Suatu Hari di Tanjung Aan dan Bukit Merese

Tanjung Aan Bukit Merese

“Kak Ari, habis ini kita mau ke mana?” tanya Prema saat kami kembali ke  mobil setelah puas menikmati keindahan Pantai Kuta Mandalika

Masih ke pantai juga, namanya Tanjung Aan. Tapi yang ini lebih indah pemandangannya karena ada bukitnya juga.  Namanya Bukit Merese, kalau naik sampai ke puncak nanti dari atas bakalan indah sekali,” Kak Ari langsung promo nih.  Cocok deh jadi guide.

“Nanti di sana kita berenang, bu?” Tanya Prema lagi.  Dia memang sudah tak sabar pengen berenang.  Sejak awal memutuskan Lombok sebagai destinasi liburan kali ini, Prema sudah kegirangan saat tahu bakalan banyak ketemu pantai.

Gak dulu deh ya. Kita berenangnya nanti aja, sekalian snorkeling di Gili Trawangan,” Saya mencoba bernegosiasi dengannya

“Jiaaah… kirain mau berenang, kalau cuma lihat-lihat aja khan gak asyik ” huhuhu Prema kecewa

Tenang Prema, pasti seru kok di sana. Nanti kita balapan naik ke atas bukit ya,” lagi-lagi kak Ari promo sekaligus menawarkan tantangan.

“Okeeeee!” Prema langsung bersemangat deh.

Sejauh mata memandang, adanya bukit-bukit gundul dan gersang

Baca juga : Menikmati Keindahan Pantai Kuta Mandalika

Menuju Tanjung Aan kami melintasi kawasan yang digadang-gadang akan menjadi sirkuit MotoGP dan disiapkan untuk perhelatan akbar di tahun 2021 nanti. Saat ini pembangunan sirkuit Mandalika yang direncanakan memiliki panjang 4,32 km ini sedang berlangsung.  Saya melihat proses pengerjaannya di beberapa titik.  Alat-alat berat sedang melaksanakan tugasnya.  Sirkuit MotoGP Mandalika ini unik karena dibangun dengan konsep terintegrasi dan menjadi bagian dari distrik entertainment dan sport terpadu dimana beberapa lintasan sirkuit adalah lintasan jalan raya.

Poster Babang Valentino Rossi sedang tersenyum yang dipajang tepat di depan area sirkuit langsung mengingatkan saya pada seorang kawan blogger di Jakarta yang merupakan fans beratnya. Saking ngefansnya, kami bahkan memberi julukan “Nyah Vale” (nyonya Valentino Rossi) padanya.  Saya yakin deh, beberapa teman yang baca tulisan ini pasti tahu siapa yang saya maksud.

Jalur menuju Tanjung Aan masih sepi, jalanan cukup mulus. Perbukitan di sepanjang jalan terlihat gersang, akibat kemarau yang memang berlangsung cukup panjang di tahun 2019.  Melintasi jalanan beraspal yang nampaknya baru dibuat lalu berujung dengan sedikit jalan tanah dan berbatu akhirnya kami tiba di Tanjung Aan.  Tak terlalu banyak kendaraan yang parkir hari itu.  Mungkin karena tempatnya yang agak jauh dan memang baru awal liburan akhir tahun. Katanya, tempat ini biasa ramai di tahun baru.

Tanjung Aan  Bukit Merese
Salam manis dari kami di puncak Bukit Merese

Lagi-lagi kami disambut panas menyengat. Ah, matahari memang senang bercanda.  Berangkat subuh dari Bogor, hujan deras dan gigil, sampai di Lombok malah bertolak belakang sekali.  Peluh langsung membasahi kulit.  Siapkan topi dan kain buat pelindung.  Seorang anak menghampiri, menawarkan penyewaan payung dan foto-foto, yang kemudian saya tolak dengan senyum manis.

“Ke atas sana yuk,” ajak Ari sambil menunjuk sebuah bukit yang terlihat gersang, gundul dan pastinya super panas.  Tak ada tempat berteduh sama sekali.

Tampak beberapa pengunjung di atas bukit. Sibuk berpose cantik atau sekedar menikmati pemandangan.  Saya jadi penasaran, mengabaikan panas yang menggigit kulit kami bersama-sama berjalan menuju ke atas.

Jatuh Cinta di Bukit Merese

Bukit Merese namanya. Atau sebagian masyarakat menyebutnya merisik yang artinya bukit gundul. Tak ada pohon besar di atas sana.  Hanya ada sedikit rerumputan yang tampaknya cukup tangguh bertahan hidup di antara bebatuan.  Ou, ada sejenis pohon bunga perdu yang saya tidak tahu namanya, tapi bunganya cantik sekali.  Dengan daun bulat lonjong dan tebal.  Bunganya sekilas mirip asoka namun lebih besar dan tebal.  Saya melihat perdu ini di beberapa titik.  Saya membayangkan betapa keras perjuangan sang perdu untuk bertahan hidup di tengah bukit gundul ini.  Sampai besar dan berbunga yang cantik.  Tuhan memang luar biasa, seolah ingin menunjukkan bahwa jadi manusia jangan mudah mengeluh pada keadaan.  Lawan dan teruslah berjuang.  Malu sama pohon.

Tanjung Aan Bukit Merese
Si Perdu yang tangguh dan cantik

Baca juga : Jelajah Tanjung Kelayang, Belitung

Tiba di puncak bukit, saya langsung terpana karena disuguhi lukisan alam yang luar biasa cantik. Indah sekali  melihat panorama lautan luas dengan bukit-bukit di sekitarnya.  Di pantai tampak ada yang sedang berenang, di tepinya terlihat beberapa pengunjung bersantai dan berjemur.  Wait, berjemur? Oh tidaaak… saya pasti menyerah duluan.  Tapi buat turis bule, aktivitas ini malah jadi favorit mereka.  Saya juga mendapat informasi bahwa di pantai ini bisa melakukan snorkeling.  Jangan khawatir kalau gak bawa alatnya, ada penyewaannya kok di sini.

Tanjung Aan Bukit Merese
Lukisan alam nan jelita

 

Tanjung Aan Bukit Merese
Tim traveling terbaikku

“Ini namanya Tanjung Aan. Prema tahu gak, apa itu tanjung?” tanya saya ke Prema sembari duduk santai di puncak bukit.  Sekaligus mengajak dia mengingat-ngingat materi pelajarannya di sekolah.  Kebetulan, materi kenampakan bumi baru saja dipelajari semester lalu.

“Tahu dong. Tanjung adalah daratan yang menjorok ke laut,” jawabnya yakin

“Iya betul. Lawannya tanjung apa hayooo..?” tanya saya lagi

“Teluklaaah. Teluk itu lautan yang menjorok ke daratan,” lagi-lagi Prema menjawab dengan pede sejuta

“Pinteer. Prema ternyata masih ingat  sama pelajarannya.  Biasanya kalau ada tanjung, ada teluknya juga.  Tinggal mana yang lebih gede jadi lebih dikenal.  Kayak Tanjung Aan ini, bagian daratan yang menjorok ke lautnya kelihatan lebih luas dan besar, sementara bagian laut yang ke daratnya kecil, kayak di peluk sama bukit-bukit jadinya.  Makanya lebih terkenal tanjung daripada teluknya,” terang saya lebih lanjut

“Nah, sekarang ibu mau tanya lagi. Kita khan ada di atas bukit.  Prema ingat apa itu bukit? Apa bedanya sama gunung?”

“Sebentar, Prema ingat-ingat dulu,”

Lalu dia diam sejenak. Tampak sedang berpikir keras

“Ah ya, Prema ingat sekarang. Bukit pastinya lebih rendah daripada gunung.   Kalau gunung ketinggiannya di atas 1000 mdpl.  Sedangkan bukit kurang dari 1000 mdpl.  Gunung, kalau dia gunung berapi biasanya ada kawah ditengahnya.  Kalau bukit pasti ndak ada kawahnya,” jawab Prema.

Tanjung Aan Bukit Merese
Kekasih kecilku

 

Tanjung Aan Bukit Merese
Ngobrol asyik mereview pelajaran sekolah

Begitulah. Traveling buat kami bukan sekedar jalan-jalan  menikmati alam.  Tapi juga aplikasi langsung dari materi pelajaran Prema dalam kelas.  Sibuk menghafalkan teorinya membuat dia hanya sekedar membayangkan.  Meskipun saat  belajar disodori foto-foto dan gambar tapi khan lebih asyik kalau lihat langsung yang aslinya.  Apalagi menikmatinya dari puncak bukit seperti ini, langsung kelihatan bentuk kenampakan alamnya.  Terlihat jelas mana daratan yang menjorok ke laut dan mana lautan yang menjorok ke darat.  Sekali jalan, ilmunya langsung membekas.

Tak henti-hentinya saya berdecak kagum atas suguhan panorama ini. Lukisan Tuhan memang tak ada lawan.  Indonesia memang diciptakan Tuhan sembari tersenyum.  Tampaknya Tuhan sedang bahagia ketika menjadikan kepulauan nusantara ini.  Di semua daerah, dari Sabang sampai Merauke punya garis pantai yang indah, pulau-pulau yang memukau, bukit dan gunung yang memesona.  Tugas kita adalah menjaganya.  Agar kelak menjadi warisan terbaik untuk anak cucu kelak.

Tanjung Aan Bukit Merese
Sisi lain Bukit Merese
Tanjung Aan Bukit Merese
Maafkan kami yang narsis ini

Oh ya, karena di atas sini panas dan kalau udah terlanjur sampai ke puncak pasti malas sekali untuk bolak-balik turun, saran saya bawa air minum yang cukup. Pun kalau sebelumnya pengen buang air kecil, tuntasin dulu deh sebelum naik.  Gak ada toilet di atas.  Ada sekelompok pemuda desa yang menjual air kelapa muda di atas sini.  Sepertinya cukup menggoda untuk menyegarkan diri.  Tapi kami baru saja minum kelapa muda di Pantai Kuta Mandalika, jadi kali ini tak kami beli.

Ada yang istimewa di sini. Katanya nih, ups lagi-lagi katanya karena kami gak menikmati langsung, katanya di sini moment special matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) sama indahnya.  Jadi kalau biasanya pantai-pantai hanya menyuguhkan momen sunset, nah di sini saat pagi hari sangat indah menyaksikan matahari yang menyembul perlahan dari balik bukit.  Ah, membayangkannya saja saya sudah tersenyum.  Pasti menyenangkan sekali.  Semoga lain waktu saya bisa menikmati moment-moment itu bersama yang tercinta.  Perjalanan waktu yang menghangatkan hati.

Tanjung Aan  Bukit Merese
Sampai jumpa di destinasi selanjutnya

“Turun yuk. Prema mau pipis,”

Nah khan. Kalau sudah begini, harus buru-buru turun deh.  Cah bagus kebelet.  Perlahan kami berlima menuruni bukit.  Jalanan berbatu dan berdebu.  Perlahan saja agar tak terpeleset.  Agak ngeri-ngeri sedap ini pas turunnya.  Harus ekstra hati-hati.

“Mau lanjut ke pantainya?” tanya Ari

“Gak usah deh. Cukup di sini aja.  Kita khan gak mau berenang. Pantainya mirip-miriplah pasti sama Kuta Mandalika tadi khan.  Udah lihat cantiknya dari atas.  Lanjut aja ke tempat lain,”

Dan begitulah, hari pertama di Lombok kami berkunjung ke dua pantai. Kuta Mandalika dan Tanjung Aan. Ditambah bonus mendaki Bukit Meres.  Dari sini, perjalanan berlanjut ke pengenalan adat dan budaya  Suku Sasak, suku asli Pulau Lombok.  Dimanakah itu?  Ikuti terus perjalanan kami di ngiringmelali.com ya.

Sampai jumpa di destinasi selanjutnya.

 

Salam

Arni

 

107 thoughts on “Suatu Hari di Tanjung Aan dan Bukit Merese

    • Wah sayang sekali ya mas
      Tapi sepertinya itu kode mas buat mengulang kunjungan ke Lombok
      Nah, di kunjungan berikutnya harus sempetin jalan-jalan tuh

  1. Bermain sambil belajar. Suka kagum sama orangtua yang kalau jalan2 ke alam, anaknya masih distimulasi untuk mengulang pelajaran sekolah.

    Ah, Lombok!! Pengen banget ke sana.. Semoga suatu hari bisa terwujud. Aamiin.

  2. Duh lihat foto-foto dan baca ceritanya aja mata sudah berbinar-binar, apalagi kalau lihat langsung ya. Idenya mengajak anak berlibur sekaligus review pelajaran, bagus juga tuh, Mbak. Menginspirasi saya kalau kelak nanti anak sudah mulai sekolah.

  3. Foto-fotonya keren banget, jadi pengen ke sana. Lombok ini sudah masuk dalam daftar tujuan liburanku dan suami lho. Sayangnya, kami belum ada kesempatan ke sana. Nah untuk rencana sirkuit motoGp aku baru tahu lho akan dibuatnya di Tanjung Aan di Lombok ini. Beneran itu?

  4. Cantiknya dan tidak padat dan sesak oleh turis lokal atau mancanegara, ini memang destinasi yang bagus untuk melepas penat dari sibuknya pekerjaan, langsung saya masukin list liburan saya.
    Salam kenal.

    • Betul, karena sepi indahnya jadi makin terasa dan benar-benar puas untuk dinikmati. Entahlah nanti kalau sirkuit MotoGP Mandalika udah jadi, mungkin Tanjung Aan dan Bukit Merese bakalan rame banget. Susah deh mau pepotoan tanpa bocor hehe

  5. traveling sambil mengingat pelajaran IPS 😆 kalau gini mah prema jd apal mana tanjung, teluk dan bukit. btw masih sepi banget yaa di sini, bak bukit sendiri. itu pantainya jg menggoda untuk dinikmati keindahannya

  6. Prema ngejawabnya keren-keren banget sih mba hihi, dengan pengetahuan mengenai Geografi udah menunjukkan dia paham lho, ga sekedar menghapal. Travelling sambil belajar juga ini mah, kebetulan aku belum explore Lombok hihi, semoga suatu saat nanti

  7. Hani says:

    Hum…lihat fotonya dah kebayang panasnya.
    Jadi lanjut yah proyek sirkuit tersebut. Eh tapi, ada yg menyatu dengan jalan raya? Ntar ditutup dong kalo ada lomba. Lihat sisi positifnya aja deh, mudah²an turisme jadi berkembang di Lombok.
    Walaupun aku engga ngerti sih olahraga balap²an serunya di mana? Wkwkwk…

    • Huaaa kalau urusan panasnya gak usah dibahas, cetar membahanaaaa
      Nah, gimana teknisnya nanti kalau sirkuit udah jadi aku juga gak tahu, mungkin iya, jalanan di tutup sementara selama event berlangsung

  8. Duh, artikel ini benar-benar membawa saya pada kenangan lama saat ke sini bertahun-tahun lalu. Jadi pengen ke sini lagi. Kebetulan ada adik yang kerja di Lombok dan sering menawari datang

  9. Idenya kreatif..traveling bersama keluarga dan merekam jejak perjalanan dalam bentuk tulisan..

    Bukit merese, bukit gundul tapi tetap ada tumbuhan perdu yang bertahan disana, jadi pelajaran bagi kita manusia (sepakat)

    • Buat mencatat kenangan mas
      Maklumlah manusia tempatnya lupa
      Kalau gak dituliskan gini, mungkin 2 bulan lagi sudah hilang dari ruang ingatan. Siapa tahu nanti bisa jadi memori indah buat keluarga kecil kami
      Syukur-syukur kalau bermanfaat buat orang lain

  10. Keluarga kecil kami belum sempat jalan-jalan keluar pulau Jawa. Meski begitu, tujuan utama kami seandainya keluar P. Jawa adalah ke NTB, karena udah merasa kalau Bali penuh…

  11. Setuju Mbak. Bumi Indonesia dari Sabang sampai Merauke memang begitu indah dan menakjubkan. Seperti Tanjung Aan ini, terlihat masih alami. Semoga kita bisa menjaga alam ini sebaik mungkin.

  12. Ya ampun aku terpesona dengan keindahan Tanjung Aan dan juga bukit Meresenya. Pemandangan alam yang luar biasa. Wiih jadi perjalanan ke Tanjung Aan melewati Mandalika yang akan dijadikan sirkuit MotoGP 2021 mba? Wah ku jadi semakin pensaran. Semoga suatu hari nanti bisa ke sana 🙂

    • Bener-benar indah dan sayangnya belum banyak terekspose
      Beda dengan pantai-pantai lainnya yang sudah lebih dulu dikenal seperti Senggigi dan Kuta Mandalika

  13. Waah Seru bgt ya…
    Dulu punya guru bahasa Jepang, orang Lombok. Beliau sering bercerita tentang keindahan alam lombok dan tempat2 wisata. Membaca tulisan ini jd inget dengan Beliau. Semoga beliau sehat selalu, dan suatu saat sayapun dapat berkunjung ke Lombok

    • Aku juga masih penasaran. Pengennya nanti kalau ke sini lagi, , jadi nginap di sekitar Tanjung Aan, jadi bangun pagi bisa langsung naik ke puncak bukitnya buat nikmati sunrise

  14. Bagus tu tempatnya ma. Kayaknya lebih enak buat foto-foto karena landscape-nya clear.

    Tapi kayaknya kalau kesana harus sedia sunscreen dan topi lebar ya, ga ada perlindungan sama sekali dari matahari, pasti panasss

    • Haha bener mbak. Dan tahu gak kesalahan kami, lupa dong pakai sunsscreen. lebih tepatnya males bongkar koper yang masih rapi dalam mobil. Gak nyangka banget hari pertama bakal disambut panas yang cetar begini haha

  15. Mbak Arni tahu kan, kalau saya ini pantai lovers hahaha. Makanya ppas lihat dari foto pertamanya, saya langsung mupeng, Mbak.
    Ini indah sekali.
    Dan saya yakin, pas sirkuit MotoGP sudah selesai, maka Tanjung Aan dan Bukit Merese akan semakin ramai. Semoga saya bisa segera ke sana, Mbak.

    • Haha iya mas. Dirimu mah pantai lovers banget deh
      Semoga nanti berkesempatan berkunjung ke sini ya.
      Jangan nunggu sirkuitnya jadi, bakalan ruame banget, susah pepotoan tanpa bocor nanti hehe

    • Sejak pertama kali ke sini tahun 2002 dulu, aku sudah ngebatin Lombok ini indah sekali. beruntung masih diberi kesehatan dan kesempatan sehingga bisa ke sini bareng keluarga

  16. prema menahan diri agar gak nyemplung ke air. hihi secara pemandangannya indah begitu, siapa yg tertarik mencoba renang, gak cuma naik2 bukit. gemeeees

  17. Hebat nih Dek Prema masih ingat pelajaran sekolahnya. Kalau nggak baca tulisan mba Arni, saya pun lupa bedanya Tanjung dan Teluk.

    Kemarin waktu pulang ke Lombok, sedihnya nggak kesampaian mau ke sini. Udah keburi dicariin sama Kakek dan Ua, diajak ngumpul di rumah mereka.

    • Kebetulan baru lewat semester kemarin, jadi masih lekat dalam ingatan
      Wah sayang banget ya pas mudik malah gak sempat jalan-jalan
      Eh tapi aku juga seringnya gitu lho, kalau mudik itu banyakan di rumah daripada ngidernya hehe

  18. Wah saya cukup terkecoh dengan postingan ini. Dibuka dengan percakapan jadi mengira isi postingan ini cerpen tapi ternyata berisi cerita perjalan. Saya suka nih cerita travelling yang dikemas dengan gaya tulisan mbak ini. Judulnya aja udah fiksi banget, hehe btw view di bukit merese ini indah ya

    • Wah terimakasih apresiasinya mbak
      Ini buat sekalian ngingetin Prema aja jika suatu hari nanti dia membaca postingan emaknya bahwa pernah ada momen-momen obrolan begitu

  19. ya ampun mbak akupun langsung jatuh cinta sam abukti merese nya, baru juga liat photo dipsotingan mba Arni, gimana kalo aku dah langsung menginjakkan kaki disana yah hehehe.

  20. Pemandangannya sangat bagus. Itu seperti beramain-main di pulau pribadi. Bunga Perdunya tumbuh di tengah-tengah anah yang gersang. Cantik.

    Eh, aku baru tahu, ternyat merese itu artinya gundul (gersang) tho…

    • Mungkin karena kami ke sininya pas tengah hari, lagi panas-panasnya jadi pengunjung sedikit. Kalau pagi/sore bisa jadi lebih ramai, batal deh jadi pulau pribadi hahahaha

      Oh iya, aku tahu arti merese pas nanya-nanya sama Putri dan Ari, yang nemenin kami jalan hari itu

  21. Cita-cita sejak hamil pengen baby moon ke Lombok belum kesampean… Kalo baca tentang Lombok pengen banget terbang kesana hiks.. Makasih mba infonya apalagi saya juga fans berat Babang Valentino Rossi hihi

  22. Hanan M says:

    Dari dulu pengen banget liburan ke lombok tapi belum kesampean. Nanti kalau dikasih kesempatan pasti bakal mampir ke Tanjung aan sama bukit Marese. Seru banget ya mba, apalagi bisa sambil ngeliat progres sirkuit MotoGP 2021 itu.
    Btw kalau ke pantai emang enaknya pagi2 atau sore hari mba, biar gak kepanasan gitu hehe.

    Oh iya mba, sekalian mau bagi info, saya sedang adain give away kecil2an yang hadiahnya 6 buah buku di blog saya. Siapa tau ingin nambah koleksi buku baru, boleh banget ikutan. hehe Makasih mba

    • Iya betul. Kami salah waktu berkunjungnya euy. Gak nyangka juga sih secetar itu panasnya hehe
      Nanti kalau sirkuit MotoGP nya udah jadi, pasti bakaln rame banget ini tempat wisatanya

      Ahsiaaaap
      Segera nginti GA-nya

  23. Aiiih Lombok emang juara banget yah kak untuk view pantai nan indah dari bukit-bukit` Aslik ini keren banget, kalo sorean dikit kayaknya lebih syahdu yaa kak, lebih adem hehe.

    Bisa betah aku kalo disitu kak hahah

    • Iyaaaa sayangnya kami masih ada destinasi lain hari itu pluu hotel kami lokasinya agak jauh, di Senggigi, berlawanan arah. Jadinya gak bisa berlama-lama di Bukit Merese

  24. Aku membaca setiap jejak perjalanan mba Arni tuh bergetar. Ya…ampun aku rindu ingin kembali menjelajahi Lombok
    Tanjung Aan dan bukit merese salah satu list destinasi yang harus masuk di itenirary

  25. Saya menikmati ceritanya. Sangat menyenangkan sekali bisa traveling bareng keluarga. Hal ini akan menjadi kenangan indah, terutama buat anak2 yg akan membawa kenangan tsb hingga dewasa.
    Lombok memang menawan, saya baru ke senggigi dan rinjani saja. Butuh waktu 1 minggu atau lebih utk menikmati pulau eksotis ini

    • Saya malah gak main ke Pantai Senggigi lho mas
      Padahal hotel kami adanya di daerah Senggigi haha
      Kebetulan seberang hotel juga pantai, jadi pagi-pagi mainnya ke depan hotel aja

  26. Itulah kenapa saya pun senang jalan-jalan ke alam bebas, Mbak. Setuju dengan apa yang Mbak Arni bilang, “malu sama pohon”. Memang selama traveling tuh banyak yang bisa dipelajari. Gak sekadar menikmati perjalanan

  27. benar banget tuh, bisa mengingat-ingat pelajaran geografi kalaulagi traveling gitu. Saya juga dulu bisa ingat beda tanjung dan teluk, bukit dan gunung, dan lain-lainnya karena sering traveling gitu. Ingatannya lebih nempel ketimbang baca buku pelajaran euy.

    Dan saya udah lama bangt gak main ke Lombok nih. Lihat foto-fotonya jadi terkompori untuk pelesiran ke Lombok deh.
    *brb cari tiket*

  28. Di Lombok banyak pantai-pantai cantik menawan hati 😍 salah satu travel wishlist yang belum kesampaian ini, semoga bisa segera juga menjejakkan kaki di pulau lombok

  29. pinternya prema, aku kalo ditanyai lawannya tanjung apa, mungkin malah lupa kalo jawabannya teluk,udah lupa pelajaran sekolah heehhehe

    penasaran nih sama sirkuit yang dibangun disana, pinginnya nanti bisa nonton langsung kesana, Indonesia jadi tuan rumah pertama kali, pasti rame banget

    waktu ke bukit merese naiknya ya mayan ngos ngosan dikit, tapi viewnya memang mantap, aku ga pernah bosen ke lombok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *