Damai Tutur Gunung Batur

Batur Global Geopark

“Wow… ini cantik sekali!” Saya terkagum-kagum memandang hamparan bebatuan berwarna hitam di kaki Gunung Batur yang terbentang luas di hadapan kami hari itu, saat kami sedang dalam perjalanan menuju pemandian air panas alami di tepian Danau Batur.

“Kita mampir yuk! Mau foto-foto,” Haha antena narsis saya langsung berdiri tegak memancarkan sinyal yang kuat.

“Nantilah pulangnya aja, kita makan siangnya di sini aja, sambil piknik tipis-tipis.  Sekarang ikut rombongan dulu,” Sahut Mang Yogi, adik ipar saya yang duduk di bangku belakang.

Oke sip.  Keinginan narsis saya pendam dulu deh kalau begitu.  Sekarang saatnya berendam manja di air panas Toya DeVasya, di tepian Danau Batur.

Puas berenang-renang cantik, dalam perjalanan pulang kami berpisah dengan rombongan keluarga besar.  Sebagian pulang ke Kintamani, ada yang ke Bangli, sementara kami, seperti tujuan semula melipir sejenak di kaldera indah Gunung Batur untuk piknik sembari makan siang dan pepotoan.  Sayang banget khan pemandangan indah terbentang di hadapan lantas lensa kamera tak beraksi?

Batur Global Geopark

Mengenal Batur Global Geopark

Ribuan tahun yang lalu, kawasan ini merupakan Gunung yang sangat tinggi, berbentuk kerucut yang menjulang.  Mengalami letusan berkali-kali, hingga membentuk hamparan kaldera yang sangat luas dan cantik.  Gunung Batur merupakan gunung tertinggi kedua di Bali, setelah Gunung Agung.  Terletak di Kintamani. Menjadi satu diantara 127 gunung berapi aktif di Indonesia dan menjadi salah satu gunung yang memiliki kaldera (cawan) terindah.  Merupakan Kaldera ganda atau berlapis akibat letusan yang berlangsung berkali-kali.  Kalau di Bromo, kalderanya berupa lautan pasir, di Gunung Batur kalderanya berupa lava hitam yang telah mengeras.

Batur Global Geopark
Gunung Batur di kejauhan

Baca juga : Fajar Merekah di Gunung Bromo

Pada awalnya Gunung Batur purba memiliki ketinggian lebih dari 3000 mdpl.  Pertamakali meletus sekitar 29.300 tahun yang lalu dan menghancurkan separo bagian atas gunung, disertai amblasnya bagian dasar gunung sehingga membentuk kaldera pertama.  Letusan berikutnya terjadi pada 20.150 tahun yang lalu, memicu kembali amblasnya dasar gunung sehingga membentuk kaldera kedua.  Bagian terendah kaldera inilah yang kemudian membentuk Danau Batur, yang berbentuk bulan sabit sebagai akibat akumulasi air hujan yang berlangsung terus menerus.

Saat ini, ketinggian Gunung Batur adalah 1717 mdpl  atau sekitar 686 m dari permukaan air Danau Batur dan terhitung mengalami 25 kali letusan sejak tahun 1800-an hingga yang terakhir pada tahun 2004 lalu.  Tercatat pula beberapa letusan terbesar antara lain pada 3 Agustus 1926 yang menyebabkan penduduk di kaki Gunung Batur harus bedol desa ke Karanganyar yang kemudian dikenal sebagai Desa Batur hingga sekarang.

Pada masanya, Desa Sinarata diketahui merupakan desa yang sudah cukup maju, dengan sistem pemerintahan yang tertata rapi dan kehidupan penduduknya yang harmonis.  Letusan besar pada tahun 1926 itu membuat hampir seluruhnya terkubur dan menyisakan sejarah panjang. Banyak hal yang masih belum terungkap, tersembunyi dibalik lava hitam yang membentang sepanjang kaldera Batur.

Batur Global Geopark
Kaldera dengan hamparan lava hitam

Letusan besar berikutnya tercatat pada tahun 1963 yang memuntahkan lava hingga 35 juta meter kubik dan ‘menenggelamkan peradaban’ Desa Sinarata di kaki Gunung Batur.  Termasuk menyebabkan rusaknya beberapa bagian Pura Ulundanu Batur yang dulu bernama Pura Tampurhyang.  Saat ini Pura Ulundanu Batur telah kembali berdiri megah di Barat Daya kaki Gunung Batur dan menjadi salah satu Pura pemujaan terbesar bagi para pemeluk Hindu di Bali.

Batur berasal dari urat kata “Bhattara” dalam bahasa Sanskerta yang artinya melindungi, tuan atau raja.  Secara umum Batara diartikan sebagai yang sangat dihormati, menjadi pemimpin dan memberi perlindungan bagi umat manusia.

Aliran lava Batur, bertipe bongkah dengan permukaan tidak teratur dan memperlihatkan pecahan dan retakan yang diakibatkan pendinginan lebih awal.  Sedangkan bagian dalamnya bersifat plastis dan terus bergerak yang menyebabkan terbentuknya goa-goa lava.  Pergerakan bagian dalam ini yang terus mendorong lava padat diatasnya hingga membentuk lava bongkah.  Gunung batur satu-satunya gunung yang memiliki goa lava di Indonesia.  Sangat eksotik.

Batur Global Geopark
Gua-gua Lava

Bentang alam kawasan berupa kaldera indah inilah yang menjadi salah satu pertimbangan penetapan Batur sebagai Global Geopark oleh Unesco berdasarkan sidang  The 11th European Geoparks Conference pada Global Geoparks Network Bureau yang berlansung di Arouca, Portugal, pada 19 – 21 September 2012.  Bersama Gunung Batur, juga ditetapkan 3 situs baru lainnya yaitu Geological and Mining Park di Catalonia (Spanyol), The Bakony – Balaton (Hungaria) dan kelompok gunung tinggi di Jiangxi (China).  Sehingga tercatat ada 91 situs Global Geopark di dunia yang tersebar di 27 negara.

Kekayaan alam Gunung Batur memberikan berkah bagi masyarakat Bali.  Kalderanya sangat indah, abu vulkanik yang subur di lereng gunung menjadikan pertanian dan perkebunan di kaki gunung berkembang pesat, yang disokong pula oleh ketersediaan air dari Danau Batur yang melimpah.  Sepanjang jalan saya sempat melihat perkebunan cabe, kol, tomat dan aneka tanaman pangan lainnya.  Daerah Kintamani juga dikenal sebagai penghasil jeruk yang rasa manisnya khas.  Begitu pula kekayaan adat dan budayanya yang khas.  Lengkap sudah alasan menjadikannya sebagai Global Geopark.

Ada sebuah desa yang sangat unik di tepi Danau Batur, yaitu Desa Trunyan.  Di sini, tata cara penguburan mayat berbeda dengan Bali pada umumnya.  Ah, sayang sekali saya belum sempat ke Trunyan.  Penasaran sebenarnya ingin berkunjung langsung ke sana.  Semoga di kunjungan berikutnya, semesta mendukung perjalanan kami ke Trunyan.

Sekilas Pura Ulundanu Batur

Bicara Bali, tak bisa lepas dari Pura.  Dikenal sebagai Pulau Seribu Pura, kemanapun kaki melangkah, kita akan sangat mudah bertemu dengan kegiatan keagamaan masyarakat setempat.  Bukan hal aneh jalan-jalan ke mall, pantai dan ruang publik lainnya lantas berpapasan dengan mereka yang mengenakan pakaian adat Bali, lengkap dengan kembang di telinga dan bija di dahi.  Bisa jadi mereka baru saja dari Pura atau ritual-ritual keagamaan lainnya.

Pura Ulundanu Batur adalah salah satu Pura utama dan terbesar di Bali, setelah Pura Besakih.  Setiap kali Pujawali, kunjungan umat Hindu ke Pura ini meningkat pesat, hingga lebih dari seminggu.  Macet, itu sudah pasti.  Kami sekeluarga pernah ke Pura ini, berangkat siang hari dari Besakih, baru tiba di Batur tengah malam dan akhirnya baru mendapat giliran sembahyang pukul 2 dini hari.  Tapi asyik dan seru juga kok, dijalanin rame-rame bersama keluarga tercinta, meski kadang anak-anak agak rewel karena ngantuk. Padahal dalam kondisi normal, Besakih – Batur bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam.

Batur Global Geopark
Pura Ulundanu Batur. Foto dari inputbali.com

Pura Ulundanu Batur dibangun untuk memuja Dewi Batari Danu yang melambangkan kesuburan, kebahagiaan dan kesejahteraan.  Ulundanu berarti penguasa danau.  Keberadaan Pura ini dan ritual keagamaannya sebagai pengingat bagi kita untuk menjaga keseimbangan alam semesta, menjaga kelestarian air dan hutan dimana kawasan Batur ini disebut-sebut sebagai kawasan resapan air bagi Pulau Bali secara umum.

Piknik Tipis-Tipis di Batur Global Geopark

Seperti rencana semula, setelah puas berendam dan berenang-renang manja di pemandian air panas tepat ditepian Danau Batur,  dalam perjalanan pulang kami mampir sejenak di kaldera lava hitam yang luas ini.  Membentang tikar dan membuka bekal.  Ditemani angin sepoi-sepoi yang bertiup lembut dan dingin, kami menikmati makan siang dengan lahap.  Habis berenang gitu lho.  Perutnya udah protes aja minta diisi sejak tadi.  Asyik banget lho makan siang di tempat terbuka seperti ini.  Seruuuuuu.

Batur Global Geopark
Yang lapar yang lapar ayo mendekat

Saya mengedarkan pandangan sekeliling.  Gunung Batur yang tinggal separo tampak gagah di satu sisi.  Lalu di sisi lain terlihat Danau Batur yang begitu tenang.  Dan tepat di tempat kami berdiri adalah hamparan lava hitam yang mengeras, lebih mirip karang kalau saya bilang, yang mulai ditumbuhi belukar.  Saya takjub lho dengan kemampuan hidup semak belukar ini, bisa tumbuh di atas karang yang keras.  Seolah memberi pelajaran pada kita untuk tak mudah menyerah pada kerasnya kehidupan.

Batur Global Geopark

Pikiran saya berkelana menuju cerita puluhan hingga ribuan tahun yang lalu, betapa sebuah ledakan maha dahsyat membuat tempat ini menjadi permadani lava.  Jangan-jangan tepat di bawah saya adalah Desa Sinarata yang dulu tertimbun muntahan Gunung Batur.  Ah… tak bisa saya bayangkan situasinya.  Cepat-cepat saya melangitkan doa, semoga Gunung Batur tetap tenang seperti sekarang dan terus memberi kebaikan pada penduduk disekitarnya.

Batur Global Geopark
Gadis manis di balik ilalang #kresekmanakresek hahahaha.   Tepat di belakang saya adalah Danau Batur yang berbentuk bulan sabit

Berada di sini, saya seperti meresapi tutur Gunung Batur.  Jika Tuhan berkehendak, apapun bisa terjadi.  Jika alam bergerak, semua akan mengikuti.  Betapa kehidupan yang telah tertata rapi bisa berubah dalam sekejap.  Nyanyian alam terasa membuai hati, terasa damai, membisikkan pesan cinta agar kita lebih baik dalam pikir, tutur dan laku.  Bahwa kita hanyalah sebuah noktah kecil dari semesta maha luas ini.  Banyak-banyak bersyukur, banyak-banyak berterimakasih dan terus naik kelas menjadi pribadi yang lebih baik.

Sebagai salah satu gunung  dalam lingkaran cincin api “ring of fire” gunung berapi di Indonesia, Gunung Batur mungkin terus berevolusi.  Sesekali batuk.  Sebagaimana bumi yang terus berputar mencari keseimbangan.  Semoga semua baik-baik saja.  Dan kita, tugas kita adalah melakukan yang terbaik, untuk semesta.

Salam damai bagi bumi

Arni

Sumber pustaka : www.baturglobalgeopark.com

9 thoughts on “Damai Tutur Gunung Batur

  1. Perjalanan yang sangat berkesan ya. Saya jadi banyak tahu dan nambah wawasan nih. Kapan ada rezekinya pengen ih ke sana… Danau Batur pasti menyenangkan untuk dikunjungi saat liburan

  2. Wah serunya berpetualang sama anak2. Aku belum pernah ke gunungnya, kalau pura nya sudah. Suka banget sama daerah kintamani, karena dulu waktu kecil aku pernah tantrum di sana yg akhirnya membekas di ingatanku 😅

  3. Memang keren yaqulu Gunung Batur ini. Sejarahnya yang sudah ribuan tahun dan bantuannya terhadap kesuburan tanah di sekeliling, sangat berjasa pada masyarakat Bali. Aku belum pernah naik ke atas Gunung Batur ini. Tapi naik perahu di danau nya pernah gua kali. Kapan ke Bali lagi mau coba naik Gunung Batur ah

  4. Lengkap sekali ulasannya, keren!
    Batur Global Geopark rada mirip mirip sama Danau Toba, Dieng dan Yellowpark ya kalau dilihat dari proses pembentukannya. Dengan proses yang begitu panjang menciptakan banyak tempat yang indah dan menjadi warisan wisata yang luar biasa

  5. Batur merupakan salah satu ikonik pegunungan di bali. Kawasan ini ga dipeekenankan untuk tracking/camping yana ?? Soalnya jarang sekali ada yg mengulas batur utk penanjakan
    Keberadaan pura semakin melengkapi keindahan kawasan batur

  6. Kalau terpikirkan ketika ledakan atau letusan gunung berapi pasti membuat ngeri yah Kak, tapi ternyata Tuhan memberikan keajaiban yaitu keindahan setelahnya. Karena setiap kejadian pasti ada hikmahnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *