Pesona Candi Prambanan, Warisan Mahakarya Indonesia Untuk Dunia

y7

TIDAAAAAK! Aku tidak bisa menerima ini.  Hari belum pagi.  Kamu curang Roro Jonggrang! Aku kutuk kau menjadi arca di candi keseribu!” teriak Bandung Bondowoso murka

Kutukannya bertuah.  Seketika Roro Jonggrang berubah menjadi arca, melengkapi 1000 candi yang dimintanya sebagai syarat ketika Bandung Bondowoso ingin menjadikan dirinya sebagai istri.

————————-

“Tahun ini kita ke Yogyakarta yuk. Khan tahun lalu sudah ke Bali.  Cari suasana baru,” ajak adik ipar saya di ujung telepon.  Dia tinggal di Kendari, bersama keluarga kecilnya dan Bapak Ibuku

“Ayo aja. Yang penting bareng, ke mana aja hayuklah,”

“Kak, bagaimana kalau kita naik kereta. Jadi nanti semua ngumpul di Bogor dulu, terus naik kereta bareng ke Yogya, “ usulnya lagi

“Wah ide bagus.  Sip sip. Kamu yang urus penginapannya, saya yang urus tiket kereta ya,” sambut saya senang

Saya langsung membuka website pegipegi.com.  Hari gini, mau cari apa aja lebih mudah.  Tiket kereta api, pesawat, hotel dll semua tersedia secara online.  Cukup duduk manis di depan gadget, ketikkan kebutuhan kita, lalu lengkapi syarat-syaratnya.  Tarrrraaa…. tiket yang kita butuhkan langsung tersedia.  Kami beruntung, saat membeli tiket masih banyak tempat duduk kosong sehingga meskipun kami berombongan, duduknya tetap bisa ngumpul.

Kami sekeluarga memang kerap melakukan perjalanan bersama, minimal setahun sekali.  Adik bersama anak istrinya, saya dengan keluarga kecil kami.  Ditambah mengajak Bapak Ibu, mumpung beliau berdua masih sehat dan panjang umur.  Saya selalu menyukai perjalanan bersama dan ini menjadi agenda yang selalu saya nantikan setiap tahun.  Perjalanan yang makin merekatkan kami sebagai keluarga.

Candi Prambanan
Menikmati kebersamaan di Kereta Api Jakarta – Yogyakarta

Rasanya excited sekali mempersiapkan perjalanan tempo hari.  Naik kereta api jarak jauh akan menjadi pengalaman pertama untuk keluarga kami.  Saya dan suami sih sudah beberapa kali, tapi mereka semua belum pernah.  Total rombongan kami waktu itu 6 orang dewasa, 2 balita dan satu bayi berusia 8 bulan.  Aih saat menuliskan ini saya senyum-senyum sendiri, teringat bagaimana kami menikmati perjalanan dengan bahagia.

Baca juga :  Traveling Cinta Bersama Keluarga Besar

Dalam perjalanan, Ibu bilang pada kami bahwa beliau ingin ke Candi Prambanan. Saya langsung mengiyakan, meskipun sudah berkali-kali ke sana, tapi tetap saja tiap jengkal candi ini sangat menarik untuk dijelajahi.

Hari kedua di Yogyakarta, setelah sebelumnya ke Keraton, kami meluncur ke Candi Prambanan.  Terik matahari terasa begitu dekat dengan bumi saat kami tiba.  Duh, panasnya lagi super seksi nih.

“Candi Prambanan ini yang cerita Roro Jonggrang khan?” tanya Ibu saat kami masih di mobil

“Itu legenda bu, cerita rakyat.  Benar atau tidaknya gak ada yang tahu,” jawab saya sembari asyik mengunyah bakpia patok yang kami beli pagi tadi

“Katanya masih ada arcanya.  Nanti tunjukkan ke Ibu ya,”

 Hooo baiklah.  Memang sih, konon katanya arca Roro Jonggrang ada di salah satu candi terbesar.  Sebagai pelengkap 1000 candi yang dibangun oleh Bandung Bondowoso.  Meskipun ini hanya legenda, tapi rupanya menjadi kisah menarik yang cukup membuat penasaran.

Kisah Bandung Bondowoso – Roro Jonggrang adalah legenda rakyat yang menjadi kisah pengantar tidur saya sejak kecil dulu.  Teman-teman semua juga pasti sudah tahu ceritanya. Yang jelas, saya itu dulu percaya banget lho bahwa kisah ini nyata.  Bikin penasaran dan melangitkan mimpi, suatu hari saya harus berkunjung ke Candi Prambanan, tempat di mana legenda ini berasal.

Candi Prambanan
Beberapa tahun lalu di Prambanan. Tumpukan batu berserak itu menjadi pemandangan unik saat ke Prambanan

Candi Prambanan berdiri megah di lingkungan Taman Wisata Prambanan.  Menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi wistawan saat ke Yogyakarta.  Tak sulit untuk menuju ke sini, lokasinya terlihat dari jalan utama Yogya – Solo, hanya sekitar 100 m dari jalan raya, pada ketinggian 154 mdpl.  Sebagian wilayahnya masuk Kabupaten Sleman, sebagian lagi masuk Klaten.  Bentuk dan latar belakang sejarahnya yang luar biasa menjadikan Candi Prambanan sebagai tempat wisata Indonesia yang sangat unik dan berbeda dari tempat wisata lainnya.

Menurut riset para arkeolog dan berdasarkan prasasti Siwagrha,  Candi Prambanan dibangun sekitar tahun 850 M oleh Rakai Pikatan, kemudian terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, pada masa kerajaan Medang Mataram.  Sebagai bangunan suci untuk memuliakan Dewa Siwa, salah satu Dewa dalam konsep Tri Murti dalam ajaran Hindu.  Nama asli Candi ini adalah Siwagrha  (Shiva ; Dewa Siwa dan grha ; rumah) yang artinya rumah Siwa.  Dalam prasasti yang sama juga disebutkan bahwa selama proses pembangunan candi juga dilakukan penataan aliran air yang dibuat berbelok menjauh dari lokasi candi untuk menghindari terjadinya erosi yang dapat membahayakan konstruksi candi.

Proyek tata air yang memindahkan aliran sungai ini mengingatkan saya pada kisah pembangunan Taj Mahal di India, hal yang sama juga dilakukan di sana.  Beberapa waktu lalu, saya juga melihat langsung proses pemindahan aliran sungi seperti ini di daerah Kuningan, Jakarta.  Saat pembangunan Epicentrum Walk.  Setiap hari lewat jalur yang sama saat kerja, saya takjub melihat aliran sungai yang dibelokkan arahnya.  Dan ternyata, hal-hal seperti ini sudah sejak dulu dilakukan.

Candi Prambanan termasuk dalam situs warisan dunia UNESCO, merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia sekaligus disebut-sebut sebagai salah satu candi terindah di Asia Tenggara.  Dibangun dengan arsitektur yang sangat indah, berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan tatanan bangunan suci khas Hindu.

Terdiri dari beberapa candi antara lain 3 Candi Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa), 3 candi wahana/kendaraan/tunggangan (Nandi, Garuda, Angsa), 2 candi Apit (terletak di antara barisan candi Tri Murti dan candi Wahana di sisi Utara dan Selatan, 4 candi kelir (terletak di 4 penjuru mata angin, dibalik pintu masuk halaman dalam zona inti), 4 candi patok (terletak di 4 sudut halaman dalam), dan ratusan candi Perwara.  Sejatinya terdapat 240 candi Perwara yang seharusnya berdiri megah sebagai penjaga di area luar.  Namun belum selesai dipugar karena beberapa sebab, sehingga nampak sebagai tumpukan batu yang berserak.

Candi Prambanan
Candi Siwa yang tampak megah berdiri

Candi Siwa menjulang setinggi 47 meter.  Candi Siwa terdiri dari 5 ruangan, empat ruangan sesuai arah penjuru mata angin dan satu ruangan utama, garbagriha,  yang terletak di tengah candi dan terhubung dengan ruangan sebelah Timur, di mana ditempatkan Arca Siwa Mahadewa.  Lalu di Selatan adalah ruangan dengan arca Rsi Agastya dan di Barat ruangan Dewa Ganesha, putra Siwa. Candi ini juga yang dalam legenda Rorojonggrang disebut-sebut sebagai hasil kutukan Bandung Bondowoso dengan arca Rorojonggrang didalamnya.  Padahal kalau menurut rujukan prasasti, arca Rorojonggrang tersebut adalah Durga Mahisasuramardani, istri Siwa dalam wujudnya sebagai pembasmi Mahisasura, raksasa lembu yang menyerang Swargaloka.  Ruangan ini terdapat di sisi Utara Candi Siwa.

Adapun Candi Brahma terletak di sisi Selatan dan Candi Wisnu di sisi Utara.  Masing-masing candi hanya memiliki satu ruang yang dibuat untuk pemujaan kepada kedua Dewa ini. Keduanya berdiri menjulang setinggi 33 meter.

Sejujurnya,setiap kali berkunjung ke Candi Prambanan saya terkagum-kagum pada arsitekturnya yang sangat detail.  Dengan teknologi masa lampau yang bisa dibilang seadanya, mereka mampu membuat bangunan megah lengkap dengan ornamen-ornamennya yang cantik dan unik.  Jaman dulu tak ada crane,  tak ada alat berat sebagaimana yang kita lihat di proyek-proyek pembangunan masa kini.  Bahkan jaman dulu belum ada mobil yang siap mengangkut aneka bahan bangunan. Tapi mereka bisa menjadikan sebuah bangunan yang luar biasa.

Sungguh, ini sebuah mahakarya

Candi Prambanan
Momen kebersamaan yang selalu bikin kangen

Legenda Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang

Hmm… inilah uniknya Indonesia.  Sarat dengan cerita rakyat.  Rupanya, Candi Prambanan sempat ‘menghilang’.  Akibat berpindahnya pusat kekuasaan kerajaan Medang atau yang lebih dikenal dengan nama Matara Kuno ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok sekitar tahun 930 M, Candi Prambanan mulai terlantar dan kurang terawat.  Sejarah mencatat, Candi Prambanan memang dibangun sebagai penan kekuasaan (kembali) wangsa Sanjaya sebagai penganut Hindu di tanah Jawa yang bersaing dengan Wangsa Sailendra sebagai penganut Budha yang mendirikan Candi Borobudur.  Namun kemudian kekuasaan berpindah ke Mpu Sindok yang mendirikan Wangsa Isyana.

Meletusnya Gunung Merapi dan gempa hebat pada abad ke-16 juga memiliki andil atas runtuhnya beberapa bangunan Candi Prambanan.  Meski begitu, bertahun-tahun kemudian meskipun tidak lagi menjadi pusat keagamaan dan ibadah umat Hindu, candi ini masih dikenali oleh penduduk setempat namun sejarahnya tidak diketahui.  Terinspirasi dari arca Dewi Durga, jadilah sebuah cerita rakyat tentang seorang putri cantik bernama Roro Jonggrang yang akan dipinang oleh Bandung Bondowoso dan memberi syarat untuk membangun 1000 candi dalam semalam.  Legenda fantastis yang masih dikenal hingga kini.

Candi Prambanan Masa Kini

Sebagai bagian dari Taman Wisata Prambanan dan masuk sebagai cagar budaya, Prambanan tentunya menjadi destinasi wisata yang ramai oleh wisatawan.  Sedihnya, menilik sejarahnya dulu adalah tempat ibadah, tak banyak orang yang memahami batas-batas suci saat berkunjung.  Beberapa kali ke Prambanan, saya melihat pengunjung yang seenaknya berpose naik-naik ke bagian candi, menginjak kepala arca, bahkan bau pesing kadang menguar dari dalam ruang-ruang candi.

Jujur saja saya sedih.  Tapi ya memang sepertinya pihak pengelolapun tidak membuat aturan ketat soal ini.  Atau mungkin saya yang kurang update ya.  Entahlah.

Beberapa tahun terakhir, Candi Prambanan kembali difungsikan sebagai pusat kegiatan keagamaan Hindu.  Setiap menjelang hari raya Nyepi, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sebagai majelis tertinggi umat Hindu, menggelar Tawur Agung Kesanga Nasional di pelataran Candi Prambanan.  Sementara, untuk ritual peribadatan sehari-hari, khususnya bagi pengunjung atau masyarakat sekitar yang beragama Hindu, telah di bangun tempat ibadah khusus di salah satu sisi areal candi.  Agak tak terlihat sih sebenarnya, di antara taman-taman.  Err.. mungkin untuk menjaga kesakralannya ya.

Candi Prambanan
Salah satu prosesi dalam Tawur Agung di Candi Prambanan

Bapak dan Ibu mengajak kami sembahyang terlebih dahulu sebelum masuk ke area utama Candi Prambanan.  Melintasi jalan setapak, di kelilingi pepohonan dan rumput hijau, suasana syahdu dan tentram langsung menyergap saat kami beribadah di sana.  Sejuk, ditemani semilir angin.  Dengan latar belakang Candi Prambanan yang berdiri megah.

Usai sembahyang, kami melanjutkan perjalanan ke area bagian dalam candi.  Mengunjungi satu demi satu candi yang ada di sana, mengagumi arsitektur dan mencoba memahami beberapa relief yang terukir di dindingnya.  Rupanya, reflief-relief ini adalah penggambaran dari epos besar Ramayana.  Tentang kisah kepahlawanan Rama untuk menyelamatkan Dewi Sinta dari Rahwana.

Candi Prambanan
Area sembahyang bagi pengunjung yang beragama Hindu

Pada hari-hari tertentu, biasanya pada malam bulan Purnama digelar pertunjukan Sendratari Ramayana di Panggung terbuka Tri Murti dengan latar belakang candi ketiga Dewa tersebut.

Keluar dari area utama, kami berjalan menyusuri pintu keluar.  Suasana sejuk dengan pepohonan rindang di kanan kiri jalan sungguh memanjakan pengunjung yang baru saja berpanas-panas ria di dalam area utama.  Ada beberapa candi kecil yang bisa kita temui sepanjang jalan antara lain Candi Sewu, Plaosan Lor, Plaosan Kidul dll.  Selain itu, jika ingin mendapatkan informasi lebih lengkap tentang sejarah Candi Prambanan, kita juga bisa mengunjungi Museum Prambanan yang memiliki banyak koleksi benda purbakala.

Candi Prambanan
Seperangkat alat musik gamelan. Tersedia di Museum Prambanan

Untuk mengelilingi kawasan dengan luas mencapai 40 ha ini memang dibutuhkan tenaga ekstra.  Mengajak Bapak Ibu dengan 3 orang balita sungguh menjadi tantangan tersendiri.  Tidak semua area dapat kami kunjungi.  Ou, buat kalian yang malas berjalan kaki, pengelola juga menyiapkan penyewaan sepeda yang dapat dipakai untuk mengitari taman-taman sekeliling candi

Sebenarnya, tak jauh dari Prambanan juga terdapat Candi Ratu Boko.  Buat pecinta sunset, berkunjunglah ke sini.  Konon katanya, sunset di Ratu Boko adalah salah satu sunset terindah di dunia.  Warna jingga di langit, dengan bulatan besar yang perlahan meredup dan kembali ke peraduan itu akan jatuh tepat di tengah-tengah kori Ratu Boko.  Indah dan hangat.

Sayang, perjalanan kami harus dilanjutkan ke destinasi yang lain.  Jadi kami tak sampai menunggu sore di Taman Wisata Prambanan, yang artinya tak sempat ke Ratu Boko.  Tak apa, mungkin ini kode agar lain waktu kami kembali ke sini.

Ke Prambanan kami khan kembali.

 

Salam

Arni

23 thoughts on “Pesona Candi Prambanan, Warisan Mahakarya Indonesia Untuk Dunia

  1. Aku udah beberapa klai mampir ke Candi Prambanan bareng orangtua, suami, anak2 🙂 Asik meskipun puanasnya nampwool hihihi 🙂 Kisah Roro Jonggrang ini menarik banget sampai anak bungsuku penasaran dan betanya terus. Untung ada leaflet ceritanya jadi aku nyontek hehehe 😀

  2. Saya ke Prambanan tahun 1999, dulu tak pandai narsis, gak punya medsos, jadi saat kesana benar2 menikmati setiap ukiran candi itu saja… TAKJUB… Itu saja yg saya ingat sampai sekarang dengan bangunannya yg megah…

  3. Salah satu tempat yang selalu aku kunjungi kalau lagi travelling di Jogja pasti mampir ke Prambanan. Karna lokasinya nggak terlalu jauh dari Jogja, dan cuma motoran kurang lebih 1 jam.

    Candi ini tuh anggun banget. Dan favoritku adalah nengok ramayana festival disini.

  4. aku ingat banget dulu pas mau ke sini, ada sepupu bilang, ah bang, nggak asyik, mendingan ke borobudur. tapi aku kekeuh, dan hasilnya…..

    keren, apalagi sekarang malah makin rapih

  5. eh itu segerbong kereta buat rombonganmu semua? seruuuu pergi ramean kayak gini.
    aku udah lama banget nih ga ke Prambanan. Dulu ke sana sibuk mikir paper buat laporan setelah studi tour jadi ga menikmati pemandangan.

  6. Ya ampuuun, lihat foto yang di kereta bikin aku inget liburan dengan keluarga besarku. Kebayang pasti seru banget ya, Arni. Emang bener kata orang bijak, kadang perjalanan itu bukan soal jarak, bukan soal ke mana, tapi dengan siapa kita bersama. Kalau dengan keluarga pasti gak ada duanya yaaaa. Seruuuu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *