Sepenggal Kisah di Balik Layar Festival Dongeng Internasional Indonesia 2017

Festival Dongeng 2017

“Kak, kok pakai celemek sih? Itu khan biasanya dipakai mama dan mbak di dapur pas mau masak,” seorang anak berwajah imut menggemaskan bertanya  polos saat saya bertemu dengannya di depan panggung utama festival dongeng 4 dan 5 November lalu.

Saya tersenyum. Menatap mata indahnya sembari memikirkan jawaban yang pas.  Kalau dijawab karena biayanya lebih murah daripada bikin kaos seragam yang butuh 2 pcs untuk masing-masing penjaga mimpi, kok kayaknya kurang asik ya #ups #ampunKakAio

“Kalau di dapur, sebelum memasak mama pakai bumbu ndak?”

“Iya dong, biar masakannya enak!”

“Nah itu dia! Kakak panitia disini semua pakai celemek karena kami akan meracik bumbu.  Namanya ramuan ajaib untuk menghasilkan cerita ajaib.  Makanya harus pakai celemek, supaya baju kakak-kakak penjaga mimpi gak kotor kena ramuan.  Nih, lihat semua celemeknya punya kantong ajaib.  Didalamnya ada banyaaaaaaak bahan-bahan  yang akan menjadi cerita ajaib,”

“Coba lihat ada apa di kantong kakak…,” katanya kepo sembari mengintip isi kantong apron yang saya pakai.

Alamak! Dia penasaran.  Mati aku!

Untungnya memang di kantong apronku waktu itu ada bermacam benda.  Pulpen, list panitia, HP, sapu tangan dan boneka kelelawar dari kaos kaki.  Fyuuuuh. Khusus yang terakhir, kebetulan banget Prema  menitipkannya ke saya, baru beli di salah satu stand bazaar di lantai 3. Haha. Amaaaan.

Berlagak ala-ala penyihir, saya mengucap sim salabim abrakadara dan mengeluarkan aneka barang itu satu persatu.  Mengarang bebas ini untuk apa, itu untuk apa.  Matanya berbinar.  Dia tertawa riang.  Sampai kemudian ibunya mengajak beranjak menonton pentas dongeng di panggung utama.

Legaaaa.  Udah hampir mati gaya aja rasanya.  Satu yang saya sesali, gak ngajak adik manis itu foto wefie.  Lha piye jal, boro-boro mikir foto,  mikirin jawaban aja saya udah keringat dingin. Hahaha.

Festival Dongeng 2017

Para Penjaga Mimpi

Dalam setiap gelaran, tentunya ada tangan-tangan kreatif, imajinasi yang berkembang dan ide yang tercurah untuk mensukseskannya.  Di festival dongeng, mereka disebut para penjaga mimpi.

Festival Dongeng 2017
Seminggu sebelum hari H
Foto. Tim Dokumentasi

Kenapa penjaga mimpi?

Errr… saya juga tak tahu pasti.  Tapi, dalam bayangan saya karena setiap kita punya mimpi.  Mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia (Nidji).  Semua berawal dari mimpi.  Mimpi mengajak kita berkelana membayangkan keindahan, kebahagiaan dan kesuksesan.  Mimpi yang indah kemudian membawa kita bergerak untuk mewujudkannya.  Mengantarkan anak-anak dengan cerita kebaikan, sarat pesan moral dan  perdamaian adalah perjalanan menuju bahagia dan penuh gelak tawa.  Anak-anak yang bahagia kelak akan meraih mimpi dengan cara yang baik, jujur dan damai.  Jadi apalagi kata yang tepat untuk para relawan di balik layar ini selain penjaga mimpi?

Festival Dongeng 2017
Latihan Tim Energizer. Foto Anazkia

Jauh sebelum hari H, ada tim relawan yang sudah bekerja keras.  Tim acara merancang susunan acara, panggung, merencanakan setiap detiail dengan cermat.  Para pendongeng berlatih untuk menampilkan yang terbaik.  Tim administrasi dan kesekretariatan mencatat setiap kebutuhan, membuat list ini itu dan seterusnya.  Ada pula tim energizer yang tentu saja tak bisa ujug-ujug memeriahkan acara tanpa latihan.  Perlu waktu untuk menghapal lagu dan menyelaraskan gerakan agar bisa membangkitkan semangat para penonton.

Festival Dongeng 2017
Bagi-bagi tugas ya tim
Foto. Anazkia
Festival Dongeng 2017
Jangan kerja melulu. Narsis dulu yuk. Foto Tim Dokumentasi

Lalu ada LO, pendamping para pendongeng dan pengisi acara.  Mereka adalah orang dibalik layar yang memastikan kebutuhan para penampil siap sedia.  Menjalin komunikasi sebaik mungkin agar semua berjalan baik.  Menjadi penyambung lidah antara penampil dengan panitia lainnya, antara penampil dengan media maupun dengan para penonton.

Festival dongeng
Sebagian tim LO yang selalu siaga.
Foto Ari Wibowo
Festival DOngeng
Ketika yang lain tepar, ada lho  yang tetep sadar kamera ckckck.
Foto Ari Wibowo

Tak ketinggalan tentunya tim sponsorship.  Adalah orang-orang gigih yang tak henti berusaha mencari dukungan untuk suksesnya acara.  Audensi dan presentasi dari satu tempat ke tempat lainnya.  Karena memang, gelaran ini butuh dana yang tak sedikit, butuh dukungan penuh dari banyak pihak.

Festival Dongeng 2017
Yuk catat yang rapi ya, Kak. Foto Anazkia
Festival Dongeng
Kakak-kakak MC yang kece dan siap memeriahkan acara. Foto : Kak Bonchie

Kemudian ada orang-orang dibalik layar setiap panggung.  Yang memastikan semua berjalan lancar. Sound system, properti dan semua yang tampil sebisa mungkin adalah yang terbaik.  Bekerja tanpa terlihat *pssst… bukan tak kasat mata lho ya*

Festival Dongeng 2017
Tim dongeng idola nih. Foto tim dokumentasi

Oh jangan lupa, ada tim dokumentasi yang bekerja keras merekam setiap kegiatan lewat lensa kamera.  Ada tim konsumsi yang dari balik layar mengatur agar semua tetap bekerja tanpa lapar.  “Lo klo lapar, Rese!” Begitu kata iklan.  Jangan sampai ada yang kejadian begitu ya.  Makanya kudu kenyang semua haha.

Ups… hampir saja lupa ada tim registrasi yang kelabakan diserbu pengunjung pada hari H.  Mereka ini harus benar-benar hapal setiap detil acara.  Jam berapa, tiket berapa, di ruang mana.  Ada tim media juga yang menjadi corong informasi kepada khalayak.

Festival Dongeng 2017
Eaaaa ada bocah-bocah nyempil. Foto Ahmad amin

Kalau kata Anazkia, salah satu penjaga mimpi, “setiap divisi punya panggungnya masing-masing.  Cukup lakukan yang terbaik saja.”

Apakah mereka semua dibayar?

Iya dong.  Hari gini lho, tak ada yang gratis.  Pipis di toilet umum ada bayar Rp. 2000,- kok.  Tapi Para penjaga mimpi bayarannya beda.  Semua dipersatukan oleh ikatan dan rasa yang sama.  Mencintai dunia anak-anak.  Itu sudah cukup.  Karena bayaran terbesarnya adalah melihat senyum tulus di wajah polos.  Lelah mungkin, tapi bahagia.

Festival Dongeng 2017
Briefing hari kedua. Foto Anazkia
Festival Dongeng 2017
Bagian paling mengharukan. Kalian keluarga barukuuuu #peluk
Foto. Anazkia

Semua divisi bersinergi satu sama lain.  Menjaga ritme agar semua berjalan baik.  Oh oke, mungkin ada beberapa gesekan kecil dalam perjalanannya.  Ini wajar tentu saja.  Melibatkan ratusan orang untuk satu tujuan, dengan berjuta gagasannya masing-masing tentu bukan hal mudah.  Ada hati yang harus berlapang menerima perbedaan.  Ada kepala yang harus tetap dingin untuk setiap masalah.  Ada tangan yang siap terbentang memberi pelukan untuk mendukung satu sama lain.  Kita semua berproses untuk menjadi baik dari hari ke hari.  Kata orang bijak, itu namanya proses pendewasaan.

Katakan, " Saya Suka Dongeeeeeng!"
Katakan, ” Saya Suka Dongeeeeeng!”

Baca juga : Bahagia bersama Ngulik Dongeng

Ketika Saya Menjadi Bagian Penjaga Mimpi

Saya ‘berkenalan’ dengan Festival Dongeng Internasional Indonesia (FDII) sejak 2015.  Waktu itu, kebetulan Prema ikutan tour kampung Betawi di Setu Babakan.  Ternyata, di hari yang sama adalah pre opening FDII 2015 yang diselenggarakan oleh Ayo Dongeng Indonesia (AyoDI).  Jadi, usai tour kami tak langsung pulang.  Nonton dongeng dulu hingga sore.  Dari sini kami mendapat info bahwa minggu berikutnya, event FDII akan digelar di Museum Nasional.  Tak mau ketinggalan, Prema juga kami ajak ke sana, nonton aneka dongeng seru dari para pendongeng internasional dan nasional.  Kami langsung jatuh cinta.  Sampai-sampai di minggu selanjutnya, saat piknik dongeng di Kebun Raya Bogor, kami juga memutuskan untuk datang.

Baca juga : Prema dan Panggung Festival Dongeng Internasional Indonesia

Sejak saat itu, saya melangitkan mimpi, “suatu hari ingiiiiiin sekali bergabung dalam kegiatan-kegiatan seperti ini.”  Ada bahagia yang tak bisa diucap dengan kata-kata melihat wajah polos anak-anak yang tergelak gembira saat mendengar cerita.  Ada haru membuncah melihat mereka berlomba-lomba mengacungkan tangan menjawab pertanyaan.  Pesan-pesan kebaikan itu memang selayaknya disampaikan dengan cara yang baik, seru, lucu sesuai jiwa anak-anak. Sebenarnya sih, ini juga yang kami terapkan di Pasraman, tempat saya berinteraksi setiap minggu dengan para siswa.  Bercerita, bermain, bernyanyi dan belajar dengan cara yang menyenangkan.  Tapi tetap saja, saya menggenggam erat mimpi itu, meniupkannya bersama angin, menuju bintang-bintang agar kelak dia jatuh sebagai tetesan yang membuatnya jadi nyata.

https://itsmearni.wordpress.com/2015/11/02/prema-dan-panggung-festival-dongeng-indonesia/
Maaf. Saya narsis dulu ya

FDII 2016, sayang sekali bentrok dengan event lain sehingga saya tak bisa gabung.  Mimpi itu baru membuka jalannya di tahun ini.  Ya, akhirnya saya bisa menjadi bagian event luar biasa ini.  Saya terlibat di dua event yaitu FDII di Perpustakaan Naional dan Festival Dongeng Kota Hujan (FDKH) di Bogor sepekan kemudian.  Di divisi berbeda.  Yang semuanya penuh warna dan memperkaya ruang pikir.

Festival Dongeng 2017
Tim Energizer FDKH 2017

Saya sadar sepenuhnya, saya belum menjadi penjaga mimpi yang baik.  Saya belum seperti kawan-kawan lain yang rutin hadir rapat panitia, yang jauh bekerja sebelum hari H.  Saya baru benar-benar bisa hadir menjelang event berlangsung.  Berkali-kali pertemuan digelar, selalu saja saya berhalangan hadir karena adanya kegiatan lain.  Maafkan saya yang tak sempurna atas salah kata dan sikap selama dua hari penuh kebersamaan kita.

Baca juga : Peluk erat mimpimu, Tuhan akan buka jalannya

Aku Senang Kamu Senang Semua Senang

Masih terus terngiang di benak salah satu soundtrack utama gelaran ini.   Mengambil tema “Cerita Ajaib” dongeng-dongeng dihadirkan sungguh memperkaya ruang imajinasi.  Tentang peri-peri cantik yang membawa pesan kebaikan, tentang persahabatan, tentang hewan-hewan lucu, para kurcaci dan lain-lain. Saya merasa terbawa suasana berada di negeri dongeng.

Saat gelaran berakhir, entah kenapa dada saya sesak.  Ada haru menyeruak, melihat wajah-wajah lelah yang telah bekerja keras.  Pelukan hangat saat berpisah, semoga bukan pertemuan terakhir.  Gelaran festival memang telah usai.  Tapi berada di frekuensi yang sama untuk menjaga mimpi, semoga kita dipertemukan dalam kesempatan yang lain, merawat bahagia di hati tunas bangsa.  Terimakasih AyoDI.  Terimakasih kakak-kakak hebat.  Kalian istimewa.

Semoga kita semua diberi kesehatan dan umur panjang.  Sampai bertemu kembali di FDII 2018 untuk berbagi “Kisah Bahagia”

Dan seperti lirik penutup dalam lagu ini

Semua bilang senang (Senang)

Semua bilang senang (Senang)

Aku senang Kamu senang semua senang

Aku senang kamu senang semua senang

 

Salam Dongeng

Arni

 

 

 

 

25 thoughts on “Sepenggal Kisah di Balik Layar Festival Dongeng Internasional Indonesia 2017

  1. Wah…seru. Mendongeng itu sulit kata saya. Ikut kelas dongeng anak. Belum dapat ide sampai sekarang…hiks…
    Selamat ya…sukses acaranya…Ikut senang…

    • Iya Kak seruuuu banget
      Saya juga belum bisa mendongeng dengan baik
      Mencuri perhatian anak-anak itu tak mudah
      Masih harus banyak belajar
      Makasi udah mampir yaaaaaa

  2. Terbayang betapa serunya gelaran FDII ini, Mbak. Orang-orang kreatif berkumpul untuk menciptakan dan menyajikan dongeng-dongeng indah untuk anak-anak.. Dan mbak Arni menjadi bagian di dalamnya. Sungguh keren! Prema pasti semakin bangga sama mamanya 🙂

    • Aku sih hanya tim hore-hore aja mbak
      Relawan lainnya jauuuuh lebih keren dan luar biasa
      Aku takjub melihat bagaiaman mereka bekerja, benar-benar mencurahkan segenap jiwa raga deh pokoknya. Aku, hanya remahan rengginang di kaleng kong ghuan hahahha

    • Masih ada tahun depan, tahun depannya dan seterusnya mbak
      Masih banyak kesempatan untuk bergabung 🙂
      Saya juga masih belajar terus ini, pengen bisa mendongeng sekeren kakak-kakak pendongeng yang tampil di FDII ini

  3. Ya Allaaah.. Seru bangeet! Mendongeng itu gak mudah. Kudu punya imajinasi dan kreatif. Aku selalu salut ama yang pinter dongeng.

    Btw itu jawaban spontannya tentang celemek cerdas banget!

    • Hahahaha itu sebenarnya udah sempet mati gaya akunya. Habisnya khan gak lucu kalau aku jawab “gak tau” atau “memang udah seragam panitia” atau apalah yang serius gitu
      Pas yang terlintas jawaban begitu doang. Untung si adik bisa nerima dan ketawa-ketawa lucu hahaha

  4. Ooo jadi itu cerita di balik celemek wkwkwkwk 😛
    Seru banget eventnya, sayang belum bisa ajak ank2 ke sana krn bentrok ada acara2 lain.
    Semoga acara2 berikutnya bisa ikutan, kabar2i ya mbak hehe 😀

    • Karena anak-anak adalah pemimpi dengan imajinasi tanpa batas. Berwajah polos tapi membayangkan keindahan dan kebahagiaan
      Penjaga mimpi mah tinggal memfasilitasi aja
      Makasi ya Bunda Fathan

  5. Ah menyenangkan sekali. Aku selalu suka saat dulu guru TKku mendongeng. Mereka bikin TV dari kardus, dan lembaran2an dongengnya mereka gambar di kertas yang ditempel sehingga menjadi panjang. Untuk berdonger mereka menarik kertas2 itu sehingga gambarnya bergerak.

    Jadi keinget masa kecil.

    • Senangnyaaaa punya kenangan indah begitu ya, Yan
      Dan aku yakin dirimu pasti bercita-cita pengen jadi Ayah yang siap bercerita seru0seruan kalau punya anak nanti, iya khan?

  6. hwaaaa nyesel deh gak jadi bisa dateng ke acara ini, pdhl udh niat. waktu itu ternyata ada acara di sekolah anakku. hiks. semoga bisa bergabung di festival dongeng lainnya, sptnya seru sekali. Shalom dan Glow pasti hepi deh ikutan ini…

    • Yang terdekat ada dongeng kejutan lho mbak Sabtu besok di Taman Suropati Jakarta. Tribute to Pak Raden, sebagai bapak dongeng Indonesia. Siapa tau lagi lowong jadi bisa hadir

    • Iya mbak. Akupun menyukai frasa ini. BUkan sekedar menjaga mimpi adik-adik kecil tapi juga melambungkan mimpi2ku ke tempat terindah agar kelak terwujud nyata
      Makasi udah mampir mbak Nik

  7. seru banget yaa. saya juga sempat ke FDII hari terakhir dan sesi terakhiiir bgt di panggung utama 😂 itu aja udah seneng banget, berasa jadi anak-anak lagi hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *