Suara Alam dari Candi Cetho Untuk Pelestarian Cagar Budaya Indonesia

Menapakkan kaki menaiki satu demi satu anak tangga menuju tingkatan-tingkatan teras Candi Cetho, hati saya bertanya-tanya, kira-kira seperti apa perasaan Van de Vlies, arkeolog Belanda yang pada tahun 1842 menemukan 14 teras atau punden bertingkat memanjang dari Barat ke Timur yang meski tertutupi oleh lumut, namun kemegahannya tetap tak dapat disembunyikan. Di tengah hutan, di lereng Gunung Lawu, dalam sebuah perjalanan tiba-tiba bertemu bangunan kuno yang entah kapan dibangun, berdiri megah di ketinggian. Membayangkannya saja saya sudah merinding.  Seperti nonton film-film penemuan harta karun.

Sejak pagi di Dusun Jlono, tempat kami menginap, saya excited sekali mengingat perjalanan hari itu adalah ke Candi Cetho, sebuah destinasi yang saya impikan sejak lama untuk dikunjungi.  Agenda ke Candi Cetho sudah lama kami rencanakan, bahkan beberapa kali rasanya sudah di depan mata banget, lalu karena sesuatu dan lain hal kemudian batal.  Ah, rupanya saya baru berjodohnya kali ini.  Semesta tahu kapan waktu yang tepat.

Baca juga : Pesan Toleransi dari Jlono

Candi Cetho
Sembahyang bersama di Pura Shanti Jonggol

Perjalanan diawali dengan bersembahyang di Pura Shanti Jonggol, di ujung Dusun Jlono. Dari sini kami, 3 keluarga (Keluarga saya, keluarga Pak Agus Widodo dan keluarga Pak Paryanto) beriringan menuju Candi Cetho yang terletak di lereng Gunung Lawu tepatnya di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah.  Melintasi kebun teh dan sayur mayur yang tumbuh subur dan menghijau.  Jalan aspal mulus namun di berapa titik bertemu dengan tikungan dan tanjakan yang cukup tajam dan curam, sungguh membuat saya deg-degan. Jika ingin berkunjung ke sini, pastikan kendaraan dalam kondisi baik dan prima.

Saat kami tiba, pengunjung sudah sangat ramai.  Candi Cetho memang merupakan salah satu cagar budaya Indonesia favorit di daerah Karanganyar.   Ditambah lagi,  kebetulan hari itu sudah masuk jadwal libur panjang dalam rangka hari raya Idul Fitri.  Kami datang di hari Senin, 2 hari sebelum lebaran.  Banyak pengunjung dari luar kota, sama seperti kami.  Karena datang sudah mengenakan pakaian adat (kain panjang, kebaya bahkan blangkon) dan tujuan kami untuk bersembahyang, oleh pengelola kami langsung diijinkan masuk, tanpa membeli tiket dan tak perlu mengenakan kain bercorak hitam putih seperti papan catur yang seharusnya dipinjamkan ke semua pengunjung.

Sebelumnya kami sudah sempat menghubungi pemangku (pemimpin persembahyangan dalam agama Hindu) agar dapat bersembahyang dan masuk sampai ke tingkatan yang paling tinggi. Sembahyang pertama kami lakukan di bale/pendopo yang terdapat di teras (mandala) pertama.  Ibarat bertamu, kami harus “mengetuk pintu” terlebih dahulu dan mohon ijin pada “penjaga” untuk masuk ke ruang berikutnya.

Usai sembahyang di bale tadi, kami melanjutkan perjalanan ke atas, menuju mandala utama. Ditemani pemangku, kami melintasi sebuah mandala yang cukup luas dengan susunan batu berbentuk kura-kura di tengahnya.   Oleh Pemangku, kami diarahkan, yang laki-laki melintas dari sisi kanan dan yang perempuan dari sisi kiri.  Sepertinya, jalan masuk ini berhubungan dengan konsep patriarki masyarakat setempat.  Saya juga tidak tahu pasti, belum sempat bertanya banyak ke beliau.  Adapun kura-kura merupakan simbol penciptaan alam semesta.  Dalam susunan batu tersebut juga ada bentuk kalacakra atau alat kelamin laki-laki.   Karena ini, Candi Cetho disebut juga sebagai candi lanang.

Candi Cetho

Candi Cetho
Susunan batu berbentuk kura-kura

Mengikuti Pemangku, kami terus menuju ke atas. Di mandala kedua dari terakhir, ada dua buah bangunan dimana terdapat arca dan guci untuk menancapkan dupa.  Kami sempat berhenti sejenak di sini, menghaturkan canang sebelum memasuki teras tertinggi (mandala utama) untuk melakukan persembahyangan.  Untuk menuju ke Mandala Utama, kita akan menaiki tangga yang cukup curam dan sempit.  Khusus mandala ini, hanya bisa dimasuki oleh umat yang akan melakukan ritual persembahyangan.

Candi Cetho

Candi Cetho

Meski di luar ramai sekali, namun saat memasuki mandala utama dan melakukan persembahyangan, sunyi terasa langsung menyergap. Saya terhanyut akan bisikan suara-suara alam yang mengirimkan pesan damai.  Sungguh, sebuah rasa yang tak bisa digambarkan dengan kata, hanya bisa dirasakan dengan hati.  Raga serasa melintasi lorong waktu, menuju masa lalu nan agung yang menggugah nurani untuk menjaga semua ini agar tetap lestari.

Selayang Pandang Candi Cetho

Berdasarkan angka-angka pada berbagai relief dan penelitian dari para ahli, diketahui Candi Cetho dibangun pada masa akhir Majapahit yaitu sekitar abad ke-15. Dalam bahasa Jawa, cetho berarti jelas.  Berada di Candi Cetho, dari ketinggian 1.496 mdpl kita bisa melihat pemandangan pegunungan di sekitarnya dengan jelas.  Antara lain Gunung Merbabu, Gunung Lawu dan Gunung Merapi.  Juga puncak Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Juga tak ketinggalan hamparan kebun teh dan sayuran di lereng-lereng gunungnya.

Sebagaimana bangunan suci Hindu pada umumnya, Candi cetho juga memiliki mandala (ruang) yang membedakan fungsinya masing-masing. Nah, Candi Cetho ini unik.  Berbeda dengan candi-candi peninggalan Majapahit lainnya.  Kalau bangunan lainnya hanya punya tiga mandala (Utama Mandala, Madya Mandala dan Kanista Mandala) maka candi Cetho memiliki banyak sekali mandala.

Candi Cetho
Salah satu mandala Candi Cetho

Menurut sejarah penemuannya, Candi Cetho memiliki 14 teras (konsep punden berundak) namun yang masih bisa kita temui sekarang ini setelah pemugaran hanya tinggal 9 saja. Ijinkan saya menyebut teras-teras ini sebagai mandala sepanjang tulisan ini.   Masing-masing mandala terdapat arca dan bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai pendopo dan ruang-ruang penyimpanan benda-benda bersejarah.

Baca juga : Mengenal Konsep Tata Ruang Bangunan di Bali

Selain mengambil bentuk punden berundak, arca dan relief di sini juga tampak berbeda. Arsitektur Candi Cetho disebut-sebut mirip dengan bangunan suku Maya di Meksiko dan suku Inca di Peru.  Sedangkan arcanya bila diperhatikan lebih mirip dengan orang Sumeria atau  Romawi daripada orang Jawa.   Sepertinya ini ada hubungannya dengan perjalanan manusia pada masa lampau yang diceritakan di Museum Purbakala Sangiran, Sragen.   Saat berkunjung ke sana, saya melihat fosil-fosil manusia purba berupa foto, diorama dan sejenisnya yang secara kenampakan begitu mirip dengan arca-arca di Candi Cetho.  Kapan-kapan saya akan menuliskan ini dalam artikel tersendiri.

Pemugaran Candi Cetho dimulai pada akhir tahun 1970, oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Presiden Soeharto mengingat kondisi punden berundak yang nyaris hancur dan tidak dapat dipergunakan.  Meski cukup kontroversi dan banyak ditolak oleh para arkeolog karena adanya perombakan dan penambahan bangunan namun pemugaran ini cukup bermanfaat untuk mempertahankan keberadaan Candi Cetho.

Berada di ketinggian, Candi Cetho kerap diselimuti kabut tebal. Pada saat-saat tertentu, Candi Cetho seolah menghilang,  bangunannya tak terlihat karena tertutup kabut.  Saat kami berkunjung, kabut disertai gerimis tipis mulai turun sekitar pukul 13, padahal sebelumnya cuaca begitu cerah.  Auranya terasa agak berbeda.

Candi Cetho
Di belakang kami, kabut tebal mulai turun. Candi Cetho seakan menghilang

Mencintai Cagar Budaya, Merawat Kisah Masa Lalu yang Agung

Kami meninggalkan Candi Cetho diiringi kabut yang semakin pekat menyergap. Mobil merayap perlahan, menuruni lereng yang terjal.  Diam-diam saya memanjatkan doa untuk keselamatan dan keamanan perjalanan ini.  Jarak pandang terlalu pendek.  Hawa dingin terasa merambati tubuh, membuat sedikit gigil.  Lega rasanya ketika tikungan Dusun Gumeng, Jenawi itu terlewati.

Kapokkah ke sini? Oh, tentu tidak.  Kami bahkan kembali ke Cetho 2 hari kemudian.

Iya. Ini serius.  Kami benar-benar kembali berkunjung ke Candi Cetho 2 hari setelah kunjungan pertama, tepat di hari raya Idul Fitri.  Menurut perkiraan kami, Cetho tentunya tak terlalu ramai dengan kunjungan wisatawan karena sedang  suasana lebaran.  Pagi-pagi sekali kami sudah tiba,  dan jadi pengunjung pertama.

Candi Cetho
Kunjungan kedua. Hari masih pagi, , sepi dengan langit biru yang cerah. Foto di spot ini selalu jadi favorit pengunjung

Kali ini, kami membeli tiket masuk seharga Rp. 7.500 dan mendapat pinjaman kain kotak-kotak hitam putih sebagaimana pengunjung lainnya. Pagi yang cerah, kami  menikmati kunjungan ini sebagai wisatawan, maka terasa lebih santai.  Pun suasana yang sepi membuat kami lebih bebas mengambil gambar tanpa ‘bocor’

Hati saya terasa kecewa saat melihat di beberapa tempat ada coretan, yang terlewat dari pandangan saat kunjungan pertama, karena fokus untuk ibadah dan ramainya pengunjung. Entah siapa yang iseng meninggalkan jejak di sana.  Bukan hanya di Cetho,  vandalisme seperti ini juga kerap saya temukan di tempat-tempat lainnya.  Kota tua, Candi Prambanan, Candi Gedong Songo, Pulau Cipir, Pulau  kelor, Pulau Onrust, Museum-museum dan berbagai cagar budaya lainnya.  Sedih sekali melihat ini.

Cagar budaya adalah peninggalan sejarah. Banyak kisah masa lalu yang menunjukkan peradaban terungkap dari bangunan-bangunan tua ini.   Dalam pemikiran sederhana saya, ada beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan untuk melestarikan cagar budaya kekayaan bangsa ini, antara lain :

Candi cetho
Cagar budaya adalah kekayaan bangsa. Mari jaga bersama

Mematuhi peraturan yang berlaku

Setiap bangunan cagar budaya tentunya memiliki peraturan tersendiri. Mengunjungi candi misalnya, akan berbeda dengan kunjungan ke museum.  Bahkan candi yang satu dengan lainnya saja bisa berbeda.  Ada candi-candi yang masih difungsikan sebagai tempat beribadah sehingga tentunya ada batas kunjungan untuk wisatawan umum.  Tak perlu ngotot untuk memaksa masuk wilayah tertentu.

Menghormati orang yang beribadah

Pada candi-candi tertentu yang masih digunakan untuk beribadah, kerap diadakan kegiatan peribadatan oleh umatnya.  Saat Waisak di Borobudur atau jelang Nyepi di Prambanan misalnya.  Begitu pula di Candi Cetho yang seringkali didatangi oleh umat Hindu untuk sembahyang.  Siapapun tak akan nyaman jika saat beribadah, ada pengunjung lain yang lalu lalang dalam jarak dekat, berisik bahkan mengambil gambar tepat didepannya.  Sebisa mungkin, beri kesempatan umat yang bersangkutan menjalankan ibadah dengan tenang.

Tidak Melakukan Vandalisme

Ini bagian yang paling membuat saya patah hati. Entah apa hebatnya menuliskan nama atau sekedar coretan tak jelas  di dinding-dinding bangunan tua.  Batu-batu candi atau dinding bangunan ini sudah berusia ratusan tahun.  Sangat rentan rusak.  Pembersihannya juga tak sembarangan karena sangat sensitif dan bisa merusak lapisannya.  Selain mengganggu pemandangan, vandalisme juga bisa jadi menutupi sejarah yang sebenarnya.

Vandalisme di Pulau Cipir, Kepulauan Seribu. Sedih sekali melihat ini

Tetap menjaga etika dan kesopanan

Sebenarnya, dimanapun kita berada, etika dan kesopanan tetap penting. Bukan hanya saat berkunjung ke  cagar budaya saja.  Terutama candi yang menjadi tempat peribadatan,  sebagaimana umumnya ketika kita memasuki rumah ibadah/tempat suci.  Hendaknya tidak berbicara terlalu keras, hindarkan perkataan yang tak sopan, tak berlarian di sekitar kawasan candi, berpakaian yang rapi sesuai petunjuk dari pengelola, dan tentunya turut menjaga kebersihan lingkungan cagar budaya.

Khusus urusan sampah ini, saya pernah sangat kecewa saat berkunjung ke Pulau Onrust, Cipir dan Kelor, salah satu cagar budaya di kawasan Jakarta Utara. Duh, sampahnya gak tahan.  Air laut menghitam, berminyak dan penuh sampah.  Di pulaunya tak kalah heboh, sedih sekali melihatnya.  Hiks

Candi Cetho
Bunga cantik ini tumbuh subur di pelataran-pelataran Mandala Candi Cetho. Sedihnya, beberapa pengunjung justru memetiknya untuk properti pemotretan

Baca juga : Tak Ada Istirahat di Pulau Onrust

Tidak berlebihan dalam mengambil gambar

Saat ini, eksis di media sosial seakan menjadi kebutuhan utama para pelancong dan penikmat wisata. Tak terkecuali ketika berkunjung ke bangunan cagar budaya.  Demi mendapatkan gambar yang heboh dan viral,  ada saja orang yang kerap lupa bahwa ada batasan yang harus dijaga.  Foto sembari memanjat stupa, memeluk arca dengan pose tak sopan, menginjak relief-relief atau bagian tertentu yang disucikan, tentunya sangat tidak pantas untuk dilakukan.

Selain norma kesopanan, perlu diingat bangunan cagar budaya adalah peninggalan sejarah yang sudah berusia ratusan tahun yang kondisinya sangat rentan. Alih-alih mendapatkan hasil foto yang bagus, bisa jadi malah merusak bangunannya, membuat retak atau bahkan patah.  Mari jaga bersama agar konstruksinya tetap kuat dan utuh.

Memperkenalkan generasi muda pada sejarah bangsa sejak dini

Bangunan cagar budaya adalah aset kekayaan bangsa yang luar biasa. Didalamnya tersimpan jutaan kisah nan agung penanda peradaban dari masa lampau. Banyak pelajaran yang bisa kita petik sebagai pedoman untuk melangkah di masa depan.

Di sisi lain, generasi muda adalah aset bangsa yang tak kalah berharganya. Mengenalkan sejarah pada generasi muda sejak dini akan membuat mereka terpanggil untuk bersama menjaga dan merawatnya agar tak punah ditelan zaman dan kemajuan teknologi.  Ada baiknya, pelajaran sejarah di sekolah-sekolah tak sekedar menjadi teori dan hafalan, tapi disertai praktek berupa kunjungan langsung ke tempat-tempat bersejarah termasuk praktek cara menjaga dan merawatnya.

Prema, putra saya yang saat ini berusia 9 tahun kerap saya ajak berlibur ke tempat-tempat seperti ini. Museum, candi, kota tua, monument bersejarah adalah tempat-tempat yang cukup akrab dengannya.  Harapan kami, dia mencintai negeri ini tanpa kecuali.  Mencintai bukan sekedar kondisi terkini tapi lengkap dengan sejarah yang menjadikan Indonesia menjadi negara yang besar.

Prema bersama teman-teman l sahabat museum sedang mengikuti kegiatan di Museum Kebangkitan Nasional Stovia

Lebih jauh harapan saya, kunjungan seperti ini bisa dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah. Agar menjadi kegiatan wajib dan rutin.  Banyak sekolah yang biasanya melakukan kunjungan bertajuk karya wisata ke tempat-tempat tertentu.  Lalu kunjungan itu berujung di pantai, mall dan sejenisnya.  Kalaupun ada kunjungan ke cagar budaya, hanya sekedar foto-foto cantik dalam rombongan untuk dokumentasi kegiatan.

Tidak. Saya tidak sedang menggeneralisir bahwa semua seperti itu.  Banyak juga kok yang benar-benar menggarap serius kegiatan seperti ini.  Tergantung kebijakan sekolah masing-masing.  Tapi alangkah baiknya jika kebijakan ini benar-benar masuk dalam kurikulum sehingga bisa dilaksanakan dengan baik oleh institusi pendidikan.

Bukan hanya tugas arkeolog untuk menjaga peninggalan sejarah. Dengan langkah sederhana, semua bisa turut berpartisipasi, mengambil peran sekecil apapun untuk melestarikan cagar budaya kita.  Kekayaan tak ternilai bangsa Indonesia.  Karena bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarahnya.

Candi Cetho

Dari keheningan Candi Cetho pagi itu, saya melangitkan mimpi, doa dan harapan. Semoga cagar budaya Indonesia, dimanapun, tetap berdiri kokoh selamanya, hingga ratusan bahkan ribuan tahun di masa depan.  Kita tak bisa membangunnya, minimal jangan merusaknya.  Kelak setiap generasi akan bercerita dengan bangga tentang keagungan mahakarya masa lampau dan mengambil pelajaran berharga dari sana.

Semoga

 

Salam lestari

Arni

 

Artikel ini disertakan dalam kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia:  Rawat atau Musnah!”

Mari ramaikan dengan turut berpartisipasi dan lomba ini

69 thoughts on “Suara Alam dari Candi Cetho Untuk Pelestarian Cagar Budaya Indonesia

  1. aku suka cara mbak Ani bercerita apalagi mengenai tempat sembahyang umat Hindu, sebab ketika aku sendiri penasaran seperti apa tempat sembahyang untuk umat Hindu, tata cara dan proses. Kalau aku masuk sendiri kan gak boleh hehe..

    Topi mbak Ani itu udah jadi ciri khasnya 🙂

    • Terimakasih sudah berkunjung Koh Deddy
      Iya, kalau untuk ruang-ruang tertentu saat kegiatan ibadah memang biasanya gak boleh masuk, kecuali memang ada ijin khusus untuk liputan misalnya. Semoga suatu hari pas ada kegiatan ibadah di Pura, Koh Deddy bisa meliput ya

      Haha topinya ngikut aku ke mana aja Koh
      Anaknya gak tahan panas

  2. Sedih gt klok ada bangunan cagar budaya yg divandalisme. Btw aku tertarik nih mbk sm perpaduan arsitektur yg mirip sm suku maya serta arcanya yg mirip org suneria atau romawi. Next semoga aku punya kesempatan berkunjung ke candi cetho. Aamiin

    • Iya mbak. Sedih banget lihatnya yang kayak gini
      Bener, itu bagian yang menarik banget soal arca di Cetho yang mirip orang Sumeria atau Romawi kuno. Tadinya mau ku tulis di sini juga, tapi takutnya kepanjangan. Ntar yang baca bosn. Kapan-kapan aku buat artikel tersendiri ya

      terimaksih sudah berkunjung mbak Inda

  3. Keren bener cerita tentang Candi Cetho ini, Mbak Arni. *acungin jempol tinggi* Cagar budaya yang keren sekali di kawasan Karanganyar.

    Kayaknya kalau mau berkunjung ke sini, stamina seluruh keluargaku kudu siap karena banyak mandala yang kudu dipanjat. Wah, baiknya kudu datang pagi-pagi dong? Mbak, hotel yang bagus yang terdekat dengan Candi Cetho ini apa ya?

    • Memang keren mbak. Makanya mumpung masih di Karanganyar, kami belabelain berkunjung sampai dua kali haha. Iya, memang enaknya dating pagi, belum terlalu ramai dan cuaca masih cerah. Kalau udah di atas jam 12 siang kabut tebal mulai turun

      Hotel terdekat di kota Karanganyar sepertinya
      Tapi kalau sekedar homestay, banyak kok di sekitar Cetho, bahkan asik suasananya karena di kaki gunung dan tengah perkebunan. Sejuk sekali

  4. Suka kesel sama yg corat coret gak berfaedah tukang vandal. Mending bikinsesuatu yg berfaedah deh.

    Btw kenapanya kira2 Candi Cetho ini mandalanya lebih dari 3 ga kayak yg lain

    • Aku gak tahu pasti sebabnya mas
      Tapi kalau lihat dari arca yang ada dan bentuk bangunannya, sepertinya memang ada akulturasi budaya di sini. Ada pengaruh dari suku Maya/Inca di sana. Bisa jadi memang begitulah bentuknya di sana.
      Nanti coba aku cari lagi literatur yang lebih lengkap

    • Halo Bang Day apa kabar
      Iya nih, blog lama aku udah gak aktif. Aku lupa passwordnya jadi gak bisa login. Makanya sekarang pakai yang ini

      Ou soal dingin jangan ditanya
      Tiap sentuh air rasanya darah langsung membeku haha

  5. Kalau ke tempat seperti ini, saya cenderung suka sendirian. Tujuannya biar lebih bebas berapa lama ingin menjelajah tiap sudutnya, berusaha menikmati setiap tempat di sini. Meski kadnag menerka-nerka dengan informasi yang ada.

    • Aku klo sendirian suka merinding mas
      Takut ada yang nyolek hahaha
      Aku juga gak begitu suka keramaian sih, tapi klo lagi traveling senangnya ya ada yang nemenin. Biar ada yang diajak ngobrol dan motoin

    • Tulisannya yang sangat runut, dan berhasil mendiskripsikan dengan jelas obyeknya. Pantes jadi juaraa..😍

      Selamat ya, Mbak. Semoga generasi muda kita mulai peduli dengan Cagar Budaya Indonesia.

    • Wow mantap udah mendaku Gunung Lawu
      Aku lho kayaknya udah gantung ransel deh klo naik gunung
      Sekarang mainnya camping di tempat2 yang aman aja haha

  6. Waah ada gapura seperti di Bali ya mbak. Itu emang sudah lama ada atau bikinan sekarang ya ..Tenyata pengin beribadah ke sana pun harus ijin pemangkunya dulu ya mbak. Saya belum pernah ke Candi Cetho. Dengar namanya juga dari tulisan Mbak Arni. Sukses ya mbak. Ceritanya ngalir banget.

    • Kalau gak salah, gapura (candi bentar) yang paling depan itu tambahan waktu Candi Cetho dipugar pertama kali deh. Mudah-mudahan saya gak salah baca informasinya ya

      Untuk sembahyang sih sebenarnya boleh kok langsung, tinggal hubungi juru kuncinya aja. Tapi khan pastinya lebih nyaman kalau dipimpin langsung oleh Pemangku setempat. Biasanya ada tata cara khusus di tiap tempat sembahyang

  7. Karanganyar, kampung halaman Ibuku 😀 pernah sekali hampir berkunjung ke Candi Cetho ini sekitar tahun 2009-an, cuma jalannya nanjak banget dan mobilnya nggak kuat. Akhirnya saya dan teman-teman cuma berfoto di kebun tehnya aja 🙂 makasih ya Mbak, infonya lengkap sekali.

  8. Aku inget dulu pernah chit chat sama Bli Badai, ngobrolin soal Candi-candi yang ada di Indonesia. Rasanya memang sebaiknya Candi tetap digunakan sebagaimana tujuannya dibangun dulu, sebagai sarana untuk mengagungkan nama Tuhan. Masalah wisata sebaiknya tetap diletakkan di bawah tujuan utamanya. Ngaten mbak arni

    • Suwun mas. Aku juga mikir yang sama
      Tapi memang agak berat kalau pengelolaannya full diserahkan ke umat yang bersangkutan, apalagi kalau di sekitarnya sudah agak jarang penganut agama yang sama. Untuk Cetho sih 80% warga desanya masih Hindu, tapi kalau candi-candi yang lain agak susah
      Jadi ya memang butuh kerjasama terutama dengan pemerintah dinas terkait

  9. Waduh itu gaun batik panjang sekali mba.. 😀 kece… ternyata banyak candi sebagai tempat wisata ya di negara kita.. khususnya di pulau jawa.. aku baru tau ada candi cetho.. pemandangannya indah dan bangunannya pun cantik.. pingin kesana

    • Terimakasih sudah berkunjung mbak. Iya, Indonesia ini kaya sekali dengan candi-candi peninggalan masa lalu. Semoga menjadi kekayaan bangsa yang tetap terjaga kelestariannya

  10. Huaa aku dapet pengetahuan baru nih dari Candi Cetho ini. Bener banget kak, kita harus memperkenalkan ke generasi muda tentang cagar budaya yang ada disekitar kita. Agar mereka bisa menghargai dan merawat cagar budaya.

  11. Wah, gambar-gambar di candi Cetho keren banget. Saya ke sini masih tahun 90-an, Kak. Belum sebagus itu. Mandalanya belum serapi itu. Yang jelas, waktu itu candi Cetho di waktu liburpun sepi. Masih terlihat kurang terawat dan seadanya. Jadi ingin ke sini lagi.

    • Wah gak nyangka begitu situasinya dulu
      Iya kak, sekarang rapi sih memang. Petugas kebersihan juga siap sedia. Pas datang di hari kedua, karena masih pagi aku sempat melihat mereka nyapu-nyapu di pelataran

  12. aduh aku benci bgt klo ada bangunan yang menjadi korban vandalisme!! semoga himbauan-himbauan dari mbak ini bisa tersampaikan ke masyarakat agar teredukasi dan menyadari bahwa sudah kewajiban kita semua untuk menjaga cagar budaya indonesia.

  13. Sedih ya mba bila melihat peninggalan budaya tak terawat atau jadi korban vandalisme.. Duuh..sosialisasi tentang pentingnya perawatan cagar budaya memang masih sangt perlu digalakkan rupanya

  14. Aku udah beberapa kali ke Solo tapi belum kesampaian ke candi ini. Suka banget sama arsitekturnya, mirip Pura Lempuyang Luhur yang ada di Bali.

    Sayangnya masih belum yang paham kalau candi adalah tempat beribadah yang sakral, mereka taunya itu tempat wisata peninggalan masa lampau. Memang perlu terus diedukasi dengan berbagai media sih.

  15. Aku pernah ke sini, menjelang siang dan hujan, jadi berkabut deh. Bagus lokasinya. Aku kagum dengan orang zaman dulu itu, menentukan lokasi, membangun candi dan simbol-simbol bisa menyatu dengan alam.
    Sebelum ke Ceto, waktu itu kami ke Candi Sukuh juga.

    • Wah kalau kami ke Cetho dulu baru ke Sukuh
      Iya mbak, takjub ya sama orang dulu, mencari lokasi candi di ketinggian dan benar-benar menyatu dengan alam

  16. Aku tahu banget nihbkelak kelok ke Candi Cetho. Ngeri kalau mobilnya nggak kuat. Ahahaha.

    Di sekolahku dulu, kunjungan ke museum masuk ke dalam kurikulum kok. Nggak tahu ya kalau sekolah jaman sekarang. Karena ada sejarawan yang oernah bilang, “untuk menghancurkan suatu bangsa, buat generasi mudanya tidak mengetahui sejarah.”

    Dengan tidak mengetahui sejarah, maka tidak ada kecintaan yang besar di dalamnya 🙂

    • Kelak keloknya sesuatu bangeeeet
      Pas turun dari Cndi itu rasanya gak ngeliat ujung jalanan dan bakalan langsung nyungsep jurang huhuhu
      Tapi terbayarkan sih perjalanannya dengan pengalaman rohani selama di sana

      Enak ya kalau kunjungan museum masuk kurikulum gitu
      Sekarang beberapa sekolah menjadikan ini sekedar wisata aja
      Mudah2an ke depan lebih baik lagi

  17. Luar biasa ya jumlah candi di Indonesia. Akhir-akhir ini saya banyak baca tulisan tentang candi. Dan yang bikin saya senang tuh nyaris gak ada tulisan yang sama. Selalu aja saya menemukan tulisan tentang candi yang selama ini saya gak tau

  18. Vandalisme termasuk salah satu hal yang bikin saya patah hati deh Mba, kalau sedang berkunjung ke tempat wisata, baik yang merupakan cagar budaya maupun wisata modern. Selain kebiasaan buang sampah sembarangan dan petik bunga suka suka.

    Senang bisa mampir ke tulisan Mba soal Candi Cetho ini. Baru tahu juga kalau candi ini disebut candi lanang.

    • Memang iya. Nyebelin banget deh sama yang suka nyiret-nyoret gak jelas gini. Apa sih kebanggaannya nulis atau gambar di tempat-tempat yang harusnya dilindungi bersama

  19. Lina W. Sasmita says:

    Selalu suka dengan suasana candi yang asri dengan bebatuan dan lapangan rumput di sekitar. Jadi makin mupeng untuk berkunjung ke sini.

    • Aku beberapa kali berkunjung ke Candi-Candi, Prambanan panas banget pas di lokasi candinya. Borobudur juga sama
      Nah Candi Cetho ini benar-benar sejuk sampai lebih sering tertutup kabut
      Kalau sempat ke Candi Sukuh, itu juga cukup sejuk

  20. Membaca tulisan mba, seakan aku juga ikut mengunjungi candi ini. Apalagi saat mendeskripsikan kabut-kabut yang menutupi candi itu. Terasa seperti kayak di kayangan ya mba. Hehehe

  21. Membaca tulisan Mbak Arni, seolah-olah aku sedang berada di sana, turut meresapi kesegaran udara dan keindahan cagar budaya ini. Keren, Mbak. Semoga tidak ada lagi tangan-tangan jahil yang merusak warisan budaya negeri ini.

  22. Tulisannya lengkap dan kece beud mba Arni. Candi Cetho ini sempat jadi destinasi kami saat menikmati Karanganyar. Tapi ya itu tadi, medannya horor dan kabutnya bikin ngeri kalau mau ke sana lagi. Seneng yaaaa sudah sampai candi Cetho.

  23. Salam kenal mbak.
    Ini kali pertama saya berkunjung ke blog ini. Pantas aja jadi juaranya, tulisannya keren dan orisinil. Hal-hal unik dipaparkan dengan sangat jelas, detail dan panjang lebar, sesuatu yang belum bisa saya lakukan, hehe..

    Selamat ya mbak atas prestasinya, semoga kedepan makin sukses lagi. Terimakasih.

  24. Selamat ya Mbk, artikelnya apik dan informatif. Keluargaku juga senang jalan-jalan ke wisata sejarah. Semoga suatu hati kelak bisa ke sini. Menikmati indahnya dan menjaga kelestariannya.

  25. duuh yg aksi vandalisme itu menyebalkan sekali ya Kak, setuju itu, huufft. kenapa sih mereka harus corat coret tdak jelas gitu? Mau dibilang sudah pernah kesitu dengan menuliskan “… was here” hadeehh, gemeesss.
    jelas kita ndak bisa buat bangunan seperti itu, janganlah lagi dirusak, hikks.
    semoga makin banyak orang sadar akan pentingnya menjaga cagar budaya seperti ini ya Kak 🙂

    Anyway congrats ya Kak, ceritanya memang kereeenn..

  26. Membaca artikel serasa ikut menapak menjelajahi candi cetho, ah foto-fotonya juga klop sekali. Indonesia yang besar dengan segala peninggalan cagar budayanya, sudah seharusnya diketahui oleh para penerus bangsa.

    nice and congrats ya mbak 🙂

  27. aku belum pernah berkunjung ke sini. Ternyata masih banyak candi-candi yang indah peninggalan sejarah. Oiya, pas melihat fotonya yang si adek melompat itu seperti gerbang ke dunia lain, ya.

  28. Setujuu soal anak2 perlu diajarkan cara merawat dan menjaga cagar budaya. Bukan sekedar berkunjung saja. Merekanperlu diajarkan cara mencintai dan merawatnya, agar selalu indah dipandang. Toh yang menikmati kita2 juga, plus anak cucu

  29. Membaca artikel ini membuat ingatanku kembali ketika menjelajah Candi Cetho dan Candi Sukuh di masa lalu.
    Kemudian aku rindu, aku ingin kembali ke sana.
    Mbak, makasih ya udah nulis ini.

  30. Dari dulu selalu penasaran dengan tempat wisata seperti ini. Penasaran apakah masih aktif untuk sembahyang atau enggak. Ternyata masih ya mbak, membuka mata banget kalau memang harus dijaga karena masih selalu dipakai untuk sembahyang

    Etapi pernah liat deng aku di Bali, lagi berkunjung ke tempat wisata, ternyata lagi ada yang sembahyang. Semoga pengunjung yang kayak aku gini (mau melihat dan mau tau kisah tempat nya) gk mengganggu ibadah yaa 😃🙏🏻

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *