Mendadak Camping Menikmati Debur Curug Cihurang

Curug Cihurang Gunung Bunder

Yeaaaay…. kali ini ngiring melali kembali dengan keseruan camping keluarga kecil kami.  Camping selalu jadi kegiatan favorit dan menyenangkan buat kami untuk sekedar melepas penat dari rutinitas harian.  Menjauh dari kebisingan kota dan mengisi paru-paru dengan udara segar pohon pinus yang menjulang tinggi di pegunungan.

Pilihan camping kali ini adalah di Curug Cihurang.  Berada di Gunung Bunder, Kec. Pamijahan, Kab. Bogor, lokasinya masih berada dalam kawasan Taman Nasional Halimun – Salak yang  wilayahnya sangat luas ini.  Jadi memang di kawasan taman nasional ini, tersedia banyak sekali spot-spot cantik untuk mendirikan tenda dan menikmati keindahan alam.  Ke camping ground Sukamantri sudah sering, kali ini kami ingin mencoba lokasi baru.

Curug Cihurang Gunung Bunder

Baca juga : Camping Ceria di Sukamantri

Sebenarnya sih ini terhitung mendadak camping ya.  Awalnya berencana keluar kota buat mengisi libur panjang lebaran.  Tapi lihat berita dan info teman-teman, macetnya gak nahan.  Ajakan camping ini sudah sejak seminggu sebelumnya tapi kami belum ngasi keputusan ikut atau tidak.  Nah, jumat malam pukul 8 baru deh oke. Cuss packing.  Sabtu pagi angkut tenda dan container.

Jalanan menuju lokasi terhitung mulus dan lancar, mungkin karena kami kesana sehari sebelum lebaran, saat sebagian besar penghuni Bogor sudah mudik ke kampung halaman masing-masing.  Maklum, jalurnya melintasi kampus IPB Darmaga, yang mana tentu saja penghuni sekitarnya adalah mahasiswa yang mana saat jelang Idul Fitri juga menikmati libur panjang bersama keluarganya masing-masing.

Sekitar 1 jam waktu tempuh, kami sudah tiba di gerbang Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.  Suasana relatif sepi.   Hanya tampak beberapa orang petugas di pos jagawana taman nasional.  Salutlah paa para petugas ini, kala orang-orang sedang sibuk bersiap untuk malam takbiran, mereka begitu setia menjalankan tugas jagawana ini.

Sejujurnya, sejak awal perjalanan, kami belum tahu lokasi tepat untuk campingnya.  Hanya berbekal info bahwa sepanjang kawasan ini terdapat banyak curug yang disekitarnya tersedia camping ground.  Disambut jajaran hutan pinus, kaca mobil langsung kami buka lebar-lebar.  Rasanya rugi kalau masih mengandalkan AC di tempat sesejuk ini.  Segar banget.  Dari balik hutan pinus, di sisi kanan, kami melihat petunjuk jalan menuju sebuah curug yang tampaknya berada di bawah lokasi kami melintas.  Hmm… lewati dululah, coba cari lokasi yang lebih nyaman dan tak begitu terjal.

Melewati beberapa kelok, terlihat papan nama Curug Cihurang yang sepertinya menarik untuk disinggahi.  Tampak aroma kehidupan disini yang ditandai banyaknya warung-warung milik warga sekitar.  Sepertinya lokasi ini cukup menarik.  Bang Patar yang menjadi ketua rombongan kami turun dan melihat-liat lokasi.  Sip.  Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sini.  Hanya kami, tiga keluarga yang camping saat itu.

Berkejaran dengan Hujan

Cukup banyak pilihan camping ground di kawasan ini.  Mulai dari yang terdekat dengan area parkir,  tanah lapang di tepi sungai, area datar dekat curug atau area datar dan luas di sisi atas.  Dengan berbagai pertimbangan seperti jarak dari area parkir (ini penting, karena khan bakalan bolak balik ngangkut barang dari mobil), letak toilet dan jarak dengan curug, kami memilih mendirikan tenda di area lapang yang berada ditengah-tengah, dengan gemericik aliran sungai dari curug tepat berada di sebelah lokasi kami.  Ah, belum apa-apa saya sudah jatuh cinta.

Curug Cihurang Gunung Bunder

Curug Cihurang Gunung Bunder
Aliran Sungai dari Curug. Tepat di samping tenda kami

Mendung tebal tampak menggelayut di angkasa, gelegar geluduk juga mulai bersahut-sahutan.  Seolah menggoda kami yang terlalu asyik menikmati suasana hingga belum mendirikan tenda.  Bahkan sempat galau antara makan siang terlebih dahulu atau memasang tenda.  Padahal hujan tak akan memberi ampun, dia akan turun begitu saja ketika sudah tiba waktunya.  Untung saja edisi galau ini tak lama, gegas kami menyadari bahwa langit telah mengirim sinyal lewat beberapa titik air yang membelai kulit.  Semacam perlombaan, kami membuka lipatan tenda, menarik tali, merakit lengkungan dan memasang patok.  Berlanjut dengan menata barang agar tak sampai kehujanan nantinya.  Ngebut.

Curug Cihurang Gunung Bunder

Fyuuuh…  keputusan tepat.  Hanya sesaat setelah tiga tenda berbaris rapi, gerimis hadir sebagai musik alami membasahi kain tenda.  Saatnya makan siang yang sudah super kesiangan.  Tapi tak apa, ini jauh lebih baik daripada kami makan siang lebih dulu sementara tenda belum berdiri.  Pasti bakalan kuyup deh.  Seru juga menikmati makan siang ditemani gerimis ini.  Terasa romantis.

Maksud hati, setelah makan siang kami siap mengeksplore wilayah sekitar.  Mumpung masih terang.  Apa daya alam tampaknya menyuruh kami beristirahat saja.  Hujan turun makin deras.  Jadi, semua kembali ke tenda masing-masing, bobo siang.  Baru kali ini kami camping lengkap dengan tidur siang.  Haha.  Asyik juga nih.  Meski begitu,sempat terbersit was-was dalam hati.  Hujan ini lumayan deras, takut tendanya tak cukup kuat menahan, lalu bocor.  Untungnya kekhawatiran itu tak terjadi.  Sekitar pukul 3 sore hujan akhirnya berhenti dan tenda kami tetap aman.

Bermain Air di Curug Cihurang

Salah satu alasan jatuh cinta pada lokasi ini adalah curug yang hanya berjarak sepelemparan batu saja dari tenda.  Bahkan saat kami berada di dalam tenda, debur air dari curug terdengar sangat jelas.  Apalagi setelah hujan tadi, aliran airnya juga turut menjadi lebih deras.  Angin dingin mulai berhembus, membawa pesan untuk bersiap dengan baju hangat malam nanti.  Rasanya tak sabar ingin ke Curug, tapi kami menahan diri, hujan deras baru saja turun, bisa jadi aliran air deras itu membawa aneka material dari atas sana, tunggu sebentar lagilah sembari menanti anak-anak bangun dari tidur siangnya.

http://www.ngiringmelali.com/2016/11/08/camping-ceria-di-sukamantri/
Cebar Cebur Ceria

Sore menjelang, kamipun beranjak ke Curug.  Aih airnya dingin sekali.  Baru menyentuh dengan ujung jari saja rasanya seperti membeku di sekujur tubuh. Ehk.. oke ini agak lebay.  Tapi beneran, airnya super duper dingin.  Ditambah lagi tubuh yang memang belum beradaptasi karena baru bangun tidur, belum banyak gerak.  Brrr.. rasanya ingin bergelung dalam selimut saja kalau sudah begini.

Tapi rugi dong ah, udah kesini lantas gak nyemplung. Dan akhirnya byuuuur.  Satu persatu nekat turun ke dalam kolam alami yang terbentuk di bawah Curug.  “Ini dingin sekali ibu!” kata Prema sembari mendekap saya dengan tubuh gemetaran.  Bolak balik bilang dingin.  Bolak balik juga kami berendam, berdiam di bawah curahan air terjun.  Lha ini piye. Katanya dingin, tapi malah ketagihan.  Ndak konsisten!

Curug Cihurang Gunung Bunder
Memilih menuju curug dengan susur sungai, padahal jalan setapak tepat diatasnya

Terlanjur suka. Meski kedinginan, acara main air ini tak cukup sekali.  Keesokan harinya, sebelum beranjak pulang, kami kembali kecipak kecipuk di Curug.  Karena hanya kami, tiga keluarga yang camping saat itu, Curug ini serasa milik pribadi.  Puas banget deh.  Padahal, menurut penduduk setempat yang menyambut kami kemarin, lokasi ini adalah salah satu tempat favorit untuk camping, sehingga saat libur panjang atau akhir pekan, biasanya sangat ramai dan penuh. Sepertinya kami datang pada tempat dan waktu yang tepat.

Hangatkan Malam dengan Api Unggun

Inilah nikmatnya camping, yang tak didapatkan sensasinya bila liburan di hotel atau tempat wisata lainnya tanpa menginap.  Dengan Rp. 50.000,- kami mendapatkan setumpuk kayu yang siap menghangatkan malam.  Untungnya hujan sudah usai, tanah lapang juga tak menyimpan air terlalu banyak, sehingga kayu-kayu kering dapat menyala dengan sempurna.

Curug Cihurang Gunung Bunder

Usai sembahyang, makan malam dan jelajah hutan,  sementara emak-emak beberes perkakas makan, para bapak dan anak-anak mempersiapkan api unggun, di area kosong depan tenda. Saatnya pindah lokasi.  Cemilan, kompor, kopi, susu bergeser ke dekat api unggun.  Kebersamaan seperti ini yang selelu membuat hati merindu.  Bercengkerama bersama.  Ada gelak tawa.  Ada cinta.  Ada suka.  Ada bahagia.  Melihat anak-anak bermain, menikmati alam. Suara gitar dengan lagu-lagu yang tak pernah tuntas, karena tak hapal lirik.  Tapi itulah seninya.  Lalu saya kangen. Pengen lagi dan lagi.

Malam Sunyi dan Gigil

Berada di ketinggian 850 mdpl, tak heran bila malam terasa begitu dingin.  Baju hangat, kaos kaki, sarung tangan, kupluk menjadi perlengkapan wajib yang tak boleh terlupakan.  Kalau tidak, bersiap-siaplah meringkuk kedinginan.

Kami beranjak tidur sekitar pukul 11 malam.  Sunyi sekali.  Penduduk sekitar juga sepertinya tak ada di warung.  Mereka kembali ke rumah masing-masing.  Menggelar takbir, menyambut Idul Fitri esok hari.  Hanya ada suara-suara hewan malam dan gemericik air sungai.  Saat-saat seperti ini, sepenuhnya berserah diri pada Yang Kuasa, agar kami aman, terlindungi dan bangun esok hari dalam keadaan sehat selamat tak kurang suatu apa. Kembali ke  alam selalu membuat diri tepekur.  Menyadari betapa kecil diri ini di tengah belantara semesta maha luas.

Pagi Cerah Ceria Penuh Senyuman

Satu lagi yang selalu membuat saya mencintai aktivitas ini adalah ritual menyambut suasana pagi.  Ada rasa yang tak bisa diungkapkan, kala terbangun dipagi hari, disambut cicit burung dari pepohonan, membuka pintu tenda dan menghirup udara segar dalam-dalam.  Melangkah keluar lalu berteriak kencang

“SELAMAT PAGIIIII…..!!!”

Ritual pagi yang selalu memanggil untuk diulang.  Dan kali ini lengkap dengan bonus gemericik air.  Menyiapkan sarapan, anak-anak bermain bebas di tanah lapang, para bapak menemani.  Tak ada krang kring telepon.  Lepas dari sosial media.  Jauh dari obrolan grup-grup WA.  Gadget hanya digunakan untuk mengabadikan momen, memotret, merekam.  Itupun sesekali saja.  Lebih banyak ngumpet di dalam tas.  Indah sekali.  Saya bahagia.

Curug Cihurang Gunung Bunder
Masak-masak juga tetap eksis
Curug Cihurang Gunung Bunder
Berlayarlah perahuku
Curug Cihurang Gunung Bunder
Bapake tugas cuci piring

Begitulah.

Sesekali dalam hidup kita perlu  menjauh dari rutinitas pekerjaan.  Sesekali dalam hidup kita perlu memberi ruang pada diri untuk menikmati alam tanpa terganggu bising kendaraan, asap knalpot atau suara gadget.  Sesekali dalam hidup kita perlu melepaskan diri dari obrolan berat.  Cukup nikmati kebersamaan.  Dengan cinta.  Dan bahagia.

Salam

Arni

Rute menuju Curug Cihurang :

Bila anda membawa kendaraan pribadi, melewati tol bogor lingkar luar (exit tol sentul city, ke kanan masuk tol BORR), keluar via jalan baru, lanjut arah yasmin, dan belok ke arah Dramaga bogor, lurus terus sampai melewati pasar ciampea dan gerbang IPB Dramaga.  Sekitar 5 km dari IPB Dramaga,  setelah alfamart, ada pertigaan ambil arah ke kiri menuju Centhini/Gunung bunder (cek google maps klo takut nyasar).

 

 

32 thoughts on “Mendadak Camping Menikmati Debur Curug Cihurang

  1. Ya Allah aku pingin banget kemping di dekat sungai seperti itu mbak. Mana tempatnya lapang, bersoh, sejuk, asri pula. Tapi udaranya dingin ya. Brrr….ga kuat aku. Paling ga mandi hihi. Mbak Arni rajin kemping. Aku belum pernah nih kemping begini huhu. Api unggunan kayak gitu kan romantis…

    Catet ah rutenya. Siapa tahu suatu hari pingin cobain kayak mbak Arni.

    • Mbak Rien mah mainannya glamping
      Klo aku masih demen yang tenda-tendaan gini
      Ou soal dingin aku juga sebenarnya gak kuat, makanya ini pakai baju berlapis-lapis. Lengkap sama kaos kaki dan sarung tangan

    • Kalau jaman di Kendari karena daerahnya deket pantai, memang seringnya aku camping deket pantai. Seru juga
      Nah ini di Bogor, pantainya jauuuuuuh. Wis lah nikmati curug-curug aja deh hehe

  2. Pengen ikut main airnya di sungai jadinya..
    camping nya juga pengen sih tp belum berani..soalnya pengalaman terakhir camping pas ospek kuliah malah KO sakit karena tempatnya dingin ×_× huhu..

    • Main airnya itu memang asik banget. Apalagi kalau suasananya gak terlalu rame. Serasa milik pribadi deh
      Ayo mbak kapan-kapan cobain camping, seru banget lho

  3. Pengen banget ajak anak2 kemping2 gtu mbak 😀
    Ngebayangin ngajakin mereka mandi di sungai pasti bakalan seneng 😀
    Kalau masak2 berarti bawa bahan sendiri atau di sana ada tukang sayur ya? hehe
    TFS yaaa, kapan2 ajakin kesono 😛

  4. Jadi ingat pas zaman ikutan pencinta alam di SMA aku diajak menyusuri sungai juga, mana arusnya derass banget. menegangkan tapi seruuu. suka ama kalimat terakhirnya, bikin pengin ikutan camping kapan-kapan nanti.

  5. Serunyaaa, di Semarang juga ada tempat camping yg asyik namanya Umbul Sidomukti. Belum pernah coba camping di sana siih tp kalo liat poto2nya kaya seru hihii

  6. Kegiatan di alam seperti outbond atau kemah seperti ini memang selalu seru. Ada rasa bahagia gimanaaa gitu. memang bikin ketagihan.

    Cerita yang seru mbak, akupun ikut bersyukur bisa sering main ke alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *