Merah Putih Selalu di Hati dari Film Rumah Merah Putih

Film Rumah Merah Putih
Doc. Alenia Picture

Sedih. Begitu rasa yang menyelinap di dada saat masuk bioskop beberapa hari lalu, untuk menonton film “Rumah Merah Putih”.  Saat kami masuk hanya ada 6 orang penonton di dalam. Tambah kami bertiga jadi 9. Sesaat sebelum film dimulai, masuk 4 orang lagi. Sampai film berakhir, hanya ada 13 orang penonton.  “.  For your information, kami nonton film ini tanggal 23 Juni 2019,  3 hari pasca film ini tayang perdana di bioskop-bioskop Indonesia.

Hiks

Padahal filmnya baguuuuus banget.

Oh oke, saya mau nulis reviewnya.  Bukan mau curhat karena studionya sepi.

*****

Berlatar alam Desa Silawan di Belu, Atambua, NTT film ini menyajikan keseharian anak-anak di sana berpadu dengan alamnya yang indah, hamparan kaktus, perbukitan dan lereng yang memukau dengan warna khas hutan tropis. Indah sekali

Selain menyajikan kisah yang membangkitkan rasa nasionalisme dan kebangsaan jelang 17 Agustus, Rumah Merah Putih dikemas dengan penuh kisah haru yang mengaduk-ngaduk perasaan, juga dengan kelucuan anak-anak dan dialek Timor yang khas. Menghibur sekaligus sarat makna.

Sekilas memang akan mengingatkan kita pada kisah heroik Joni Kalla yang memanjat tiang bendera pada upacara kemerdekaan tahun lalu, tapi fokus cerita bukan di sana. Hanya sebagian kecil pelengkap kisah saja

Ini tentang Farrel dan Oscar. Tentang persahabatan, tentang perjalanan bersama yang berawal dari hilangnya cat merah putih milik Farrel. Kemudian menjadi cerita yang penuh makna yang membuat kita tertawa, terharu dan tak dapat menahan air mata di beberapa adegan.  Biar enak, berikut saya kasi 5 alasan kenapa kalian harus nonton film ini

Film Rumah Merah Putih
Bangku-bangku bisokop yang kosong

Kisah Persahabatan, Kebersamaan dan Solidaritas yang Sangat Kental

Dalam film ini  hadir 7 tokoh utama anak-anak yang bersahabat.  Meski begitu, lebih banyak focus pada Oscar dan Farrel, dua tokoh yang melakukan perjalanan bersama demi mendapatkan cat merah putih sebagai pengganti cat Farrel yang hilang.  Ya, sebenarnya kisah dalam film ini sangat sederhana, namun dikemas dengan ciamik oleh Alenia pictures menjadi menarik dan penuh drama.

Persahabatan Farrel dan Oscar menjadi pengantar perjalanan mereka menuju Atambua, setelah sebelumnya membantu penduduk desa menimba dan mengantarkan air.  Duh scene ini juga bikin saya terharu.  Saat menonton film ini, kami baru seminggu sebelumnya berlibur ke Karanganyar.  Tepatnya di Desa Kemuning, Dusun Jlono di lereng Gunung Lawu.  Tempat dimana air begitu melimpah ruah.  Dialirkan langsung dari mata air ke rumah-rumah penduduk.  Tak ada batasan, terus mengalir hingga kadang terbuang begitu saja.  Sementara di suatu tempat, di ujung Timur Indonesia, Desa Silawan, penduduk harus menimba air di sumur umum, itupun sangat terbatas ketersediaannya.  Sungguh sebuah anomali yang bikin nyesek

Kembali ke Oscar dan Farrel, terasa banget chemistrynya cakep.  Mereka benar-benar kayak dua sahabat yang sudah bersama sejak kecil.  Ada yang unik, gaya perkenalan ala anak NTT.  Usai nonton, besoknya saya menulis status di laman facebook.  Seorang kawan lama yang asli NTT bercerita bahwa memang begitulah anak disana berkenalan.  Menyebut nama sendiri, lalau nama bapak, ibu dan berujung “Saya Indonesia!”

Errr… meski terasa agak berlebihan karena porsinya terlalu banyak dalam film ini, tapi sungguh saya mengapresiasi dialog ini.

Film Rumah Merah Putih
Salah satu adegan dalam Film Rumah Merah Putih. Doc Alenia Picture

Pesan Nasionalisme yang Sangat Kuat

Ditengah suasana panas pasca pilpres, film ini terasa hadir sebagai oase di padang pasir.  Mengingatkan kita bahwa Indonesia begitu luas.  Bahwa jauh di ujung-ujung Negara, di desa-desa perbatasan ada lho anak-anak Indonesia.  Ada lho warga Indonesia.  Dan mereka mencintai negeri ini sepenuh hati dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

“Sampai kiamatpun, Merah Putih tak akan terganti!” sepanjang yang saya ingat, kalimat ini terdenhar dua kali.  Yang pertama diucapkan oleh bapa Farrel saat menanyakan cat merah putih pembagian dari karang taruna.  Yang kedua oleh anak remaja yang sedang mencari cat lalu ditawarkan dua kaleng cat berwarna coklat oleh Farrel dan Oscar.

Semangat nasionalisme juga hadir dalam adegan di dalam kelas, dimana Nia Zulkarnaen berperan sebagai guru.  Dan ternyata, dialog ini umum diucapkan terutama di sekolah-sekolah daerah perbatasan lho.  Fyi, Desa Silawan adalah desa terluar dan paling dekat dekat PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Motaain.  Berbatasan langsung dengan Timor Leste, yang dulunya pernah menjadi salah satu propinsi Indonesia.  Ah… saya jadi membayangkan sekolah-sekolah di daerah lain juga menggaungkan semangat yang sama.

Pun adegan mengharu biru saat upacara bendera.  Ketika tali bendera nyangkut sehingga bendera tak bisa dikerek ke atas dan dikibarkan.  Nyess banget rasanya.  Syukurlah akhirnya terselamatkan oleh Farrel yang aksinya mengingatkan kita pada aksi Joni Kalla yang sempat viral tahun lalu.

Cinematography yang Menawan

Wah kalau ini tentunya tak diragukan lagi ya.  Mengambil setting daerah Timor.  Siapa yang akan menyangkal betapa landskap daerah ini begitu cantik dan memikat.  Toning kameranya bagus banget.  SEmacam menonton serpihan surga yang jatuh di Indonesia timur.  Jangan memimpikan melihat hutan hijau atau hamparan sawah seperti saat melintas tol trans Jawa deh.  Tidak.  Ini lebih banyak tonenya ke arah coklat dengan hamparan bukit-bukit gersang yang menawan.

Selebihnya, nonton aja langsung deh.  Pasti kalian bakalan mupeng banget liburan ke sini dan bikin foto ala-ala selebgram gitu.

Film Rumah Merah Putih
Alam Timor yang memesona. Doc Alenia Picture

Mengenal Dialek Khas yang Unik

Ibu, mereka ngomongnya kayak adik Rama dan Galih ya,” bisik Prema saat mendengar dialog anak-anak dalam film ini

Rama dan Galih adalah dua keponakan saya yang tinggal di Kendari.  Saya, meski berdarah Bali tapi lahir dan besar di Kendari, Sulawesi Tenggara.  Bapak Ibu saya menetap di sana.  Jadi kalau mudik, selain ke Bali, kami juga sering ke kendari.  Nah, dialek daerah-daerah timur Indonesia itu memang agak mirip.  Paling banter yang berbeda hanya di beberapa imbuhannya.  Jadi, kami gak terlalu gagap lah ya untuk memahami obrolan mereka.

Tapi, bisa jadi ini agak kendala buat mereka yang tak terlalu mengena dialek Indonesia timur.  Penonton di belakang saya beberapa kali berbisik, “tadi dia ngomong apa?” atau “apaan sih maksudnya?” sementara kami bertiga udah ngakak duluan hahaha

Karang Taruna yang Aktif

Haloooo… hari gini yang pada tinggal di perkotaan, masihkah mengenal karang taruna?

Dulu waktu saya di Kendari saja, hanya ketemu karang taruna yang aktif bikin kegiatan itu di desa-desa.  Nah, di Silawan, saat jelang 17 Agustus, karang tarunanya bergerak aktif termasuk menjadi penggerak lomba-lomba 17-an, salah satunya panjat pinang yang berujung pada drama lainnya.  Sebagai hiburan, ditampilkan adegan Ruslan dan Oracio yang menghadirkan keahlian beatbox.

Eh tapi, di tempat tinggal saya sekarang di Bogor, paerayan 17-an juga dikerjakan oleh anak-anak muda kok.  Memang namanya bukan karang taruna, tapi melihat mereka bekerjasama dan aktif saja, hati saya sudah bahagia banget.

*****

Itu tadi 5 alasan kenapa kalian harus nonton film ini.  Meski begitu, bukan berarti tanpa kekurangan ya. Saya merasakan ada bagian yang kurang di satu sisi. Tentang kebohongan Farrel soal hilangnya cat merah putih pada bapaknya yang ditutup dengan kebohongan lainnya.  Sayang ini tak terungkap hingga akhir, meskipun ekspresi rasa bersalah Farrel berkali-kali ditampilkan.  Padahal ini kesempatan bagus untuk menyampaikan pesan tentang kejujuran.

Kemudian hadirnya sponsor film yang terlalu kentara, bahkan sampai beberapa kali shoot.  Kalau kalian nonton pasti langsung nangkep deh siapa sponsornya hahaha

Oh, satu lagi.  Film ini juga secara tidak langsung mengkritisi kondisi di daerah perbatasan.  Err.. malah mungkin bisa ngasi inspirasi jadinya ya.  Bagian Oscar dan Farrel melanggar daerah perbatasan dengan cara melintasi pagar, untuk menjual ayamnya pada bapak yang tinggal di Timor Leste.  Ya, begitulah kondisi real daerah perbatasan kali ya.

Rumah Merah Putih menandai kembalinya Alenia Pictures ke kancah perfilman nasional, setelah sekian lama absen.  Saya sejak dulu memang selalu jatuh cinta pada film mereka.  Denias, Tanah Air Beta, Seputih Cinta Melati, semuanya memiliki pesan moral dan pendidikan karakter yang sangat baik untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan perjuangan.  Saya berharap makin banyak sineas-sineas Indonesia yang mengangkat tema seperti ini.  Meski kisahnya begitu sederhana, namun berhasil menggugah batin dengan kemasan menarik.

Jempol yang banyak juga saya sematkan pada penampilan para pemain.  Petrick Rumlaklak sebagai Farel, dan Amori De Purivicacao sebagai Oscar Lopez adalah dua diantara sekian banyak pemain lokal yang aslinya mereka ini benar-benar baru pertamakali bermain film.  Mungkin karena cukup berperan dan berdialog seperti keseharian, acting mereka terasa begitu alami dan ciamik.  Gak kalah deh dengan Pevita Pearce, Shafira Umm, Yama Carlos, dan Abdurrahman Arif.  Pevita Pearce malah tampak eksotik lho di sini.  Sukseslah menghilangkan kesan bening  glowing seperti dalam iklan-iklan di TV.

Gimana, yakin kalian gak pengen nonton?   Saran aku sih, cusslah kebioskop.  Film ini baguuuus dan sangat layak ditonton.   Bakan saya membayangkan suatu hari film-film ditonton bersama di sekolah-sekolah.   Sayang banget sepertinya kalah saing dengan Toys Story 4 yang tayang bersamaan. Fyi, tiket Toys Story 4 selalu ludes hingga bangku terdepan di dua studio setiap jam tayang di bioskop yang saya kunjungi.  Kami saja tempo hari nonton di deret kedua dari depan.

Jadi, sudahkah merah putih berada dalam jiwa kita?

Saya Putu Sukartini, Bapak Bali, Ibu Bali, Lahir besar di Kendari, Sulawesi Tenggara

Saya Indonesia

 

Salam Merah Putih

Arni

 

 

 

 

24 thoughts on “Merah Putih Selalu di Hati dari Film Rumah Merah Putih

  1. Wahhhh review-nya asik. Sepertinya film ini kalah pamor dari Toys Story 4 ya Mba. Dari channel IGTV nya Ernest Prakasa, kalo film itu biasa tayang dari Kamis Jumat Sabtu Minggu, terus evaluasi jumlah penonton. Kalau sedikit ya terpaksa turun layar lebih awal. Sayang banget film sebagus ini cepat turun layar.

    Jadi ingat film Pendekar Tongkat Emas yang juga keren banget tapi penontonnya sedikit banget. Entah kurang promosi atau kalah saing sama film film yang sedang tayang lainnya, dulu.

    Semoga dengan review Mba, ada yang tergoda untuk nonton sebelum turun layar ya. Aamiin.

  2. Makasi ya udah baca
    Aku juga berharap banyak yang nonton film ini. Malah pengennya jadi salah satu bahan ajar di sekolah-sekolah deh

  3. Dari reviewnya ini filmnya bagus sekali ya, Mbak. Sangat Indonesia. Sayang sekali kalau kurang penontonnya.

    Tapi memang, Mbak. Saya pernah nonton film, itu cuma 3 orang dengan saya. Padahal filmnya bagus juga.

  4. Ini film.produksinya Nia Zulkarnaen dan Ale Sihasale ya, aku tahu krn follow nia dia medsos. Mereka kl bikin film selalu mengusung patriotisme, aku yakin filmnya bagus. Nonton ah bareng keponakan, kl anakku blom paham film kyk gini krn masih kecil banget heheheh

  5. Wah lucu juga ya salam perkenalan mereka hihihi. Kalo kenalannya 10 orang aja bisa setengah jam abisnya. Btw Alenia pic ini emang nasionalis ya.. sayang banget kalo sampe enggak laku filmnya. Kode harus nonton nih saya. Thanks for reviewing, Kak!

  6. Aku tahun film ini dari Iklan di radio, kalau didengar percakapannya, film ini kaya akan pesan moral. Nasionalisme harus dipupuk sejak dini ya mbak, semoga film ini bisa mendapatkan ruang di hati para pecinta film Indonesia

  7. Terharu bacanya melihat gaya perkenalan anak2 di Timur, nasionalis sekalii
    Miris bacanya ternyata film lokal yg bagus ini kalah dgn film luar
    Film2 Nia dan Alle memang selalu membangkitkan nasionalisme ya

  8. Kenapa sepi, ya? Kurang promosi atau bagaimana? Padahal film Alenia memang selalu bagus. Salah satu ciri khasnya selalu menggambarkan keindahan Indonesia terutama alam. Udah gitu ceritanya juga suka punya pesan moral yang bagus

    • Sepertinya memang kurang promosi mbak. Aku nonton film anak (Indonesia) 2 minggu berturut-turut. Merah putih dan Kocil. Terasa sekali Merah Putih minim sponsor. Sementara Kocil, jangan ditanya deh. Sponsornya buanyaaaaak

      Bisa jadi karena idealisme Alenia juga sih. Atau memang tema yang diangkat kurang menarik/kurang menjual bagi sponsor. Ah sediiih pokoknya

  9. Sayang yah yang nonton sedikit, padahal seharusnya bisa menarik penonton lebih banyak karena mengenai nasionalisme, atau mungkin kurang promosi ya.. semoga lebih banyak lagi yang nonton

  10. Mbaa aku padahal jauh hari sebelum film ini tayang selalu mantengin IG Alenia lho, nggak sabar menunggu, usah nyiapin tanggal 20 kudu nonton eh ternyata tayangnya di bioskop2 yang jauh dari rumahku huhu kecewa banget..malah film Doremi yang laris banget 🙁

Leave a Reply to Liswanti Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *