Intip Jakarta Malam Dari Puncak Monas, Cantik Lho!

Monas

Enaknya ke mana ya sore ini?  Mumpung udah kadung di Jakarta nih,” Tanya Pak Suami saat kami dalam perjalanan menjemput Gita, keponakan saya dari Kendari yang kebetulan sedang ada kegiatan kampus di Jakarta

“Ke Monas aja yuk, Bu.  Prema pengen lihat air mancur menari.  Waktu itu khan pas kita ke sana, air mancurnya lagi mati,” samber Prema dari bangku belakang

Wah, rupanya Prema masih penasaran sama air mancur menari di Monas.  Sudah dua kali kami ke sana untuk menonton pertunjukannya, dan dua kali pula kami kecewa karena ternyata air mancurnya sedang tidak menyala.  Yang pertama, karena hujan.  Yang kedua, karena bertepatan dengan bulan puasa, sehingga selama sebulan, atraksi air mancur dihentikan sementara.

Kami tiba di Monas sekitar pukul 17.30 WIB.  Rame sekali di sana.  Pengunjung Monas sore itu tumpah ruah.  Cuaca sedang cerah.  Tampak anak-anak berlarian dengan gembira, keluarga yang piknik di beberapa sudut, kawanan anak muda bersenda gurau, pasangan yang bergandeng tangan dan lain-lain.  Saya menangkap aura bahagia terpancar dari wajah para pengunjung.

Muter-muter dengan GOWES Bike

“Prema mau naik sepeda!” Cah bagus langsung menarik tangan saya dan minta naik sepeda begitu melihat jajaran sepeda tepat di depan pintu masuk

Saya celingak celinguk mencari tahu petugas yang ngurusin sepda-sepeda ini.  Maksud hati pengen nyewain satu buat Prema.  Ndilalah, ternyata sepeda-sepeda ini gratis lho.  Bebas dipakai oleh pengunjung.  Caranya juga mudah, cukup unduh aplikasi “Gowes” dari Playstore lalu melakukan registrasi dengan melengkapi data diri sesuai permintaan.

Setelah itu, kita akan otomatis masuk ke aplikasi.  Terintegrasi dengan peta digital, kita akan mengetahui lokasi tempat kita berada dan terminal sepeda terdekat dari lokasi kita.  Secara keselurunan ada 100 unit sepeda gratis yang tersebar di 7 titik peminjaman sepeda di seputar Monas.

Monas
Sepedaan yuk…!

Dari sini, kita akan terhubung dengan sepeda yang direkomendasikan melalui QR Code yang siap dipindai via aplikasi yang ada di smartphone kita.  Pilih “unlock” lalu pindari QR Code hingga gembok terbuka.  Sepeda siap digunakan buat ngider-ngider di Monas.  Mudah khan?

Prema seneng banget deh ketemu sepeda ini.  Puas bener dia muter-muter bersepeda, kebetulan sore itu Monas cukup ramai pengunjung dan banyak yang berwisata dengan sepeda.  Makin senang deh Cah bagus.

Setelah pakai, jangan lupa balikin sepedanya ya.  Gak harus di tempat asal kok, boleh kembalikan di terminal sepeda terdekat.  Cukup taruh sepeda di terminal dan secara otomatis sepeda akan terkunci kembali seperti semula. Mudah, praktis dan tentunya gratis.

Mengenal Monas Lebih Dekat

Monas

Tujuan utama ke Monas adalah menonton air mancur menari.  Saya kemudian menghampiri petugas untuk menanyakan jam pertunjukan.  Dan lagi-lagi kami harus kecewa, untuk ketiga kalinya.  Rupanya air mancur sedang dalam perbaikan, sehingga masih ditutup untuk sementara.  Hiks… belum jodoh.

Trus ngapain dong?

Hey, kenapa kita gak naik ke puncak Monas aja?

Pas banget, tepat di tempat kami berdiri ternyata menjadi stasiun pemberhentian mobil wisata dalam kawasan Monas.  Mobil ini bertugas mengantar jemput pengunjung yang naik ke Puncak Monas. Dengan mobil ini, pengunjung akan diantarkan langsung ke depan pintu masuk menuju loket pembelian tiket ke puncak.  Saya langsung menuju loket, membeli 2 tiket dewasa @ Rp. 20.000,- dan 2 tiket pelajar @10.000,-

Saat membeli tiket, kami diberi tahu akan mendapat giliran naik sekitar pukul 21.00 karena antrian yang panjang.  Ya sudahlah tak apa,  selagi menunggu kami bisa mengisi waktu dengan makan malam, mengunjungi museum dan bersantai sejenak dari teras di atas museum.

Monas
Lorong panjang menuju gate tapping ticket

Untuk menuju lift ke puncak, pengunjung harus melintasi lorong panjang sebelum kemudian bertemu taman-taman cantik dengan lukisan timbul di dindingnya yang bercerita tentang para tokoh pewayangan dan sejarah perjuangan Indonesia.  Lalu kita akan memasuki ruangan Museum Sejarah Indonesia dari masa pra sejarah hingga masa kemerdekaan.  Terdapat 51 diorama yang sangat menarik, dilengkapi dengan informasi peristiwa dibaliknya. Seperti biasa, Prema selalu paling betah membaca dan menikmati diorama sejarah, apalagi kebetulan materi pelajaran di Sekolahnya tak jauh-jauh dari sini.

Monas
Prema, kakak Gita dan ruangan museum
Monas
Beberapa diorama dalam Museum Sejarah Indonesia

Teman-teman semua pasti sudah tak asing lagi dengan Monas.  Tapi seberapa sering kalian ke sini? Seberapa banyak yang kita ketahui tentang icon kebanggaan Indonesia ini? Errr… jujur saja, saya termasuk gak banyak tahu lho.  Hanya sekedar tahu bahwa Monas itu Monumen Nasional yang dibangun di masa pemerintah Presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Pembangunan Tugu Monas dimulai pada bulan Agustus 1959, di desain oleh Friedrich Silaban, arsitek yang sama dengan Mesjid  Istiqlal.  Tugu Monas  diresmikan pada 17 Agustus 1961 oleh Presiden Ir. Soekarno.  Seiring berjalannya waktu, Tugu Monas kemudian mulai dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975.

Memiliki tinggi 132 m, Tugu Monas menjulang tepat di jantung ibukota dengan pucuknya berupa mahkota api  dilapisi emas yang melambangkan semangat perjuangan bangsa Indonesia.  Emas ini merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang saudagar dari Nanggroe Aceh Darusalam seberat 28 kg.  Saat awal dibangun, berat emas di puncak monas ini adalah 35 kg yang kemudian dilengkapi hingga mencapai 50 kg pada tahun 1995, tepat saat HUT Kemerdekaan RI ke-50.

Bentuk Monas sesungguhnya melambangkan lingga dan yoni, sangat lekat dengan kepercayaan Hindu.  Lingga adalah tiang menjulang yang melambangkan kesuburan dan keperkasaan lelaki dan yoni adalah landasannya,  melambangkan sisi perempuan yang feminin.  Ide bentuk Monas ini adalah usulan Presiden Soekarno.  Versi lain, ada yang mengatakan bentuk Monas mewakili alu dan lesung, alat untuk menumbuk padi.  Apapun itu, saya rasa semangatnya sama, yaitu tentang kesuburan, kemakmuran, keberlangsungan dan kejayaan Indonesia.

Ukuran Monas mewakili tanggal kemerdekaan RI, yaitu tinggi pelataran cawan dari dasar 17 meter, rentang tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 meter (diukur 3m dari bawah tanah + 5m tangga menuju dasar cawan).  Sedangakan luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar adalah 45 x 45 meter.  Luar biasa ya para pendahulu kita, memikirkan hingga sedetail ini.  Tugas kita adalah merawat dan menjaganya sebagai peninggalan sejarah yang berharga.

Saat naik tangga menuju pelataran, sebenarnya ada satu jalur lagi menuju ruang kemerdekaan yang berbentuk amphitheater.  Sayang kami datang sudah malam,jadi gak sempat main-main ke sini.  Katanya, di bagian ini terdapat simbol kenegaraan RI antara lain naskah asli proklamasi, bendera pusaka, lambang negara Indonesia, peta kepulau NKRI yang berlapis emas dan dinding besar bertuliskan naskah proklamasi kemerdekaan RI.  Selain itu, pengunjung juga dapat mendengarkan lagu Padamu Negeri yang dilanjutkan rekaman suara Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi yang berasal dari pintu Gerbang Kemerdekaan yang terbuat dari perunggu seberat 4 ton, berlapis emas dengan ukiran bunga wijaya dan teratai.

Aih saya penasaran.  Kalau ke Monas lagi lain waktu, harus nih masuk ke ruang kemerdekaan.

Menuju Puncak Monas

Kami menyempatkan diri makan malam terlebih dahulu, biar gak kelaparan saat naik.  Nahan lapar itu berat, biar Dilan saja.  Setelah itu kami naik ke pelataran, menunggu giliran naik sesuai nomor antrian.

Akhirnya giliran kami datang juga.  Untuk ke puncak, kita harus naik lift yang menampung 11 orang dalam sekali angkut.  Angin malam menyambut kedatangan kami begitu pintu lift terbuka di puncak.  Wow, kami berada di ketinggian 130-an meter.  Di tengah langit Jakarta, dikelilingi gedung-gedung pencakar langit yang nampak di kejauhan dengan pendar lampunya yang indah.

Intip Jakarta dari puncak Monas via teropong
Intip Jakarta dari puncak Monas via teropong

Di tiap sudut pelataran, tersedia teropong yang bisa digunakan oleh pengunjung secara bergantian.  Jangan egois ya, harus antri dan bergantian.  Dari teropong ini, kita bisa melihat panorama kota Jakarta kala malam.  Satu sisi memperlihatkan Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang tampak berdiri megah dengan damai, sisi Tenggara menunjukkan Stasiun Kereta Gambir, Barat laut memperlihatkan Istana Negara dan gedung MA, lalu sisi lainnya memperlihatkan komplek KeMenhan, Museum Nasional, Kemenkominfo, Kemenhub dan Mahkamah Konstitusi.

Monas
Bangunan dengan lampu hijau itu Stasiun Gambir
Monas
Yang bersinar itu kubah Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral
Monas
Istana Negara di bawah sana

Monas

Monas
Perpustakaan Nasional tampak megah di bawah sana

Jakarta malam tampak cantik.  Saya bersyukur naik saat malam dan akhir pekan, dan sebelumnya Jakarta sempat diguyur hujan hingga udara terasa cukup segar.  Mungkin kalau siang, pemandangannya akan berbeda, kemacetan di mana-mana.  Belum lagi langitnya yang penuh polusi.

Monas
Pintu cantik dan unik ini adanya di puncak Monas lho. Dan jangan salah, meskipun malam, puncak Monas tetap terang benderang

Puas berada di atas, kami kembali antri untuk masuk lift.  Turun sekitar 1 menit, pintu terbuka di area cawan.   Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 10 malam, area cawan ini masih ramai lho.  Banyak yang bersantai menikmati suasana di sini.  Serasa piknik.  Tempatnya terbuka, tak ada atap.  Jadi memang enaknya dinikmati saat sore dan malam.  Gak kebayang panasnya di sini saat siang hari. Dari cawan, kita harus turun melewati tangga melingkar.  Tak boleh naik lift lagi, biar gak bentrok sama yang mau naik.

Keluar dari area tugu, kami kembali dijemput oleh bus wisata menuju ke stasiun.  Area taman seputar Monas sudah mulai sepi.  Hanya tersisa sedikit pengunjung.   Terlihat beberapa petugas kebersihan yang sibuk menyapu sampah-sampah sisa pengunjung.  Duh… urusan buang sampah sembarangan ini memang masih jadi PR besar buat kita bersama.  Semoga kedepannya kesadaran akan kebersihan terus meningkat.

Saat baru datang dan sebelum pulang, kita juga akan melintasi area Lenggang Jakarta.  Berisi para pedagang souvenir khas Jakarta.  Mulai dari mainan anak, aneka baju bergambar Monas, dan wista kuliner yang menawarkan ragam masakan khas nusantara.  Karena sudah larut dan kami harus segera kembali ke Bogor, di bagian ini cukup numpang lewat aja deh.

Sesaat sebelum keluar area taman menuju parkir, saya sempatkan menoleh kembali ke belakang.  Menatap Tugu Monas yang menjulang perkasa, simbol kejayaan Indonesia.  Teruslah berdiri tegak.  Menjadi saksi sejarah, menjadi tempat berkumpul rakyat Indonesia dalam suasana bahagia dengan semangat yang sama, PERSATUAN INDONESIA.

Salam

Arni

48 thoughts on “Intip Jakarta Malam Dari Puncak Monas, Cantik Lho!

  1. Seru juga ya, saya jadi pengen menikmati kota Jakarta disaat malam ri. Waktu ke Jakarta waktu itu pas malam gak sempet ke daerah Monas. Lihat foto-foto di postingan ini kok keren ya, jadi pengen intip Jakarta pada malam hari..he

  2. Saya tinggal di Jakarta hampir seumur-umur malah belum pernah masuk monas, heuheu… Kudet banget ya saya? Dulu pernah ke kawasan monas pas subuh dan di monasnya ada pantulan cahaya warna-warni. Itu aja udh amaze banget ngelihatnya. Kayaknya harus cobain buat masuk dan naik ke atas nih one day… 😀

  3. Ya ampuunnn, cantik banget ya mba, dan ternyata gede banget bangunannya hahaha

    Saya kudet nih, baru sekali ke Monas, itupun cuman liat dari jauh, malas mendekat.
    Jadi rada-rada terbelalak melihat tempatnya yang ternyata bangunan gede gitu

    Dulu gak kuat antrinya sih buat masuk ke dalam, apalagi ke atas.
    Semoga bisa balik lagi dan melihat dari dekat 🙂

  4. Saya pernah sekali pas kuliah dulu. Tapi sayang gak masuk cuma liat dari parkiran bus. Ya gimana lagi, jauuuh dan panas 😂 tapi nyesel juga dulu gak masuk. Ternyata enak pas malam ya ke Monas ya mbak.

  5. Seru banget ya bisa explore monas bersama keluarga. Sayang banget aku k monas cuma di pelataran luarnya aja nih. Kapan-kapan pengen lagi kesana karena seinget aku belum sempat k teropong nya.

  6. Ya ampun mba sabar banget ya nungguin antrian, aku dulu beberapa tahun di Jakarta belum pernah naik ke Monas karena antri banyak dan udah males duluan hehehe. Alhamdulillah sekarang Monas Uda tertata rapi, dulu saat kesana belum ada air mancur menari dan sepeda gratis

  7. ihhhhhh,, seru banget sih bisa main di atas monas, sekaligus melihat keindahan kota jakarta saat malam hari. btw aku belum pernah banget ke puncak monas itu, soon deh hihii

  8. Saya pernah ke Monas, tapi belum pernah naik, cuma di lapangannya aja. Btw foto-fotonya bagus-bagusss.. sukaaaa banget ngeliatnya 🙂 . Kapan-kapan kalo ke Jakarta lagi, insyaallah menjelajahi Monas masuk dalam jadwal jalan-jalan.

  9. Cakepnya pemandangan dari Puncak Monas. Hampir 5 tahun saya menetap di Jakarta dan sudah beberapa kali main ke Monas, tapi belum pernah menginjakkan kaki di puncaknya. Perlu di-planning nih main ke Monas lagi dan menikmati pemandangan Jakarta dari puncaknya.

  10. Wah kasihan dong Prema, lagi2 gagal lihat air mancur.

    Aku tuh beberapa kali ke Monas, tapi selalu waktunya setiap habis lebaran mbak jadi rameee bener. Setiap ke sana gak pernah mampir ke dalam karena ngantrinya parah. Paling cuma nongkrong di taman depan dan pasarnya aja mbak.

    Aku bahkan gak tahu ada penyewaan sepeda segala lho, wah harus nyobak ke sana lagi nih.

  11. Di Monas kalau malam lebih asyik ya Mbak jadinya. Enggak panas, jalanan terlihat tak begitu macet, lebih indah memandang Jakarta dengan lampu-lampunya, dan lain-lain. Sayang ya belum bisa menikmati air menari-nya 😊

  12. Saya sudah berapa kali sih ke kawasan monas. Naik ke puncaknya baru satu kali dan itupun di siang hari.

    Emang ada keinginan naik ke puncak monas di malam hari sih. Kayaknya foto nightshot jakarta di malam hari bagus banget ya.

    Kalau malam jam bukanya sampai jam berapaa ya??

  13. aku tuh belum pernah ke Monas. baca ini jadi pengen… hiks
    Jakarta dari ketinggian pemandangannya bagus. Asiknya lagi, ada aplikasi Gowes, bisa keliling Monas nih,,,

    Noted… siapa tahu ada kesempatan ke Monas. Aamiin

  14. Eh masuk jam 21.00? Buka sampai jam berapa tuh?
    Iya ya antrian panjang, makanya pas ke monas blm pernah masuk ke Puncak/ museumnya, khawatir anak2 crancky duluan. Tapi kapan2 mau deh sendirian ke sana. Tiketnya jg cukup terjangkau ya mbak 😀 TFS

  15. Pernah ke puncak Monas waktu SD. Waktu itu, aku belum cukup tinggi. Jadi, mau lihat ke bawah pun mesti lompat-lompat. Entah kenapa nggak pakai teropong, aku lupa. Dan, dari dulu sampai sekarang, antrinya masih aja panjang, ya.

  16. Mbak, jujur aja ya, aku tuh udah 5 kali ke Monas, tapi gagal terus mau ke puncaknya, wkwkwkwk. Malu akutu.. Biasanya kalau datang kesiangan, jadi udah ditutup antriannya karena penuh. Giliran malam, malah teralihkan dengan yang lainnya. Pernah sekalinya datang sore diniati nunggu sampai jadwal antrian malam. Eh, lha kurang setengah jam anakku yang kecil nangis katanya ngantuk mau pulang. Waduh, belom jodoh rupanya.
    Tapi aku jadi punya gambaran sih, habis baca postingan Mbak Arni ini. Kali-kali aja nanti ke Monas lagi. Harus berhasil sampai puncak kali ini.

  17. Tahun lalu ke sini belum gratis sepedanya…
    terus belum berjodoh juga dengan air mancurnya
    Dan ke puncak siang karena jam 6 ditutup, sekarang sampai malam buka..Keren! Kemana saja saya yaa…Wah harus segera ke sana lagi ini
    Thanks infonya Mbak Arni:)

  18. Tulisan mbak Arni ini membuatku baru tahu kalau di sana ada sepeda2 gratis yang bisa digunakan buat keliling2.
    Dan aku jadi sebel haha…sebel karena bolak balik ke Monas belum pernah naik sampai atas

  19. Lhooo Puncak Monas buka sampe malem, tho? Aku klo malem ke Monas palingan duduk2 di bawah aja. Itupun di luar dekat tukang makanan karena ikut nongkrong sama anak2 motor.

    Mau banget ini sih ke puncak Monas malem2 dan bawa anak juga.

Leave a Reply to abesagara.com Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *