Visit Belitung Day 2 : Jelajah Pulau-pulau Tanjung Kelayang

Tanjung Kelayang Belitung

Besok kita ke mana, Oom?” Tanya Prema ke Bang Andre, tour guide kami, saat berpisah malam hari usai makan malam

Besok kita naik kapal, berlayar ke pulau-pulau di tengah lautan trus snorkeling,”jawab Bang Andre

“Yeaaaaay… akhirnya kita snorkeling juga!” Seru Prema bahagia

Sejak awal ke Belitung, bayangan Prema memang pantai, pantai dan pantai.  Dia memang suka sekali berenang.  Snorkeling juga menjadi aktivitas favoritnya.  Sejak pertamakali snorkeling di Lembongan 2 tahun yang lalu, Prema langsung jatuh cinta dan nagih untuk mengulangnya kembali.

Baca juga : Visit Belitung Day 1 Belitung Timur Nan Memesona

*****

Tanjung Kelayang Belitung
Pulau-pulau di Tanjung Kelayang yang berupa gugusan batu-batu. Foto : Doc pribadi

Pagi-pagi sekali Prema sudah terjaga. Bangun penuh semangat dan minta berenang.  Meski sudah merencanakan untuk ke pantai, tapi acara renang di hotel tetap tak mau dilewatkan olehnya.  Untungnya kami janjian jam 9 dengan Bang Andre, jadi masih ada kesempatan untuk berenang pagi sebelum sarapan.

Tepat pukul 9, Bang Andre dari Picniq Tour & Travel menjemput kami.  Sepanjang jalan Bang Andre banyak memberi informasi tentang pulau-pulau dan pantai yang kami tuju. Jadi, kami akan mengunjungi pulau-pulau di sekitar Tanjung Kelayang, yang dikenal juga sebagai Hopping Islands.  Satu hal menarik yang disampaikan oleh Bang Andre adalah tentang kepercayaan masyarakat setempat bahwa jika ada penduduk sekitar Tanjung Kelayang yang meninggal dunia, maka kapal-kapal tak boleh berlayar sampai dengan upacara pemakaman selesai dilakukan.

Bagaimana kalau sudah terlanjur berlayar?

Maka carilah pulau terdekat.  Segera berlabuh dan beristirahatlah sejenak di sana, sampai pemakaman selesai.  Nanti akan ada yang memberi kabar dari daratan.

Mendengar cerita Bang Andre, diam-diam saya melangitkan doa semoga semesta mendukung perjalanan kami hari ini, semoga tidak ada warga Tanjung Kelayang yang meninggal dunia, cuaca bersahabat sehingga kami bisa berwisata dengan lancar.

Tak sampai satu jam perjalanan dari hotel, kami sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Kelayang.  Angin berhembus tenang.  Kapal-kapal tampak ditambatkan dengan rapi di sepanjang dermaga.  Sementara matahari, oh my God, belum jam 10 pagi kakaaaak, tapi sinarnya serasa menembus kulit.  Terik sekali. Langit biru cerah, awan putih berarak tapi hanya berupa spot-spot kecil saja, seolah hanya hadir sebagai hiasan.  Ah, sepertinya doa saya mendapat jawaban.  Hari ini benar-benar cerah. Cakep buat foto-foto baik di permukaan maupun kedalaman, tapi ya kudu siap-siap menghitam deh kulitnya. Haha

Kapal sudah siap.  Pelampung sudah siap.  Saatnya berangkat.

Tanjung Kelayang Belitung

Pulau Batu Garuda

Tujuan pertama jelajah pulau ini adalah Pulau Batu Garuda.  Dari Pelabuhan tadi sudah terlihat sih, tapi masih samar-samar.  Makin dekat, makin terlihat besar dan jelas.  Dari kejauhan saya sudah terkagum-kagum melihat batu-batu raksasa yang seolah tumpah dari langit ke perairan Belitung ini.  Makin bengong saat melihat bentuknya yang unik-unik.  Salah satunya ya si Batu Garuda ini.

Kalau dipikir-pikir, bentuk batu yang menyerupai paruh burung garuda ini memang sangat unik.  Tentunya ini tak terbentuk begitu saja ya.  Ada proses panjang dan pengikisan lapisan bebatuan yang kemudian menampilkan bentuk menarik.

Tanjung Kelayang Belitung
Batu Garuda di belakang kami. Foto by @andretourguide

Sayang, kami tak bisa turun dan mengelus-elus si paruh garuda.  Pantai yang penuh karang dan batu tajam berbahaya untuk lambung kapal.  Jadi ya harus cukup puas memandangnya dari atas kapal saja.

Pulau Batu Berlayar

Dari Batu Garuda, kapal kembali berlayar menuju destinasi berikutnya.  Masih berupa pulau yang terdiri dari gugusan batu besar-besar.  Tampak menjulang beberapa batu besar dengan pasir putih sebagai pantainya.  Dari jauh, pulau ini tampak seperti bebatuan yang mengapung dan berlayar.  Mungkin itulah sebabnya dia diberi nama Pulau Batu Berlayar.

Tanjung Kelayang Belitung
Hai Bintang laut cantik. Foto by @andretourguide

“Ada Patrick!” Seru Prema saat bermain di pantai

Rupanya dia menunjuk ke arah bintang laut yang memang banyak di Pulau Batu berlayar ini.  Patrick adalah nama sahabat Spongebob yang konon adalah seekor bintang laut.  Memang iya sih, sangat mudah menemukan bintang laut di sini.  Tapi, meski begitu jangan diangkat apalagi di ambil ya bintang lautnya.  Terlalu banyak sentuhan manusia bisa membuat bintang laut stress dan mati.  Apalagi kalau sampai diangkat keluar dari dalam air.  Yuk, jadi pengunjung yang bijak dan tetap menjaga ekosistem.

Tanjung Kelayang Belitung
Cah bagus, di atas salah satu batu raksasa Pulau Batu berlayar. Foto by @lelalokobumi

Batu-batu besar ini sungguh membuat kami takjub. Benar-benar menjadi keistimewaan buat pantai-pantai di Belitung. Sepanjang pelayaran, kami seolah diberi suguhan pulau-pulau kecil berupa gugusan batu-batu. “Wow, ini batu raksasa, Bu!” seru Prema saat pertamakali melihatnya.  Oh oke, jujur saja, yang norak bukan hanya Prema kok.  Emak bapaknya juga. Haha

Kalau menurut Bang Andre, tour guide yang mendampingi perjalanan kami selama di Belitung, batu granit ini sebenarnya adalah bagian dari batuan dasar Indonesia bagian barat yang disebut Batolit. Sebarannya tidak hanya di Bangka Belitung saja, tapi juga muncul di kepulauan Riau hingga Semenanjung Malaysia, tapi memang di belitung ini jumlahnya banyak sekali.

Tanjung Kelayang Belitung
Lihatlah batu raksasa di belakang kami. menjulang tinggi. Foto by @andretourguide

Umur batuan granit di Pulau Belitung diperkirakan mencapai 65 – 200 juta tahun lalu.  Munculnya bengkahan itu diawali dari pembekuan granit di bawah permukaan bumi pada kedalaman puluhan kilometer, yang kemudian mengalami proses tektonik pengangkatan sehingga muncul ke permukaan.  Seolah tumbuh dari dalam lautan dengan bentuk yang unik-unik.  Salah satunya ya Batu berlayar ini.

Tanjung Kelayang Belitung
Keseruan di Pulau Batu Berlayar. Foto by @andretourguide

Sampai disini saja, saya tak berhenti berdecak kagum pada pahatan Yang Maha Kuasa.  Luar biasa ciptaan-Nya.  Baru dua destinasi.  Setelah ini, destinasi selanjutnya makin bikin saya terbengong-bengong.

Narsis Puas di Pulau Lengkuas

“Habis ini kita snorkeling?” Tanya Prema saat kami kembali naik ke kapal

“Belum. Kita ke Pulau lengkuas dulu,” Sahut Bang Andre

“Lengkuas? Memangnya di sana banyak lengkuas?” Tanya Prema lagi

“Hahaha… justru di sana gak ada lengkuas.  Jadi sebenarnya dulu itu namanya “Light House” tapi karena orang sini susah nyebutnya, jadi deh lengkuas,” jelas Bang Andre sambil tertawa

“Light house? Rumah bercahaya?’ Cah bagus makin penasaran

“Iya.  Karena di sana ada mercusuar yang bercahaya setiap malam.”

Tanjung Kelayang Belitung
Pulau Lengkuas, Belitung
Tanjung Kelayang Belitung
Yak. Pose. Cekrek. Upload. Foto by @andretourguide

Dari Batu berlayar, tujuan kami adalah Pulau Lengkuas yang merupakan satu di antara sekian banyak pulau-pulau kecil dalam kawasan Hopping Islands.  Di sini terdapat sebuah mercusuar tua yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1882.  Meski sudah berusia ratusan tahun, mercusuar ini masih berfungsi hingga kini dan menjadi penuntun lalu lintas kapal yang melewati atau keluar masuk Pulau Belitung.

“Kita boleh naik ke mercusuarnya?”

 “Boleh kok. Coba nanti kita cari penjaganya ya. Tapi sebelumnya kita ke kolam bidadari dulu. Tempatnya di tengah-tengah batu itu,” Ajak Bang Andre sembari menunjuk gugusan batu yan tampak bertumpuk-tumpuk aneka bentuk

Ou, rupanya, yang dimaksud kolam bidadari adalah kolam kecil yang terletak di balik gugusan batu granit.  Airnya bening, beberapa ekor ikan kecil tampak berenang riang dan bebas.  Seolah sedang bermain petak umpet, mereka timbul tenggelam dari balik bebatuan.  Prema senang sekali bermain di sini, banyak ikan dan bisa main air.

Apa kabar matahari? Oh jangan ditanya. Seolah sedang menunjukkan kekuatannya, dia bersinar begitu terik.  Menginjak bebatuan rasanya seperti menginjak bara.  Telapak kaki terasa tebal dan tersengat. Tapi ya, semua terbayar dengan langit biru nan bersih, pemandangan cantik mercusuar yang menjulang megah dan tentunya lautan luas yang terbentang indah.

Tanjung Kelayang Belitung
Ehm… Tuan dan Nyonya honeymoon dulu yaaa. Foto by @andretourguide

Menurut Bang Andre, di Pulau Lengkuas ini juga ada penangkaran penyu.  Awalnya kami pengen melihatnya juga. Tapi Cah bagus sudah tak sabar untuk snorkeling.  Jadi ya, setelah foto-foto ria, kami bergegas menumpang bilik toilet untuk berganti baju.  Bahkan, naik ke mercusuarpun urung kami lakukan. Hiks

Berkencan dengan Ikan-Ikan Cantik

Sampai juga akhirnya kami ke bagian yang paling ditunggu oleh Prema.  Yes! Snorkeling. Lokasinya tak jauh dari Pulau lengkuas. Kamipun bersiap-siap mengenakan snorkel agar bisa menikmati pemandangan bawah lautnya.

Jatuh cinta pada dunia bawah laut sejak pertamakali snorkeling 2 tahun lalu di Lembongan, Bali.  Keindahannya yang menakjubkan terasa selalu memanggil untuk dinikmati.  Sayang sekali, Prema yang sudah excited sejak pagi, jadi sedikit kecewa.  Ternyata, tak seperti di lembongan, kali ini tidak tersedia snorkel ukuran anak-anak.  Coba pakai yang ukuran dewasa, longgar dan melorot terus.  Gigitannya juga terlalu besar utuk bibir Prema yang mungil. Duuuh

Tanjung Kelayang Belitung
Cantiknya alam bawah laut Belitung

Baca juga : Menikmati Keindahan Bawah Laut Nusa Lembongan

Untungnya kami membawa kacamata renang Prema.  Jadilah dia pakai itu dan lebih banyak bermain bersama ikan dengan duduk di tangga kapal.  Sayang sekali, terasa kurang maksimal dia snorkelingnya.  Tapi, dia cukup heboh kok saat berhasil melihat ikan-ikan yang seliweran disekitarnya.  Sesekali, Prema mencelupkan kepalanya ke dalam air.  Tak bisa lama, karena tak mengenakan snorkel.

Jadi pengingat juga buat kami.  Lain kali, ada baiknya kami membawa snorkel sendiri.  Selain ukurannya lebih pas, juga tentunya lebih nyaman, aman dan sehat.

Tanjung Kelayang Belitung
Siapa yang tak jatuh cinta kalau disuguhi pemandangan seindah ini? Foto by @andretourguide

Yang pasti, Belitung cantik tak hanya di permukaaan.  Alam bawah lautnya tak kalah memesona.  Sayang banget dilewatkan.  Jadi, kalau teman-teman ke Belitung, sempatkanlah nyebur sebentar.  Snorkeling menikmati kecantikan terumbu karang dan berkencan ceria dengan ikan-ikan cantiknya.

“Drama” kecil terjadi saat kami sudah naik kapal dan siap melanjutkan pelayaran usai snorkeling.  Kapal kami hampir karam!  Entah bagaimana ceritanya, jangkar kapal nyangkut di karang sehingga otomatis kapal tak bisa berlayar.  Bahkan sempat miring karena tertarik oleh jangkar.  Mula-mula abang pemilik kapal turun, mencoba menarik jangkar.  Rupanya terlalu dalam tertancap, akhirnya bang Andre juga ikut kembali terjun.  Lumayan bikin H2C juga rasanya.  Syukurlah, tak perlu waktu lama, kapal kembali aman dan siap berlayar.

Mabuk Kepayang di Pulau Kepayang

Matahari terasa makin menggigit kulit. Perut juga sudah memberi kode berkali-kali pertanda minta diisi.  Yup, sudah waktunya makan siang.  Tadinya saya pikir kami akan kembali ke Pelabuhan untuk makan siang.  Ternyata saya salah.  Kapal berlayar menuju sebuah Pulau kecil lainnya, bernama Pulau Kepayang.

Karena liburan Belitung ini kami menggunakan jasa tour, makan siang juga sudah termasuk dalam paket layanannya.  Tak pakai repot-repot memilih menu, kami hanya tinggal duduk manis di meja yang telah disediakan, lalu menanti hantaran hidangan nan lezat yang siap disantap.

Sebagai pecinta seafood garis keras, kami bahagia banget lho selama di Belitung.  Setiap hari bertemu dengan seafood segar.  Mengingatkan  akan Kendari, tempat saya lahir dan besar dengan seafoodnya yang saking segarnya, seolah baru locat dari laut.

Pulau Kepayang
Hidangan laut nan lezat

Ikan bakar,  udang bakar,  gurita goreng tepung, cah kangkung dan tentunya tak ketinggalan gangan ikan khas Belitung terhidang manis di meja makan.  Semua enak dan terasa sedap sekali.  Entah karena kami memang lapar usai snorkeling atau memang makanannya yang super sedap, yang jelas semua makanan ini habis tak bersisa. Bahkan saya masih sempat nambah dengan makan sepotong pisang goreng hangat yang juga menggugah selera.  Hahaha

Tanjung Kelayang Belitung

Pulau Kepayang merupakan salah satu pulau di kawasan Hopping Islands, yang disulap menjadi tempat makan para wisatawan. Sempat berbincang dengan bapak pemilik restoran, yang awalnya saya pikir menetap di pulau ini, ternyata saya salah.  Jadi mereka datang pagi-pagi sekali, membawa bahan-bahan makanan, mengolah dan menyajikannya buat pengunjung,  jelang sore kembali ke Tanjung Pandan. Bagaimana dengan restorannya? Ya udah ditinggalin aja begitu. Kosong.

Restorannya ditata menyatu dengan alam.  Tak perlu bangunan mewah, sentuhan alami membuatnya terasa natural.  Berlantai pasir pantai, dengan pohon kelapa di depannya. Pohon-pohon bakau dan semak khas pantai dibiarkan tumbuh alami.  Yang unik, tempat mengambil air minumnya didesain berbentuk perahu.  Kita bebas memilih minuman, kadar kemanisan silakan tentukan sendiri sesuai selera.  Gulanya tersedia dalam toples.

Angin sepoi-sepoi, pemandangan laut biru yang memikat, makanan lezat.  Ah… sungguh, Pulau Kepayang ini memang bikin mabuk kepayang.

Seru-seruan di Pulau Pasir Timbul

Kita ke Pulau Pasir Timbul ya. Lokasinya yang di tengah laut itu.  Tapi sayang, airnya belum surut banget jadi pulau pasirnya belum terlalu timbul,” Ajak Bang Andre sembari menunjuk ke tengah lautan di depan kami.

Wow airnya bening sekali.  Pasirnya bersih.  Kereeeeen!” Seru kami begitu kapal berlabuh di Pulau Pasir Timbul.

Tanjung Kelayang Belitung
Cah bagus menyelam di Pulau Pasir Timbul

Sungguh ini pemandangan menakjubkan.  Bayangkan, kami bisa berenang bebas tanpa takut tenggelam di tengah-tengah lautan luas.  Dengan kapal-kapal yang seliweran di sekitar kami.  Pasir putih padat dan bersih berpadu dengan air yang beriak nan tenang.

Jadi, Pulau Pasir timbul adalah pulau yang terbentuk dari gundukan pasir di tengah lautan. Akan muncul ke permukaan kala air laut surut dan tenggelam saat pasang.  Bahkan saat air laut benar-benar surut, katanya bisa jalan kaki lho dari Pulau Kepayang sampai ke Pulau Pasir Timbul. Jalanan akan terbentang dan bisa dilintasi.

Tanjung Kelayang Belitung
Ceritanya mau Hatha Yoga. Apa daya sedikit gagal. Efek kekenyangan, telapak kaki gak mau rapat hahaha.  Foto by @andretourguide

Meski tak surut maksimal saat kami tiba di sana, pesona Pulau Pasir Timbul tetap saja menarik.  Tak sabar kami berlompatan turun dari atas kapal.  Berenang bebas, bermain air, menyelam, dan aneka aksi air lainnya.  Sepuasnya.  Menyenangkan sekali.  Prema bahkan tak mau berhenti main air.

Bang Andre berkali-kali membujuk Prema untuk kembali ke kapal.  Meski cuaca cerah cetar membahana saat itu, tapi terkadang cuaca bisa tiba-tiba berubah, apalagi jika musim angin barat, akan sangat berbahaya jika kami masih di tengah laut apalagi sampai berlayar.  Mendengar itu, jujur saja saya deg-degan, memori di Pulau Bokori tempo hari langsung melintas.  Kala itu kami terjebak di Pulau hingga malam hari karena tiba-tiba badai datang.

Tanjung Kelayang Belitung
Belajar ngambang di Pulau Pasir Timbul.  Foto by @andretourguide

Baca juga : Terjebak Badai di Pulau Bokori

Akhirnya kami pulang.  Kembali ke Pelabuhan Tanjung Kelayang.  Gegas kami menuju toilet untuk membasuh diri dan berganti pakaian.  Saat sedang di kamar mandi, mendadak saya mendengar suara bergemuruh dari luar. Atap kamar mandi yang terbuat dari seng serasa kejatuhan aneka rupa benda, yang saya tak tahu apa itu.

Usai membersihkan badan saya membuka pintu kamar mandi, di sambut angin bergulung-gulung yang datang dari lautan, menerbangkan segala sesuatu yang dilintasinya. Pemandangan di luar kamar mandi sungguh kacau balau.  Daun-daun kering beterbangan.  Rupanya suara daun-daun jatuh ini yang tadi berbunyi kencang di atap kamar mandi.  Langitpun mendadak gelap.  Saya melihat para pemilik perahu kelabakan mengikat perahunya ke dermaga.

Angin barat!” begitu kata Ibu penjaga toilet

Fyuuuuuh….. untung saja kami sudah kembali dari lautan.  Telat sedikit saja, bisa jadi kami mengulang cerita Bokori deh.

Hari yang seru dengan banyak pengalaman baru.  Kami kembali ke hotel bersama hujan deras dan angin kencang menderu-deru.  Jarak pandang yang sangat pendek membuat kami menempuh perjalananan pulang lebih lama daripada saat berangkat di pagi hari.  Tapi yang pasti, semua kisah bahagia hari ini terpatri dalam benak, menjadi cerita indah akan pesona Belitung, pesona Indonesia, dengan alamnya yang cantik tanpa harus dipoles ini itu.  Cukup dijaga kelestariannya untuk warisan anak cucu kita kelak.

Salam

Arni

13 thoughts on “Visit Belitung Day 2 : Jelajah Pulau-pulau Tanjung Kelayang

  1. Selalu suka dan pengen balik lagi kalau ke belitung. Selain wisatanya yang bagus dan menarik, kuliner nya juga enak dan ngangenin…. Rindu ngabisin waktu lagi disana seperti dulu

  2. Acaranya padat juga ya mbak. Senangnya jadi Prema, kecil-kecil udah sampai Belitung dan bisa snorkeling hehe.

    Btw mungkin maksudnya “Hopping Islands” itu kegiatannya, mbak. Pulau-pulau itu biasa jadi destinasi kegiatan hopping islands (mampir dari satu pulau ke pulau lainnya)

    • Bisa jadi ya begitu maksudnya
      Saya lupa nanya detailnya ke Bang Andre yang jadi tour guide kami
      Hanya diinfo-in klo kegiatan hari kedua itujelajah pulau-pulau di hopping islands. Tapi kalau saya sih lebih seneng nyebutnya pulau-pulau di Tanjung Kelayang hehe

      Kapan ya Prema bisa trip bareng sama Oom Matius, biar bisa diajak trip yang seru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *