Menikmati Keindahan Pantai Kuta Mandalika Lombok

Pantai Kuta Mandalika

“Aku tidak bisa memilih salah satu di antara kalian.  Aku sudah memutuskan bahwa aku adalah milik semua  orang.  Milik kerajaan ini dan milik seluruh rakyat,” kata Putri Mandalika dari tepi tebing di Pantai Seger.

Hari itu Putri Mandalika tampak begitu cantik dalam balutan kain sutra.  Putri memang mengundang seluruh pemuda dan pangeran agar berkumpul di Pantai Seger di pagi buta pada tanggal 20 bulan kesepuluh (menurut penanggalan Sasak) untuk mengumumkan pilihannya atas lamaran dari para pangeran-pangeran kerajaan lain.

Putri Mandalika bingung.  Dia tahu, jika memutuskan memilih salah satu pangeran, dipastikan akan terjadi pertumpahan darah dan perang  yang pada akhirnya akan mengorbankan rakyat  dan menimbulkan kerugian besar.

Lalu…

Byuuuuur!

Putri Mandalika melompat ke laut, mengorbankan dirinya.

Semua yang hadir pagi itu kaget dan berusaha menyelamatkan sang putri.  Tapi sia-sia karena sang putri sudah menghilang di tengah gulungan ombak.  Tak lama kemudian, muncul jutaan cacing laut berwarna-warni dari sela-sela batu karang.  Semua yang hadir percaya, cacing-cacing yang kemudian dikenal dengan nama nyale ini adalah jelmaan Putri Mandalika yang hadir untuk semua orang.

Pantai Kuta Mandalika
Nyale, cacing berwarna warni khas Lombok.   Foto : Dinas Pariwisata Lombok Tengah

******

Sudah lama saya membaca legenda Putri Mandalika dan festival Bau Nyale yang diselenggarakan tiap tahun  untuk mengenang pengorbanan sang putri.  Ya, sudah menjadi tradisi di Lombok bahwa pada bulan-bulan tertentu (biasanya antara Februari – Maret) diadakan festival “Bau Nyale”.  Bau artinya mencari dan nyale adalah cacing warna warni yang hanya muncul di sela karang pantai pada saat-saat tertentu.

Cerita nyale ini membawa langkah keluarga kecil kami ke Lombok pada liburan akhir tahun 2019 lalu.  Dijemput oleh Ari dan Putri di bandara, mobil langsung melaju ke Pantai Kuta Mandalika, pantai dengan legenda Putri Mandalika yang saya tuliskan di atas.  Pantai Kuta Mandalika berada dalam satu garis pantai dengan Pantai Seger, bahkan memang disebut-sebut sebagai pantai yang sama.  Sayang kami datang di bulan Desember, disambut teriknya matahari Lombok, karang-karang pantai yang perkasa, tanpa sapaan lembut dari nyale yang memang belum waktunya muncul. Oh ya, jangan bingung lho.  Pantai Kuta memang adanya tak hanya di Bali, Lombok juga punya Pantai Kuta.

Festival Bau Nyale memang menggelitik rasa penasaran saya.  Cacing berwarna warni yang muncul tiba-tiba ini  katanya mengandung protein tinggi dan langsung bisa dikonsumsi setelah ditangkap.  Wow, meski agak ngeri-ngeri sedap membayangkannya, tapi saya tetap penasaran.  Bahkan katanya, nyale-nyale ini muncul tak hanya di Seger dan Kuta Mandalika, juga di pesisir pantai Lombok Selatan, seperti Pantai Jerowaru, Pantai Kelantan dan Pantai Sungkun.  Semoga suatu hari bisa ke Lombok saat festival berlangsung.

Pantai Kuta Mandalika
Eits… bukan ini ya Putri Mandalikanya

Pesona Pantai Mandalika

Mendarat di Lombok pada pukul 11.20 waktu setempat.  Artinya, kami tiba di Pantai Mandalika saat matahari sedang seksi-seksinya bersinar.  Usai melepas dahaga dengan air kelapa muda, lanjut makan siang di sentra kuliner, kami berjalan kami menuju pantai.  Panas menyengat.  Prema yang jarang mengeluh aja hari itu lebih banyak memilih berlindung di bawah bayangan pohon.

“Mbak dompetnya buat kenang-kenangan.  Murah kok,”

“Belilah satu kain ini, Kak! Murah saja.  Kalau di Sade harganya bisa sampai 200 ribu.  Saya kasi 100 ribu saja buat kakak,”

“Ini aja kak, gelang anyaman.  Buat oleh-oleh,”

“Oom mau difoto? Dari sini, nanti jadinya bagus.  Saya yang fotokan,”

Riuh para pedagang souvenir, aksesoris dan aneka tawaran lainnya menyambut kedatangan kami di pantai ini.  Kalau tak berminat, langsung tolak sejak awal.  Jangan bilang ‘nanti’ atau jawaban apalah yang seolah menjanjikan akan membeli atau menunjukkan ketertarikan.  Mereka akan terus mengejar sampai dapat.  Saya tahu, mereka sedang bekerja, mencari uang.  Tapi, jujur saja, caranya yang terasa memaksa membuat kami agak tak nyaman.  Bener-bener diikuti kemanapun kaki melangkah.  Hehe.

Pantai Kuta Mandalika
Sejauh mata memandang pantai berwarna biru tosca

Saya mengedarkan pandangan sepanjang pantai.  Pasir pantainya putih dengan butiran yang besar-besar, keras dan bulat.  Menyerupai butiran merica.  Agak berbeda dengan butiran pasir pada umumnya.   Karenanya sering disebut sebagai pasir merica.  Dari yang saya baca, pasir merica ini terbentuk dari fosil foraminifera yaitu sejenis organisme bersel tunggal dan bercangkang yang hidup di sekitar terumbu karang.  Cangkang dari foraminifera yang telah mati inilah yang kemudian tersapu ombak, terdampar di pantai dan  secara alamiah membentuk pasir putih.  Disarankan memakai alas kaki saat melintas di pasir, terutama yang berkulit sensitif.

Pantai Kuta Mandalika
Butiran pasir merica yang besar dan bulat
Pantai Kuta Mandalika
Lagi serius banget ini Prema, kak Ari dan kak Putri mengamati binatang laut

Saat kami tiba, air laut sedang surut dan menampilkan keindahan karang dengan ganggang laut disekitarnya.  Air laut tampak jernih dengan warna biru tosca yang menawan.  Di sela-sela karang kami juga menemukan bintang laut, teripang dan ikan-ikan kecil yang berenang riang.  Di bagian lain tampak beberapa pengunjung bermain air.  Bahkan ada anak-anak yang berenang.  Prema sempat merengek ingin berenang juga, tentu saja tak mendapat restu dari saya.  Selain panas banget, kami memang tak siap nyebur hari itu, baru tiba euy.  Pakaian masih tersusun rapi dalam koper.

Pantai Mandalika dikelilingi beberapa perbukitan yang tampak seperti mengepung dan memberi perlindungan pada pantai cantik ini.  Konon katanya sunset di sini sangat cantik dinikmati dari puncak bukit-bukit itu.  Ah, perjalanan kami masih berlanjut, jadi gak sempat menikmati sunset di sini.

Pantai Kuta Mandalika
Bukit-bukit di sekitar Pantai Kuta Mandalika
Pantai Kuta Mandalika
Jangan takut sayang, ada abang di sini yang selalu siaga

Saat sedang duduk manis menikmati alunan ombak, seorang pedagang kain kembali menghampiri saya.  Sebenarnya saya tertarik sejak tadi pada kain-kain khas ini, tapi karena  caranya yang terasa memaksa dan mengganggu, saya berkali-kali menghindar.

Beli aja satu, kalau udah pegang kainnya pasti gak disamperin lagi sama yang lain,” bisik suami

Tawar menawarpun terjadi.  Saya minta tolong Ari dan Putri untuk urusan ini.  Biar pakai bahasa Sasak dan gak kejebak di harga yang mahal.  Bagian saya tinggal milih corak kain dan bayar.  Setelah obrolan yang alot dan hampir tak saya mengerti, kain yang awalnya ditawarkan seharga 120 ribu akhirnya berhasil saya dapatkan seharga 80 ribu saja.  Bahkan ibu penjual itu menawarkan harga 150 ribu/2 pcs.  Tapi karena saya hanya membeli selembar saja, jadi harganya 80 ribu.

Pantai Kuta Mandalika
Aku dan Putri, bersama kain tenun khas Lombok yang baru saja dibeli

Errr…. Belakangan saya nyesel banget beli hanya 1 lembar.  Tadinya saya pikir akan menemukan kain yang sama di tempat lainnya.  Ternyata tak adaaaa sodara-sodara.  Benar kata ibu tadi, di Desa Sade, destinasi kami berikutnya, kain serupa dipatok paling murah 200 ribu rupiah.  Huaaaa rasanya ingin kembali ke Kuta Mandalika buat beli kain itu.

Ah, penyesalan memang selalu datang di akhir.  Kalau di awal namanya pendaftaran.

Ari, Putri kalau kalian baca artikel ini, nanti kalau kalian main ke Pantai Kuta Mandalika, aku nitip beli kainnya lagi ya.  Kabarin aja kapan ke sananya,”

Puas menikmati keindahan Pantai Kuta Mandalika, kami beranjak menuju lokasi berikutnya.  Masih seputar pantai dan bukit, akan saya tuliskan di artikel selanjutnya.  Sampai ketemu di Tanjung Aan dan Bukit Merese, di sana panoramanya akan lebih menakjubkan.

 

Salam

Arni

 

96 thoughts on “Menikmati Keindahan Pantai Kuta Mandalika Lombok

  1. Penasaran sama Rasa Nyale itu kayak apa ya? Mandalika memang memesona sih. Perkara Kain kejadiannya sama kayak Saya di Labuan Bajo. Karena maksa, jadi males Kan. Eh pas udah pergi nyesek. Ahhahahaa

  2. Nyale bisa jadi alternatif protein hewani masa depan ya mba. Saya pernah baca tulisan media luar, katanya kecoa, belalang, dan cacing kandungan proteinnya sangat tinggi. Bisa jadi alternatif untuk menjawab tantangan perubahan iklim katanya. Kakakaka. Jadi ngebayangin makan kecoa, takuuuut.

    Suami saya sudah sering ke Lombok urusan kerjaan, tapi saya sendiri belum ada kesempatan ke sana. So sad.

    • Meski begitu aku tetap berpikir ribuan kali. Sih kalau disuruh makan nyale mbak hahaha
      Duuh ketelan gak ya

      Btw lain kali klo pak suami ke Lombok lagi, ikut aja mbak sekalian jalan-jalan

  3. Langsung bergidik baca bagian kalau cacing itu bisa langsung di konsumsi setelah dibersihkan, tanpa diolah ya?

    Emang kalau jalan-jalan terus dibuntuti para pedagang souvenir itu jadi nggak nyaman ya mbak. Jadi harus tegas beli atau tolak

    • Iya mbak. Aku juga geleuh bayanginnya
      Tapi kata orang sana sih enak rasa cacingnya

      Itulah mbak, kita niat wisata tapi dikejar2 ginu malah gak nyaman. Padahal kain-kainnya cantik banget lho

  4. hani says:

    Geli pas baca penyesalan datang di akhir itu… Makanya di antara temen-temen ada quote, lebih baik nyesel beli, daripada nyesel engga beli.
    Beberapa tahun yl pernah ke Pantai Kuta ini, tapi belum ada yg jualan. Sekarang lebih rapi dan tertata ya? Pengen lagi ah ke Lombok…

  5. rasanya datang ke Lombok belum lengkap kalau belum berkunjung ke pantai Mandalika ini. ciri khas pasir mericanya yang jarang ditemui di pantai lainnya. juga cacing warna-warninya.. ahhhh.. jadi pingin berangkat ke sana lagi…

    • Yes. Pantai Kuta Mandalika ini salah satu iconnya Lombok. Saingan sama Senggigi yang udah lebih dulu terkenal
      Kami malah gak ke Senggigi lho, terlalu ramai di sana

  6. Wah, kukira yang pake topi itu Putri Mandalikanya mba hehe. Indah banget pantainya dan jadi salah satu destinasi andalan kaaan kata Pak Presiden. Cuma kok kebayang lagi jalan di pantai terus ketemu cacing uget-uget itu bikin bergidik. Wajib pake alas kaki ini sih kalo nanti aku kesana.

  7. Wah, ternyata gaya berjualan di Pantai Kuta Lombok belum berubah, ya dari puluhan tahun lalu. 20 tahun lalu saya sudah siap mengatakan tidak dan menjaga bawaan setelah diberitahu hal ini. Bukan apa-apa sih, saat itu dekat peristiwa bom bali dan sepi pembeli. Jadi lebih riuh lagi cara menawarkannya.
    Tapi overall, pantainya memang sangat indah. Sangat unik dan berkesan.

    • Oh jadi sejak dulu memang kayak gitu ya gaya jualannya
      Jujur aja bikin agak gak nyaman sih, padahal kainnya bagus-bagus lho
      Kalau saja mereka dibuatkan tempat khusus berjualan kayak di tempat wisata lainnya gitu mungkin lebih enak deh

  8. Kalau nyale alias cacing laut ini dimasak yang kering (crispy), sepertinya saya masih doyan mba. Kalau dimasak yang kuah atau basah, sepertinya saya gak doyan. hahaha.

  9. Melihat secara langsung festival nyale yang sudah menjadi tradisi masyarakat di lomba, bikin saya tertarik untuk ikutan pergi kesana juga.
    Apalagi pemandangan yang disuguhkan luar biasa cantik.
    Liat foto yang mba bagiin di artikel ini, terlihat kalau disana bersih banget

    • AKu gak tau mbak. Kami gak ketemu nyale soalnya
      Ini menurut info, fstival bau nyale tahun ini akan diadakan pertengahn februari deh. Ayo coba ke Lombok

  10. Bang Doel says:

    Oh festival bau nyale itu asalnya dari legenda Putri Mandalika? Namanya kayak pantai yang ada di Bali ya, sama-sama Kuta. Ternyata di Lombok. Ternyata barisan kepulauan itu sama-sama punya pemandangan yang eksotik juga.

  11. ridous says:

    Kadang liat orang jalan-jalan sama pasangan dan juga keluaga kecilnya bikin saya ngedadak pengen menikah. wkwkwkwk semoga disegerakan

    Asyik ya mbak jalan2 itu? Aku belum pernah

    • Tinggal tambahin santan dan gula merah ya hahaha
      Ini pantai berbatunya hanya sedikit kok, ada juga sisi yang pantainya cukup landai untuk berenang. Ombak juga gak terlalu kencang, jadi aman

  12. Selain Tanjung Aan, aku suka banget Pantai Kuta di Lombok. Pasirnya besar-besar, unik banget.
    Katanya Nyale itu enaknya dimakan mentah atau dimasak pake sambel gt, itu kata orang-orang. Tapi kalau aku, skip deh kalo ada hidangan itu. Hehe..

  13. Aku juga pernah mendengar kisah Mandalika ini ketika mengikuti festival Bau Nyale di Lombok tahun 2014. Pantai-pantai di Mandalika memang cantik ya Mbak, tak heran dijadikan area prioritas pengembangan pariwisata oleh ITDC.

  14. Ihhh cacing warna warni meskipun katanya cantik, aku tetap geliiii ga suka hahah 🙂 AKu pernah sekali ke Lombok tapi cuma semalaman itu pun ga disengaja wkwkwkw. Kepengen deh mampir ke Pantai Mandalika dan berlama2 di sana.

  15. Meskipun dibilang bisa dikonsumsi hidup-hidup, kayaknya saya memilih mundur teratur deh hehe. Cukup saya lihat dan abadikan lewat foto aja. Saya sebelumnya sudah pernah baca legenda ini, tapi belum kesampaian main ke Pantai Mandalika nih. Semoga ya suatu hari nanti bisa melancong kesana, terus beli kain pantai hehe.

  16. Destinasi impian ku. Padahal ingin berangkat tahun lalu tapi urung, ahhh semoga kesampaian menjejak disana dan keindahan nya masih terjaga. Aku juga pernah dengar nih soal legenda nya. Indonesia itu unik ya..khas banget sama legenda

  17. pantainya bagus banget kak, pasirnya putih dan kelihatannya bersih gitu. aku juga sering denger Festival Bau Nyale ini tapi ternyata baru tau asal usul festival ini setelah baca cerita ini hehe.

    • Asal usulnya unik ya
      Aku membayangkan seandainya cerita ini benar adanya
      Kayak gimana ya paniknya warga saat melihat Putri Mandalika terjun ke laut lalu berubah menjadi cacing

    • Sebenarnya gak juga sih, Pul
      Ini jalan-jalannya sekali tapi tulisannya yang bisa berseri-seri dan nulisnya kapan-kapan
      Jadi kesannya jalan-jalan melulu hahaha

  18. Sumpah, pedagang asesoris di Pantai Kuta dan sekitarnya emang gigih banget. Tinggal adu saja siapa yang lebih kuat. Ahahaha

    Oh ya, festival Bau Nyale ini ada juga lho di Ambon, tentunya berbeda nama tapi saya rasa jenis cacingnya sama 🙂

  19. Aku kok lebih suka Mandalika yang dulu ya, waktu masih namanya Kuta aja. Lebih alami dan cantik menurutku. Pas tahun lalu balik lagi ke sini, langsung sedih sebagian pantainya dibeton…:((

  20. Pantesan deh Lombok ini sudah menjadi tempat favorit yang ramai dikunjungi. Indah banget sih pantainya disana,sis. Aku lihat foto-fotonya aja langsung pengen segera kesana. Hmmm, namanya penjaja souvenir ini sama dimana-mana ya bawannya kalo uda mau menjual semangat banget tanpa henti ngejar wisatawan.

  21. Ibadah Mimpi says:

    Wohooo… Pantainya seru juga mbak.
    Cocok banget buat tempat bersantai melepas penat dari rutinitas harian nih. wkwkwkwk

  22. Lina W. Sasmita says:

    Baru ingat ternyata saya juga pernah ke tempat ini tapi foto-fotonya sedikit bahkan udah hilang. Iya para pedagang asongan ini terasa mengganggu kenyamanan liburan karena terus saja membuntuti.

    • Wah sayang banget mbak itu foto-fotonya hilang
      Kode untuk ngulang perjalanan kembali ke sana deh

      Nah khan, pedagang-pedagang asongan itu agak terasa mengganggu ya mbak

  23. Indahnya Lombooook.. bikin makin penasaran untuk menjejak disana. Setiap Suami cerita keindahan Alam Lombok, rasanya makin gereget pengen segera liburan, haha.
    Dan aku baru tahu tentang Legenda Putri Mandalika-nya lho Mba, jadi ingin baca kisah2 lainnya tentang Lombok 🙂

  24. andyhardiyanti says:

    Aihhh serunya yang habis liburan ke Lombok. Sayang yaa belum sempat ketemuan kita. Saya malah baru tahu pas mbaknya udah balik dari Lombok. Hahahaha. Kapan-kapan deh ke sini lagi.

    • Iya nih mbak, maaf ya pas di sana aku gak ngabarin
      Soalnya udah dihandle sama teman-teman di lingkaran pertemanan yang lain, akunya gak enak kalau ngontak-ngontak orang banyak tapi jadwal kami malah padat

      Mudah-mudahn lain waktu bisa ke sana lagi deh

  25. Pantainya keren pisan inimah. Tapi kujadi auto atut pas liat cacing huhuhu…. Si imut lucu itu seakan menggelitik kulitku …

    Terlepas dari kegelianku itu, aku sukses baca sampe akhir pengalaman wisata ke pantai ini. Semoga next time aku bisa ikutan nikmatin keindahannya secara langsung. Thank u for writing mba Putu…

    • Hahaha akupuuuun
      Itu fotonya juga aku comot dari tempat lain
      Kalau ketemu langsung sama cacingnya, pasti bakalan merinding disco hahahaha

Leave a Reply to Yuni Bint Saniro Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *