Fajar Merekah di Gunung Bromo

Gunung Bromo

“Ayo! Udah sore nih.  Biar gak terlalu kemalaman di jalan.  Bromo masih jauh,” ajak Pak suami saat kami masih di Savana Bekol Taman Nasional Baluran.

Ah ya ya.  Dari Baluran, kami memang berencana melanjutkan perjalanan ke Bromo.  Terbayang kembali melintasi jalan berbatu dan berlubang sampai ke gerbang Taman Nasional.  Yes, siap-siap deh 1 jam berjoget ria.  Lalu berlanjut melintasi hutan jati nan luas dan panjang di Situbondo, sebelum akhirnya kami masuk ke wilayah Probolinggo, mendekati Bromo.Baca juga : Taman Nasional Baluran, Africa di Ujung Timur Pulau Jawa

Prema masih tertidur lelap di kursi belakang.  Luar biasa Cah bagus ini.  Kalau udah kadung lelap, mau berguncang kayak apa juga tetap saja gak terbangun.  Saya merapikan selimut dan memperbaiki posisinya agar lebih aman dan nyaman.  Bagian belakang mobil memang kami sulap jadi seperti kamar sendiri untuknya.  Ada kasur tipis, bantal dan guling.  Beneran pindah kamar.

Berbekal petunjuk dari Google Maps, kami akhirnya sampai di Kabupaten Probolinggo.  Ya, karena kami datang dari arah Situbondo, jalur paling dekat ke Bromo adalah lewat kota ini.  Gunung Bromo yang memiliki ketinggian 2,329 mdpl berada dalam empat wilayah kabupaten, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang.  Merupakan gunung berapi yang masih aktif hingga kini dan termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Hampir tengah malam ketika kami memasuki wilayah Taman Nasional.  Berhenti sejenak di SPBU terdekat, untuk menghubungi bapak pemilik jeep yang akan mengantar kami menjelajah Bromo nantinya.  Kenapa harus menyewa jeep, padahal sudah membawa kendaraan pribadi? Jadi, jalur ke Bromo itu melintasi berkelok-kelok dengan tanjakan tajam.  Plus melintasi hamparan pasir nan luas.  Kendaraan biasa gak akan kuat.  Biar Dilan eh jeep saja yang melakukan tugasnya.

Meski sudah larut, SPBU ini tetap ramai.  Tampak para penduduk lokal yang sekaligus berprofesi sebagai guide menawarkan ragam pakaian pelindung dari udara dingin sekaligus tawaran jeep.  Kami membeli 3 kupluk, syal dan sarung tangan. Saya lupa harganya, tapi seingat saya tak terlalu mahal kok.  Kalau disuruh bikin sendiri soalnya saya pasti nyerah, 5 tahun juga gak bakal kelar ngerajutnya hehehe

Menginap di Terminal

Karena ini perjalanan spontan, kami tidak mempersiapkan penginapan.  Maksud hati nanti nyari on the spot saja.  Yang paling dekat ke arah tempat wisata.  Tapi, kami benar-benar baru masuk kawasan Gunung Bromo jam 1.30 dini hari.  Sempat mampir di beberapa homestay, kami justru melihat rombongan pelancong yang bersiap-siap menuju Penanjakan untuk menyambut sunrise.  Walah, kalau begini rasanya kok rugi ya nyewa penginapan.  Hanya akan dipakai beberapa jam saja.  Setelah jelajah Bromo kami khan akan langsung melanjutkan perjalanan ke Bogor.

Pikir punya pikir,  akhirnya kami memutuskan parkir di terminal dan tidur di mobil saja.  Lagian Cah bagus yang tadinya sempat terbangun sejenak saat di SPBU sudah kembali tertidur pulas.  Agak repot kalau kami harus menggotong-gotong ke dalam kamar.  Wis lah, pakai pakaian hangat saja.  Tidur.  Sembari menunggu jemputan jeep yang sudah kami pesan.

Gunung Bromo
Sesekali narsis di atas jeep

Saat tidur, lamat-lamat terdengar keriuhan di terminal.  Rupanya berasal dari suara-suara rombongan yang dijemput jeep untuk ke Penanjakan.  Sementara kami, memutuskan untuk melanjutkan tidur dan memang berpesan dijemput pukul 5.30 pagi saja.  Selain karena fisik yang lelah setelah perjalanan panjang berkendari dari Bali, yang mana sehari sebelum pulang kami baru saja mendaki ke puncak Lempuyang, lalu ke Baluran, kami juga tak tega membangunkan Cah Bagus yang sedang terlelap.  Tak apalah, lain kali saja ke Penanjakan.

“Ibu…. dingiiiin…,” lirih terdengar suara Prema yang terbangun.  Tubuhnya meringkuk kedinginan. Kamipun sama gigilnya.  Kaos kaki, kupluk, syal, sarung tangan dan berlapis-lapis baju plus jacket ternyata tak cukup kuat menahan dinginnya udara pagi itu.  Saya berpindah ke kursi belakang, memeluk tubuh Prema untuk berbagi kehangatan.  Jujur, sempat terbersit rasa bersalah karena memutuskan tidur di mobil.  Tak tega rasanya melihat Prema menggigil.

Akhirnya kami memilih bangun saja.  Bergerak lebih banyak untuk menghalau dingin yang menusuk hingga ke tulang ini.  Lagipula bapak pemilik jeep sudah memberi kabar bahwa dia sudah dalam perjalanan.  Menggosok gigi dan membersihkan diri seperlunya di toilet terminal lalu bersiap-siap untuk lanjut jelajah Bromo.  Jangan tanya seperti apa rasanya menyentuh air.  Aliran darah terasa beku tiba-tiba. Brrrrr…

Tak disangka, kami mendapat kejutan manis pagi itu.  Tepat di belakang mobil kami, fajar merekah cantik menampilkan semburat jingga yang luar biasa. Mengintip dari balik gunung, serupa gadis yang malu-malu.  Sinarnya perlahan naik dan memberi kehangatan.  Sempurna.

Gunung Bromo
Fajar merekah di balik gunung. Menghangatkan pagi yang gigil

Mendapat hadiah indah ini, bersama orang tercinta, sungguh adalah anugerah tak terkira.  Saat itu terminal sepi, hanya ada beberapa orang penduduk lokal saja.  Pelancong lainnya mungkin sedang di Penanjakan untuk berburu sunrise.  Kami jadi geer.  Matahari ini hanya milik kami.  Hadiah untuk kami yang tak sempat ke Penanjakan.

Memulai Pagi dengan Doa

Nama Bromo berasal dari Bahasa Sanskerta ; Brahma.  Salah satu Dewa utama dalam Agama Hindu sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widi  sebagai pencipta alam semesta.  Penduduk setempat memang sebagian besar adalah penganut Hindu (Tengger).  Bahkan di tengah hamparan kaldera atau lautan pasir Bromo terdapat Pura yang cukup besar sebagai tempat ibadah umat Hindu yang bernama Pura Luhur Poten Gunung Bromo.

Gunung Bromo
Pura Luhur Poten Gunung Bromo

Bagi suku Tengger, Gunung Bromo dipercaya sebagai gunung yang suci.  Setiap setahun sekali mereka menggelar upacara Yadnya Kasada atau Kasodo yang dilaksanakan pada tengah malam hingga dini hari setiap purnama di bulan kesepuluh (kasodo) menurut penanggalan Jawa.  Mumpung ke Bromo, kami menyempatkan diri untuk sembahyang di Pura terlebih dahulu sebelum mengeksplor wisata Bromo yang cantik ini.

Sebagaimana umumnya tata letak bangunan suci dalam agama Hindu, Pura Luhur Poten juga dibangun dengan konsep Tri Mandala (tiga ruang/bangunan) sesuai fungsinya masing-masing yaitu Nista Mandala (bagian paling luar, biasa digunakan untuk parkir, toilet dan kebutuhan jasmani lainnya), Madya Mandala (bagian tengah, peralihan dari nista mandala, tempat mempersiapkan sarana prasarana persembahyangan) dan Utama Mandala (ruang utama yang digunakan untuk persembahyangan).

Gunung Bromo
Area Utama Mandala
Cekrek sebentar usai sembahyang

Baca juga :  Mengenal Tata Ruang Tradisional Bali

Di Utama Mandala, kami melakukan persembahyangan.  Meskipun di luar Pura sangat ramai para pengunjung, namun begitu masuk ke utama mandala saya merasakan kedamaian.  Rasanya seperti terlempar ke sebuah tempat yang jauh dan sunyi.  Yang pasti, kami bersyukur sekali diberi kesehatan dan kesempatan hingga bisa memuja Tuhan di tengah hamparan kaldera Bromo, berlatar belakang Gunung Batok di sisi lainnya.  Sungguh, kita hanyalah noktah kecil dari semesta maha luas ini.

Jelajah Bromo

Usai sembahyang dan merapikan bawaan, kami keluar menuju tempat bapak supir jeep menunggu.  Aih rupanya di luar sudah semakin ramai.  Matahari mulai menyirami kami dengan bias-bias hangat.  Meski begitu, sisa dingin semalam masih saja belum mau beranjak dari tubuh yang terbungkus jaket.  Dan wow, seperti mengerti alarm tubuh yang gigil dan lapar, di luar ada pedagang bakso ayam.  Aha! Sinyal di otak langsung cemerlang.

Mas, baksonya 3 mangkok,” Saya langsung memesan bakso tanpa pikir panjang.

Enaaaaak banget.  Dan tahu nggak?  Saking udaranya masih dingin, bakso yang masih  panas di panci abang tukang bakso itu, langsung menjadi hangat dan siap disantap begitu terhidang.  Gak pakai acara niup-niup, langsung siap disantap.  Urusan pendinginan, serahkan pada alam.  Pssst…. habis makan semangkok, ternyata kami masih lapar.  Nambah boook! Haha!

Gunung Bromo
Bakso terenaaaaak

Sembahyang sudah.  Sarapan sudah.  Dingin dan lapar sudah terkondisikan dengan baik.  Saatnya mengintip kawah Bromo yang masih aktif menyemburkan panas.  Tadinya kami mau jalan kaki menuju tangga naik, tapi duuuh kok kayaknya jauh ya.

 “Prema mau naik kuda,” Cah bagus menunjuk kuda-kuda yang memang banyak ditawarkan oleh penduduk setempat.  Kuda-kuda ini akan menfantarkan wisatawan dari area parkir jeep sampai ke bawah tangga naik menuju kawah.

Kami menyewa 2 ekor kuda.  Satu buat saya dan Prema, satu lagi buat Ayah.  Beriringan kuda kami berjalan, dengan pemandu di sebelahnya.  Kami datang saat musim kemarau.  Berada di tengah kaldera, harus siap-siap dengan pasir dan debu yang beterbangan, kadang sampai menutup jarak pandang.  Apalagi ditambah dengan jejak kuda yang lalu lalang.  Duh, berjalan kaki artinya masuk dalam gumpalan debu dan pasir.  Siapkanlah diri dengan masker dan topi/kupluk.

Saat sampai di pangkal tangga, antrian panjang naik dan turun sudah begitu ramai.  Saya menatap ke atas dan membatin, “tangganya tinggi banget.  Sanggup gak ya?”

Pelan-pelan saja.

Bertiga kami naik, saling menjaga satu sama lain.  Tangganya cukup lebar hingga muat 2 – 3 orang berdampingan.  Tapi tetap harus saling toleransi dengan pengunjung lain.  Tak perlu memaksa.  Tak perlu tergesa.  Sepanjang jalan tersedia semacam anjungan yang menjorok keluar untuk tempat beristirahat atau sekedar foto-foto cantik menikmati pemandangan. Kalau di tol, bisa jadi ini adalah rest area.  Untuk mengatur nafas lalu mengambil keputusan, lanjut ke atas atau kembali ke bawah.

Setelah perjalanan panjang yang cukup bikin ngos-ngosan, akhirnya kami sampai juga di ujung tangga, tepat di sisi kawah Bromo.  Dari atas, terlihat jelas Gunung Bromo bertautan erat antara lembah dan ngarai dengan lautan pasirnya (kaldera) yang sangan luas.  Mendadak semua tampak kecil di bawah sana.  Kami berdiri di tepi kawah yang diberi pagar.  Agak ngeri sebenarnya, ruang gerak sangat sempit sementara pengunjung banyak sekali.

Gunung Bromo

Katanya, garis tengah kawah + 800 meter (utara-selatan) dan + 600 (timur-barat).  Kawah ini terus menerus mengepulkan uap panas dengan aroma belerang yang cukup menyengat.  Bahkan di waktu-waktu tertentu, aroma  dan panas ini terasa mengganggu dan berbahaya sehingga kunjungan kawah bisa ditutup sementara.

Puas menikmati keindahan Bromo dari atas, kami memutuskan turun.  Selain karena pengunjung bertambah banyak, ketersediaan oksigen juga terasa berkurang.  Maklum yang menghirup makin ramai. Pelan-pelan kami melangkah kembali turun.  Beriringan dengan pengunjung yang lainnya.

Gunung Bromo
Bromo, aku jatuh cinta

Saya melihat seorang ibu yang kelelahan.  Lalu dia memutuskan berhenti di tengah perjalanan, menepi ke anjungan.  Membiarkan anak dan suaminya lanjut ke atas.  Saya juga menyaksikan ayah yang menggendong anaknya, suami yang menggandeng istrinya, sekelompok remaja yang melakukan perjalanan bersama dan saling menyemangati.  Saya juga menyaksikan orang yang tergesa-gesa tak sabar tapi harus meredam semangatnya demi antrian panjang dengan pengunjung lainnya.

Pendakian ini mengajarkan banyak hal.  Tentang kesabaran, kepedulian dan kasih sayang.  Tentang posisi yang kadang naik, kadang turun.  Ada saatnya kita di bawah, juga ada saatnya di atas.  Saat di atas, lepaskan kesombonganmu, lihatlah ke bawah, betapa denyut kehidupan terasa sangat indah.  Pun saat di bawah, jangan pernah berputus asa.  Jaga semangat, jaga keyakinan.  Bila kita punya niat yang kuat, semangat dan tekad yang bulat, kita juga akan sampai di atas.  Pun tentang penerimaan, tak perlu memaksakan diri hanya demi gengsi atau nafsu.  Ukur kemampuan diri sendiri dan rendah hatilah menerimanya.

Dengan menunggang kuda, kami kembali ke jeep.  Bapak yang mengantar menawarkan untuk ke bukit teletubies dan beberapa tempat cantik lainnya yang sering jadi lokasi kunjungan wisatawan.  Sayang kami harus bergegas, jadi kami memilih kembali ke terminal.

Saat berkunjung ke Bromo, masih dalam suasana hari raya Galungan bagi umat Hindu.  Sepanjang jalan tampak penjor-penjor sederhana yang dipasang oleh penduduk setempat sebagai penanda hari raya ini.  Menambah semaraknya perjalanan.

Gunung Bromo
Jajaran penjor, kebun dan aneka hasil bumi khas daerah dingin

Hamparan kebun bawang dan sayuran hijau juga nampak di lereng-lereng gunung dan halaman rumah penduduk.  Pohon cabe gendut, khas daerah dingin juga terlihat menghiasi kebun-kebun.  Indah sekali.

Ah… Bromo.  Aku jatuh cinta.

Terimakasih untuk pelajaran berharga ini.  Terimakasih semesta yang sudah mencerahkan hatiku hari itu.  Secerah fajar merekah di balik keanggunan Bromo.

 

Salam

Arni

 

15 thoughts on “Fajar Merekah di Gunung Bromo

  1. Mbak Arni bikin aku makin kepingin ke Bromo ngajak anak-anakku. Mereka udah minta-minta tapi belum kesampaian juga. Aku suka foto2mu mbak, makin bagus. Terutama foto fajar merekahnya.

    Aku pun jatuh cinta pada Bromo 🙂

  2. Prema sampai atas kawah jalan sendiri mbak? Keren ih udah sampai Bromo, aku yang dekat aja belum kesampaian hahhaa. Tapi kudu sekali ke sana nunggu berganti musim aja deh.

  3. bukit teletubbies dekat dengan bromo ya mbak ? wah kalau tambah kesana pasti dobel cerita perjalanan yg keren ini… makasih ceritanya yang menarik dibaca, salam #jejakbiru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *