari keanehannya? Tepat sekali, seharusnya subjek yang melakukan penembakan adalah Polisi, bukan Polda.  Karena Polda adalah nama institusi.  Akan lebih tepat jika subjek merujuk langsung kepada personal yang melakukan aksi.

Itu baru dua contoh kalimat yang maksud dan maknanya tak sejalan.  Masih banyak lagi contoh kalimat yang diberikan mas Away malam itu.  Semua contoh sukses membuat peserta tertawa terbahak-bahak walaupun malam sudah semakin larut.  Entahlah, sebenarnya peserta mentertawai kalimat yang lucu atau baru menyadari bahwa banyak hal-hal kecil yang selama ini tak tepat namun luput dari perhatian kita.  Pas banget deh tim panitia BloggerCrony menempatkan mas Away di sesi terakhir materi malam itu.

Bonus : Belajar Nge-MC tanpa mati gaya

Blogger HangOut
Yang baju hijau itu Yozh. Gak usah lah ya diliatin wajahnya, ntar kegeeran doi :p

Sesi ini mah diluar jadwal ya.  Tapi saya tertarik banget buat menuliskannya.  Bagaimana tidak, selama dua hari mengikuti #Bloggergathering ini, sosok yang paling berperan penting menghidupkan suasana tentunya adalah pemandu acara aka MC, yang pada hari itu dibawakan oleh Yozh Aditya.  Saya yakin, semua yang hadir dalam acara itu pasti terkesan banget sama heboh dan serunya Yozh membawakan acara.  Cukup sering diminta memandu acara, saya mendadak merasa belum ada apa-apanya saat melihat bagaimana Yozh mengolah ide menjadi celetukan yang segar.  Fix, saya memang harus lebih banyak belajar.

Sampai akhirnya, sembari menunggu waktu makan siang pada hari minggu, Yozh didaulat untuk sharing tentang suka duka menjadi MC dan tips trick agar selalu punya ide-ide segar saat memandu acara.  Intinya ya memang pengalaman adalah guru terbaik.  Jam terbang menjadikan kita lebih percaya diri saat tampil di depan public.  Dan tentunya, penguasaan materi sangat penting.  Banyak membaca, banyak melihat dan banyak berlatih.  Kembali lagi, ini soal branding yang kuat dan melekat.

 

 

Nah gimana?

Menarik ya acaranya.  Bisa menjadi bagian dari komunitas yang mengajak anggotanya untuk berkembang bersama secara positif sungguh membuat saya merasa beruntung.  BloggerCrony mendapat tempat special di hati.  Semoga makin maju, makin sukses bersinergi bersama untuk pengembangan diri blogger Indonesia.

Salam

Arni

1 minggu 1 cerita

15 thoughts on “#BloggerHangOut Saatnya Blogger Mengisi Cawan Ilmu

  1. Suka poin mas Ferry tentang mengemas konten agar unik dan beda supaya mudah diingat, tapi jangan lupa disiplin dan konsisten. Kadang aku lihat banyak teman yang sebenernya sudah punya ciri khas dan unik tapi masih kurang konsisten. Jadi sayang. Padahal bisa banget dikembangkan terus. Tentang mendukung via sosmed itu juga aku setuju banget. Thanks sharingnya, Mba.

    • Iya Ges. Aku banyak belajar dari sharing di blogger hang out ini
      Mengemas konten agar unik itu masih peer banget buat aku, begitu juga dengan menulis secara konsisten. Duh manajemen waktuku masih kacau banget euy. Harus banyak belajar dan belajar terus

  2. Materinya bagis-bagus ya mbak. Senangnya bisa menimba ilmu langsung dari pemateri yg berkompeten.
    Yup, bener banget tuh mbak. Sesama blogger itu sebaiknya saling bersinergi dan support ya. Kan asyik kalau bisa sukses bersama.
    Makasih sharingnya mbak.

  3. kehidupan di sosial media itu jangan sampai dimasukin ke hati —> betooooolll

    aku masih pengen banget mbangun personal brandingku nih mbak, ngiri sama yg udah lekat personel brandingnya.

    emang kudu selau upgrade dan jaga attitude ya, makasih ilmunyaaaa, lengkap bgt tuisannya 😀

    • Iya. Bisa kumpul2 seru sambil nambah ilmu itu menyenangkan. Yuk kapan2 bareng belajarnya. Banyak kok event2 blogger yang sering diadain komunitas2 blogger

  4. Wuih acaranya gudang ilmu semua mba, sosmed kadang jadi ajang pencitraan, tapi kadang malah jadi alterego juga. Kembali ke diri masing-masih dalam memanfaatkannya. Nice share mba

    • Iya. Semua orang bisa jadi siapa dan apa saja lewat sosial media
      makanya memang kita harus bijak melihatnya, jangan mudah baperan dan ngiri liat hidup orang lain

  5. memang seru ia kalau bisa kumpul-kumpul dengan teman yang memiliki kesamaan Hoby, jadi serasa Klop banget dah … ngobrolnya sampai lupa waktu …
    apalagi kalau sudah diskusi dan saling tahu pokok materinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *