Istana (Bogor) Untuk Rakyat

Istana Bogor Untuk Rakyat

Tergesa saya menyiapkan diri pagi itu, 11 September 2018.  Gegas membangunkan Prema dan Ayahnya yang juga masih terlelap.  Kami kesiangan.  Padahal pagi ini kami sudah ada janji bersama teman-teman dari ATS untuk berkunjung ke Istana Kepresidenan di Bogor yang memang sedang dibuka untuk umum, dalam program Istana untuk rakyat (ISTURA).

Program ini berlangsung rutin setiap tahun, biasanya digelar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor sebagi rangkaian acara peringatan Hari Jadi Bogor (HJB). Tahun ini, ISTURA digelar selama 5 hari yaitu sejak 10 – 14 September 2018.  Terbuka untuk umum dan gratis.  Peserta hanya perlu mendaftar pada panitia untuk mendapatkan tiket.  Tak ada batasan jumlah peserta, namun ada syarat dan ketentuan yang wajib ditaati.Rombongan kami terdaftar untuk berkunjung pada pukul 8.30 WIB, jadi ya kami harus sudah di lokasi minimal 1 jam sebelumnya dong.  Makanya, saat terjaga dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, kami jadi pak pik puk gak karuan haha.  Langsung mandi, berpakaian, sempat mengambil beberapa bungkus biskuit, buah dan botol minum untuk bekal sarapan di mobil.  Lirik G-maps, ahhh… lega, tampaknya perjalanan cukup lancar, sepertinya karena tanggal merah sebagian penduduk Bogor masih terlelap atau memang belum keluar rumah.  Fyuh, syukurlah kami tiba tepat waktu.  Kumpul di Munasain (Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia) lalu bersama berjalan kaki menuju Balaikota, titik start peserta Istura.

Istana Bogor Untuk Rakyat
Istana Untuk Rakyat

Di Balaikota, ratusan orang sudah berkumpul.  Baik pribadi, komunitas maupun sekolah-sekolah.  Antusiasme masyarakat cukup besar.  Meski tanggal merah, rupanya banyak sekolah yang justru mengagendakan kunjungan pada hari ini.  Membawa ratusan siswanya, dari tingkat PAUD hingga SMP.  Ada juga yang saya tahu beberapa komunitas dari Jakarta dan Bandung.  Wow, niat banget ya mereka.  Tahun lalu, saya juga mengikuti kegiatan ini, bersama kawan-kawan Blogger, tahun ini saya mengulang kenangan namun dengan grup berbeda yaitu teman-teman dari Atang Sendjaja plus keluarga tercinta.

Setelah mendaftar ulang ke panitia, masing-masing peserta mendapatkan tiket.  Tiket ini nantinya akan disobek jadi dua, satu sisi diserahkan ke petugas di gerbang Istana, satu sisi lagi buat kenang-kenangan kita deh.  Ada beberapa syarat yang harus dipatuhi antara lain berpakaian bebas rapi : tidak mengenakan kaos oblong, pakaian berbahan jeans dan sendal jepit.  Akan dilakukan pemeriksaan menyeluruh oleh petugas sebelum kita masuk ke lingkungan Istana.  Mirip seperti kalau mau naik pesawat terbang deh.  Lengkap dengan metal detectornya pula.   Selain itu, peserta tidak diijinkan membawa makanan, minuman, HP, Kamera dan sejenisnya. Untuk dokumentasi, panitia menyiapkan fotografer, kita hanya perlu mendaftar lalu antri menunggu giliran.

Istana Bogor Untuk Rakyat
Tahun lalu, bersama kawan-kawan Blogger. Cekrek dulu di Balaikota, titik start menuju Istana

Menapak Jejak Istana Bogor

Istana Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No.1 Kelurahan Paledang, Bogor, Jawa Barat.  Berada dalam satu kawasan dengan Kebun Raya Bogor, menmpati wilayah seluas 1,5 hektar.  Dahulu orang-orang Belanda di Batavia (Jakarta) berniat mencari tempat peristirahatan yang sejuk karena merasa Batavia terlalu bising dan panas.  Wew… jadi Jakarta itu memang sudah panas sejak dulu kala ya.

Gubernur Jenderal Belanda Gustaaf Wilem Baron Van Imhoff kemudian menemukan tempat yang cocok di sebuah kampung yang dulu dikenal sebagai Kampoeng Baroe.  Sebulan kemudian, di tempat itu didirikan sebuah pesanggerahan yang diberi nama Butenzor atau Sans Souci yang berarti “tanpa kekhawatiran”. Arsitektur bangunannya meniru arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough yang terletak di Inggris.

Proses pembangunannya memakan waktu cukup lama.  Tak tuntas di masa Gustaaf, berlanjut lagi di masa Gubernur Jenderal Jacob Mossel yang berdinas sejak tahun 1750 – 1761.  Istana Bogor sempat juga mengalami renovasi besar-besaran di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron Van der Capellen (1817-1826) dimana kemudian berdiri sebuah menara di tengah-tengah bangunan induk yang menjadikan istana tampak semakin megah.  Adapun lahan di sekeliling istana kemudian dijadikan sebagai Kebun Raya yang kita kenal hingga saat ini.

Saat Jepang menguasai Indonesia, Istana Bogor juga berada di bawah kekuasaan mereka hingga saat Jepang menyerah pada sekutu.  Meski demikian, Istana Bogor baru secara resmi diserahkan pada pemerintah Indonesia pada tahun 1949, ketika Belanda mengakui kedaulatan RI yang kemudian secara bertahap dipugar oleh Presiden Soekarno dengan tetap mempertahankan arsitektur Palladian.

Sumber sejarah Istana Bogor dari situsbudaya.id

Istana Bogor Untuk Rakyat
Tahun lalu, bersama kawan-kawan Blogger

Memasuki gerbang Istana, kita seolah melintasi ruang waktu.  Suara bising kendaraan yang berseliweran di luar sana mendadak lenyap.  Makin ke dalam makin terasa sunyi dan damai.  Semilir angin menyambut perjalanan kami.  Pohon rindang di kanan kiri jalan menambah sejuk suasana.  Di kejauhan, tampak kawanan rusa yang berlarian bebas di lapangan rumput.

Beberapa patung (mayoritas perempuan) tanpa busana tampak menghiasi halaman Istana. Porno? Vulgar?  Ah, ndak kok.  Ini seni.  Saya pribadi gak melihat ini vulgar.  Saya justru kagum pada para pematung yang bisa membuat karya seni ini menjadi begitu indah dan mirip aslinya.  Menarik.  Ada patung yang juga menarik perhatian saya, terdapat di sisi kiri istana, terbuat dari perunggu yang katanya adalah patung “Ritual Meminta Hujan”.  Sedangkan di sisi kanan, terdapat patung “Ritual Terima Kasih”.  Keduanya adalah karya seniman yang sama berasal dari Ceko, Marta Jiraskova

Bangunan di sisi kiri istana adalah gedung untuk tamu setingkat menteri. Lalu ada ruang garuda yang berfungsi untuk tempat pertemuan tamu negara.  Dulunya, ruang ini adalah tempat berdansa para pejabat Hindia Belanda.  Sementara gedung sisi kanan istana adalah tempat tamu setingkat presiden menginap.

Lalu di mana ruangan Presiden Joko Widodo, yang sejak 4 tahun lalu menempati istana ini?

Pasti banyak yang penasaran to.  Itu rahasia negara cyiiin…. mau nanya-nanya sampai nangis juga gak bakal dikasi tahu sama penjaga istana hehe

Di samping kiri Istana juga terdapat Balai Kirti atau dikenal juga sebagai Museum Kepresidenan.  Gedung ini termasuk bangunan baru yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Didalamnya lengkap tersedia informasi tentang Presiden Indonesia dari yang pertama hingga keenam.  Dari Soekarno hingga SBY.  Masing-masing menempati ruangan tersendiri yang menyajikan foto-foto kegiatan dan pembangunan pada masanya masing-masing, rekaman pidato dan beberapa film pendek pencapaian para Presiden selama menjabat.  Pak Jokowi belum ada ruangannya, karena beliau masih menjabat.  Selain info tentang Presiden, ada juga ruang-ruang lain yang menggambarkan Indonesia dari masa ke masa.  Prema excited banget di museum ini.  Kebetulan materi pelajaran PKN di Sekolahnya sedang membahas materi yang sama, dari Sumpah Pemuda hingga nama-nama Presiden.  Pas bener.

Istana Bogor Untuk Rakyat
Pose bareng keluarga besar ATS

Tiga Jam Tanpa Gadget

Dari tahun ke tahun peraturannya tetap sama. Tidak boleh membawa HP, kamera dan sejenisnya.  Tahun lalu, ada lho teman-teman saya yang udah jauh-jauh ke Balaikota lantas gak jadi masuk karena gak boleh bawa HP.  Kurang seru katanya, gak bebas foto-foto.

Benar-benar masuk dengan tangan kosong, tanpa HP bahkan dompet, ternyata menjadikan kami lebih menikmati suasana.  Satu sama lain saling bercerita, mengamati pepohonan rindang, menyaksikan rusa yang berkeliaran bebas di lapangan rumput, mengawasi anak-anak yang juga merasakan kebebasan berjalan, berlari di halaman luas tanpa takut bertemu kendaraan atau tanpa gangguan dari orang tuanya, “Dek, berdiri di situ, foto dulu!” Haha

Terkadang gadget menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.  Membawa gadget di tangan terkadang membuat kita lupa bahwa keindahan sesungguhnya ada di depan mata.  Keakraban sesungguhnya ada di sekitar kita.  Saat kita saling bercerita secara langsung. Awalnya mungkin terasa mati gaya.  Tapi ketika dijalani, asyik-asyik aja kok.  Kalau pengen punya dokumentasi, ya tinggal antri dan minta foto saja ke petugasnya.

Istana Bogor Untuk Rakyat
Ini rasanya pengen ngusir-ngusirin yang pada duduk manis di samping-samping deh hahaha

Saat berkeliling, saya juga jadi mengerti mengapa kami tidak boleh membawa gadget.  Bisa dibayangkan kehebohan yang akan terjadi jika masing-masing orang memegang HP/kamera ditangannya.  Setiap ada spot bagus, cekrek.  Masuk ke lapangan rumput, naik tangga, nyender tiang, nyandar pohon, megang-megang patung dengan aneka pose dan seterusnya.  Belum lagi rebutan spot cakep, geser sana geser sini.  Duuuuh…..

Lagipula ini khan istana negara.  Beberapa ruang didalamnya (bisa jadi) menyimpan dokumen-dokumen negara yang penting dan rahasia.  Meski pengunjung tidak masuk ke dalam masing-masing ruangan, tapi kecolongan bisa saja terjadi.  Ya, memang paling aman (dan nyaman) seperti ini saja.

Banyak belajar, banyak melihat, banyak mendengar.  Menyimpannya baik-baik dalam ingatan, memasukkannya lekat-lekat dalam benak, menjadikannya kenangan manis.  Tak semua hal harus didokumentasikan lalu diposting (baca : pamer) ke media sosial khan?

Satu yang pasti, kunjungan ini mengajarkan kami banyak hal. Dan membuat makin cinta Indonesia

Siapa kita? I N D O N E S I A

 

Salam

Arni

 

 

Salam

 

Arni

 

3 thoughts on “Istana (Bogor) Untuk Rakyat

  1. Kegiatan yang sangat menarik, Mbak Arni.
    Aku belum pernah masuk dan berdiri sangat dekat dengan istananya. Semoga suatu hari.

    Aku setuju dengan larangan bawa HP ke dalam istana. Selain buat keamanan, juga baik buat pengunjung itu sendiri ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *