#VisitBelitung Day 1 : Belitung Timur Nan Mempesona

Belitung

Akhir April kemarin Cah bagus libur sekolah karena kakak kelasnya di tingkat SMP sedang melaksanakan UN.  Iya, sekolah Prema memang ada SD dan SMP yang berada dalam satu lokasi.  Jadi, saat SMP try out, UN dan USBN, adik-adiknya yang SD juga ikut libur.  Masih ditambah lagi dengan agenda kakak-kakak kelas VI yang juga akan menempuh ujian akhir, makin banyak deh liburnya Prema.

“Ayah, jalan-jalan dong.  Liburnya Prema kebanyakan nih,” pinta Cah bagus

“Ayah khan kerja, Nak.  Nanti saja ya kalau Ayah udah libur,”

“Ih tapi khan itu masih lama.  Prema bosan nih,”

“Memangnya Prema mau liburan kemana?”

“Kemana aja boleh.  Yang penting jalan-jalan,”

“Pantai atau gunung?”

“Pantaiiiiiii……..!!!”

Yes.  Prema memang pecinta pantai garis keras.  Saat pulang kampung ke Bali, kami bisa setiap hari lho ke pantai demi Prema yang terus menerus minta berenang.  Begitupun saat pulang ke Kendari, ke pantai menjadi salah satu agenda wajib.  Kalaupun kami sedang berlibur ke daerah yang jauh dari pantai, maka kolam renang bisa jadi alternatif.  Liburan berarti berenang sepuasnya buat Prema.

Baca juga : Nusa Lembongan si cantik di sisi Tenggara Bali

“Kemana ya enaknya, bu? Yang gak terlalu jauh, nyaman buat anak-anak dan yang pasti banyak pantainya,”

“Belitung, yuk!”

“Hmm…. boleh juga.  Coba cari info deh.  Ada kontak yang bisa dihubungi gak di sana sama estimasi biayanya sekalian,” lanjut Pak Suami

“Siap Jendral!” Urusan begini mah, gampiiiil.  Mau diajak liburan, saya tentu saja dengan senang hati cari info hahahaha

Saya teringat mbak Rien, pemilik blog  travelerien.com yang beberapa waktu lalu sering sekali mengunggah foto-foto kece dan cerita seru perjalanannya menjelajah Belitung.  Sumpah, semuanya bikin mupeng.  Dari mbak Rien, saya terhubung dengan Picniq Tour & Travel yang siap mendampingi kami selama trip di Belitung.

And here we are.  BELITUNG, si negeri Laskar Pelangi.

Belitung

Welcome to Belitung

IBU ARNI. PICNIQ TOUR.

Tulisan yang dibawa oleh Bang Andre, tour guide yang menjemput kami menyambut di depan pintu kedatangan H.A.S. Hanandjoeddin International Airport.  Ahay, ini artinya kami sudah sah menginjak tanah Belitung dan siap mengeksplor pesonanya.

“Mau langsung jalan-jalan atau sarapan dulu, Bapak Ibu?” Bang Andre menawarkan pilihan kepada kami

Berangkat sejak subuh dari rumah, tentu saja kami tak sempat sarapan.  Penerbangan yang kurang dari 1 jam juga membuat kami hanya mendapat “jatah” snack berupa sepotong roti saja.  Gak nendang cuy.  Maklum orang Indonesia asli.  Jadi bisa ditebak dong ya, pilihan kami adalah sarapan.

Belitung
Mie Belitung dengan alas daun simpor

 

Belitung
Es Jeruk Kunci

Bang Andre mengajak kami mencicipi mie khas Belitung, mie Atep.  Berupa mie kuning yang disiram dengan kuah kaldu udang.  Dilengkapi dengan udang dan aneka sayuran termasuk potongan timun.  Rasanya unik, kaldu udangnya bikin wangi dan gurih.  Yang tak kalah unik, mie Belitung disajikan di atas helaian daun simpur.  Nati saya cerita lagi soal daun ini di postingan tersendiri ya.  Lidah kampung saya langsung cocok bertemu dengan mie Belitung ini.  Untuk minumnya, cobalah es jeruk kunci.  Aromanya wangi,  rasanya unik dan  segar.

SD Muhammadiyah Gantong

Tak bisa dipungkiri, geliat wisata Belitung mulai bangkit berawal dari kisah 10 anak (+ 1) yang kemudian di kenal dengan nama “Laskar Pelangi” bersama Ibunda Guru, Ibu Muslimah  yang tercipta di SD Muhammadiyah Gantong.  Kisah fenomenal ini menginspirasi banyak orang tentang semangat mengejar ilmu tanpa batas, tentang mimpi setinggi-tingginya dan tentang  usaha tak kenal lelah dan pantang menyerah terhadap keadaan.

Belitung
SD Muhammadiyah Gantong

Tak cukup menginspirasi lewat buku, kisah Laskar Pelangi kemudian dihadirkan dalam bentuk film dan mini seri yang kemudian membuat replika SD Muhammadiyah Gantong sebagai lokasi syutingnya.   Setelah sarapan, kami menuju ke Belitung Timur.  Destinasi pertama mengunjungi replika SD Muhammadiyah Gantong yang dihadirkan benar-benar sesuai bentuk aslinya.  Bangunan yang nyaris roboh dengan penyangga kayu tua dan lapuk, dindingnya yang reot, kelas dengan suasana begitu sederhana, lautan pasir di halamannya, tiang bendera ditengah-tengahnya dengan bendera merah putih yang lusuh.  Ahh… imajinasi saya melayang pada kisah-kisah yang tertulis dalam rangkaian tulisan dari Pak Cik Andrea Hirata.

Belitung
SD Muhammadiyah Gantong

“Ibu, ini mah kalau nyanyi Indonesia Raya harus ngebut.  Sedikit saja ditarik, sudah sampai benderanya,” Kata Prema saat melihat tiang bendera yang tampak pendek

Imaji saya melayang.  Membayangkan sosok Ibu Muslimah yang tanpa kenal lelah mengalirkan ilmu kepada anak didiknya, sembari berjuang keras mempertahankan agar sekolah sederhana ini tetap berdiri dengan segala kekurangannya.

Tak kuasa menahan haru yang menyeruak di dada kala selintas drama situasi menyelinap dalam benak.  Terbayang semangat, kebahagiaan, ceria khas anak-anak, senyum bijak Ibu Muslimah dan tentu saja cita-cita yang terbang ke langit, menembus atap sekolah tanpa plafon yang nyaris rubuh ini.

Belitung
Ruang kelas SD Muhammadiyah Gantong

Ahh… saya juga seorang guru.  Bahkan setelah 10 tahun berlalu sejak pertamakali kisah Laskar Pelangi hadir menginspirasi anak negeri, situasi serupa masih banyak tersebar di pelosok negeri.  Melecut semangat untuk berkontribusi yang terbaik, untuk kebaikan negeri ini.

Saat memasuki ruang belajar sederhana itu, kebetulan ada beberapa anak yang sedang bermain sekolah-sekolahan.  Ahay,  sekalian aja deh saya jadi gurunya.  Nostalgia dengan papan tulis hitam, lengkap dengan kapur tulisnya.  Lha saya malah kangen suasana SD di Kendari puluhan tahun lalu deh.

Dermaga Kirana

Belitung
Dermaga Kirana

Dari replika SD Muhammadiyah Gantong, tepat di seberangnya sebuah destinasi wisata cantik sedang dibangun.  Dermaga Kirana atau rumah rotan, atau biasa di kenal juga dengan rumah keong.  Dermaga ini menawarkan pemandangan yang indah berupa air danau nan bening dan pegunungan yang nampak di kejauhan

Sebenarnya danau ini adalah bekas galian timah yang telah lama ditinggalkan.  Cekungannya terus menerus terisi air hingga puluhan tahun kemudian menjadi danau.  Oleh masyarakat setempat biasa disebut kolong.  Di atasnya kemudian dibuat dermaga dengan bangunan-bangunan unik dari anyaman rotan dan berbentuk menyerupai keong.  Katanya sih, nanti akan dijadikan cottage-cottage untuk tempat bersantai.

Dermaga Kirana
Perahu-perahu di ujung Dermaga

Di sisi yang menjorok ke danau, dibangun dermaga panjang untuk sekedar duduk-duduk bercengkerama dengan beberapa perahu warna-warni yang ditambatkan ditepiannya.  Katanya sih, perahu-perahu ini bisa dipakai buat menyusuri danau.  Selain perahu, juga tersedia kapal yang lebih besar.

Belitung
Dermaga Kirana

Tapi eh tapi, katanya lagi, meski terlihat tenang, ada buaya di danau ini.   Iya sih, Belitung Timur memang dikenal dengan buaya muaranya yang super besar.   Mengingatkan saya akan kisah Lintang dalam Laskar Pelangi yang terlambat ke sekolah karena seekor buaya muara menghadang perjalanannya di Sungai Lenggang.  Buaya muara adalah salah satu spesies buaya paling ganas di dunia.  Untuk menangkap mangsanya, buaya muara bisa berdiri tegak dengan bertumpu hanya pada ekornya.  Hiy… seram!

Museum Kata Andrea Hirata

Museum dengan interior berupa petikan kalimat-kalimat bijak, testimoni dan foto-foto karya Pak cik Andrea Hirata menjadi salah satu tempat yang tak kalah menarik untuk dikunjungi.  Rumah tua yang dulunya milik  paman dari Andrea Hirata ini disulap menjadi museum yang cantik.  Tak menghilangkan bentuk aslinya, rasanya setiap sudut rumah ini menarik buat jadi spot foto.  Instagramable banget.

Belitung
Yuk membaca buku

Ada dapur tua berlantai tanah dengan tungku menyala untuk menyeduh air panas dan membuat kopi.  Ada meja makan dengan tatanan tradisional dan perabotan tempo dulu.  Ou, kalau mau ngemil-ngemil dan pesan kopi, boleh banget lho  di sini.  Pak suami aja langsung duduk manis ngopi-ngopi ganteng.

Belitung
Neng, kita ke penghulu yuk!

Sementara Ayah ngopi, Prema melipir ke bagian belakang dapur.  Ada perpustakaan dengan koleksi buku cerita anak yang banyak.  Prema nyangkut deh di sini.  Kalau sudah ketemu buku cerita, lupa sama sekitar dia.  Kalau belum tuntas satu buku, ya gak bakalan mau pergi deh.

Museum Kata Andrea Hirata
Ada yang mau kopi?
Belitung
Ruang baca dengan banyak buku menarik

Di bagian lain, terdapat bangunan dengan banyak pintu dan jendela.  Sekilas mirip Lawang Sewu di Semarang.  Bedanya, pintu dan jendela ini berwarna warni dan jika dibuka akan menampilkan aneka quote berupa kata-kata bijak dari para tokoh.

Belitung
Deretan pintu cantik di Museum Kata Andrea Hirata

Kampung Ahok

Ahay, siapa tak kenal tokoh fenomenal asal Belitung Timur ini.  Rasanya seluruh Indonesia pasti mengenal namanya.  Nama yang membuat Jakarta pernah ramai luar biasa dengan beragam aksi.  Dari cerita yang saya dengar, Pak Ahok cukup mendapat tempat di hati masyarakat Belitung Timur, tempat dimana beliau pernah menjabat sebagai Bupati.  Ah… saya tak mau bahas politik, biarkan berjalan sebagaimana adanya.  Tapi jauh-jauh ke Belitung, rasanya sayang kalau tak menyempatkan diri bertandang ke Kampung Ahok.

Belitung

Belitung
Salah satu jenis oleh-oleh di kampung Ahok

Di sebut kampung Ahok, karena memang disinilah Ahok berasal.  Di seberang rumah orang tuanya, di bangun sebuah rumah panggung yang didalamnya menjual beragam souvenir dan oleh-oleh Belitung.  Mulai dari kaos, topi sampai aneka makanan kering dan hasil bumi.  Kaosnya tentu saja bergambar wajah Pak Ahok.

Ngenjungak 

Dalam bahasa Belitung, ngenjungak berarti melihat.  Ngenjungak ini adalah salah satu destinasi wisata untuk berkenalan dengan potensi alam Belitung sekaligus mengetahui sejarahnya.  Dilakukan di Kantor Dinas Pariwisata Belitung Timur.  Jadi, selain difungsikan sebagai kantor, beberapa ruang dalam lingkungan dinas pariwisata Beltim “disulap” menjadi ruang pamer.  Mulai dari ruang depan yang berisi etalase hasil bumi Belitung berupa aneka jenis kopi hingga timah, dan potensi Beltim lainnya

Belitung
Ruang budaya di Dinas Pariwisata Beltim

Katanya ada buaya, mana?” tanya Prema tak sabar.  Jadi sebelum kami ke sini, bang Andre memang sudah mengiming-imingi  dia dengan cerita akan melihat buaya.

Mbak Linda, local guide yang menemani kami dalam wisata ngenjungak lantas mengajak kami ke bagian dalam bangunan.  Benar saja, ditengah-tengah taman ada kandang buaya.  Tak tanggung-tanggung, Bon bon, begitu nama si buaya ini adalah jenis buaya muara.  Ukurannya gede banget.  Meski di dalam kandang, tetap saja menghadirkan rasa ngeri saat berada didekatnya.  Sayang kami tiba saat jam makan Bon Bon sudah lewat, jadi kami tak sempat melihat acara makan.

Belitung
Ngenjungak : Ini dia penampakan si Bon Bon, buaya muara super ganas

Selain Bon Bon ada juga si Mon Mon, seekor hewan nocturnal tarsius bancanus Saltatore, yang oleh masyarakat Belitong disebut Pelilean atau Mentilen dalam bahasa Bangka.  Berukuran mini, hewan yang sekilas terlihat seperti perpaduan monyet dan tupai ini tampak menggemaskan.

Belitung
Salah satu sudut menarik buat foto-foto dalam ruang pamer wisata ngenjungak

Selanjutnya di ruang belakang adalah ruang sejarah.  Didalamnya ditata sedemikian rupa barang-barang tempo dulu yang diperoleh dari dalam kapal karam di perairan Belitung.  Bermacam-macam jenisnya.  Di sisi lainnya menjadi ruang budaya yang berisi contoh pelaminan, pakaian adat, tata ruang adat Belitung dan tiruan tradisi Bedulang, yaitu acara makan beramai-ramai ala Belitung.  Selain itu Ruang ini juga menjadi etalase artefak budaya masyarakat Pulau Belitong. Salah satu artefak yang dipamerkan adalah alat-alat  permainan magis Antu Bubu dan foto-foto saat permainan itu berlangsung. Menarik banget mendengar cerita Antu Bubu ini.

Sementara itu, di gedung sebelah rupanya disulap menjadi semacam museum 3D.  Didalamnya tersedia berbagai lukisan 3D yang siap untuk dijadikan objek foto oleh para pengunjung.

Belitung
Lukisan 3D danau-danau bekas pertambangan timah

Terus terang, saya salut pada keseriusan Dinas Pariwisata Beltim dalam menggarap dan memperkenalkan potensi wisatanya.  Baru kali ini saya berkunjung ke kantor pariwisata daerah yang seperti ini.  Semoga bisa dipertahankan dan terus berkembang.  Bahkan bisa jadi contoh untuk daerah-daerah lainnya.

Klenteng Dewi Kwan Im

Setelah makan siang dengan sajian seafood khas Belitung (nanti akan saya ceritakan tersendiri untuk sesi kuliner Belitung), kami meneruskan perjalanan mengunjungi Klenteng Dewi Kwan Im.

Belitung
Patung Dewi Kwan Im yang menjulang tinggi di atas bukit

Terletak di Jalan Pantai Wisata Burung Mandi, Desa Burung Mandi, Belitung Timur, klenteng ini menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan.  Patung Dewi Kwan Im sendiri baru diresmikan oleh Bupati Beltim pada tanggal 15 Oktober 2017 lalu setelah proses pembangunan selama 2 tahun.

Berdiri menjulang setinggi 12 meter di titik puncak kawasan perbukitan Klenteng Dewi Kwan Im, patung ini tampak indah dan memukau.  Dilengkapi dengan ukiran naga sebagai hiasan di antara tangga naik.  Dari ketinggian, kita bisa menikmati panorama cantik bukit dan lautan luas yang terbentang tepat di depan patung Sang Dewi.

Belitung
Klenteng Dewi Kwan Im

*****

Matahari sudah beranjak menuju peraduan ketika kami akhirnya menutup jelajah Belitung Timur.  Belum semua destinasi kami kunjungi.  Prema juga berkali-kali merengek minta pantai, hari pertama ini kami memang tak mengeksplore pantai. Mengingat perjalanan menuju Tanjung Pandan, tempat kami menginap cukup jauh, maka kami memang harus bergegas.

Satu yang saya ingat, Belitung Timur punya banyak potensi wisata yang bagus.  Di sana sini memang terlihat danau-danau yang terbentuk dari bekas tambang yang ditinggalkan.  Jika dikelola baik, mungkin nanti akan terlihat cantik, Dermaga Kirana salah satu contohnya.

Belitung Timur, kami akan kembali

Salam

Arni

 

 

4 thoughts on “#VisitBelitung Day 1 : Belitung Timur Nan Mempesona

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *