Terpikat Pesona Dieng, Negeri Kayangan Nan Jelita

“Udara dingin langsung terasa menembus tulang, di luar sana hembusan angin lembut tak kuasa menghalaunya hingga menghasilkan butiran-butiran embun yang menempel di setiap dinding kaca, membuatnya rabun terlihat.  Meski begitu, kecantikannya tak bisa disembunyikan walau benderang sudah bersembunyi di balik selimut malam”

Menulis tentang Dieng, rasanya tak akan cukup hanya satu cerita.  Setiap persinggahan bisa jadi sebuah kisah indah tersendiri.  Berkesan dan tersimpan rapi dalam ruang ingatan.  Menyisakan kenangan yang selalu membuat tersenyum dan memberi rasa hangat di hati.

Bisa sampai ke Dieng, bahagia dalam hati terasa membuncah.  Sejak lama saya memimpikan bisa ke tempat ini.  Sebuah kawasan dengan fenomena alam luar biasa.  Berada di ketinggian, tepat di tengah-tengah pulau Jawa.  Dieng berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “Di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna Dewa. Jadi, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dewi bersemayam, Pingkalingganing Buwana.  Sehingga tak mengherankan sebutan lain untuk Dieng adalah Negeri Kayangan.

Halo Dieng!
Kami tiba malam hari. Menyempatkan diri mengambil gambar di sini

Beberapa tulisan saya tentang Dieng bisa dibaca di https://www.ngiringmelali.com/category/dieng/

Meski cukup banyak menulis tentang Dieng, rasanya masih ada saja bagian yang belum saya ceritakan.  Tentang Kawah Sikidang misalnya.  Tentang candi-candi cantik yang sampai sekarang masih menyisakan banyak pertanyaan mengenai sejarahnya.  Telaga Warna yang unik.  Fenomena embun upas yang  langka. Tak lupa juga kulinernya yang khas  dan memanjakan lidah.  Pun mengenai  ritual ruwatan rambut gimbal yang rutin diadakan setiap tahun dalam kemasan Dieng Culture Festival (DFC) dan dilengkapi dengan gelaran wayang, pertunjukan musik jazz dan aneka atraksi budaya.  Yang juga tak boleh dilupakan adalah keramahan penduduknya yang selalu siap menyambut kedatangan pengunjung.

Wah, banyak sekali ya.  Sungguh, ini rasanya seperti orang jatuh cinta.  Mengingatnya saja sudah membuat lengkung senyum terukir di wajah.

Dataran tinggi Dieng atau Dieng Plateau adalah kawasan berupa dataran vulkanik nan luas dari gunung api purba yang mengalami proses panjang hingga menjadi cantik seperti saat ini.  Berada pada ketinggian 2000 mdpl, terletak di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, di sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. 

Proses panjang geologi gunung api purba yang menghasilkan alam nan cantik
Kepulan asap di pusat Kawah Sikidang

Menilik sejarahnya sebagai gunung vulkanik, Dieng memiliki beberapa kawah yang juga masih sangat aktif.  Tak heran, jika  berkeliling di Dieng kita dengan mudah menemukan kepulan asap di berbagai tempat dengan aroma belerang yang cukup menyengat.  Meski begitu, karena berada di ketinggian,  suhu udara di kawasan ini sangat dingin.  Hampir tak pernah ada suhu panas di Dieng.  Pada siang hari suhu udara berkisar 15 – 20°C dan rata-rata 10°C pada malam hari.  Bahkan pada bulan-bulan tertentu, suhunya bisa mencapai 0°C.  Jaket, sweater, syal dan kupluk menjadi pakaian wajib selama di Dieng.

Legenda yang Menjaga Tradisi dan Budaya

Alkisah, ada seorang putri bernama Shinta Dewi. Kecantikannya termasyur ke seluruh negeri.  Meski begitu, tak satupun lelaki yang berhasil meminangnya karena sang putri selalu meminta mas kawin yang sangat besar.

Berita kecantikan sang putri terdengar oleh Kidang Garungan, seorang pangeran kaya raya.  Namun ada yang berbeda pada pangeran ini yaitu meski berbadan manusia, kepalanya berbentuk kidang atau rusa.    Pangeran kemudian mengutus pengawal untuk menyampaikan lamaran pada sang putri.

Mendengar yang melamar adalah seorang pangeran kaya raya, putri Shinta Dewi langsung menerimanya.  Dalam pikirannya, seorang pangeran tentunya memiliki wajah yang tampan.

Salah satu sisi Kawah Sikidang

Hingga tiba saatnya bertemu, alangkah terkejutnya sang putri melihat wajah pangeran.  Diapun mencari akal untuk membatalkan pernikahan.

“Aku akan menerima lamaranmu dengan satu syarat.  Daerah ini kekurangan air bersih.  Aku ingin Kanda membuatkan kami sumur dalam waktu semalam.  Sumur itu harus Kanda buat sendiri, “ ujar Putri Shinta Dewi.

Pangeran menyanggupi syarat itu dan langsung mengerjakannya. Pangeran Sikidang mulai menggali sumur dengan tangan dan terkadang tanduknya.   Makin lama, makin dalam sumur yang digali oleh Pangeran Kidang Garungan.  Putri Shinta Dewi kembali was-was. 

Sementara Pangeran Kidang Garungan masih menyelesaikan tugasnya di dalam sumur, Putri Shinta Dewi memerintahkan pengawal dan dayang-dayangnya untuk menimbun sumur tersebut. Saat menyadari kalau dirinya tertipu, Pangeran Kidang Garungan berusaha untuk keluar dari sumur, namun terus menerus tertimbun oleh tanah hingga akhirnya tewas. 

Sebelum meninggal, Pangeran Kidang Garungan mengucap sumpah bahwa seluruh keturunan Putri Shinta Dewi kelak akan berambut gembel (gimbal).  Sementara itu, sumur yang digali oleh Pangeran Kidang Garungan lama kelamaan berubah menjadi kawah yang kemudian diberi nama Kawah Sikidang.  Sebagaimana sifat kidang yang suka melompat-lompat, titik pusat kawah juga konon selalu berpindah-pindah tempat.

Upacara ruwatan rambut gimbal di Dieng
Foto dari antaranews.com

*****

Tak dapat dipungkiri, masyarakat Indonesia lekat dengan kisah legenda. Di Dieng, banyak sekali legenda yang beredar di masyarakat.  Bukan hanya tentang Kawah Sikidang, tempat-tempat lainnya juga punya legenda tersendiri.  Kisah Telaga Menjer misalnya, pernah saya hadirkan di “Mereguk Sepi dalam Keheningan Telaga Menjer”.  Juga kisah sedih di Batu Ratapan Angin yang saya hadirkan melalui “Uji Nyali di Bukit Batu Ratapan Angin”.  Begitu pula tentang fenomena rambut gimbal.  Tak hanya satu kisah, ada versi lain mengenai asal-usul hadirnya anak-anak berambut gimbal di Dieng.

Menikmati keindahan Telaga Menjer
Telaga Warna, Salah satu fenomena alam yang menakjubkan

Legenda, selalu menarik.  Bukan soal kebenaran ceritanya, namun pesan moralnya yang begitu kental.  Pada masa lalu, cerita rakyat menjadi cara ampuh dari para tetua untuk menitipkan pesan-pesan kebaikan bagi anak cucunya.  Dalam legenda Sikidang misalnya, kita diajarkan untuk tidak gegabah mengambil keputusan, agar tidak terjadi penyesalan kemudian.  Selain itu, bersikaplah satya wacana, teguh memegang janji yang sudah terucap.  Di sini kita belajar tentang bagaimana menjaga komitmen.

Kisah legenda bisa menjadi bagian dari pelestarian budaya setempat sekaligus menjadikannya bernilai ekonomi sebagai tempat wisata.  Hingga saat ini, ritual ruwatan rambut gimbal masih rutin dilakukan di Dieng.  Terlepas dari benar atau tidaknya legenda yang beredar, namun tetap menjadi daya tarik tersendiri dan saling melengkapi satu sama lain.  Karena itu, keberadaan legenda dan budaya menjadi kesatuan yang tak terpisahkan.  

Nak, alam yang terbentang luas ini adalah sekolah kehidupan.
Mari jaga dan rawat bersama

Mengintip Kejayaan Masa Silam, Mainlah ke Candi

Dengan latar belakang kejayaan kerajaan Hindu di masa silam, tak heran kalau Indonesia punya banyak candi yang tersebar di berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa.  Beberapa candi bahkan memiliki ciri khas unik yang menjadi daya tarik tersendiri dan menjadi peninggalan sejarah yang dinobatkan sebagai Cagar Budaya Indonesia

Baca juga : Suara Alam dari Candi Cetho

                    Telusur Warisan Sejarah di Candi Gedong Songo

                     Damai Dalam Senandung Sunyi Candi Sukuh

Menurut beberapa literatur yang saya baca, candi-candi di Dieng merupakan salah satu candi tertua di Jawa yang dibangun sekitar abad ke-7 sampai ke-9 Masehi. 

Candi-candi di Dieng

Seperti halnya Candi Gedong Songo di Bandungan, tidak banyak catatan sejarah maupun prasasti yang memberi petunjuk tentang candi-candi di Dieng.  Namun menilik bentuknya, ada kemiripan antara candi Dieng dan Gedong Songo sehingga kuat dugaan pembangunannya masih dalam masa pemerintahan Dinasti Sanjaya pada abad ke-8.  Ditambah lagi adanya temuan prasasti yang berangka tahun 808 dengan tulisan Jawa Kuno.

Penemuan candi pada tahun 1814 dalam kondisi terendam air telaga menjadi tonggak bersejarah dimulainya penelitian dan catatan tentang candi Dieng.  Adalah Thomas Stamford Raffles dalam buku “The History of Java” yang menulis tentang keberadaan candi Dieng dan diperkirakan awalnya ada sekitar 400 candi.  Jujur, sampai saat ini saya penasaran pengen baca langsung buku ini deh.  Hampir semua artikel dan tulisan tentang bangunan masa lampau merujuk ke sini.

Komplek Candi Arjuna
Foto dari nationalgeograpic.co.id

Candi adalah bukti peradaban yang nyata.  Bahwa pernah ada satu masa dimana nenek moyang kita memiliki kemampuan membuat bangunan istimewa.  Sebagian besar berada di lokasi yang rasanya pada masa itu sangat sulit dijangkau.  Di puncak bukit, di tengah hutan belantara dan sejenisnya.  (Sepertinya) bahkan belum ada jalan beraspal mulus untuk mengantarkan bahan bangunan ke lokasi-lokasi tersebut.  Apalagi alat-alat bangunan seperti sekarang (loader, excavator, tower crane dll) tentunya juga belum ada.  Lalu bagaimana cara mereka membawa dan menyusun batu-batu itu menjadi bentuk yang sangat artistik?

Yang paling mengagumkan tentunya daya tahan candi yang berusia ribuan tahun dan masih berdiri tegak hingga kini.  Berkali-kali terguncang gempa, terkena berbagai bencana alam namun masih tetap bertahan dengan gagahnya.  Bukankah ini adalah sebuah bukti peradaban masa silam yang sangat luar biasa?

Proses pemugaran candi di tahun 2016

Saat berkunjung ke Dieng di tahun 2016, sedang dilaksanakan pemugaran di komplek candi Arjuna.  Oh ya, penamaan candi-candi di Dieng mengambil nama-nama tokoh dari kisah Mahabarata.  Ada empat kelompok candi di Dieng yaitu :

Candi Arjuna

Terdapat 5 candi di komplek ini yang saling berdekatan yaitu Candi Puntadewa, Candi Sembrada, Candi Srikandi, Candi Arjuna dan Candi Semar.

Dibandingkan candi-candi di kompleks lainnya, candi di  komplek Arjuna terlihat paling lengkap dan utuh.  Upacara rutin “Ruwatan Rambut Gimbal” juga diadakan di komplek candi ini.

Candi Gatotkaca

Di sini juga terdapat 5 bangunan candi yaitu Candi Gatutkaca, Candi Petruk, Candi Gareng, Candi Nakula dan Candi Sadewa.  Namun sayangnya, yang masih berdiri tegak hanya Candi Gatotkaca saja sementara sisanya hanya tingga reruntuhan batu.  Semoga suatu hari reruntuhan ini bisa disusun kembali menjadi bangunan utuh.

Candi Dwarawati

Ada 4 candi di dalam kompleks candi Dwirawati, yaitu Candi Abiyasa, Candi Margasari, Candi Pandu, dan Candi Dwarawati  yang merupakan candi yang terlihat masih utuh di kompleks ini. 

Candi Bimo

Adalah satu-satunya candi yang lokasinya terpisah jauh dan berdiri sendiri di ketinggian.  Ukurannya juga lebih besar dibanding candi-candi lainnya.

Candi Bimo yang lokasinya terpisah dari kelompok candi lainnya

Dieng bisa jadi adalah salah satu pusat pusaran budaya agung.  Mengungkapnya tentu tak mudah dan butuh kehati-hatian agar kelak menjadi catatan sejarah yang memberi pelajaran berharga untuk generasi mendatang.   Menjaga, merawat dan melestarikannya adalah kewajiban kita bersama. 

Dieng yang cantik.  Pesona alamnya memanjakan mata.  Kisah legendanya memberi banyak pelajaran.  Peninggalan sejarahnya mengkayakan batin.  Sungguh sebuah paket lengkap.  Tak berlebihan rasanya kalau saya bilang jatuh cinta pada pandangan pertama pada negeri kayangan nan indah.

Yuk, bertandang ke Dieng

Salam

Arni

******

Artikel ini disertakan dalam kompetisi blog

Meneropong “Negeri Kayangan” Dieng

32 thoughts on “Terpikat Pesona Dieng, Negeri Kayangan Nan Jelita

  1. Hani says:

    Aku tuh selalu heran, orang zaman dulu pinter nyari lokasi yg tepat. Kok nemu gitu lho dataran tinggi Dieng. Terus bisa di tengah-tengah kawasan. Kebayang kalo 400-400nya masih ada, penuh kali yah. Batunya ngambil dari mana cobak?…

  2. Paket komplit ini ya mbak, bisa wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata kuliner juga di sana.

    Dieng, semoga saya pun bisa segera ke sana dan menyaksikan keindahan alamnya

  3. Nurhilmiyah says:

    Dieng juga bisa disebut sebagai negeri kayangan ya Mbak Arni. Wujud peradaban masa lalu yang mestinya juga diketahui generasi muda ya. Salut sekaligus penasaran gimana ya mereka membangunnya dulu

  4. Buat saya yang belum kesampaian dari mengunjungi Dieng ini adalah acara jazz festival dan Dieng Culture Festival. Mengunjungi telaga di sekitarnya pun belum sempat. Makasih buat mbak yang sudah memposting photonya.

    Lain kali mungkin harus melirik kalendarnya dulu ketika akan mengunjungi Dieng.

  5. Aku pun sangat terpukau banget sama keelokan Dieng dan sekitarnya khsusunya Prau. Sampai janji suatu hari pengen banget kembali lagi ke sana. Alamnya budayanya sangat kaya sekali dan wajib untuk dibagikan ya mb.

  6. Jadi pengen jelajahi Dieng, saya selama ini hanya baca cerita teman2 yg pernah kesana. Lokasinya bagus2 banget ya, apalagi telaga warnanya, bisa beda warna gitu ya. Smg suatu saat bisa kesana.juga

  7. ya ampunnn dienggg! aku tuh pengen ke dieng gara-gara yang jazz atas awan sama yang tadisi potong gimbal! tapi belum kesampean gara2 mikir aduh naik gunung ga kuat, aduh dingin banget sampe saljuan, ga kuat! ahahahha, dasar aku!

  8. Aku belum pernah ke Dieng. Benar ya kalau legenda itu selalu menarik untuk kemabli di ceritakan. Aku pingin juga menceritakan beberapa legenda ke anak-anak. Supaya mereka punya pengetahuan. Btw ternyata banyak juga cani di sekitaran sana ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *