Damai dalam Senandung Sunyi Candi Sukuh

Candi Sukuh

Hari sudah menjelang sore ketika kami tiba di Candi Sukuh. Perjalanan melintasi jalur yang cukup meliuk-liuk dengan lereng terjal mengantarkan kami ke candi yang terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyaso, Karanganyar, Jawa Tengah ini.  Bersyukur banget saat kami tiba sepertinya alam cukup bersahabat, ditandai dengan kabut yang hanya tipis-tipis saja melingkupi komplek candi.  Padahal sebelum ke sini, kami sempat hopeless mengingat sebelumnya di Candi Cetho yang berjarak sekitar 10 km dari Sukuh, kami berangkat saat kabut tebal telah turun melingkupi candi sehingga membuat jarak pandang terlampau pendek.

Setelah melapor dan mohon ijin ke kantor pengelola, bersama-sama kami memasuki area candi.  Sama seperti di Cetho, tujuan kami melakukan persembahyangan di altar utama yang terletak di mandala ketiga, mandala tertinggi Candi Sukuh.  Karena sudah mengenakan pakaian adat (kemben, kebaya, blangkon dll), maka kami tak perlu mengenakan kain kotak-kotak yang umumnya dibagikan kepada pengunjung yang mengenakan pakaian biasa. 

Baca juga : Suara Alam dari Candi Cetho Untuk Pelestarian Cagar Budaya Indonesia

Kami masuk melalui pintu utama, yang terletak paling bawah. Sebenarnya bisa masuk juga dari arah samping yang akan langsung mengantarkan kita ke area utama (mandala 3), tapi kami memilih sedikit memutar ke bawah agar  sesuai jalur.  Di area ini, terdapat gapura yang diberi pagar dan dikunci.  Ada kisah tersendiri di gapura ini.  Akan saya ceritakan nanti.  Yang pasti, karena terkunci, kami akhirnya masuk lewat pintu kecil yang disiapkan tepat di samping pintu utama ini. Oh ya, sama seperti di Cetho, ijinkan saya menyebut setiap bagian teras ini sebagai mandala.

Candi Sukuh
Gapura 1 dengan pagar yang terkunci

Berada di lereng Gunung Lawu, hawa dingin melingkupi tubuh saat berada di Candi ini. Apalagi memang tepat di belakang candi adalah Taman Hutan Raya (Tahura) yang menjadi wahana konservasi alam sehingga menambah alami suasana candi.  Membuat aura candi terasa  damai, jauh dari keramaian kendaraan, hanya terdengar senandung suara alam nan indah.

Mengenal Struktur Bangunan dan Relief Candi Sukuh

Sudah sejak lama saya membaca dan mendengar kisah tentang Candi Sukuh. Berbagai julukan diberikan kepada candi eksotis ini.  Mulai dari candi piramida, candi kamasutra hingga candi porno dan erotis.  Bahkan Candi Sukuh disebut-sebut sebagai Kamasutra Babad Jawa.  Ini semua tak lepas dari bentuk arca dan relief di candi ini yang memang  tampak unik, berbeda dengan relief dan arca yang biasa kita temui di candi-candi Hindu lainnya.

Candi Sukuh

Candi tentunya hadir sebagai perwujudan imajinasi, hasil meditasi, perenungan, buah pikiran dan tenaga yang melibatkan banyak pihak, banyak unsur.  Sudah sejak zaman dahulu, masyarakat nusantara membangun candi dengan beragam peruntukan, beragam kisah dan makna.  Candi-candi  yang kita temui sekarang rata-rata memiliki arsitektur yang indah.  Pembangunan candi tentunya harus dilakukan dengan pakem-pakem tertentu.  Kitab Vastusastra , dalam salah satu babnya berisi tentang Manasara, yaitu pedoman pembangunan candi mulai dari syarat lokasi, bentuk hingga relief dan arca yang akan hadir di sana sebagai pelengkapnya.  Hadirnya arca dan relief dalam bentuk-bentuk eksotis di Candi Sukuh, sesungguhnya masih menjadi tanda tanya di kalangan para ahli yang masih terus mencari rujukan sastra dari kitab-kitab lama maupun pahatan-pahatan  cerita.

Candi Sukuh
Salah satu arca di Candi Sukuh

Situs Candi Sukuh diperkirakan dibangun pada akhir masa Kerajaan Majapahit, yaitu sekitar abad ke-15, pada masa pemerintahan Ratu Suhita (1429 – 1446). Setelah sekian lama “menghilang” karena kondisi alam dan sebab-sebab lainnya, Candi Sukuh pertama kali ditemukan oleh Johnson pada tahun 1815 di bawah kepemimpinan Jendral Raffles yang kemudian menuangkannya dalam buku “The History of Java”.  Penemuan ini kemudian diteliti oleh Van De Vlies, arkeolog Belanda yang juga menemukan Candi Cetho untuk mencari tahu/menafsir makna dibalik relief-relief dan arca Candi Sukuh.

Seperti Candi Cetho, mandala-mandala Candi Sukuh makin ke belakang makin tinggi posisinya sesuai dengan kontur tanahnya. Dari beberapa candi yang pernah saya kunjungi, di Candi Sukuh paling banyak saya temui berbagai macam arca.  Bentuknya juga beragam dengan berbagai ukuran.  Dari arca berbentuk manusia hingga hewan-hewan tertentu.  Sejak mandala pertama sampai ketiga, kita akan bertemu banyak sekali arca.

Candi Sukuh
Di balik pagar gapura menuju mandala 1 terdapat relief lingga yoni di lantainya

Di mandala 1, tepatnya di pintu masuk/gapura yang diberi pagar dan terkunci sebagaimana saya sebutkan di atas, pada lantainya terdapat relief lingga dan yoni yang digambarkan sedang menyatu secara naturalis.  Konon kabarnya, dahulu jalur ini digunakan untuk menguji keperawanan calon pengantin wanita, yang ditandai dengan robek atau tidaknya kain yang digunakan saat melintasi relief ini.   Duh ini kok terasa tak adil ya dalam pandangan saya, ketika wanita diuji keperawanannya, sementara pria tak pernah diuji keperjakaannya.  Rasanya saya harus bersyukur karena jalur masuk melalui pintu ini ditutup.  Kita hanya bisa melihatnya dari sisi atas.  Oh ya, ini juga salah satu alasan mengapa Candi Sukuh disebut sebagai candi porno.

Kalau ditelaah lebih jauh, sebenarnya lingga yoni adalah lambang kesuburan. Lingga merupakan symbol paling sederhana dari Dewa Siwa, sementara yoni adalah symbol istrinya, Dewi Parwati.  Pertemuan keduanya melambangkan kesuburan.  Menggambarkan kelangsungan hidup antar generasi.  Bukan hanya di Candi Sukuh, di beberapa bangunan cagar budaya lainnya juga sering kita temukan relief atau arca lingga yoni.  Di Keraton Kasepuhan Cirebon salah satunya.  Saya ingat sekali, seorang kawan yang sudah menikah 11 tahun dan belum dikaruniai keturunan, berdoa dengan kusyuk di arca lingga yoni itu.  Saya bahkan sempat memotretnya.  Entah sugesti, kebetulan atau memang sudah waktunya, yang pasti dua minggu setelah kepulangan kami dari kunjungan ke Cirebon, teman saya positif hamil.  Sekarang putra mereka sudah berusia setahun lebih.

Di mandala 2, kita akan bertemu gapura kecil yang tampak sudah agak rapuh dan rusak di beberapa bagian.   Hanya ada dwarapala atau patung penjaga yang kondisinya sudah tidak sempurna.  Di mandala ini, tidak ada relief atau patung-patung.  Hanya berupa lapangan rumput nan hijau dengan jalan setapak di tengahnya yang hiasi tanaman di sisi kanan kirinya.

Candi Sukuh
Gapura menuju Mandala 2 yang sudah tak sempurna

Mandala 3, merupakan mandala tertinggi dimana terdapat bangunan utama Candi Sukuh.  Relief dan arca bertebaran di mandala ini.   Pelataran mandala ini paling luas dibanding dua mandala sebelumnya.   Ada sebuah tembok panjang di sisi kiri dari arah kedatangan kita yang dipenuhi dengan relief yang seolah bercerita tentang mitologi Candi Sukuh.   Menurut para ahli, relief ini bercerita tentang Kidung Sudamala yaitu kehidupan Panca Pandawa (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) beserta keluarganya.

Candi Sukuh
Sisi kiri Mandala 3 Berisi potongan-potongan relief Kidung Sudamala

Saya ingat pernah membaca sekilas tentang Kidung Sudamala yang pada intinya adalah tentang hakekat ruwatan atau penyucian diri.   Bahwa setiap pribadi pastilah mempunyai salah dan dosa, namun selalu diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, refleksi dan menyadari kesalahan tersebut.  Momen ini tentunya tak mudah dilakukan oleh setiap orang.  Mungkin ini juga salah satu alasan di kalangan rohaniawan dan para ahli, Candi Sukuh disebut-sebut sebagai tempat penyucian diri sehingga orang yang berkunjung diharapkan untuk menyingkirkan segala pikiran kotor, membersihkan jiwa dan selalu berpikir positif.   Bagaimana detil Kidung Sudamala, silakan nanti teman-teman cari tahu sendiri ya, banyak kok yang sudah menuliskannya.

Arca-arca yang berdiri di mandala ini juga punya banyak kisah. Namun sayang, beberapa tampak sudah dalam kondisi tidak sempurna.  Bagian kepala arca tampak terpotong.   Ada beberapa arca yang kalau melihatnya dari sudut pandang “ngeres” mungkin akan mendapat kesan yang gimanaaaaa gitu.  Misalnya arca seorang lelaki yang sedang memegang alat kelaminnya.  Ada juga arca-arca lainnya.  Namun jika melihat sebagai sebuah karya seni, bisa jadi filosofisnya bukan begitu.  Selain beberapa arca yang tampak vulgar, juga ada arca garuda yang tampak sedang mengembangkan sayapnya. Sayang, lagi-lagi kondisinya sudah tak sempurna.

Candi Sukuh
Arca-arca garuda yang tampak terpotong di beberapa bagian

Menuju bangunan utama, bentuknya unik dan tampak berbeda dengan bentuk candi-candi lainnya di Pulau Jawa. Jika umumnya candi yang kita temui membentuk gunung dengan puncak yang runcing di bagian atasnya sebagaimana umumnya candi Hindu, tidak demikian dengan Candi Sukuh.  Bangunannya bahkan disebut-sebut lebih mirip piramida trapesium milik Suku Maya di Meksiko atau Suku Inca di Peru.  Ini mengingatkan saya pada arca di Candi Cetho yang secara penampakan tak mirip dengan garis wajah orang Indonesia.  Begitu juga dengan temuan-temuan masa pra sejarah yang terdapat di Museum Sangiran, Sragen.  Sepertinya ketiga cagar budaya ini terhubung satu sama lain.

Baca juga : Jelajah Sangiran, Mengintip Nenek Moyang Manusia

Candi Sukuh

Candi Sukuh

Candi Sukuh
Beberapa relief dan arca di Candi Sukuh

Perbedaan mencolok lainnya, bangunan utama Candi Sukuh menghadap ke Barat. Bukan ke Timur seperti umumnya candi-candi Hindu. Namun, arca dan reliefnya memiliki kemiripan dengan relief di beberapa candi lainnya.  Sepertinya di Candi Sukuh terjadi akulturasi budaya  yang sangat harmoni antara budaya Hindu Majapahit dan budaya dari jaman megalitikum.

Untuk menuju ke bangunan utama, kita harus naik tangga sempit yang terdapat di tengah-tengahnya. Tangga ini hanya cukup untuk satu orang, sehingga harus bergantian untuk naik atau turun.  Filosofinya, bahwa manusia itu saat lahir dan mati nanti akan sendiri.  Mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia.  Maka bersihkan hati, pikir dan laku sebelum menuju ke tempat tertingi, manunggal dengan-Nya.

Relief-relief dengan berbagai kisah juga menghiasi dinding bangunan utama ini. Dari kisah Bhimaswarga hingga kisah Nawaruci.  Lagi-lagi kalau ada yang penasaran sama kisahnya, silakan cari tahu sendiri yaaaaa.

Damai di hati, Damai di pikiran dalam Senandung Sunyi Candi Sukuh

Saat kami tiba, tampak ada beberapa pengunjung Candi Sukuh. Sebagian ada yang berada di puncak bangunan utama, sebagian lagi sedang menikmati relief dan arca di sekitar candi.  Pak Agus Widodo, salah satu teman saya ke atas dan menyampaikan bahwa kami akan melakukan persembahyangan di altar utama Candi Sukuh.  Syukurlah mereka mengerti dan segera turun.

Keheningan yang tak biasa terasa langsung menyergap saat saya menginjakkan kaki di anak tangga teratas sebelum akhirnya sampai di altar.   Oh ya, menurut hasil bacaan saya di beberapa literatur, sebenarnya di bagian ini dulunya terdapat sebuah lingga berangka tahun 1362 Saka (1440 Masehi) yang kini ditempatkan di Museum Nasional, Jakarta.  Jadi bagian atas ini sekarang kosong.  Hanya berupa altar datar yang cukup luas. Meski begitu, ritual persembahyangan tetap bisa dilakukan di sini.  Bahkan menurut informasi, tempat ini sering digunakan untuk meditasi.

Candi Sukuh
Sepertinya, batu di depan Pak Agus itu adalah tempat lingga yang saat ini ada di Museum Nasional

Kami kemudian melakukan persembahyangan bersama. Dalam bebeberapa momen, saya merasakan damai  menyeruak di dada.  Kicau burung yang terdengar bersahutan, bisikan angin di sela dedaunan, berpadu dengan aroma dupa yang melenakan membawa saya ke rasa damai yang tak bisa diceritakan.  Sungguh, saya menikmati sekali saat-saat memanjatkan doa pada sang pencipta di tempat ini.  Ah… indah sekali.   Saat membuka mata, saya merasa seperti baru saja kembali dari sebuah perjalanan panjang ke tempat indah dan jauh.  Katakanlah saya lebay, tapi sungguh, rasa ini yang ada saat itu.  Bahkan saat menceritakannya kembali dalam tulisan ini, saya masih bisa membayangkan hari indah itu.

Candi Sukuh
Damai damai damai

Rasanya ingin berlama-lama di sana, namun waktu terus berjalan. Usai berdoa dan menikmati keindahan alam di sekitar Candi dari ketinggian, kamipun turun.  Para pengunjung candi sudah mulai sepi.  Hanya tinggal beberapa orang saja.  Mungkin ini juga sebabnya saat sembahyang tadi suasana terasa lebih sunyi.

Mengingat perjalanan masih cukup jauh untuk kembali ke Jlono, tempat kami menginap, bergegas kami menuju kendaraan. Berpisah dengan rombongan Pak Agus sekeluarga yang akan lanjut ke Blitar. Sementara itu kabut yang tadi tipis terasa makin tebal,  udara juga terasa makin dingin menggigit kulit.  Rasanya saya butuh jaket atau selimut deh.  Luar biasa mereka yang tinggal di sini, tubuhnya sudah sangat beradaptasi dengan suhu dingin.

Candi Sukuh
Ups… maaf pengantin lama numpang lewat

Baca juga : Pesan Toleransi dari Jlono, Kemuning, Karanganyar

“Kayaknya ntar nyampe rumah, aku gak mandi deh,” celetuk Putu Rahyuni, salah satu anggota dalam rombongan kami

“Sama nih, dingin banget. Enaknya minum dan makan yang anget-anget nih.  Mudah-mudahan soto Mbah yang tadi pagi masih ada ya,” sahut yang lainnya.   Ah, perut saya mendadak lapar bayangin soto segar buatan Mbah, ibu dari Pak Paryanto, yang rumahnya jadi tempat kami menginap selama liburan di Karanganyar tempo hari.  Soto istimewa dengan bumbu sederhana tapi rasanya sedap luar biasa.  Bikin ketagihan, sejak suapan pertama.

Bergegas kami masuk ke mobil. Memacu kendaraan dalam buaian kabut yang makin tebal.  Jalan meliuk siap menyambut di depan sana.  Kalau teman-teman berniat berkunjung ke sini, pastikan kendaraan dalam kondisi prima ya.  Rutenya agak ngeri-ngeri sedap soalnya.

Candi Sukuh
Sebelum pulang, kita narsis dulu yuk

Terimakasih Sukuh, untuk pelajaran berharga hari ini. Teruslah tegak menjadi saksi perjalanan anak manusia dari masa ke masa.  Tentunya masih banyak misteri yang belum terungkap.  Biarlah menjadi rahasia bersama alam yang akan berbisik lewat tarian dedaunan dan desau angin.  Hanya jiwa-jiwa yang bersih yang dapat mengejanya.  Saya akan belajar dan terus belajar, agar bisa  membaca pesan-pesan damai itu.

Salam

Arni

 

 

 

120 thoughts on “Damai dalam Senandung Sunyi Candi Sukuh

  1. Wah baru tau ternyata Candi Sukuh sedikit berbeda dengan Candi lainnya ya, terutama buah pikirannya yang agak gimana gitu. Tapi pasti punya makna tersendiri ya.

    Bisa Beribadah dengan tenang, nyaman dan damai memang rasa syukur yang harus kita panjatkan… karena gak semua orang bisa merasakan nikmat beribadah dengan damai, terutama di negara konflik..

    Nice share 👍👍

    • Iya mas, Candi Sukuh memang agak unik dibandingkan candi-candi lainnya. Baik bentuk maupun relief dan arcanya
      Sebagai bagian dari peninggalan sejarah, tugas kita menjaganya

      Terimakasih sudah mampir mas

  2. Saya baru tahu tentang candi Sukuh ini k. Banyak sekali ya peninggalan jaman dahulu, dan saya baru denger tentang Kamasutra Babad Jawa ini. Semoga situs ini selalu terjaga ya k. Sejarah adalah warisan yang sangat berharga bagi rakyat Indonesia khususnya

  3. Candi sukuh di dekat candi cetho, kalo saya sering melakukan relaksasi jenuhnya selama kerja untuk menikmati indah dan damainya lokasi di cetho kak, sudah 2 kali berkunjung kesana hingga menikmati titik sejarah di lereng gunung lawu. Dari sejarah cetho dan sukuh saling keterkaitan.

  4. Banyaknya peninggalan candi2 di Nusantara bukti bahwa Indonesia kaya akan sejarah . Peninggalan ini hrs dijaga dan dilestarikan agar dapat dilihat juga oleh anak cucu kita kelak.Semoga bnyk yg peduli dng pemeliharaan peninggalan sejarah ini ya kak.

  5. Ulasannya bagus, lengkap. Menunggu ulasannya lagi tentang misteri dari relief dan patung2 yg ‘erotis dan vulgar’ itu. Pasti ada makna yg tersimpan.

    • Haha akupun masih bertanya-tanya mas tentang relief dan arca itu
      Kalau menurut beberapa literatur yang aku baca sih memang Candi Sukuh ini semacam candi ruwatan, buat pembersihan diri, dimulai dari pikiran, kata dan laku. Nah arca dan candi ini semacam ujian/godaannya. Kurang lebih gitu sih yang aku tangkap

  6. Mas Ito says:

    Di jaman itu kok hebat ya yg bikin candi. Bangunan bertahan lama. Coba dibandinhkan dg bangunan semen diera modern..kok kalah sepertinga. Jadi takjub baca ttg candi

    • Iya betul, Mas
      Setiap aku berkunjung ke candi, itu juga yang selalu terlintas di pikiranku
      Bangunan jaman dulu itu kuat-kuat banget. Bertahan hingga ratusan tahun. Dan gak pakai besi lho. Entah perekatnya pakai apa, ada yang pernah bilang pakai putih telur

  7. Kokoh Hendra says:

    Tapi dilihat-lihat arsitekturnya dari candi sukuh ini mirip dengan candi astek suku inka di Amazon. Dengan model primaid yang menyempit diatas.

    • Betul mas. Ini juga yang jadi misteri
      Apa hubungannya bentuk piramid ini dengan suku Astek dan Inca. Secara geografis (saat ini) khan berada di tempat yang terpisah jarak dan waktu demikian jauh

  8. Sampai sekarang gak pernah lihat candi secara langsung. Kawasan candi sukuh ini terlihat sangat asri ya. Pasti banyak pasangan yang sudah lama belun dapat keturunan yang datang ke candi itu

  9. Bentuk candinya agak2 gimana ya reliefnya , memang candi meruoakan salah satu peninggalan sejarahbyangbharus dilestarikan dan selalu diperkenalkan kepada para milenial khususnya karena para milenial mulai bosan deh atau mungkin kurang tertarik ke tempat candi2 gitu ya kak.

    • Nah iya, mungkin buat beberapa orang pelajaran sejarah membosankan. Atau bisa jadi karena memang tidak diperkenalkan sejak dini, tugas kita mengajak anak-anak dan generasi muda untuk mengenal sejarah bangsa ini mbaj

  10. setiap candi tuh unik-unik dan sarat makna serta sejarah banget ya. selalu artistik dan pengen dikunjungi supaya semakin paham sejarah indonesia. apalagi relief-nya. semoga semakin terjaga budaya indonesia.

  11. Wah unik dan menarik sekali ya candi Sukuh ini. Pemandangannya juga asri. Warisan budaya seperti ini harus tetap kita jaga dan kita lestarikan. Supaya generasi selanjutnya bisa menikmatinya…

  12. Jadi tahu tentang dunia percandian..akrabnya sama yang besar2 aja.. borobudur sama prambanan..itu terakhir kesana aja … ada kali 10 tahun lalu… hiks…lama banget kan… secara ada sisi spritual dan sejarah ketika melakukan wisata candi ya kak

  13. Mbak ini deket banget loh dengan rumah saya nggak sampai setengah jam deh kayaknya sudah sampai. Dulu sering banget main ke sini zaman sekolah SMA. Sekalian main ke Tawangmangu. BTW ini ada cerita yang dipercaya warga setempat bilangnya kalau kita lagi pacaran nggak boleh dibawa ke sini karena bisa bikin putus.

    • Wah iyakah?
      Tahu gitu pas ke sana saya kontak mbak Aisyah deh biar bisa sekalian kopdaran. Btw tentang mitos itu, sempat saya dengar juga sih, agak bikin deg2an juga ya haha

  14. Kompak banget mba, sama keluarga dan teman-temannya. BTW, Candi Sukuh ini sudah berapa kali pernah dipugar mba? Narasi Mba Arni bagus sekali. Orang kalo baca pemaparan lengkap begini, atau kalo di sana ada pemandu yg bisa menceritakannya selengkap ini, yakin deh banyak yg tertarik berwisata sejarah ke sana. Terima kasih sharingnya Mba Arni.

    • Wah kalau dipugarnya saya gak update nih mbak udah berapa kalinya. Seertinya saya harus kembali ke sana suatu hari nanti biar bisa ngobrol-ngobrol langsung sama pengelolanya

  15. Candi Sukuh dan Cetho, merupakan dua candi yang sangat memorable bagi aku. Ukiran yang khas yang tidak ditemui di candi-candi yang lain adalah satu hal yang menarik perhatianku. Kemudian, akses jalan menuju candi yang perlu kondisi sepeda motor sangat prima 😀

    • Betul mas
      Terkesan sekali saya saat mengunjungi kedua candi ini
      Bahkan kalau ada kesempatan lagi, rasanya saya masih ingin kembali berkunjung deh

  16. Fadli Hafizulhaq says:

    Saya tidak tahu kalau ada candi-candi yang terletak di desa, mungkin karena memang yang diberitakan di media itu hanya yang besar-besar seperti Candi Prambanan ya Mbak.

  17. Saya sudah ke Candi Sukuh sekitar 5 tahun lalu dan saat itu sedang sepi, cuma ada beberapa orang pengunjung saja. Dan saya merasa damai memang. Yang saya kagumi, lokasi bangunan pas sekali dibangun untuk tempat kita sejenak berdiam, terhubung dengan Tuhan sehingga merasa bahwa kita begitu dekat dengan-Nya.
    Semoga bisa ke sana lagi nanti

    • Dibandingkan Candi Cetho, memang Candi Sukuh ini terasa lebih sepi. Bisa jadi karena banyaknya mitos yang berkembang sehingga pengunjung agak mikir-mikir mau ke sini
      Oh ya tentang kedamaian yang terasa, bener banget mbak, aku merasakan hal yang sama

  18. Erny Kusuma says:

    Candi Sukuh salah satu candi yg sdh msk dlm wishlist ku mba. Padahal thn lalu sdh eksplor Karanganyar ke Air Terjun Jumog. Kok ya gk mampir ke Candi Sukuh. Artinya next time kudu balik kesini mba. Cerita, bentuk candi dan reliefnya bikin penasaran…Mksh mb ulasannya detil…

    • Wah akupun udah ke Jumog
      Cakep ya air terjunnya. Sayang pas aku ke sana lagi ramai banget, jadi kurang nyaman euy
      Semoga next time bisa sekalian main ke Sukuh ya mbak

  19. oh, pernah satu kali ke sana, kak. masih asri dan cukup terpelihara. bagus untuk pembelajaran anak muda tentang budaya bangsa, kebetulan saat itu saya bawa anak-anak. biar tahu apa yang mereka baca di buku, mereka lihat dan rasakan sendiri (belajar dari dekat). thanks for share kak

  20. Nanik K says:

    Selalu sukaa baca postingan Mb Arni. Ilmu baru buat saya yg berbeda keyakinan ini.

    Btw Candi Sukuh ini arcanya memang unik, ya mbak. Pastinya dibuat sebuah candi pasti juga ada pakem2nya spt yg mbak bilang di atas. Oh ya, saya pun jd tahu salah satu kitab yg dijadikan acuan dlm membangun sebuah candi.

    Nice sharing.

  21. Joko Yugiyanto says:

    Selalu suka belajar ttg sejarah. Ada bnyk hal menarik di dalamnya n di candi ini kita jg bs menikmati keindahan bn kejayaan masa lalu

    • Iya mas. Saya juga suka belajar sejarah. Banyak pelajaran dari masa lalu yang bisa kita petik untuk pedoman hidup di masa kini dan masa depan

  22. Tempat bersejarah selalu menjadi bagian terpenting untuk saya kalau berwisata. Semoga bisa sampai ke Candi Sukuh ya, untuk menikmati suasana dan bernostalgia akan masa lalu.

  23. Aku baru dengar nama Candi Sukuh. Candi ini unik ya dan memiliki kesan yang eksotis juga. Aku agak kaget melihat patung yang menggambarkan laki-laki dan bagian perempuan, namun karena ini memiliki nilai sejarah tetap saja terlihat indah.
    Semoga nanti ada kesempatan buat berkunjung ke Candi Sukuh nantinya.

    • Memang unik mbak
      Dan pastinya masih jadi bahan penelitian sampai sekarang
      Mau nanya ke yang membangun juga gak mungkin soalnya hehehe
      Semoga suatu hari bisa berkunjung ke sini mbak

  24. kalau lihat peninggalan sejarah kaya gini, rasanya jadi pengen lihat kehidupan orang jaman dulu deh.. tapi ya itu, pastinya masih ada bias gender. Terlihat dari lingga yoni. Bersyukur sih bisa hidup di jaman sekarang yang pro perempuan.

    • Luar biasa kearifan lokal masa lampau itu mbak
      Meskipun saat ini kita melihatnya dan terkesan ada bias gender, tapi itu khan interpretasi kita di masa kini, kita gak pernah tahu seperti apa pola pikir orang-orang di masa lampau ketika mendirikan candi ini

  25. Wisata sejarah seperti ini selalu menarik buat aku.
    Bisa jadi tambahan referensi saat ngajar di kelas, sayangnya aku blm pernah ke candi sukuh….
    Smg bisa segera kesana

  26. Haeriah Syamsuddin says:

    Indonesia memang kaya dengan peninggalan budaya, salah satunya adalah candi. Kehadiran peninggalan candi-candi ini bisa menjadi pelajaran akan sejarah bangsa kita di masa lalu.

  27. Menarik sekali mba ceritanya. Baru tahu kalau ternyata Candi Sukuh berbeda dgn candi2 yg lainnya. Memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri. Sayang sekali ada bbrp bagian candi yg hilang.

    • Iya, agak sedih sih saat melihat beberapa bagian arca itu terpotong dan hilang. Mungkin ada tangan jahil atau mungkin juga karena kondisi alam

  28. Asyik sekali ya bisa sembahyang sekaligus liburan. Percaya ngga percaya, sugesti seperti itu kadang bisa menjadi nyata. Seru juga ya kalau 11 tahun bisa hamil setelah berdoa di situ. Kekuatan berdoa kepada Tuhan yang pasti ya mbak. Jadi pingin melali nih.

    • Oh teman saya yang hamil itu, bukan setelah berkunjung ke Candi Sukuh, mas. Waktu itu kami ke Kasepuhan Cirebon, kebetulan di sana ada lingga yoni juga

  29. Manusia zaman dahulu, membangun candi pasti memiliki maksud dan tujuan baik. Seperti sebagai tempat peribadatan dan biasanya dibangun berdasarkan kisah yang penuh makna untuk kehidupan manusia. seperti candi-candi yang berada di Nusantara ini contohnya.

    • Betul Kang
      Yakin banget dulu itu candi – candi dibangun dengan maksud yang baik
      Sayangnya kita gak bisa nanya langsung ke yang bikin ya, jadinya yang ada hanya sekedar interpretasi. Masih mending kalau ada prasasti/lontar yang berkisah tentang candi-candi itu jadi bisa membantu dalam memahami arti setiap bangunan dan reliefnya

  30. Tempat yang damai dan hening kayak gini emak cocok banget buat kita beribadah ya kak. Lebih fokus, khusuk, dan tenang. Candi cungkuh ini mesti dilestarikan. Karena salah satu peninggalan sejarah ya kan kakk..

  31. Aku paling iri baca postingan Mbak Arni soal candi. Soalanya aku salah satu manusia yang sangat kagum dengan candi-candi ini. Dan seperti biasa, cerita ttg pemugaran Candi Sukuh ini bumbunya pas. Diksinya keren. Plis, angkat aku jadi muridmu mbak..

  32. Ah saya jadi tahu ada Candi Sukuh 😀 reliefnya menimbulkan penasara akan tafsiran makna yang tak semuanya bisa diterjemahkan ya. Kadang aku berpikir malui relief ini itu sebagai cara untuk berkomunikasi dalam meninggalkan suatu babad cerita. Ah, bacanya juga jadi ingin bermeditasi dan menemukan ketentraman 😊

    • Tafsiran makna di masa kini yang bisa jadi berbeda dengan tafsiran makna ketika candi ini dibangun. Tapi memang memperhatikan relief itu menarik banget lho. Kayak sedang membaca cerita rasanya

  33. Arda Sitepu says:

    Candi ini kokoh semua ya mbak, bayangkan sudah tahunan dan tetap memiliki nilai artistiknya. Saya penasaran jalan kemari dan bisa bermeditasi gitu pasti tenang banget.

    • Itulah salah satu hal yang selalu bikin takjub setiap berkunjung ke candi
      Bangunannya kokoh banget dan unik. Aku gak kebayang bagaimana manusia jaman dulu bisa membuat bangunan sebagus ini. Ngangkut bahan bakunya itu, pastinya gak mudah khan

  34. Amazing banget mbak. Saya jadi banyak tahu bagaimana sejarah sebuah candi itu. Ulasan Mbak Putu detail bnget. Kayaknya saya bakal jadi peganggum dalam diam yang bakal berkunjung ke blog ini diam-diam. Hahaha

    Saya suka banget sejarah. Apalagi jika hubungannya ama cagar budaya gini.

    • Aduh aku tersanjung mbak. Terimkaasih kunjungan dan apresiasinya
      Senang bertemu dengan pembaca yang punya minat sama pada kisah sejarah. Semoga suatu hari kita bisa jelajah sejarah barengbareng ya

  35. Ternyata banyak ya candi di Indonesia ini. Selama ini tahunya cuma Candi Prambanan, Borobudur, hehe. Aku suka sama candi tuh lihat reliefnya, pengen tahu ceritanya tentang apa.

    Tapi memang dari foto saja sudah keliatan banget damainya candi Sukuh ini ya.

  36. wah, ternyata ada ya yang namanya candi sukuh. Bentuk dari relief dan arca Candi Sukuh ini juga sangat beragam. Tapi kenapa ya jarang banget muncul dan tidak setenar dengan candi-candi lainnya seperti candi prambanan dan candi borobudur?

  37. kalau berdoa di tempat sepi memang bisa banget buat kita jadi lebih khusyuk ya Kak, terasa lebih dekat dengan Pencipta dan lebih tenang jadinya, ploong.

    sayangnya dii itu arcanya banyak yang tidak utuh lagi, jadinya kayak porno gitu deh ya.

    • Porno dan nggak itu khan tergantung pikiran kita hehe
      Iya betul sembahyang di tempat sepi rasanya syahdu sekali dan terasa menyatu dengan alam

  38. kadang saya suka bertanya-tanya ada gak ya hubungan antara nusantaea dengan suku-suku indian di Amerika Selatan karena kalo di liat dari situs arkeologinya terutama dalam hal percandian/temple keknya secara struktur ada kemiripan. wallahualam.
    Anyway, sukak dengan artikelnya.

    • Dugaan aku sih memang ada hubungannya mas
      Bisa jadi malah duluuuuu sekali kita ini sebenarnya satu daratan besar yang karena perubahan alam maha dahsyat jadi terpisah

      Terimakasih kunjungannya

  39. Selalu menikmati beberapa tulisan mba yang bercerita tentang kunjungan ke candi, termasuk Candi Sukuh ini. Jadi punya pengetahuan baru tentang Candi yang tadinya hanya beberapa kali saya baca saja di buku Sejarah jaman sekolah. Senang sekali bisa berlama lama di sini mba. Terima kasih sudah berbagi pengalaman

  40. Candi Sukuh ini yg bangunannya mirip di Amerika itu ya, suku Maya (Aztec) apa gitu namanya, lupa aku.

    Penasaran bgt pengen bisa ke sini. Kapaaan tapi ya, mudah2n corona segera pergi.

  41. Aih, selama ini yg familiar di telingaku cuma borobudur dan prambanan. Semakin kemari semakin banyak aja terkuak candi-candi peninggalan sejarah lalu. Semoga suatu hari bisa ke sini.

    • Iya mbak. Sebenarnya candi-candi ini udah terdata sejak dulu, sayang memang kurang terekspos. Tugas kitalah yang memperkenalkannya ke publik

  42. asli aku tuh ya baca ini tuh langsung menggebu pengen banget jalan jalan , aku juga pengen banget wisata histori indonesia seperti ini, aku belom pernah ke candi sukuh.. bagus loh itu 🙁

  43. Saya agak kaget pas liat foto arcanya. tapi kalau dipikir-pikir itu bisa jadi salah satu penggambaran seniman masa itu tentang dosa dan kelakuan manusia. Lah zaman sekarang juga seniman masih banyak yang vulgar dalam mengekspresikan jiwa seninya hehe.

    Terima kasih ulasannya mba. Jadi merasa pernah kesitu meskipun cuma lewat foto

Leave a Reply to Joko Yugiyanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *