8-1

Selamat Pagi! Dari Titik Nol Yogyakarta Kami Menyapa

“Ibu-ibu cantik. Rencana besok pagi kita jalan jam 5 pakaian olahraga, jalan pagi cantik di Malioboro. Siap action ya…”

Pesan di atas saya terima di WA dari bu Dewi Edam, ibu yang selalu energik dan penuh ide. Dikirim sehari sebelum keberangkatan kami ke Yogyakarta untuk menari dalam rangka Abhiseka Siwa Grha 1166 Candi Prambanan. Pesan yang langsung saya sambut dengan senyuman manis membayangkan bakalan seru banget nanti di Yogya, sejak hari pertama.

Benar saja. Kami tiba di Yogya sekitar pukul 4.30 pagi dan langsung check in hotel lalu masuk kamar masing-masing. Lanjut tidurkah? Ou tentu tidak. Hanya sempat  taroh barang, membasuh muka biar gak kuyu, langsung kembali ke bis, menuju titik nol Yogyakarta.

Continue reading “Selamat Pagi! Dari Titik Nol Yogyakarta Kami Menyapa”
8-1

Damai dan Cinta di Klenteng Sam Poo Kong

Sam Poo Kong

Hari masih pagi ketika kami tiba di Klenteng Sam Poo Kong, salah satu bangunan bersejarah di kota Semarang yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat peribadatan umat Tri Dharma (Konghucu, Tao dan Buddha).  Suasana meriah menyambut kedatangan kami, lampion merah tampak menggantung di banyak tempat.  Para petugas klenteng tampak bersiap-siap.  Kebetulan kami datang beberapa hari sebelum upacara Cap Go Meh, maka tak heran, suasana di sini meriah sekali.

Seperti klenteng-klenteng pada umumnya, bangunan di sini sangat kental nuansa negeri Cinanya.  Atap bersusun dua atau tiga dengan ujung runcing, dilengkapi ornamen-ornamen oriental dengan warna cerah  yang menjadi ciri khasnya.  Klenteng Sam Poo Kong terletak di daerah gedung Batu, Simongan, Semarang.  Tak terlalu sulit untuk menuju ke sini, meski merupakan tempat ibadah, namun Klenteng ini sangat terbuka untuk kunjungan wisatawan juga.  Yang paling penting sebagai pengunjung, kita harus bisa menjaga sikap dan tutur kata untuk tetap sopan dan saling menghargai. Continue reading “Damai dan Cinta di Klenteng Sam Poo Kong”

8-1

Jelajah Sangiran, Mengintip Jejak Nenek Moyang Manusia

Museum Sangirang

Besok kita ke mana?” tanya Cah Bagus saat kami sejak bersantai menikmati dinginnya malam di lereng Gunung Lawu.  Menyusuri kebun teh yang terhampar di sepanjang jalan Dusun Jlono, Kemuning.

“Bagaimana kalau kita ke Sragen saja. Ke Museum Sangiran.  Ayah udah cek maps, perjalanan sekitar 1 jam dari sini.  Gak terlalu jauh kok,” Usul Ayah.

Mau… mauuuu….,” Kami langsung setuju

Mumpung sedang liburan di Karanganyar, masih ada waktu sehari sebelum kembali ke Jakarta. Meski berangkat tiga keluarga dari Bogor tapi sepertinya kali ini kami akan ke Sragen sekeluarga saja.  Sepulang dari Candi Cetho dan Sukuh tempo hari, keluarga Pak Agus Widodo melanjutkan perjalanan ke Blitar.  Sedangkan keluarga Pak Paryanto, berencana bertandang ke rumah keluarganya di Tawangmangu.  Continue reading “Jelajah Sangiran, Mengintip Jejak Nenek Moyang Manusia”

8-1

Suara Alam dari Candi Cetho Untuk Pelestarian Cagar Budaya Indonesia

Menapakkan kaki menaiki satu demi satu anak tangga menuju tingkatan-tingkatan teras Candi Cetho, hati saya bertanya-tanya, kira-kira seperti apa perasaan Van de Vlies, arkeolog Belanda yang pada tahun 1842 menemukan 14 teras atau punden bertingkat memanjang dari Barat ke Timur yang meski tertutupi oleh lumut, namun kemegahannya tetap tak dapat disembunyikan. Di tengah hutan, di lereng Gunung Lawu, dalam sebuah perjalanan tiba-tiba bertemu bangunan kuno yang entah kapan dibangun, berdiri megah di ketinggian. Membayangkannya saja saya sudah merinding.  Seperti nonton film-film penemuan harta karun.

Sejak pagi di Dusun Jlono, tempat kami menginap, saya excited sekali mengingat perjalanan hari itu adalah ke Candi Cetho, sebuah destinasi yang saya impikan sejak lama untuk dikunjungi.  Agenda ke Candi Cetho sudah lama kami rencanakan, bahkan beberapa kali rasanya sudah di depan mata banget, lalu karena sesuatu dan lain hal kemudian batal.  Ah, rupanya saya baru berjodohnya kali ini.  Semesta tahu kapan waktu yang tepat. Continue reading “Suara Alam dari Candi Cetho Untuk Pelestarian Cagar Budaya Indonesia”

8-1

Liburan Sekolah, ke Sekolah STOVIA Aja, Yuk!


Museum Kebangkitan Nasional STOVIA

“Prema, malam ini gak boleh begadang ya.  Besok pagi-pagi kita mau ke Jakarta.  Ada acara seru di Museum Kebangkitan Nasional,” pesan saya di Jumat malam ke Prema.  Selama masa liburan ini  memang kami agak longgar urusan jam tidur, karena pagi gak sekolah, Prema jadi bisa bangun lebih siang

“What! Ke museum lagi?” tanya prema kaget.

Selama liburan panjang ini, Prema memang kami ajak keliling ke museum-museum.  Awal bulan lalu ke Museum Manusia Purba Sangiran di Sragen.  Lalu dua minggu lalu ke Munasain (Museum Sejarah Alam Nasional Indonesia) di Bogor.  Awal pekan lalu ke Museum Zoologi di Bogor dan akhir pekan (lagi-lagi) ke Museum Kebangkitan Nasional.  Jadi wajar saja dia kaget.  Mabok museum.  Haha. Continue reading “Liburan Sekolah, ke Sekolah STOVIA Aja, Yuk!”

8-1

Ujung Perjalanan, Melipir ke Pulau Cipir

Pulau Cipir

“Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”

Sepertinya peribahasa paling pas deh buat mewakili perjalanan kami hari itu.  Bagaimana tidak, dalam sekali perjalanan kami benar-benar berlabuh di tiga dermaga, tiga pulau berbeda. Setelah sebelumnya menjelajah Pulau Kelor dengan Benteng Martellonya yang menawan, lalu mengunjungi museum dan makam-makam tua di Pulau Onrust yang pada masanya tak pernah beristirahat maka perjalanan terakhir menuju Pulau Cipir.

Silakan baca bagian 1 tulisan ini : Menoreh Jejak di Benteng Martello Pulau Kelor

Dan bagian 2 : Tak Ada istirahat di Pulau Onrust

Matahari masih terik di atas sana, meskipun perlahan sudah bergeser menuju peraduan.  Tapi hawa laut tak pernah berbohong, panasnya tetap saja menyengat.  Sesungguhnya kaki kami sudah lelah setelah menjelajah Onrust, Pak Ary dan mas Yoki sempat menawarkan, ”mau langsung balik ke Muara Kamala atau lanjut ke Cipir?”

Lha udah kepalang tanggung ini.  Masa iya balik.  Hanya butuh 5 menit gitu lho naik kapal dari Onrust, saking dekatnya.  Bahkan dulu, di masa pulau ini masih sangat sibuk, ada jembatan yang menghubungkan keduanya.  Sayang, sekarang jembatan itu sudah hancur.  Meninggalkan jejak berupa tonggak-tonggak pondasinya saja. Continue reading “Ujung Perjalanan, Melipir ke Pulau Cipir”

8-1

Tak Ada Istirahat di Pulau Onrust

Pulau Onrust

“Kita udah mau pulang bu?” Tanya Prema saat kami berjalan kembali ke kapal setelah berkenalan dengan Benteng Martello di Pulau Kelor

Fyi, Prema satu-satunya peserta anak dalam trip kali ini.  Awalnya akan ada 4 orang anak, termasuk dua diantara Maliq dan Diaz, putra Mas Yoki (NDI Kids, penyelenggara trip).  Tapi rupanya pas hari H, mereka berhalangan hadir.  Untungnya Prema gak ngambek dan baper.  Dia tetap semangat ikutan trip, meski tak ada anak-anak lainnya.  Malah jadi paling heboh sendiri sampai kakak-kakak peserta lainnya geregetan, antara gemez dan kesel karena Prema heboh bener hahaha.  Maaf ya semua.

“Oh belum.  Kita mau nyebrang ke Pulau Onrust.  Itu pulau besar yang kelihatan di ujung sana,” Jawab saya sembari mengarahkan telunjuk ke sebuah pulau yang tampak lebih besar dari Pulau kelor, tempat kami akan bertolak. Continue reading “Tak Ada Istirahat di Pulau Onrust”

8-1

Menoreh Jejak di Benteng Martello Pulau Kelor

Benteng Martello

Bangunan bulat dari bata merah itu tampak megah di ujung pulau.  Dari jauh malah terlihat seperti cerobong asap raksasa.  Pak Ary (arkeolog) dan mas Yoki (NDI) mulai bercerita tentang Benteng Martello, demikian nama bangunan itu.

Benteng Martello terdapat di Pulau Kelor, salah satu dari empat pulau yang termasuk dalam Gugusan Pulau Onrust di Kepulauan Seribu.   Pulau-pulau ini telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional Taman Arkeologi Onrust dan dikelola Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta. Empat pulau tersebut adalah Pulau Onrust, Pulau Bidadari, Pulau Cipir dan Pulau Kelor.  Letaknya berdekatan sehingga disebut sebagai gugusan. Continue reading “Menoreh Jejak di Benteng Martello Pulau Kelor”

8-1

Sepenggal Kisah Heroik dari Monumen Operasi Lintas Laut Jawa – Bali

Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali

“Itu apa, Ayah? Kok ada mobil tanknya?” tanya Prema saat kami melintas di Jembrana menuju Pelabuhan Gilimanuk untuk menyeberang ke Pulau Jawa, kembali ke Bogor di awal tahun 2019 tempo hari

“Wah iya. Bentuk bangunannya unik. Apa ya itu?” Saya jadi ikut penasaran

“Daripada penasaran, mendingan kita putar balik aja yuk.  Mampir sebentar ke sana,” ajak suami yang langsung bersiap-siap untuk memutar balik kendaraan kami.

Kami memang sudah melewati bangunan unik ini.  Berada di tengah-tengah kawasan Taman Nasional Bali Barat, tempatnya agak tersembunyi di balik rimbun pepohonan.  Dalam kondisi jalanan sepi seperti saat kami melintas, sebagian besar kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi sehingga tidak menyadari keberadaannya.  Seperti kami, meski tak terlalu ngebut-ngebut banget karena memang ingin menikmati pemandangan sepanjang jalan, di mana banyak monyet-monyet yang bergelantungan di dahan pohon atau sekedar berkumpul di tepi jalan, tapi tetap saja baru menyadari keberadaan bangunan unik ini setelah melewatinya. Continue reading “Sepenggal Kisah Heroik dari Monumen Operasi Lintas Laut Jawa – Bali”

8-1

Reguk Damai di Gua Sunyaragi, Cirebon

Gua Sunyaragi Cirebon

Sang surya sedang terik-teriknya memancarkan sinar ketika bus yang kami tumpangi memasuki area parkir Gua Sunyaragi.  Sepintas tak tampak sesuatu yang istimewa di lahan parkir ini.  Hanya ada beberapa pedagang makanan yang menawarkan aneka sajian khas Cirebon di sebuah bangunan tua yang tampak lebih mirip bekas sekolah atau kantor.  Jujur, saya bertanya-tanya, “mau ngapain sih ke sini?” Continue reading “Reguk Damai di Gua Sunyaragi, Cirebon”