Jelajah Sangiran, Mengintip Jejak Nenek Moyang Manusia

Museum Sangirang

Besok kita ke mana?” tanya Cah Bagus saat kami sejak bersantai menikmati dinginnya malam di lereng Gunung Lawu.  Menyusuri kebun teh yang terhampar di sepanjang jalan Dusun Jlono, Kemuning.

“Bagaimana kalau kita ke Sragen saja. Ke Museum Sangiran.  Ayah udah cek maps, perjalanan sekitar 1 jam dari sini.  Gak terlalu jauh kok,” Usul Ayah.

Mau… mauuuu….,” Kami langsung setuju

Mumpung sedang liburan di Karanganyar, masih ada waktu sehari sebelum kembali ke Jakarta. Meski berangkat tiga keluarga dari Bogor tapi sepertinya kali ini kami akan ke Sragen sekeluarga saja.  Sepulang dari Candi Cetho dan Sukuh tempo hari, keluarga Pak Agus Widodo melanjutkan perjalanan ke Blitar.  Sedangkan keluarga Pak Paryanto, berencana bertandang ke rumah keluarganya di Tawangmangu. 

Usai menyantap sarapan lezat dan segar masakan Mbah, kami berempat (tambahan kak Putu Rahyuni, anak teman, yang memang ikut kami sejak dari Bogor)  berangkat menuju Sragen.  Berbekal petunjuk arah dari google maps.  Terimakasih kepada teknologi yang begitu memudahkan. Makin mendekat ke arah  Sragen, rasanya alam makin gersang.  Entah karena kemarau atau apa, tapi sungai-sungai tampak mengering, tanah juga retak-retak.  Bahkan rumputpun terlihat kuning.  Jauh sekali dengan suasana di Jlono yang subur dengan air berlimpah yang tak pernah berhenti mengalir.

Baca juga : Pesan Toleransi dari Jlono

Ada banyak situs-situs bersejarah yang kami lewati sepanjang jalan, terlihat dari papan petunjuk yang terpasang di beberapa titik. Tak heran sih, dari beberapa literatur yang pernah saya baca,  Sangiran ini memang termasuk salah satu pusat peradaban dunia pada masanya.  Menyimpan begitu banyak rahasia masa lalu tentang evolusi manusia, hewan dan tumbuhan dari zaman purba hingga menjadi seperti sekarang.  Menarik, karena Sangiran ada di Indonesia.  Saya makin tak sabar untuk sampai ke sana.

Museum Sangiran
Jembatan dengan hiasan berbentuk gading gajah

 

Museum Sangiran
Dengan Rp. 8.000 saja, kita akan diajak menelusuri jejak nenek moyang manusia

Di luar dugaan, saat kami tiba ternyata Sangiran sangat ramai. Pengunjungnya membludak.  Jujur saja saya tidak menyangka, karena beberapa kali saya berkunjung ke museum-museum di Jakarta dan Bogor, selalu saja sepi pengunjung.  Area parkir juga penuh, kami bahkan harus melipir agak jauh untuk bisa parkir.  Bisa jadi karena mengisi masa libur lebaran ya.  Banyak yang memilih jalan-jalan keluarga mengunjungi situs nenek moyang kita.  Apapun alasannya, tapi saya cukup senang melihat minat masyarakat yang cukup tinggi pada museum.

Setelah membeli tiket seharga Rp. 8000,- kami memasuki gerbang Museum. Ada  patung besar manusia purba di halaman depan.  Juga ada jembatan panjang dengan hiasan berbentuk gading-gading gajah di kanan kirinya.  Di Sangiran ini memang ditemukan fosil gajah purba yang berukuran raksasa.  Super besar.  Gak bisa saya bayangkan kalau gajah raksasa itu masih ada sekarang.  Yang unik, kini tak ada gajah di Sangiran.  Gajah malah banyak ditemukan di Lampung.  Mungkin gajah-gajah ini bermigrasi ya.

Sekilas Mengenai Museum Sangiran

Museum Purbakala Sangiran terletak kawasan kubah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah.  Sebenarnya museum ini terdiri dari empat klaster yaitu Krikilan, Dayu, Ngebung dan Bukuran yang lokasinya tak terlalu jauh satu sama lainnya.  Yang kami kunjungi saat itu adalah klaster Krikilan.  Selain itu ada juga  satu museum pendukung yang menjadi pusat penelitian yaitu Museum pendukung Manyarejo.

Situs Sangiran memiliki peran penting untuk perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan terutama untuk penelitian di bidang antropologi, arkeologi, biologi, paleoantropologi, geologi dan tentu saja pariwisata. Di Sangiran, tersaji data dan gambaran kehidupan manusia masa lampau yang disebut-sebut terluas dan terlengkap yang mencapai 56 km2 yang meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Sragen yaitu Kecamatan Gemolong, Kalijambe dan Plupuh serta satu kecamatan di Karanganyar yatu Gondangrejo.

Situs Sangiran ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1977, kemudian mendapat perhatian UNESCO dan ditetapkan sebagai situs warisan budaya dunia pada tahun 1996.  Situs Sangiran tercatat sebagai situs penting untuk mempelajari fosil manusia, setara dengan Situs Zhoukoudian di China, Situs Danau Willandra di Australia, Situs Olduvai Gorge di Tanzania dan Situs Sterkfontein di Afrika Selatan.

Museum Sangiran
Eugene Dubois, ilmuwan pertama dari Belanda yang melakukan penggalian fosil manusia purba

Penelitian terhadap Situs Sangiran sudah berlangsung sejak lama, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda. Adalah Eugene Dubois, seorang ahli paleoanthropologist yang pada tahun 1883 ditugaskan untuk memimpin penggalian sebagai awal penelitian manusia purba.  Awal penemuan fosil di Trinil.  Kemudian pada 1934, Gustav Heinrich Ralph Von Koenigswald mulai menggali di daerah Sangiran dan menemukan jejak nenek moyang manusia yang disebut Pithecanthropus Erectus yang kemudian dikenal sebagai Java Man atau Manusia Jawa.  Penemuan ini kemudian diklasifikasikan dalam kelompok Homo Erectus.  Setelah itu, berturut-turut ditemukan berbagai fosil lainnya termasuk fosil hewan-hewan buruan manusia purba.

Museum Sangiran Klaster Krikilan dikenal juga sebagai The Homeland of Java Man yang memiliki 3 ruang display.  Ruang pamer pertama  berisi geologi Sangiran, fauna Sangiran dengan habitat dan lingkungannya, manusia purba dan budayanya, dalam hal ini pola kehidupan dan alat-alat yang digunakan dalam aktivitas keseharian.

Museum Sangiran

Museum Sangiran

Museum Sangiran

Museum Sangiran
Evolusi Kubah Sangiran di masa lampau

Ruang pamer kedua berada di gedung yang lebih luas daripada yang pertama dikenal sebagai 12 langkah kemanusiaan yang berisi pembentukan alam semesta dan mahkluk hidup, teori evolusi dan persebaran manusia, abad-abad penemuan, sejarah kepulauan nusantara, lingkungan alam Sangiran, kehidupan kala plestosan bawah, kehidupan kala plestosan tengah, kehidupan kala plestosan atas, kehidupan awal holosen dan proses-proses penelitian. Selanjutnya ruang pamer ketiga berisi masa keemasan Sangiran.

Koleksi Museum Sangiran

Berdasarkan hasil penelitian, di masa purba kawasan Sangiran merupakan hamparan lautan. Karena adanya proses geologi dan bencana alam seperti letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, Sangiran kemudian menjadi daratan.  Dalam ruang-ruang pamer terlihat jelas lapisan-lapisan tanah Sangiran sangat berbeda dengan daratan-daratan lainnya.  Saya tertegun membayangkan bagaimana proses pembentukan bentang alam ini terjadi sekaligus mempengaruhi evolusi makhluk hidup diatasnya.  Bagaimana pergerakan alam menenggelamkan peradaban yang kemudian ditemukan kembali jutaan tahun kemudian.

Museum Sangiran
Indonesia, dalam lingkaran cincin api

Museum Sangiran menyimpan banyak koleksi penemuan yang berasal dari jaman-jaman awal pembentukan daratan Sangiran. Homo Erectus sebagaimana yang ditemukan Von Koenigswald dikenal sebagai  pengelana dunia.  Diduga melakukan perjalanan dari daratan   Afrika dan bermigrasi selama masa  Pleistone awal sekitar 2,0 juta tahun yang lalu, dan terus menyebar ke seluruh dunia hingga mencapai Asia Tenggara. Tampilan diorama di museum ini mengingatkan saya pada arca yang ada di Candi Cetho.  Wajahnya mirip sekali.  Sepertinya  ini ada hubungannya.

Baca juga : Suara Alam dari Candi Cetho

Museum Sangiran

Apa saja koleksi yang tersimpan di Museum Sangiran ?

Fosil manusia, antara lain Australopithecus africanus (replika), Pithecanthropus mojokertensis (Pithecanthropus robustus) (replika), Homo soloensis (replika), Homo neanderthal Eropa (replika), Homo neanderthal Asia (replika), dan Homo sapiens.

Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinoceros sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).

Fosil binatang laut dan air tawar, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Moluska (kelas Pelecypoda dan Gastropoda), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera.

Batuan, antara lain rijang, kalsedon, batu meteor, dan diatom.

Artefak batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak.

Museum Sangiran
Kehidupan manusia purba

Jelajah Sangiran, Mengintip Jejak Nenek Moyang

Kami berkunjung ke Sangiran pada hari Jumat sehingga waktu kunjungan sempat terpotong selama kurang lebih 2 jam dimana para petugas harus menunaikan shalat Jumat. Tepat saat akan masuk ke ruang pamer kedua, pintu sudah ditutup.  Kami kemudian melipir ke area belakang yang cukup teduh dengan area duduk yang cukup nyaman. Kami sempat bermain-main dengan ular yang ada di halaman ini.  Tenang, ada pawangnya kok.  Saat mencoba menggendong, selain bobotnya yang berat, ternyata kulit ular itu dingin lho.  Saya baru tahu.

Museum Sangiran
Sembari menunggu museum buka kembali, kencan dengan ular yuk

Di halaman depan museum juga berjajar warung-warung makanan yang menawarkan berbagai menu mulai dari snack hingga makanan lengkap. Kami sempat makan siang di sini, harganya tak terlalu mahal, bahkan terhitung murah jika dibandingkan dengan harga makanan di Jakarta dan Bogor.  Buat kalian yang ingin membawa kenang-kenangan dari Sangiran, di sisi lain area ini juga berjajar para pedagang souvenir, mulai dari gantungan kunci hingga kaos-kaos bergambar icon Sangiran.

Kunjungan ini mengajarkan saya banyak hal. Bahwa tak ada yang abadi di dunia ini.  Satu-satunya yang abadi adalah perubahan.  Manusia purba yang merupakan nenek moyang manusia pada masanya sudah memeiliki berbagai alat-alat penting untuk menunjang aktivitasnya.  Bisa jadi mereka bahkan sudah mengenal teknologi.  Tak ada yang tahu khan.  Di beberapa diorama, ditampilkan manusia yang berambut pendek, tanpa jenggot dan cambang.  Klimis.  Bersih.  Sama seperti arca di Candi Cetho.  Tampak rapi.  Apakah mereka sudah mengenal pisau cukur?

Museum Sangiran

Diorama-diorama menunjukkan bahwa nenek moyang kita adalah pekerja keras sekaligus pengelana unggul. Yang pasti kalau mereka saja pantang menyerah dan terus bergerak, alangkah malunya kita jika bermalas-malasan.

Mengetahui bahwa nenek moyang kita sama, sesungguhnya menggugah kesadaran bahwa kita semua bersaudara.  Kulit bisa jadi beda warna, bahasa mungkin berbeda, bungkusnya beda, tampilan tak sama tapi kita tetap bisa jalan di jalur yang sama, kemanusiaan dan cinta. Bahkan mungkin kalau kita mencoba tes DNA untuk mengetahui asal-usul aliran dalam gen dan darah kita, bisa jadi saya dan kamu, yang sedang membaca artikel ini ternyata punya gen yang sama.

Saya percaya kita terus berevolusi. Sekarang kita menemukan jejak manusia purba.  Bisa jadi jutaan tahun di masa depan, generasi berikutnya justru menemukan jejak kita.   Setelah ini saya berharap bisa mengunjungi klaster-klaster lainnya dalam kawasan Sangiran.  Ah… perjalanan, selalu menyisakan rasa penasaran sekaligus pelajaran baru.

 

Salam

Arni

 

Sumber Pustaka:

Wikipedia – Museum Fosil Sangiran

Brosur Museum Purbakala Sangiran

Buku Saku Museum Purbakala Sangiran

Website : http://sangiran.sragenkab.go.id

 

40 thoughts on “Jelajah Sangiran, Mengintip Jejak Nenek Moyang Manusia

  1. Aku suka banget baca tentang sejarah dan kali ini baca sejarah Sangiran ini rasanya malah pengen datang ke sana juga. Sragen ini dekat Solo kan ya? Berarti tunggu waktunya bisa pulang ke Semarang nih, trus diniatin main ke Sragen biar bisa lihat museum Sangiran juga. Makasi sudah menuliskannya dengan begitu detail ya, Mbak. Jadi tahu banyak tentang nenek moyang manusia

  2. yep yeeep yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri. Aku sih seneng aja ada manusia dan fosil di Sangiran.

    Yang ku bingung hanya “benarkah kita dulu nenek moyangnya se-mirip dengan monyet itu?” dan itu jelas bertentangan dengan isi kitab-kitab suci ha ahahhahahaha

    but anyway, senang sekali bisa melihat situs purbakala kayak gini ya Arni

  3. Jujur, jika membaca sejarah manusia purba kok masih tidak percaya jika itu nenek moyang manusia jaman sekarang ya.

    Dalam ilmu agama Islam, manusia merupakan garis keturunan Nabi Adam. Tapi, apa benar keberadaan manusia Sekarang ini dari hasil revolusi manusia purba..

    Wallahu alam..

  4. Dari empat klaster, saya baru pernah ke Klaster Krikilan. Pengin nyobain klaster lainnya, tapi belum sempat. Iya… museum Sangiran peminatnya banyak. Sudah beberapa tahun. Keren kan, kalau orang-orang tertarik dengan sejarah daerahnya sendiri.

  5. Enaknya mbak. Jalan2…krn emang Indonesia gak kalah bagus dengan luar negeri sih. Cuman memang museum dimana-dimana di indonesia hrs agak modern dalam pembelian tiket dan tata letaknya

  6. Wah, wah, waaah, sungguh menaojubkan membaca seluruh tulisan ini. Cuma rada-rada bingung bin kepingin tau apa benar tuh ya tentang evolusi per evolusi perubahan nenek moyang kita tadinya bermuara dari keturunan hanoman a.k.a. k-e-r-a seperti kata ilmuwan Darwin itu loh.
    Last but not least no wonder lah tulisan ini jadi Jawara di lomba menulis tentang Cagar Budaya.

  7. Kak, nggak foto berpose mirip2an di depan patung2 homo erectus 😀

    Kesan pertama saat belajar sejarah dan tahu ada Sangiran, yang lokasinya dekat dengan t4 tinggal saya waktu itu (Colomadu, karanganyar), membuat berfikir.. Trs kita-kita ini berarti bukan asli orang Jawa sini ya? jangan2 pendatang dari atas (china dan melayu).

  8. pada saat baca artikel ini, aku bilang ke suami, “Pa, kalau kita pulkam ke surabaya mampir ke museum manusia purba ini yuk”
    dia kaget dong, kenapa kok tiba-tiba aku tertarik sama manusia purba. aku sendiri ga tau kenapa.

    Dulu waktu SMA sama sekali gak tertarik dengan sejarah manusia purba, hal2 yg sudah punah dll. Apalagi dulu mind setnya manusia pertama di bumi adalah Adam. Apakah nabi Adam rupanya seperti manusia purba, itu pertanyaan yang ada di kepalaku hingga saat ini. Aku yakin, nanti anak2ku akan bertanya hal yang sama.

    Sepertinya memang cocok untuk mengajak anak-anak berkunjung ke sini, supaya makin menambah pengetahuan mereka tentang kehidupan jaman purba dulu.

  9. Wah baru tahu saya kalau ada museum Sangiran di Sragen, padahal saya sering lewat sana kalau lagi pulkam. Padahal lagi saya selalu minat dengan seluk beluk prasejarah.

    Next pulkam harus mampir nih.

  10. Kayaknya gajah-gajah itu suka jalan-jalan ya. Pas nyampe Lampung, Pulau Jawa sama Pulau Sumateranya terpisah karena es mencair. Jadi mereka gak bisa balik dan trauma kalo harus pergi-pergi lagi takut gak bisa balik lagi. Hihihi

    Menyenangkan bisa memahami asal-usul kehidupan. Meski sains bisa dikoreksi, tapi setidaknya untuk saat ini, pengetahuan tentang manusia sangiran yang bisa jadi patokan.

  11. Dengan mengunjungi musuem sangiran di sragen dan masuknya juga murah sekitar 8 ribu dan bisa menikmati fasilitas yang ada di sana..

    pengen banget saya bisa ke sana..

  12. Harga tiketnya murah sekali tapi ilmu yang di dapat sangat banyak uwuwuwu

    Mba berani banget gendong ular, klo saya sih mungkin sudah pingsan hehehhe

  13. asiknya bisa tahu salah satu asal usul kehidupan di museum sangiran ini

    dulu sering denger namanya pas mata pelajaran sejarah tapi belum pernah nih smpet kesana,, padahal jadi salah satu bukti kemajuan peradaban loh ya, thx kak

  14. Aku pernah ke Sangiran ama suami, dari Solo naik grab. Driver bingung, ngapain ke sana. Nengok saudara tua, kata suami. Aku suka sih ke Museum dan belajar sejarah. Lengkap ya di Sangiran. Koq aku engga lihat ada ular?…hehe…

  15. aku ketika mengunjungi museum, selalu seperti ada byangan sendiri dimana masa itu ada. Misal kalau ke museum ini, pasti akan tergambar bagaimana suasana dahulu prasejarah ini dan darimana cerita-cerita itu berasal

  16. Kalau sudah ada museum yg nyaman seperti ini belajar tentang sejarah dan manusia purba semakin menyenangkan….semoga suatu saat bisa berkunjung ke sana juga. Lumayan nambah2in jumlah museum yang sudah dikunjungi …..

  17. Dulu ketika masih SMA saya hafal betul nama nama manusia purba dan ciri-cirinya. Baca tulisan tentang Sangiran ini membuat saya flashback, hihi

  18. Ya Allah, Mbak, saya langsung jump ke bawah saat lihat pose dengan ular besar. Merinding banget!!!

    Koleksi Sangiran sangat komplet. Cocok untuk referensi sejarah purba Indonesia. Saya belum menargetkan ke sini karena lebih fokus ke sejarah perempuan dan kolonialisme

  19. Keren mb, ulasannya.. Saya pernah ke Sangiran dulu pas masih SD. Suasananya memang gersang dan berpasir. Mungkin itu karena dulunya Sangiran bekas lautan ya.. Suka mengunjungi tempat seperti ini. Banyak ilmunya

  20. Aku baru tau loh mbak ada museum Sangiran. Musti ajak anak nih kl ke sini biar anak ku nambah pengetahuan ttg sejarah manusia purba. Ehhh itu kok mbak Arni berani bgt megang ular, kl aku pasti udah pingsan mbak hiks

  21. Duh saya malah belum pernah datang kesini, eh di sini artikelnya malah lengkap banget, yah semoga kalau jalan-jalan di daerah sragen bisa mampir disini.

    Ingat jangan jadi orang malas, nenek moyang kita aja pekerja keras hehe

  22. Wah Karanganyar kampung halaman Ibuku Mba. Tapi selama kami mudik, nggak pernah sekalipun mampir ke museum Sangiran ini. Tiket masuknya sangat terjangkau, bisa menjadi alternatif wisata edukasi buat anak-anak.

  23. Saya tahu tentang Sangiran ini, tapi saya baru tahu kalao ternyata Sangiran ya sepenting itu.

    Kalau soal kegigihan, manusia jaman dulu pasti jauh lebih gigih. Mereka selalubfokus dengan apa yang dikerjakan, belum ada gangguan dari instagram 😂

  24. Sebagai pecinta ilmu sejarah, Sangiran menjadi salah satu wishlist saya. Dulu sering mupeng kalo diceritain perjalanan temen2 jurusan ilmu sejarah yang menjelajah Sangiran. Eh, sekarang baca tulisan Mbak Arni. Jadi, makin mupeng nih 😍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *