Menapak Jejak Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan Cirebon

Butir-butir gerimis menyambut kami saat turun dari bus.  Mengiringi langkah-langkah kami yang berlari kecil menuju loket pembelian tiket.  Untuk masuk area Keraton,  harga tiket untuk pelajar 10 ribu, umum 15 ribu dan wisatawan mancanegara 20 ribu. Termasuk murah untuk tempat wisata yang didalamnya terdapat banyak pengetahuan sejarah.  Kami mendapatkan harga khusus, Karena datang dalam rombongan besar.  Selain tiket, petugas juga menawarkan jasa pemandu wisata yang akan mengantar perjalanan kami menyusuri area keraton yang cukup luas. Tarifnya sukarela, gak ada patokan di loket tiket.

Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling.  Di samping loket tiket, tampak penjual souvenir menjajakan dagangannya.  Batik-batik dengan motif khas Cirebon tampak melambai tertiup angin seolah menggoda pengunjung untuk membelinya.  Khas Wisata Indonesia, selalu ada sajian souvenir penanda daerah, sebagai kenang-kenangan saat kembali ke tempat asal. Tepat di depan Keraton Kasepuhan, terdapat alun-alun Kota Cirebon.  Pada zaman dahulu, alun-alun ini bernama Sangkala Buana yang dijadikan tempat latihan keprajuritan yang dilakukan setiap hari Sabtu (Saptonan).  Selain itu, alun-alun ini juga difungsikan untuk melaksanakan berbagai macam hukuman bagi rakyat yang melanggar peraturan.

Di sekitar area parkir, terdapat dua pendopo, yang sayangnya tampak kurang terawat.  Di sebelah barat disebut Pancaratna yang dulunya menjadi tempat berkumpulnya para punggawa keraton.  Sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti yang merupakan tempat para perwira keraton untuk menyaksikan sesi latihan keprajuritan di alun-alun.

eraton Kasepuhan Cirebon

Saat melewati Candi Bentar, saya serasa memasuki lorong waktu.  Hingar bingar kendaraan dan pedagang di belakang sana langsung terasa menjauh.  Tembok bata merah berlumut yang mengelilingi kawasan keraton ini seolah bercerita tentang usianya yang tua.  Sembari mendengarkan paparan pemandu, saya membayangkan adegan-adegan yang mungkin tercipta, seperti saat menonton film-film kolosal yang mengangkat kisah kerajaan Indonesia.

Sejarah Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan Cirebon
Silsilah Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan terdiri dari dua komplek bangunan bersejarah yaitu Dalem Agung Pakungwati yang didirikan pada tahun 1430 M oleh Pangeran Cakrabuana dan komplek keraton Pakungwati sekarang disebut keraton Kasepuhan  didirikan pada tahun 1529 M oleh Pangeran Mas Zainul Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta Sunan Gunung Jati pada tahun 1506. Sebutan Pakungwati merupakan nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati yang kemudian wafat pada tahun 1549.  Namanya kemudian diabadikan menjadi nama keraton Pakungwati yang saat ini dikenal sebagai Keraton Kasepuhan (Wikipedia)

Keraton Kasepuhan Cirebon
Kalimat pengingat diri

Setelah melewati pemeriksaan, beriringan kami melintasi Candi Bentar (pintu gerbang) menuju area yang disebut Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-hari disebut juga lemah duwur yaitu tanah yang tinggi.  Dari pemandu, kami mendapatkan informasi tentang bangunan-bangunan yang terdapat di sini yaitu Mande Malang Semirang (tempat duduk Sultan), Mande Pandawa Lima (tempat para pengawal), Mande Semar Tinandu (untuk penasehat Sultan), Mande Pengiring (untuk para pengiring) dan Mande Karasemen (tempat penabuh gamelan).  Hingga saat ini, Mande Karasemen masih digunakan untuk membunyikan Gamelan Sekaten (Gong Sekati) yang dilakukan 2 kali setahun yaitu saat Idul Fitri dan Idul Adha.

eraton Kasepuhan Cirebon
Area Siti Inggil

Akulturasi budaya Hindu dan Islam sangat kental terasa di Kraton Kasepuhan ini.  Penyebutan nama tahun dalam beberapa bangunan, merujuk pada tahun Saka.  Penamaan beberapa bangunan juga sebagian besar menggunakan bahasa Sanskerta.  Selain 5 bangunan yang terdapat di Siti Inggil, juga terdapat semacam tugu batu bernama Lingga Yoni yang dalam kepercayaan Hindu dipercaya sebagai lambang kesuburan.  Lingga berarti laki-laki dan Yoni berarti perempuan.  Kebetulan kunjungan saya saat itu bareng dengan keluarga besar Pura Angkasa Amertha Dharma Jati, jadi beberapa penjelasan yang diberikan oleh pemandu cukup akrab dengan keseharian kami, termasuk tentang Lingga Yoni ini.

eraton Kasepuhan Cirebon
Lingga Yoni

Tak jauh dari lingga yoni, terdapat gerbang pembatas yang disebut Regol Pengada, melintasinya berarti kita menuju area Tajug Agung (mesjid agung).  Terdapat bangunan mesjid dengan halaman luas dan berpembatas pagar yang masih digunakan untuk kegiatan ibadah hingga saat ini.

Keraton Kasepuhan Cirebon
Mesjid yang masih berfungsi hingga kini

Hujan turun semakin deras saat kami beranjak menuju area utama Keraton Kasepuhan. Dari area Tajug Agung, kita akan melewati gerbang besar berpintu yang jika dibuka tutup akan berbunyi, sehingga dikenal sebagai pintu gledeg (guntur).  Terdapat beberapa bangunan dalam area ini antara lain :

Keraton Kasepuhan Cirebon
Taman Dewandaru

Taman Dewandaru : Taman berbetuk lingkaran yang ditumbuhi pohon dewandaru.  Dalam tradisi Hindu, pohon dewandaru biasa menjadi tempat pertapaan para Rsi untuk mendapatkan berkah dari Dewa Siwa.  Sedangkan dalam perspektif Cirebon, Taman Dewandaru yang berbentuk lingkaran berarti secara keseluruhan tak terputus sebagai pengingat agar manusia selalu dijalan kebaikan.  Selain itu, di taman ini juga terdapat pohon soko (lambang suka hati), dua patung macan putih (lambang kerajaan Pajajaran) dan sepasang meriam yang diberi nama Ki Santomo dan Nyi Santoni.

Tugu Manunggal : Batu berukuran pendek

Lunjuk : Yaitu bangunan di sebelah tugu manunggal yang berfungsi untuk mencatat dan mendata keperluan orang yang akan menghadap raja.  Kalau jaman sekarang, lunjuk ini semacam pos satpam dan customer service kali ya.

Sri Manganti : terdapat di sebelah Lunjuk.  Berfungsi sebagai ruang tunggu bagi mereka yang akan menghadap Raja.

Keraton Kasepuhan Cirebon
Bangunan induk Keraton Kasepuhan Cirebon

Bangunan induk keraton :  Sebagai bangunan utama, di sini adalah tempat Sultan melakukan kegiatan kesultanan.  Saat ini ditempati oleh keturunan Sultan. Didalamnya terdapat beberapa ruangan yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.  Sayang, kami tak bisa masuk.  Harus cukup puas hanya dengan mengintip dari jendela yang terbuka.

Keraton Kasepuhan Cirebon
Museum Pusaka Kasepuhan Cirebon

Museum Pusaka : Gedung yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda pusaka dan bersejarah milik Kraton Kasepuhan Cirebon.  Gedung ini baru diremikan oleh Presiden Joko Widodo pada 18 September 2017.  Berkunjung ke dalam museum akan mempertemukan kita dengan banyak koleksi kerajaan seperti aneka keris, keramik cina, dan benda-benda pusaka lainnya.

Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan Cirebon

eraton Kasepuhan Cirebon

eraton Kasepuhan Cirebon
Beberapa koleksi Museum Pusaka

Koleksi yang paling menarik perhatian di Museum Pusaka adalah Kereta Kencana Singa Barong, dibuat pada abad ke-15 sebagai lambang persahabatan 4 negara. Keraton Kasepuhan memang memiliki hubungan baik dengan bangsa-bangsa lain diantaranya India, Cina dan Mesir.  Bentuknya unik, dengan kepala naga berbelalai gajah, dilengkapi sayap naga pada kedua sisinya.  Untuk menjalankannya, kereta Singa Barong ditarik oleh 4 ekor kuda putih.  Pada bagian belalai, terdapat trisula.  Dalam ajaran Hindu, trisula adalah senjata Dewa Siwa.  Trisula dengan tiga pucuknya melambangkan cipta, rasa dan karsa manusia. Kereta Singa Barong juga tampak indah dan mewah dengan lapisan serbuk emas dan intan pada tubuh kereta.

Keraton Kasepuhan Cirebon

Ditetapkan sebagai salah satu kereta tercantik di dunia oleh UNESCO, kereta Singa Barong juga memiliki keistimewaan dengan rodanya yang bisa berputar hingga 90 derajat sehingga memudahkan untuk bergerak dan berbelok.  Saat ini, kereta Singa Barong sudah tidak diperkenankan untuk digunakan.  Sebagai penggantinya, dibuat replika kereta kencana namun tetap saja tak bisa sama persis dengan kereta aslinya.

Menuju Dalem Agung Pakungwati

Mengarah ke kiri dari Keraton, kita diajak melintas pintu kecil, menyusuri jalan setapak dan halaman luas menuju area Dalem Agung Pakungwati.  Di halaman luas yang mirip taman tersebut terdapat bangunan megah yang disebut Bangsal Pagelaran.  Dulunya, bangsal ini digunakan sebagai tempat pementasan kesenian berupa tari-tarian dan hiburan lainnya bagi keluarga kerajaan.  Pun demikian saat digelar Festival Keraton Nusantara, bangsal yang masih tampak kokoh meski berusia tua ini digunakan untuk keperluan yang sama.

Keraton Kasepuhan Cirebon
Jalan setapak menuju lokasi sumur

Melintasi jalan setapak, dibalik tembok bata menanti kejutan berikutnya.  Area 7 sumur dengan keistmewaannya masing-masing.  Terdapat Sumur Agung, Sumur Kejayaan, Sumur Upas (Soka) Sumur Tujuh ini merupakan peninggalan Pangeran Cakrabuana yang dibangun pada tahun 1430, kemudian dilanjutkan oleh Sunan Gunung Jati.  Di antara semua sumur, yang paling terkenal adalah Sumur Agung dan Sumur Kejayaan.  Banyak orang yang sengaja datang untuk sekedar mencuci muka, meminum atau bahkan membawanya pulang.

“Air sumur hanya media saja, berdoa tetap kepada Tuhan,” demikian kata bapak penjaga sumur saat kami berkunjung ke sana

Keraton Kasepuhan Cirebon
Sumur Kejayaan yang hanya boleh dimasuki oleh laki-laki
Keraton Kasepuhan Cirebon
Cuci muka dengan air sumur Agung. Airnya dingiiin dan segar

Air sumur ini tak pernah kering, meski di musim kemarau panjang sekalipun.  Permukaan airnya juga tak pernah meluap walaupun hujan terus menerus.  Selalu sama sejak dulu.  Padahal kedalaman sumur tergolong dangkal jika dibandingkan dengan sumur-sumur rumah tangga pada umumnya.

Cirebon, Kota Sejarah Penuh Cerita

Hanya beberapa jam saja di Keraton Kasepuhan membuat saya langsung jatuh cinta pada kisah masa lalunya yang memukau.  Keraton Kasepuhan Cirebon menunjukkan bagaimana budaya, agama, suku dan latarbelakang yang berbeda bisa berdampingan seiring sejalan.  Persahabatan antar negara sudah terjalin baik di masa lalu.  Tanpa harus saling menguasai satu sama lain, tanpa harus mengobarkan perang dan penjajahan.

Sayangnya, waktu terus berjalan. Meski masih ingin berlama-lama, kami harus beranjak menuju destinasi berikutnya. Akan saya ceritakan satu persatu di tulisan selanjutnya.  Banyak tempat menarik yang bisa dieksplore di Cirebon, pun demikian dengan kulinernya yang siap menggoyang lidah. Tentunya sehari saja tak cukup buat menikmati kota kecil dengan sejuta kisah ini.  Jadi, kalau kalian ke Cirebon sempatkanlah menginap agar lebih puas dan tak perlu membawa pulang rasa penasaran. Nginapnya dimana, ikuti tips traveling saya yuks!

Mau traveling? Pastikan Akomodasimu Aman Terkendali

Kalau saya sih, karena seringnya traveling bersama keluarga, lebih senang memastikan semua kebutuhan di lokasi yang dituju sudah siap sebelum berangkat.  Agar tak riweuh di lokasi.  Mulai dari tiket pesawat/kereta api sampai dengan hotel tempat menginap.  Nah, untuk kebutuhan ini saya percayakan pada Pegipegi saja.

Pegipegi

Misalnya untuk ke Cirebon, kalau berangkat dari Jakarta enaknya naik kereta api saja.  Stasiun Cirebon adanya di tengah kota, kok.  Cukup strategis dan memudahkan perjalanan menuju destinasi wisatanya.  Pun demikian dengan penginapan.  Tersedia cukup banyak pilihan hotel.  Pegipegi  memiliki rekomendasi brand hotel ternama yang tak diragukan lagi kualitasnya antara lain Aston, Wezt, Harris, Fave dan lain-lain.

Pegipegi

Mengapa Pegipegi? Pssst… sini saya bisikin rahasianya :

Kemudahan Pembayaran

Banyak pilihan metode pembayaran.  Transfer, kartu kredit, internet banking, cicilan bahkan bisa bayar di swalayan.

Diskon dan Promo

Pegipegi selalu memberikan harga spesial buat para konsumennya.  Masih ditambah dengan promo-promo lainnya yang tak kalah menggoda

PepePoin

Kalau kita sudah pernah transaksi via Pegipegi, maka kita akan mendapatkan Pepepoin yang dapat digunakan sebagai potongan harga pada transaksi berikutnya

Best Price Guarantee

Jaminan langsung dari Pegipegi bahwa kita akan mendapatkan harga trbaik saat pemesanan

Dengan empat keistimewaan itu, gak ragu lagi deh saat traveling.  Sebelum berangkat, semua sudah siap.  Tinggal packing lalu cuss angkat koper.  Kemudian menikmati liburan.  Mau wisata pantai, gunung atau sejarah, silakan pilih sesuai selera.  Jangan lupa ajak saya ya.

Jadi, kapan kita ke mana?

 

Salam

Arni

18 thoughts on “Menapak Jejak Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon

  1. Padahal Cirebon itu deket ya, dan aku pengen banget ke sana, cuma ntah kenapa belum terlaksana terus hahaha, baca tulisan & liat poto-potonya tentang keraton kasepuhan bikin mupeng, kayaknya harus nih diagendakan mengunjungi Cirebon bareng keluarga 😀

  2. Jadi inget hampir saja jalan bareng Raisa aka Tari ke Cirebon kalo jadwal pas. Aku kenal Cirebon ini dari salah satu pegawai ayah yang istrinya asli orang sana. Dalam otakku itu Cirebon = udang hahaha gak kepikir ada destinasi wisata kece kayak gini.

    Kapan-kapan maulah main ke sini mbak 🙂

  3. Waaah, Keraton Kasepuhaaan.. Aku pernah browsing dan baca-baca, sejarahnya cukup menarik, Kak. Terutama kisah Sunan Gunung Jati. Dan saya penasaran sendiri pengen ke sana.

    Baca tulisan Mbak Arni jadi pengen segera ke sana.. Lihat foto2 di sini artistik sekali suasananya

  4. Aku tuh sudah dari kapan tau pengen banget mampir ke Cirebon dan eksplor cirebon. Mulai dari main ke goa sampai ke keraton.
    Cuma yah masih maju mundur gitu hahaha. Mikirin ntar nginep nggak yah, atau one day aja.

    Nexttime mau nyobain pegi pegi buat order hotel ah.

  5. Ketauan banget nih niatnya bener2 untuk eksplorasi sejarah keraton sampai detail dan hapal menceritakannya kembali, kalau Saya belum tentu masih ingat Karena kebanyakan narsis hehe

  6. Sumur Kejayaan hanya boleh dimasuki laki-laki. Waktu aku ke sana, boleh sih ngintip-ngintip saja dari luar. Jadi membayangkan para pangeran tampan dulu duduk di bale-balenya 🙂

  7. Aku kok ya ke Cirebon seringnya ‘hanya lewat’ hihihi kasian banget belum menjejakkan kaki ke sana. Padahal tempat wisatanya menarik ya seperti diceritain sama mbak Arni 🙂 Mau ajak anak2 ah ke sini pas liburan sekolah nanti. Biar mereka tau sejarah keraton kasepuhan Cirebon.

  8. Aku udah 2x ke Keraton Kasepuhan, dan masih belum bosen. Selalu senang kalau bisa bolak balik Cirebon itu. Sayang, nemuin partner yang ga bosen diajak ke sini susah.
    Untung belum pernah sama suami, sepertinya ada alasan untuk ke sini lagi bareng dia.

  9. Ya ampun, aku dari sejak kapan pengen ke sini cuma wacana doang. Padahal dekat Jakarta. letaknya pinggir jalan rayakah? Kok mbak bilang sebelum masuk candi bentar banyak suara kendaraan lalu-lalang. Iya emang ke sana lebih mudah naik kereta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *