Harmoni Kehidupan dalam Filosofi Angklung

Angklung

Pertamakali saya berkenalan dengan angklung sekitar 6 tahun yang lalu.  Saat itu, kami sekeluarga berlibur ke Bandung tepat di tanggal 1 Januari.  Saat orang-orang masih terlelap setelah malamnya begadang bermalam tahun baru, pagi sekali kami meluncur melintasi jalanan yang super lengang menuju Bandung.

Mengisi liburan awal tahun, kami memutuskan untuk berkunjung ke Saung Angklung Udjo, salah satu tempat wisata yang menyajikan pertunjukan kesenian tradisional khas Bandung.  Saya lupa siapa nama pemandu acara pada hari itu, tapi penjelasan beliau tentang filosofi angklung langsung membuat saya terpukau dan jatuh cinta pada alat musik yang terbuat dari bambu ini.  Ditambah lagi, salah satu bagian dari acara yang digelar setiap hari ini adalah bermain angklung bersama, dimana seluruh penonton terlibat langsung memainkan angklung.

Angklung
Pertamakali berkenalan dengan angklung di Saung Angklung Udjo

Sampai kami pulang kembali ke Bogor dan bertahun-tahun setelahnya, kenangan itu tetap terekam di bilik ingatan sebagai salah satu pengalaman yang tak akan terlupakan.

Sepertinya semesta begitu baik kepada saya.  Perjalanan waktu dan kesempatan kembali mempertemukan saya dengan angklung lewat jalur WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia) Kota Bogor.   Jadi kayak CLBK gitu deh.  Waktu pertamakali latihan, angklung yang tergantung rapi itu seperti melambai-lambai memanggil untuk say hello.  Haha… oke ini lebay.  Imajinasi saya memang kadang agak gak normal ^^

Sebelum lanjut pada keseruan latihan hingga pementasan angklung yang nantinya bakalan berisi kisah geje dan narsis, ijinkan saya untuk bercerita sedikit tentang filosofi angklung.  Sembari mengingat kembali apa yang disampaikan oleh mamang pemandu 6 tahun lalu di Saung Angklung Udjo.

Pesan Kehidupan dari Angklung

Angklung bukan sekedar alat musik. Angklung hadir dengan sarat pesan kearifan lokal yang menyertainya.  Bukan hanya menyajikan harmonisasi indah yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa yang berpadu dengan kreasi seni, angklung juga memiliki pesan-pesan kehidupan yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Dalam filosofi Urang Sunda, angklung diibaratkan sebagai penggambaran kehidupan manusia. Berbentuk tabung dengan berbagai ukuran, dari kecil hingga besar, dari rendah ke tinggi yang mewakili level kehidupan dan perkembangan manusia.  Angklung berasal dari kata “Angka” yang berarti nada dan “Lung” yang berarti pecah.  Secara harfial menjadi nada yang pecah atau tidak lengkap.  Menggambarkan kondisi manusia yang tak sempurna sehingga harus saling melengkapi satu sama lainnya.

Angklung WHDI
Tim angklung WHDI Kota Bogor bersama pelatih

Setiap 1 buah angklung merupakan 1 not nada. Nada-nada ini, jika berdiri sendiri hanya akan menghasilkan bunyi tabung bambu yang bisa dibilang nyaris tak bermakna.  Untuk menjadi satu lagu yang utuh, angklung harus dimainkan bersama dengan angklung lainnya dalam tabuh dan nada yang teratur. Menghasilkan harmoni indah, menyatukan perbedaan.

Begitupun layaknya manusia, meski berbeda-beda sebaiknya tetap saling mengisi dan melengkapi, berjalan beriringan tanpa harus saling menjatuhkan. Karena perbedaan itu adalah kekuatan yang sesungguhnya

Memainkan angklung adalah melatih kekompakan,  kesabaran dan saling tenggang rasa. Ada saatnya tampil, ada saatnya berhenti. Ada yang kebagian membunyikan banyak, ada juga yang sedikit.  Ada saatnya bersuara, ada saatnya diam dan menikmati irama yang lain. Pun tak perlu egois bermain terlalu panjang, terlalu keras hanya agar terlihat dan terdengar menonjol. Bukankah sesuatu yang berlebihan memang kurang baik?

Sejak pertamakali turut serta berlatih angklung, saya merasakan betul bahwa alat musik yang satu ini meski terlihat mudah namun tetap butuh konsentrasi tinggi.  Kehadiran seorang pemimpin atau konduktor sangat penting agar harmoni yang tercipta menjadi indah dan merdu.  Satu saja nada melenceng, pasti akan mengganggu keseluruhan.  Itulah pentingnya kehadiran pemimpin untuk mengarahkan, mengatur dan menyelaraskan perbedaan.  Tugas kita, mengikuti petunjuk pemimpin. Persis seperti kehidupan keseharian kita.

Angklung
Angklung yang berbaris rapi siap dimainkan

Sungguh.  Filosofi angklung ini memberikan warna indah bagi harmoni kehidupan.  Seolah memberi pesan cinta pada kita semua bahwa hidup ini indah.  Perbedaan hadir  untuk mengkayakan ruang pikir, tutur dan laku.  Pelangi menjadi indah karena banyak warna.  Manusia menjadi rukun dan tentram karena saling melengkapi.

Memegang angklung membuat saya tak habis-habisnya mengagumi karya seni ini.  Bambu yang pada masa lalu menjadi alat perjuangan para pahlawan dengan bambu runcingnya, di tangan para seniman ternyata bisa bermetamorfosa menjadi alat musik yang menghasilkan nada-nada indah.  Takjub saya, potongan bambu ini menghasilkan not nada yang berbeda bunyi satu sama lain.  Betapa alam kita menyimpan sumber daya yang luar biasa.

Pementasan Angklung

Saya, bisa dibilang mengikuti latihan yang sangat singkat dan tahu-tahu sudah tiba waktunya pementasan.  Agak telat sih bergabungnya.  Hanya sempat 4 kali latihan.  Terimakasih banyak pada teman-teman tim yang solid sehingga kita benar-benar bisa manggung ^^

Jadi ceritanya, WHDI Kota Bogor akan melaksanakan Musda (musyawarah daerah) dalam rangka pemilihan ketua dan  pengurus periode 2019 – 2024 untuk menggantikan pengurus periode sebelumnya.  Musda ini akan sekaligus digabungkan dengan kegiatan yang sama untuk PHDI (Parisadha Hindu Dharma Indonesia) Kota Bogor dan angklung akan tampil sebagai salah satu pengisi acara.

Angklung

Angklung
Suasana latihan yang selalu ceria

Latihan singkat, 2 kali seminggu, bertemu teman-teman dengan semangat yang luar biasa saya jadi ikut ketularan semangatnya.  Semua emak-emak.  Setiap latihan ada yang baru pulang dari kantor, ada yang pulang jemput anak, ada yang menyempatkan diri di tengah kesibukan lainnya, bahkan ada yang setiap usai latihan langsung buru-buru pulang karena harus ada di rumah sebelum suami kembali dari kantor dst.  Seruuuu.  Semua punya semangat yang sama untuk memberikan yang terbaik.

Pak Dani, pelatih angklung kami juga tak kalah baik dan sabarnya.  Menghadapi emak-emak yang wow banget ini.  Ampun Pak Daniii….harap maklum ya sama kelakuan kami.  Satu-satunya yang bisa bikin anteng dan diam sejenak hanya kalau ada kamera yang siap ngajak narsis.  Naluriiii hahahaha

Angklung
Tatap mata saya! Tatap mata saya! Konsentrasi gaeeees

Dalam pementasan ini, kami membawakan 3 lagu.  Dua diantaranya adalah lagu daerah Bali yaitu Putri Cening Ayu dan Bungan Sandat. Lalu satu lagu nasional yaitu Indonesia Pusaka.  Untuk Indonesia Pusaka saya yakin deh, teman-teman semua pasti sudah tahu lagunya.  Jadi saya akan bercerita tentang dua lagu daerah Bali yang kami mainkan.

Putri Cening Ayu

Putri cening ayu ngijeng cening jumah
Meme luas malu kapeken meblanja
Apang ada darang nasi

Meme tiang ngiring nongos ngijeng jumah
Sambilan mangempu ajak titiang dadua
Ditekane nyen gapgapin

Putri cening ayu ngijeng cening jumah
Putri cening ayu ngijeng cening jumah

Lagu ini bercerita tentang pesan seorang ibu kepada anak perempuannya agar tinggal di rumah sementara ibunya akan berbelanja ke pasar.  Bukan sekedar menunggu, putrinya juga sembari menjaga adiknya.  Lagu berlanjut dengan jawaban dari sang putrid bahwa dia bersedia menjaga rumah dan adik, dan minta untuk dibawakan oleh-oleh sepulang ibunya dari pasar.

Sesederhana itu arti lagu ini.  Tapi pesan moralnya sungguh mengena di hati.  Bagaimana ibu menasehati anak, bagaimana anak bersikap pada orang tua.  Pas bener deh karena ibu-ibu yang main angklung ini setiap latihan meninggalkan putra putrinya di rumah (saya terutama).   Jadi terasa benar-benar menyentuh keseharian kita.  Di Bali, lagu ini biasa jadi lagu pengantar tidur untuk anak-anak.

Bungan Sandat

Yen gumanti bajang tanbinaya pucuk nedeng kembang
Disubaye layu tan ade ngarungwang ngemasin mekutang
Becik melaksana de gumanti dadi kembang bintang
Mentik dirurunge makejang mengempok raris kaentungang

To I bungan sandat selayu layu layune miik
Toya nyandang tulang sauripe melaksana becik
Para truna truni mangda saling asah asih asoh
Menyama beraya to kukuhin rahayu kepanggih

Reff :

Becik melaksana de gumanti dadi kembang bintang
Mentik dirurunge makejang mengempok raris keentungang

To I bungan sandat Selayulayulayune miik
Toya nyandang tulang sauripe melaksana becik
Para truna truni mangda saling asah asih asoh
Menyama beraya to kukuhin rahayu kepanggih

 Lagu Bali yang kedua adalah Bungan Sandat.  Dalam bahasa Bali, bungan sandat berarti bunga kenanga.  Tak jauh beda dengan lagu pertama, lagu ini juga berisi nasehat kehidupan terutama untuk para remaja, agar hidup rukun saling asah asih asuh.  Berbuat kebaikan selalu dan bermanfaat untuk sesama.  Tirulah bunga kenanga, meskipun telah layu, tetap menebar aroma yang wangi.  Begitulah sebaiknya manusia, berbuat baiklah agar kelak tetap dikenang dalam kebaikan selamanya.

Pilihan lagu yang dimainkan bersama angklung ini terasa cocok sekali.  Saya bahagia bisa terlibat langsung dalam memainkannya.  Hati saya hangat, sehangat pesan damai yang ingin disampaikan baik dari alat music maupun lagunya.

Masih ada beberapa kekurangan di sana sini dalam pementasan ini.  Namanya juga perdana ya.  Setiap kita adalah pribadi pembelajar.  Berjalan dari level yang satu ke level selanjutnya.  Terus berlatih, semoga nantinya lebih baik lagi.

Angklung

Angklung
Tetap semangat tetap ceria

 

Selamat kepada bapak Wayan Suastika yang terpilih sebagai ketua PHDI Kota Bogor dan Ibu Tisnawati sebagai Ketua WHDI Kota Bogor periode 2019 -2024.  Semoga, seperti seni yang dibawakan dalam kegiatan ini kita semua makin kompak dan maju bersama dalam kebaikan.

Rahayu

 

Salam

Arni

 

16 thoughts on “Harmoni Kehidupan dalam Filosofi Angklung

  1. Aseli deh mbak bikin aku iri, hiks pengen banget belajar main angklung, fiosofinya sangat penuh makna, bener banget kalo kita hidup itu gk bsa sndiri, pasti ada kala nya kita membutuhkan bantuan orang lain. Sukses selalu yah mba, salam buat emak2 pemain angklung yang keren2 itu hehe. Makasih lho mba udah sharring 😉

  2. Wah aku baru tahu kalau Angklung memiliki filosofi sedalam itu, apresiasi yang setinggi-tingginya untuk pencipta Angklung.
    Pas pakai baju adat, Mbak Arni keliatan beda, anggun banget hehehe.

  3. Baca sampai habis dan menikmati sekali. Ternyata angklung itu alat musik yang filosofis ya. Pas memang kalau dimainkan bersama-sama.

    Hebat nih Mba, 4 kali latihan langsung naik panggung. Btw outfit-nya juga kece.

    Saya nggak paham arti per kata di lagu Bali-nya, tapi mendadak eungeuh sama logat dan bahasanya, maklum saya dulu numpang lahir di Lombok dan banyak berteman dengan teman Hindu Bali sewaktu SD.

    • wah makasi ya udah baca sampai habis, ku tersanjung
      Soal latihan, yang lain mah latihannya udah lama. Udah sekitar 2 bulanan. Aku aja sih yang telat gabung. Untungnya gak dijutekin sama yang lain hahahaha

      Wah dirimu pernah di Lombok to. Pantesan agak ngerti sama bahasa Bali ya. Apalagi memang banyak temen Balinya

  4. Angklung itu salah satu alat musik Nusantara yang menggambarkan Indonesia banget. Setiap suara dan irama yg dibunyikan menghasilkan harmonisasi yg begitu syahdu jika didengarkan. Dan filosofinya mengenai kehidupan iya sesuai dengan karakteristik dari angklung itu sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *