Air Terjun Moramo Surga Tersembunyi di Sulawesi Tenggara

Air Terjun Moramo

Suara sutil beradu dengan wajan sudah terdengar sejak subuh di dapur rumah masa kecil saya, di Kendari.  Nini (ibu mertua saya) bersama Dewi, ART di rumah kami sedang membuat bekal untuk perjalanan kami hari ini.  Kami akan berwisata menuju Konawe Selatan, mengunjungi Air Terjun Moramo cantik yang terletak di ujung Desa Sumbersari, Moramo.   Prema dan dua adik sepupunya, Rama dan Galih tampak bersemangat.  Kami memang akan berangkat dalam rombongan keluarga besar. Keluarga Bogor, keluarga adik saya, Bapak dan Ibu ditambah mertua saya yang datang dari Bali.

Baca juga : Yang Baru di Tahun Baru

Dari Kota Kendari, kita akan menempuh perjalanan sekitar 2 jam.  Mengitari sebagian sisi Teluk Kendari, melewati pantai Nambo (salah satu tujuan wisata kota Kendari), melintasi Tanjung Tiram dan tentu saja menyusuri jalan berkelok berupa pantai, hutan dan gunung yang pemandangannya memanjakan mata.

Wah ada banyak kapal!” Prema berseru saat melihat jajaran kapan nelayan dari balik kaca mobil

Itu gunungnya kenapa dibegituin, bu?” Tanyanya saat melihat gunung yang sudah porak poranda akibat pertambangan batu dan marmer.

Sedih sebenarnya melihat gunung yang tadinya berupa belantara hijau menjadi seperti itu.  Tapi begitulah, alam menyediakan, kadangkala manusia yang merusaknya tanpa ampun, demi sebuah ambisi bernama “kebutuhan”.  Ingin tiba lebih cepat, saya tak sempat mengambil gambar, cukup disimpan dalam benak bahwa inilah rekam jejak ambisi manusia.

Kami kemudian memasuki wilayah Moramo.  Kecamatan dengan banyak desa yang penduduknya 80% adalah pendatang dari Jawa dan Bali.  Dulu, puluhan tahun yang lalu, mereka didatangkan oleh pemerintah melalui program transmigrasi.  Mengolah lahan sebagai petani, tak sedikit yang mengukir kisah sukses. Moramo bahkan dikenal sebagai daerah penghasil sayur mayur dan buah-buahan.  Ya, mereka yang merantau rata-rata sangat ulet berusaha.  Pantang menyerah sebelum sukses.  Di lokasi-lokasi seperti ini, kerukunan masyarakatnya baik sekali.  Pura, Masjid, Gereja dan Vihara berdiri megah menyambut umatnya masing-masing.  Tak ada yang saling mengusik ketenangan beribadah.

Hari sudah menjelang siang ketika kami memasuki kawasan Hutan Suaka Alam Tanjung Peropa.  Hutan alami dengan pohon-pohon hijau segar menjulang tinggi menyambut kedatangan kami dan menawarkan udara segar memenuhi rongga pernafasan.  Setelah membeli tiket masuk Rp. 30.000,-/mobil dan memarkir kendaraan, perjalanan menuju Air Terjun Moramo dilanjutkan dengan berjalan kaki melintasi jalan setapak.  Agak mendaki, kadang bertemu undakan, akar pohon melintang dan beberapa pohon tumbang.  Dengan iringan gemericik air  sungai, aliran dari air terjun di sisi atas.

Sudah lama sekali saya tak menginjakkan kaki ke kawasan ini.  Seingat saya terakhir ke sini sekitar 20 tahun lalu, menemani seorang kawan dari Norwegia yang sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Indonesia.  Meski begitu, ternyata tak banyak yang berubah.  Saya yang sudah puluhan tahun tak kesini, samar-samar masih mengenali setiap sudutnya.  Kecantikan alaminya masih begitu memesona dan terjaga.  Diam-diam saya bersyukur melihat kondisi ini.  Lokasinya yang tersembunyi di dalam, butuh usaha untuk mencapainya.  Tak banyak sentuhan tangan-tangan jahil seperti di beberapa kawasan wisata alam yang pernah saya datangi.

Di sisi lain, sepertinya pemerintah setempat baru mulai menaruh perhatian untuk mengembangkannya.  Ada perbaikan jalan dan jalur menuju ke Moramo.  Dulu, setiap mau ke Moramo artinya sudah harus siap berguncang sepanjang jalan, karena memang jalanan tanah dan berbatu.  Berdebu tebal saat kemarau, berubah menjadi bubur lumpur yang lengket dan licin saat musim hujan.  Sekarang, hampir sepanjang jalan sudah beraspal mulus.  Perjalanan terasa lebih nyaman dan cepat.

Air Terjun Moramo
Pintu Gerbang Kawasan Air Terjun

Menuju  Puncak Air Terjun Moramo

Menempuh jalan setapak sejauh 1,2 km ini kami lalui sekitar 1 jam.  Berjalan santai, berkali-kali berhenti.  Bukan sekedar melepas lelah, tapi memang pemandangan sepanjang jalan begitu memanjakan mata.  Rasanya sepanjang jalan ingin mengambil gambar.  Laguna-laguna kecil dan bertingkat tampak memikat.  Jembatan kayu tua sederhana saja bisa tampak begitu artistik di tempat seperti ini.  Bahkan sekedar pohon tumbang, daun tua, kulit kayu rasanya semua layak menjadi obyek foto.  Ini baru di perjalanan, belum sampai ke puncak.  Tak heran, saat turun koleksi foto kami mencapai ratusan. Haha.

Air Terjun Moramo
Yuk siap-siap mendaki 1,2 km
Air Terjun Moramo
Spot cantik yang sayang untuk dilewatkan

Setelah melewati jalan setapak, pendakian terakhir menuju puncak adalah meniti tangga yang cukup curam, sekitar 70 anak tangga.  Saya melangitkan doa banyak-banyak agar kuat mendaki, malu atuh sama Kakek, Mbah dan Nini yang juga ikut serta dalam rombongan kami.  Masa iya saya kalah sama beliau-beliau yang  sudah senior.

Air Terjun Moramo
Laguna-laguna cantik seperti ini dapat kita temui sepanjang jalan

Tiba di puncak (err… sebenarnya belum benar-benar puncak sih, ini hanya area dengan dataran yang paling luas) lelah mendaki langsung terbayar dengan pemandangan luar biasa indah. Benar-benar surge tersembunyi.  Beberapa  pengunjung yang sudah lebih dulu tiba tampak sudah berenang di beberapa kolam.  Saking luasnya area air terjun ini, pengunjung bebas memilih mau berenang dimana,  mengeksplorasi sisi yang mana atau sekedar berjalan-jalan mendaki tiap tingkat airan air.  Jika membawa anak-anak,  tetap awasi mereka karena dasar kolam tak bisa ditebak kedalamannya.  Sebagian berdasar batu kapur namun ada juga yang berupa lumpur berpasir.

Air Terjun Moramo
Air Terjun Moramo yang bertingkat-tingkat

Air Terjun Moramo

Air Terjun Moramo merupakan air terjun bertingkat (cascade) dengan ketinggian sekitar 100 meter.  Terdiri dari 7 tingkat utama dan puluhan tingkat kecil yang membentuk laguna-laguna (kolam) cantik.  Setiap tingkatan terbentuk dari batu kapur yang mengeras dan dialiri air setiap lapisannya.  Aman dilintasi bahkan oleh anak-anak sekalipun karena aliran air terus menerus menyebabkan bebatuan ini sekat, tidak licin, terhindar dari lumut.  Jadi, kalau mau nyaman melangkah, pijaklah batu yang dialiri air.

Air terjun moramo
Sebelum berenang, makan dulu yaaaa

“Wow air terjunnya bagus sekali…!” Prema berseru takjub saat mencapai puncak.  “Ini lebih besar dan lebih banyak daripada yang di Bogor,” Katanya lagi

“Prema suka?”

“Sukaaaa sekali.  Prema mau berenang ya, bu!”

“Oke.  Tapi harus makan dulu sebelum berenang.  Biar gak kedinginan.”

Saya mensyaratkan Prema makan terlebih dahulu karena memang sejak pagi perutnya nyaris kosong.  Usai sarapan sebelum berangkat, tiba-tiba Prema muntah.  Sejak pagi dia memang mengeluh agak tak nyaman dengan perutnya.  Selain itu, makan dan minum terlebih dahulu juga sekaligus mengistirahatkan raga yang berpeluh basah setelah mendaki.

Baca juga : Camping seru di Curug Cihurang

Usai makan, tak sabar rasanya kami nyebur ke kolam.  Di mulai dari kolam yang  terluas dan agak dangkal.  Prema dan Rama (keponakan saya) ceria sekali.  Berenang di kolam, menikmati shower  alami air terjun, menjelajah tiap tingkatan, mendaki, berseluncur.

Air Terjun Moramo

Air terjun Moramo

Air terjun Moramo

Tak perlu ragu basah-basahan disini.  Tersedia toilet untuk MCK kok.  Ada petugas yang menjaga dan siap membersihkan.  Cukup Rp 3.000 saja.  Tersedia pula balai-balai sederhana untuk menyimpan barang, menggelar tikar atau sekedar duduk-duduk bercengkerama bersama rombongan.  Fasilitasnya memang sederhana tapi lumayanlah untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.  Mungkin saat-saat liburan panjang atau akhir pekan harus agak sedikit bersabar dan mengantri.  Saat berkunjung ke sini, sebaiknya membawa bekal makan dan minum yang cukup.  Belum ada pedagang apapun di lokasi.  Pedagang hanya ada di sekitar area parkir kendaraan, sedangkan di atas hanya ada pengunjung dengan hamparan makanannya masing-masing. Timbang  ngiler lihat bekal tetangga, bawa sendiri ya :p

Air terjun Moramo
Makin ke atas makin cantik

Air terjun Moramo

Air Terjun Moramo
Ayo Prema…. Semangat!

Air Terjun Moramo

Puas bermain air, kami bersiap untuk kembali.  Perjalanan turun terasa sedikit lebih mudah, meskipun beban bawaan tetap sama.  Kalau saat naik selain berat di medan pendakian, juga berat membawa bekal makan dan minum.  Nah, saat turun berbeda.  Makanan dan minuman sudah terkuras masuk perut, tapi beban beratnya berganti pada pakaian basah yang digunakan untuk mandi tadi.  Lumayanlah naik turun selain latihan otot kaki dan paha, lengan dan bahu juga ikut latihan.

Air terjun Moramo
Kakek, Galih, Mbah dan Nini. Kesayangaaaan
Air Terjun Moramo
Sebelum pulang, narsis lagi ah

Menikmati Sajian Segar Pelepas Dahaga

Di Desa Sumbersari ini sebagian besar penduduknya adalah transmigran dari Bali.  Salah satu desa binaan saat Bapak saya masih aktif sebagai PNS di Departemen Agama (sekarang bapak sudah pensiun), jadi ya memang sebagian besar warganya kenal Bapak.  Saat di parkiran mobil tadi, beberapa orang mengenali Bapak dan sampailah berita itu ke warga lainnya.  Jadi, sewaktu menikmati air terjun Bapak menerima telepon yang mengundang kami untuk mampir sejenak.  Ou, kalau sudah begini, gak enak deh jadinya kalau kami bablas pulang.

Rejeki memang gak kemana.  Suguhan es buah menanti.  Tempat kami mampir ini, tuan rumahnya dulu saat bersekolah di kota Kendari, tinggal tepat dibelakang rumah kami.  Puluhan tahun lalu, jaman saya dan adik masih piyik.  Jadilah obrolan yang tercipta adalah nostalgia.  Segala kenangan dan rahasia kenakalan masa kecil kami terkuak di sini.  Tinggal suamiku dan istri adik aja deh jadinya yang senyam senyum dan geleng-geleng kepala mendengar cerita badungnya kami di masa lalu.

Siapa mau es buah?
Siapa mau es buah?

Bukan hanya es buah, kalau sudah mampir ke rumah warga kayak begini, serasa ngerampok kebun orang deh.  Pulang-pulang mobil kami penuh dengan aneka buah dan sayur hasil panen.  Mulai dari mangga, ubi manis, pisang, kacang panjang, labu dan lain-lain.  Duh ini mah namanya mindahin isi kebun orang.  Ditolak gak enak, diterima malah enak.  Gak boleh nolak rejeki khan ya.

Senja Cantik dalam Perjalanan Pulang

Hari sudah sore ketika kami berpamitan dari rumah warga.  Artinya kami akan melewatkan senja di perjalanan.  Prema, yang seharian asyik bermain  dan berenang sudah tertidur kelelahan.  Sayapun sudah bersiap memejamkan mata ketika suami tiba-tiba berseru, “Bu, lihat deh viewnya cantik sekali,”

Mendengar kalimat itu, saya langsung on.  Melempar pandangan keluar kaca mobil dan terpana.

Wow!

Air Terjun Moramo

Moramo

moramo

Benar kata Suami.  Ini cantik sekali.  Lukisan alam terbentang indah di hadapan.  Jalanan berkelok yang akan kami lintasi, dilapisi oleh kabut (atau awan?) yang seolah turun perlahan dari balik gunung.  Bersatu dengan bias mentari di sela pepohonan.  Ah, untung saya belum tertidur.  Sayang banget kalau pemandangan seperti ini sampai terlewatkan.

Sungguh, perjalanan hari ini ditutup dengan manis.  Berkunjung ke tempat indah, menikmati suguhan alam, dalam derai tawa dan canda penuh cinta bersama tim terbaik sedunia, keluarga.

Perjalanan, bukanlah sekedar sejauh mana kaki melangkah. Tapi tentang mengukir cerita terbaik bersama tim terbaik.  Buat saya, tim terbaik adalah keluarga.  Ini tentang menabung kenangan.  Untuk kisah manis di masa depan.

 

Salam

Arni

 

14 thoughts on “Air Terjun Moramo Surga Tersembunyi di Sulawesi Tenggara

  1. Sekarang debit airnya sudah jauh berkurang mi MakPrem, tapi lebih banyak dibanding terakhir sa ke sana. Waktu itu juga ada jembatan putus, sepertinya sudah diperbaiki. Syukurlah kalau pemda mulai membenahi air terjun terkenalnya Kendari itu. Hehe

  2. Salah satu propinsi di Indonesia yang belum pernah aku datangi. Baru tahu kalo di Kendari banyak transmigran dari Bali. Masih hijau dan alami air terjunnya. Aih, seru juga jadi prema. Punya beberapa kota untuk mudik.

  3. wonderful Indonesia….
    Seru banget punya kesempatan kesana ya mba.
    Pengen suatu waktu nanti menjelajahi pulau Sulawesi, apa teh sebutannya??

  4. Aku langsung naksir ama air terjunnya, bertingkat-tingkat gitu jadi kalo mandi di bawahnya nggak langsung kena curahan air yang kenceng kayak di air terjun pada umumnya.

  5. Wah cantiknya, jadi pingin ke sana. Tapi budget berangkat ke sulawesi tenggara itu yang bikin cenut2 hehehe 😀

    Kalau boleh tahu, ntuk penerbangan ke kendari untuk sekeluarga waktu itu alokasi dana-nya sekitar berapa mbak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *