Kearifan Lokal Desa Sade, Lombok Tengah

Desa Sade

Saat berkendara menuju Pantai Kuta Mandalika lalu ke Tanjung Aan dan Bukit Merese kami melintasi sebuah desa yang dari luar tampak sangat unik. Sekilas ramai oleh pengunjung.  “Ini Desa Sade, desa tradisional yang jadi desa wisata karena masih memelihara adat istiadat dan budayanya. Nanti kita ke sini, sekarang ke pantai aja dulu,” kata Ari, guide kami hari itu yang kemudian melajukan kendaraan menuju pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese

Dan jadilah setelah berpanas-panas ria di pantai, dalam perjalanan menuju ke penginapan kami mampir sejenak ke Sade yang terletak di Rembitan, Pujut, Lombok Tengah.  Makanya wajah kami udah yang super kucel deh pas ke Sade hahaha.  Harap maklum yaaaa

Bangunan tradisional khas Lombok menyambut kedatangan kami di Sade, bentuknya mengerucut dan dikenal sebagai lumbung. Dalam perjalanan selanjutnya di kota Mataram dan sepanjang jalan di Lombok, kami menemukan banyak sekali bentuk-bentuk bangunan serupa, bahkan di bangunan permanen sekalipun, selalu ada bentuk lumbung di atasnya.

Desa Sade
Selamat datang di Desa Sade

Tidak ada tiket masuk untuk berkunjung ke desa ini, namun sebaiknya saat berkeliling kita ditemani oleh guide yang akan menjelaskan sejarah Desa Sade dan seluk beluknya, nanti berikan imbalan seikhlasnya.  Jangan lupa terlebih dahulu mengisi buku tamu di pintu masuk.  Pajangan kain tenun khas Lombok langsung menarik perhatian saya, aneka kerajinan tangan, gelang, kalung, tas anyaman semua tampak menggoda.  Mengingatkan saya pada kain-kain di Pantai Kuta Mandalika dan makin bikin nyesek saat tahu harga yang ditawarkan di Sade mencapai ratusan ribu. Hiks… rasanya ku ingin berlari ke pantai buat jajan kain hahaha

Baca juga : Menikmati Keindahan Pantai Kuta Mandalika

Bapak guide – yang aduh maaf saya lupa namanya (maafkan kepikunan saya) – mengantarkan kami mulai dari lorong pertama di Desa Sade. Desa ini tidak terlalu luas, berada di lereng perbukitan tanah liat yang memang tidak rata, dengan rumah-rumah yang dibangun cukup rapat satu sama lain, terpisahkan oleh lorong-lorong kecil  dan panjang berupa jalan setapak yang tentunya tak bisa dilintasi beramai-ramai.  Harus antri yaaaa.  Hampir di setiap rumah kita akan menemukan kain tenun yang cantik-cantik itu.  Ada juga yang sudah berbentuk baju, outer atau model lainnya. Huft… saya ngiler berat booo!

Desa Sade
Aneka kain tenun di Desa Sade

Desa Sade
Berburu souvenir cantik khas Lombok, di Desa Sade tempatnya

Jelajah Keunikan Desa Sade

Sejak pertama kali menginjakkan kaki saya sudah terpesona pada desa ini. Menurut bapak guide, Sade artinya obat.  Desa ini telah berdiri sejak tahun 1079 yang artinya sekarang sudah berusia sekitar 941 tahun.  Wow sudah tua sekali ya .  Yang luar biasa Sade masih menjaga adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur jaman dulu.  Mulai dari bentuk rumah, cara perawatannya hingga kebiasaan turun temurun termasuk dalam hal perjodohan.  Nanti akan kita bahas satu persatu.

Saat berkeliling, suasana khas pedesaan langsung terasa. Rumah-rumah beratap ijuk/jerami, kuda-kuda atapnya yang memakai pasak (tanpa paku), dinding berupa anyaman bambu, lantai beralas tanah.  Bahkan, meski listrik sudah masuk di desa ini, beberapa rumah masih menggunakan penerangan berupa lampu tradisional yang disebut penyembe. Oh tak lupa, bangunan rumah ini memiliki konstruksi tahan gempa.  Saat gempa besar mengguncang Lombok tahun lalu, Desa Sade menjadi salah satu desa yang aman dan tak mengalami kerusakan yang berarti.  Luar biasa.

Desa Sade
Penyembe, lampu tradisional di Desa Sade
Desa Sade
Lorong-lorong kecil antar rumah di Desa Sade

Ada 3 tipe bangunan di Desa Sade yaitu :

  1. Bale Bonter, rumah yang ditempati oleh pejabat desa, biasa juga digunakan untuk persidangan adat atau pembahasan halhal terkait kebijakan warga
  2. Bale kodong, untuk warga yang baru menikah atau bagi mereka yang menghabiskan hari tua
  3. Bale tani, untuk warga yang berkeluarga dan memiliki keturunan

Kami sempat diajak mengunjungi satu rumah yang merupakan bangunan tertua di Sade. Konon sudah berusia ratusan tahun, hampir seumuran berdirinya desa ini.  Bangunannya terletak di tengah-tengah perkampungan.  Saat saya masuk ke dalamnya, auranya adem sekali, padahal kalau dilihat, atapnya pendek dan dari luar terkesan gelap dan sumpek.  Ternyata tidak begitu saat sudah di dalam.  Rasanya lega dan sejuk.  Pembagian ruang dalam rumah menjadi 3 bagian, bagian depan untuk tempat tidur anak lelaki dan orang tua.  Bagian kedua yang posisinya lebih tinggi untuk dapur, lumbung dan tempat tidur anak perempuan.  Lalu bagian terakhir yang paling belakang ada sebuah ruangan kecil untuk tempat ibu melahirkan.

Desa Sade
Bagian dalam rumah adat Desa Sade. Luas dan lega

Ciri khas lainnya adalah pintu masuk yang dibuat rendah, sehingga untuk masuk ke dalam rumah kita otomatis menunduk. Filosofinya adalah mengajarkan kita bersikap rendah hati.  Saat masuk ke dalam rumah, buang semua ego dan siap bercengkerama sebagai keluarga dengan cinta dan kasih sayang.

Hal paling unik di sini adalah kebiasaan mengepel lantai dengan kotoran kerbau/sapi. Benar-benar menggunakan kotoran yang masih basah dan segar.  Tanpa campuran air atau apapun.  Setelah digosokkan pada lantai, dibiarkan mengering baru kemudian disapu.  Mereka percaya dengan begini lantai lebih bersih dari debu-debu, lantai lebih kuat dan mencegah masuknya serangga terutama nyamuk ke dalam rumah.

Bagaimana baunya?

Percaya deh, gak ada bau sama sekali. Saya sudah membuktikannya.  Saya sempat masuk ke salah satu rumah yang baru saja paginya dipel dengan kotoran kerbau dan tak ada aroma tak sedap sama sekali.  Sungguh, saya takjub.

Desa Sade
Bapak pengrajin gelang
Desa Sade
Membuat anyaman topi
Desa Sade
Seorang ibu sedang menumbuk kopi. Aromanya sedap sekali

Proses pembuatan aneka kerajinan tradisional juga kami temui langsung saat berkeliling di desa ini. Seorang bapak tua yang sedang membuat tikar, topi dan aneka anyaman.  Seorang ibu di sudut rumah yang sedang menumbuk kopi dan beragam kearifan lokal lainnya.

Ada sekitar 700 jiwa yang tinggal di Desa Sade, terdiri dari 150 KK/rumah.  Semuanya adalah suku  Sasak.  Mata pencaharian utama penduduknya adalah bertani.  Karena tak ada sistem irigasi dan lokasinya berada di perbukitan, mereka mengandalkan hujan sehingga hanya panen sekali dalam setahun.  Untuk perempuannya, selain membantu berladang juga wajib bisa menenun.  Tak heran, saat berkeliling, di setiap rumah tersedia alat menenun.  Prema sempat mencoba menggunakan alat ini, menjadi pengalaman unik tak terlupakan baginya.

Desa Sade
Prema belajar menenun

“Seru banget! Prema baru tahu kalau bikin kain itu begitu caranya. Hebat ya mereka, bu.  Warna kainnya bagus-bagus lagi,” komentarnya takjub

Rasa takjubnya makin menjadi-jadi saat kami lanjut berkeliling dan di salah satu sudut menemukan seorang ibu yang sedang memintal benang, langsung dari kapas. Wuaaa, jangankan Prema, saya aja baru pertama kali melihat ini.  Benang yang sudah jadi itulah yang kemudian diwarnai dan ditenun hingga menjadi selembar kain nan cantik.

Desa Sade
Seorang ibu yang sedang memintal benang dari kapas

Wow!”

Pembuatan satu kain songket bisa memakan waktu antara 2 minggu hingga 3 bulan. Tergantung ukuran dan kerumitan polanya.  Di sini hati saya kemudian berbisik, “ya wajarlah harganya sampai ratusan ribu. Bikinnya susah maaak.  Kalau saya disuruh bikin, sampai tahunan juga kayaknya gak bakalan kelar deh,”

Saya dan Putri sempat mencoba mengenakan baju lumbung, pakaian tradisional khas perempuan Sasak. Baju lumbung ini biasanya dikenakan dalam acara-acara adat seperti pernikahan dll.  Coraknya indah sekali, dengan warna-warna ceria.  Pemakaiannya juga mudah.  Baju yang simpel tapi terlihat manis.

Desa Sade
Saya dan Putri mengenakan baju lumbung. Pakaian tradisional perempuan suku Sasak
Desa Sade
Numpang narsis di depan rumah tertua di Desa Sade

Bertemu Cinta di Pohon Cinta

Satu lagi tradisi unik di Desa Sade adalah dalam hal perkawinan. Di sini, saat akan menikah perempuan harus diculik terlebih dahulu oleh pihak laki-laki.  Atau berjanji diam-diam untuk bertemu di sebuah tempat yang diberi nama pohon cinta.  Pohon ini letaknya tepat di tengah-tengah desa.  Namun posisinya entah bagaimana berada di belakang rumah-rumah Desa Sade.  Seolah memang sudah diatur sedemikian rupa, sebagai tempat pertemuan bagi mereka yang sedang jatuh cinta.  Nanti, akan ada seseorang yang bertugas sebagai mak comblang, memberi kabar ke keluarga perempuan untuk kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan tentang pernikahan.

Mak comblang bukan hanya jadi penghubung. Mak comblang juga harus pinter dan jeli mengawasi rumah si perempuan.  Bagaimana orang tuanya, apakah si perempuan siap “kabur” atau apakah ada janji dengan laki-laki lain misalnya.  Apalagi kalau perempuannya cantik, wah bakalan jadi rebutan,” bapak guide kami menjelaskan

Desa Sade
Pohon cinta yang selalu penuh cinta

Tradisi unik ini disebut memari atau kawin lari.  Saat sudah bertemu di pohon cinta, perempuan yang diculik akan dibawa ke rumah keluarga atau teman si laki-laki selama 3 hari 2 malam.  Dalam masa inilah kemudian ada utusan dari pihak lelaki ke rumah perempuan yang melakukan negosiasi tentang rencana pernikahan.  Benar-benar tradisi yang unik.

Pohon ini sebenarnya adalah pohon nangka. Meski sekarang pohonnya sudah mati, tapi tetap berdiri tegak dan dijaga keberadaannya.  Justru karena sudah tak berdaun itu, menjadikannya tampak eksotis.

Baca juga : Pesona Tanjung Aan dan Bukit Merese

Merawat Kearifan Lokal, Merawat Kekayaan Bangsa

Pada hari-hari tertentu, jika beruntung kita bisa menyaksikan beberapa atraksi budaya di Desa Sade. Antara lain permainan alat musik tradisional yang dikenal dengan Gendang Beleq atau gendang besar.  Biasanya dimainkan oleh lelaki yang memanggul gendang dan memukulnya dalam irama tertentu.  Selain itu ada juga tarian Presean dan tarian Cupak Gerantang.  Ou, mengenai Cupak Gerantang membuat memori saya teringat pada dongeng masa kecil dari Bali yang sering diceritakan oleh bapak saya dahulu.  Tentang dua bersaudara yang perilakunya sangat jauh berbeda.  Mungkin dongeng ini adalah dongeng yang sama yang diejawantahkan dalam bentuk tarian.

Desa Sade
Salah satu atraksi budaya di Desa Sade, Main Presean.  Karena kami datang sudah sore, tak sempat menyaksikan ini. Tapi Prema dan Ayah sempat memainkannya bersama
Desa Sade
Sebelum pulang, cekrek dulu

Tak terasa perjalanan kami sudah sampai di ujung desa.  Sungguh, buat saya kunjungan ini membuka mata bahwa Indonesia begitu kaya dengan budaya dan adat istiadat yang begitu unik.  Bahwa para tetua kita dahulu mewariskan harta karun tak ternilai harganya.  Setiap  bangunan, setiap keputusan, setiap aturan memiliki filosofinya masing-masing yang tentunya telah dipikirkan matan-matang untuk kebaikan bersama.  Sebuah kearifan lokal yang tak lekang dimakan zaman.

Sampai kapan Desa Sade sanggup bertahan dari gempuran dunia modern?

Saya sih berharap, desa ini akan tetap lestari dengan semua tradisinya. Apalagi nanti, kalau sirkuit MotoGP Mandalika jadi dibuka tahun depan, yang artinya jalur jalan raya di Desa Sade akan semakin ramai dengan lalu lalang kendaraan, kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara juga akan meningkat,  semoga Desa Sade tetap berdiri dengan pesona kearifan lokalnya.

 

Salam lestari

Arni

 

 

107 thoughts on “Kearifan Lokal Desa Sade, Lombok Tengah

    • Terimakasih sudah berkunjung ke sini, Ayuk Annie
      Semoga tulisana sederhana ini cukup memberi info tentang Desa Sade ya

      Yuk yuk agendakan main ke Lombok

  1. Wah, seru banget ya bisa jalan2 ke Desa Sade. Apalagi sempat belajar menenun juga.

    Kalau di daerahku di Lampung, tradisi perempuan yg mau menikah diculik oleh pihak laki2 disebut sebambangan. Mirip prosesnya, ada orang yg diutus utk nyampein pesan ke orangtua perempuan. Cuma gak pake ketemuan di pohon cinta hehe

  2. Mba untuk penduduknya mereka udah terbiasa diminta foto kali ya? Terus bisa gak Mba masuk ke rumahnya yang unik itu? Lihat2 dapurnya dll? 😀
    Saya bener2 pengin ke sana euy
    Itu kain tenunnhya juga khas banget ya 🙂

    • Karena ini Desa wisata jadi memang tiap hari rame sama kunjungan wisatawan, Teh
      Nah penduduknya ya udah biasa berhadapan dengan kamera. Meski begitu, tiap mau motret ya aku tetap ijin dulu sama mereka

      Ou untuk masuk rumahnya bebas kok. Malah sama guide ditawar2in gitu deh untuk masuk dan berkeliling di dalamnya

  3. Huhu mbaa saya pengen banget ke desa Sade ini. Temen saya ada yg asli Lombok dan cerita kalo disana beneran menarik. Semoga secepatnya bisa ke sana. Aamiin

  4. wow aku pernah lihat tayangan di tivi tentang mengepel dengan kotoran kerbau, masak ga bau sih mbk? hehe duh jd penasaran ke Sade masak karena cara ngepelnya hehe. Selalu suka dengan perjalanan mbk yang penuh sejarah

    • Serius gak bau lho
      Aku gak lihat langsung pas ngepel. Waktu ke sana, posisinya udah bersih, baru habis di sapu. Kayaknya lain waktu ke sananya pagi-oagi deh biar lihat yang ngepel

  5. wow 941 tahun, dan masih bertahan dengan budaya yang sangat arif. anw desa sade menjadi salah satu bucket list ku nih mba hehe belum kesampean – kesampean. semoga bisa segera kesana 😉

  6. Saya yakin Desa Sade akan bertahan sampai kapanpun jika pemerintah setempat ikut membantu memperkenalkan budaya yang ada disana kepada pihak luar. Melihat bangunan rumah dan cara membersihkannya saja sudah unik, ini sudah bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk melihat langsung kesana.

    • Betul mbak
      Sebagai Desa wisata Desa Sade mungkin akan bertahan
      Aku sih berharap generasi mudanya tetap mau melestarikan budaya
      Jujur aja, saat ke sana aku hanya bertemu dengan orang-orang tua dan anak-anak kecil. Gak ketemu anak mudanya sama sekali

  7. Mutia Ramadhani says:

    Penyembe itu kayak obor mini ya mba? Saya sudah sering lihat foto teman-teman yg main ke Desa Sade, namun ulasan tentang kearifan lokalnya yg lengkap baru saya baca di blog Mba Arni ini. Nice.

    • Iya mbak, mirip begitu sepertinya penyembe ini
      Sayang kami ke sananya masih sore jadi penyembe ini belum dinyalakan
      Padahal aku juga penasaran pengen lihat

      Wah makasi apresiasinya mbak
      Aku hanya menuliskan yang aku ingat dari penjelasan bapak guide kami sore itu

  8. Keren banget pengalamannya., Mbak Arni.

    Saya penasaran saa Desa Sade. Keunikan mengenai kebiasaan mengepel lantai dengan kotoran kerbau/sapi sudah beberapa kali saya baca.

    Terus, waktu gempa hebat beberapa waktu lalu, rumah2nya masih bertahan begitu, apakah mungkin karena arsitekturnya tahan gempa ya? Atau karena memang gempanya kurang efeknya di sana? Penasaran. 🙂

    • Justru wilayah ini termasuk daerah terdampak gempa cukup keras lho
      RUmah-rumah permanen di sepanjang jalan masih terlihat sisa gempanya. Di Desa Sade malah aman bangunannya. hebat ya

  9. Lombok kaya akan keunikannya, sehingga lombok menjadi destinasi wisata yang cukup populer. Kalau baca artikel mbak Arni ini, rasanya pengen main lagi ke sana… saya kangen sama pantai-pantainya… 🙂

  10. sy senang nih kalau berkunjung ke tempat wisata ada sejarah seperti ini jadi kita mendapat cerita tidak sekedar jalan…hrs masuk rencana perjalanan sy nih desa Sade…menarik banget..

  11. Saya suka sekali Desa Sade ini, memasukinya berasa masuk ke masa yang berbeda. Inget banget pas kesana ada temen yang belum menikah , dibilang ibu penenun kalau perempuan Sade wajib bisa menenun sebelum menikah, lalu mendadak pada ingin kursus menenun. Hahhahaa

  12. Saya benar2 kangen pengen ke Sade, nih. Huhuhu. Semoga sampai akhir tahun ini adik masih betah di Lombok. Pengen ikut ke sana ba’da lebaran nanti. Huhuhu….
    Semoga bisa. Aamin!

  13. haniwidiatmoko.com says:

    Waktu itu sempat mampir ke Desa Sade, kok yaa engga masuk ke rumah tradisional dong. Rombongan mau buru-buru ke Pantai Kuta. Duh nyesel…
    Kalo ga kan aku bias banyak belajar tentang kearifan local. Makasih kisahnya. Mau ah…ke sana, kapan-kapan…

  14. Wah jadi kangen ke Lombok nie wkwkwk. Desa sade memang unik, yang penduduknya masih memakai adat kalau menikah harus bisa buat kain tenun dulu dan tidak bole sama orang luar sade ya. Tulisanku belum publish euyyy mengenai sade. Huhuhu

  15. Ooooh Sade itu artinya obat? Wuih desa ini sudah hampir berusia 1000 tahun ternyata ya. AKu punya loh kain tenun Lombok. Dikasih mama mertuaku almh. Jadi memang dibuat oleh nenek2 perawan tuh lama gitu prosesnya ..harganya hmmm mahal. Pernha ke Lombok sekali cuma sehari semalam wkwkwk kapan2 mau lagi ah berkunjung ke sana siapa tau bisa mampir ke Desa Sade. TFS 😀

  16. Haduuuu langsung aku pengen donggg k Lombok nih mba Putuuu. Indah banget bisa explore beberapa kearifan lokal di rumah sade ini. Emang khas nya itu dengan bentuk lumbung gitu yah

  17. Waah seneng banget yah mba bisa liburan keluarga di tempat sekeren Sade. Usianya udah mau 1000 tahun yaak? Gilaaa… Keren abis dah bisa melestarikannya sampe selama itu

  18. Visya Al Biruni says:

    Waah jadi ingat masa honeymoon. Salah Satu destinasi honeymoon backpacking kami adalah Lombok, termasuk Desa Sade, Tanning Aan, dsk. Sayangnya saat ke desa Sade ngga ada tourguide, huhu jadinya cuma lihat-lihat aja.

  19. Mbak, tulisannya dikirim ke majalah coba. Bagus lho ceritanya. Aku pernah ke desa sade pas SMA. Zaman belum ada kamera digital. Wkkka udah lama banget. Seru injek lantai yang dipel sama kotoran kerbau. Ada gelang dari tanduk sapi apa ya itu unik banget

  20. Lombok itu banyak sekali ceritanya ya. Aku selalu terperangah kalau mendengar cerita teman-teman dari Lombok atau yang baru berkunjung ke Lombok. Nggak hanya wisatanya yang indah, namun juga budaya dan seninya. Benar-benar harus masuk bucket list untuk dikunjungi nih.

  21. Desa Sade ini salah satu kearifan lokal yang unik. Kain tenunnya juga bagus-bagus. Nah itu yang cukup menarik salah satunya adalah kebiasaan mengepel lantai dengan kotoran kerbau.
    Aku jadi kangen menjejak ke Lombok lagi

  22. Wah keren ya di zaman yang sudah canggih seperti sekarang ini masih ada desa yang tetap menjaga tradisinya dengan erat seperti desa Sade ini. Suka dengan filosofi pintu rumah dari desa ini yang sengaja dibuat pendek agar penghuninya bisa rendah hati. Tradisi membersihkan rumah dengan kotoran sapi dan pernikahannya juga unik sekali ya.

    • Iya mbak, aku juga salut sama filosofi pintu rumah yang dibuat rendah itu
      Betapa para tetua suku sasak dulu begitu mempertimbangkan soal etika sejak awal desa ini berdiri

  23. Saya tertarik dengan membersihkan lantai dengan kotoran kerbau. Apa ini ada kaitannya dengan yang dimakan, ya?

    Seperti kotoran manusia kan biasanya baunya juga tergantung apa yang dimakan. Saya jadi mikir kalau kerbau di sana makanannya masih semua organik. Jadi kotorannya pun gak bau

    • Nah aku gak tahu deh saat ngepel itu bau atau nggaknya mbak, karena memang yang dipakai kotoran yang masih basah
      Saat aku masuk ke rumah yang habis dipel sih udah bersih dan memang gak bau sama sekali. Bisa jadi ya ada hubungannya dengan makanan

  24. Unik banget, kesannya tradisional tapi bersih gitu dan lokasi rumahnya berdekatan. Aku udah lama pengin melihat aktivitas warga sekitar yang kayagini yang betapa masih asri dan murninya di tengah serba digital sekarang.

  25. Saya selalu suka membaca kisah perjalanan ke daerah tradisional seperti ini. Seperti lorong waktu yg membawa kita ke masa2 puluhan tahun lalu. Trima kasih sudah berbagi, semoga saya bisa berkunjung ke Sade suatu saat nanti

  26. Dalam sebuah pertemuan dengan pegiat desa, saya sempat mendengar desa ini. Sebenarnya sudah ada rencana ke sana. Namun, karena banyak kendala kegiatan, hingga membaca tulisan ini, belum sempet juga ke desa Sade.

    Pemerintah memang sedang menggalakan desa wisata. Melalui gelontoran Dana Desa, semoga desa-desa di Indonesia semakin sejahtera ke depannya.

    Tentu dengan tidak melupakan jati diri dan budaya desa ya Mba?

  27. Suka banget deh lihat tradisi budaya lain. Jadi jalan-jalan itu ga cuma lihat pemandangan manjain mata, tapi juga belajar 😀
    Paling unik soal kotoran kerbau dan culik menculik hihi

  28. Kok aku tertarik dengan tradisi pernikahannya ya, wkwkwkw Lucu banget di bawa kabur. Terus kalau perempuannya ga mau repot sudah itu. hehehe. Nice mba, liburan bukan cuma sekedar jalan-jalan tapi juga belajar bidaya setempat.

  29. Pasti deh kalo abis baca blog kaka aku jadi envy sendiri hehe. Maklum masih banyak banget tempat yang belum aku kunjungi *sedih yaah wkwk. Btw, jadi urban legend sendiri yaah kak Pohon Cintanya dan cerita dibaliknya yang membuat pohon ini memiliki daya tarik lebih, Keren!

  30. Cuma bisa berharap desa Sade akan terus seperti ini, mempertahankan semua adat dan budaya nya. Aku salut juga sama tradisi turun temurun yang mengharuskan seorang perempuan untuk menenun. Itu semacam lifeskill ya. Eh aku jd penasaran nih, ada ga ya penduduk desa Sade yang merantau ke kota?

  31. Saya selalu terkesima dengan indahnya kain tenun buatan tangan. Wajar banget kalau harganya mahal. Dari proses pembuatannya aja udha rumit dan memakan waktu lama. Punya 1 aja kain buatan tangan seperti itu rasanya seneng banget

  32. Selalu suka baca cerita kebudayaan kayak gini. kalau di Jawa Barat ada Kampung Naga yang punya juga tipe-tipe rumah kayak di Kampung Sade ini. Aku mau ke sini.. plisss.

  33. Tulisannya ngalir, aku kayak diceritain langsung sama Mba… Dan terjawab sudah rasa penasaranku akan Desa Sade, makin pingin ke sana deh… Bagian yg ngepel pake tai kerbau itu ternyata biar rumah nggak ada nyamuk

  34. yang saya suka saat berkunjung ke desa wisata seperti Desa Sade ini adalah bisa bercengkrama dan memahami budaya lokal mereka. Desa Sade ini sekarang udah bener-bener tertata rapi ya dari mulai suasana sampai promosinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *