Wisata Sejarah, Menapak Jejak Masa Silam

Melangkah menyusuri tiap inci bangunan tua, menghantarkan raga memasuki lorong waktu.  Bukan sekedar tumpukan bebatuan tak bernadi, ribuan kisah pernah tercipta di sana.  Selaksa makna melekat dalam setiap bagiannya.  Angin berhembus di sela dedaunan, bersenandika sembari membisikkan pesan bagi jiwa-jiwa pelestari teruntuk kebaikan hari ini dan esok.

Setiap kali berkunjung ke bangunan bersejarah,  hati saya berdebar kencang.  Rasa penasaran akan masa lalu dan kisahnya yang menarik selalu berhasil menaikkan adrenalin dan semangat saya untuk mencari tahu ada peristiwa apa pada masa lampau yang tersimpan di balik dinding-dinding tua, tumpukan bata, arca-arca, meja kursi dan semua yang ada disana.  Saksi bisu ratusan bahkan ribuan kisah dari masa silam.  Kalau mereka bisa bercerita, bisa dipastikan akan mengungkap banyak rahasia tersembunyi.

Ya, saya suka sekali wisata sejarah.  Mengintip peradaban masa lalu yang sangat menarik, kadang penuh intrik tapi sangat sarat dengan pelajaran kehidupan.  Bukannya gak move on sih, tapi buat saya menyusuri bangunan tua dengan segenap cerita dibaliknya membawa jiwa melakukan petualangan indah, menerbangkan imajinasi tentang kehidupan di masa lalu. Kisah-kisah purba yang tak akan punah.  Ah, membayangkannya saja saya sudah tersenyum bahagia.

Apa saja wisata sejarah favorit saya?  Ikuti perjalanan saya dalam rentetan kisah berikut.

Suatu hari di Candi Cetho, Karanganyar

Mengintip Peradaban dari Balik Batu-batu Candi

Dengan latar belakang kejayaan kerajaan Hindu di masa silam, tak heran kalau Indonesia punya banyak candi yang tersebar di berbagai tempat.  Beberapa candi bahkan memiliki ciri khas unik yang memberi daya tarik tersendiri dan menjadi peninggalan sejarah yang dinobatkan sebagai Cagar Budaya Indonesia.

Candi adalah bukti peradaban yang nyata.  Bahwa pernah ada satu masa dimana nenek moyang kita memiliki kemampuan membuat bangunan istimewa.  Sebagian besar berada di lokasi yang rasanya pada masa itu sangat sulit dijangkau.  Di puncak bukit, di tengah hutan belantara dan sejenisnya.  (Sepertinya) bahkan belum ada jalan beraspal mulus untuk mengantarkan bahan bangunan ke lokasi-lokasi tersebut.  Apalagi alat-alat bangunan seperti sekarang (loader, excavator, tower crane dll) tentunya juga belum ada.  Lalu bagaimana cara mereka membawa dan menyusun batu-batu itu menjadi bentuk yang sangat artistik?

Candi hadir sebagai perwujudan imajinasi, hasil meditasi, perenungan, buah pikiran dan tenaga yang melibatkan banyak pihak, banyak unsur.  Sudah sejak zaman dahulu, masyarakat nusantara membangun candi dengan beragam peruntukan, beragam kisah dan makna.  Candi-candi  yang kita temui sekarang rata-rata memiliki arsitektur yang indah.  Pembangunan candi tentunya harus dilakukan dengan pakem-pakem tertentu.  Kitab Vastusastra,  dalam salah satu babnya berisi tentang Manasara, yaitu pedoman pembangunan candi mulai dari syarat lokasi, bentuk hingga relief dan arca yang akan hadir di sana sebagai pelengkapnya.

Baca juga : Suara alam dari Candi Cetho

Yang paling mengagumkan tentunya daya tahan candi yang berusia ribuan tahun dan masih berdiri tegak hingga kini.  Berkali-kali terguncang gempa, terkena berbagai bencana alam namun masih tetap bertahan dengan gagahnya. Generasi telah berganti, zaman juga berubah, candi-candi ini menjadi saksi sejarah perjalanan umat manusia. Bukankah ini adalah sebuah bukti peradaban masa silam yang sangat luar biasa?

Melaksanakan peribadatan di Candi III Gedong Songo, Bandungan

Berkunjung ke Candi Gedong Songo di Bandungan misalnya.  Sungguh tak habis-habis rasa kagum saya saat ke sini.  Letak candi satu dengan lainnya berjauhan.  Tak banyak pengunjung yang sanggup menempuh perjalanan menyusuri semua candinya dari awal sampai akhir.  Sebagian besar hanya sampai Gedong 3 lalu berbalik turun atau berkeliling dengan menyewa kuda. 

Lain lagi di Candi Cetho, Candi Kethek dan Candi Sukuh.  Berada di ketinggian lereng Gunung Lawu, ketiganya lebih sering tertutup kabut.  Tiap mandalanya punya cerita sendiri.  Yang unik, menilik bentuk dan relief yang terukir, sejarah peradabannya seperti terkait dengan Suku Maya di Meksiko atau Suku Inca di Peru.  Semua memang masih butuh penelitian lebih lanjut, semoga misterinya segera terpecahkan.

Banyak sekali candi-candi yang menyimpan sejarah.    Apapun cerita di balik dinding bebatuan dan reruntuhannya, tugas kita adalah menjaganya tetap lestari sebagai kekayaan adiluhung bangsa.

Cerita Masa Lalu dari Museum

Apa yang terlintas dalam ruang pikir ketika menyebut kata museum?  Sebuah tempat yang membosankan, seram, tidak menarik atau deretan barang-barang tua?

Sebagian orang mungkin akan berpikir seperti itu.  Tapi saya tidak.  Saya suka sekali berkunjung ke museum.  Melihat-lihat diorama, membaca kisah masa lampau, menikmati keindahan benda purbakala dan lain sebagainya.  Di museum, saya merasa belajar banyak dari masa lalu.  Sejarah perjuangan bangsa, kehidupan dari masa ke masa,  bahkan perkembangan peradaban manusia.

Mengunjungi nenek moyang manusia di Sangiran

Indonesia punya banyak sekali museum.  Tercatat 439 museum yang tersebar di berbagai propinsi.   Setiap museum mempunyai cerita masing-masing.  Mulai dari museum sejarah alam, tekstil,  tanah, botani, purbakala hingga museum keris, wayang, ilmu kedokteran dan lain-lain.

Dari beberapa museum yang pernah saya kunjungi, Museum Sangiran di Sragen memberikan kesan  mendalam di benak.  Situs Sangiran memiliki peran penting untuk perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan terutama untuk penelitian di bidang antropologi, arkeologi, biologi, paleoantropologi, geologi dan tentu saja pariwisata. Di Sangiran, tersaji data dan gambaran kehidupan manusia masa lampau yang disebut-sebut terluas dan terlengkap hingga mencapai  56 km2 yang meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Sragen.

Selain Sangiran, museum-museum lainnya memiliki daya pikat yang tak kalah menarik.  Menghadirkan risalah nusantara yang indah. 

Salah satu ruangan di Museum Stovia, Sekolah Kedokteran Zaman Belanda

Sejuta Kisah dari Gedung-gedung Tua

Selain candi dan museum, wisata lainnya yang juga menarik perhatian saya adalah gedung-gedung tua yang kemudian dijadikan cagar budaya.  Sebut saja Lawang Sewu di Semarang, bangunan yang dulunya bekas kantor pusat kereta api Indonesia ini punya banyak kisah di balik dinding-dindingnya.  Mulai dari kesuksesan perkeretaapian hingga kisah pilunya saat dijadikan sebagai penjara bawah tanah bagi para pejuang kemerdekaan pada masa lampau.  Kisah yang tragis.

Di Jakarta, cobalah menyambangi Kepulauan Seribu.  Kunjungi Pulau Kelor, Cipir dan Onrust.  Bayangkan kemegahan Benteng Martelo pada masa lampau.  Bayangkan juga kesibukan di pulau Onrust, sebuah pulau yang tak kenal istirahat  pada jamannya.  Menjadi pusat pelabuhan, karantina haji hingga rumah sakit dan tempat pembuangan.  Belum lagi ditambah beberapa kisah mistis yang menyertai.  Ah, masa lalu memang punya banyak cerita. 

Benteng Martello di Pulau Kelor, Kepulauan Seribu

Masih banyak gedung tua yang juga menyimpan sejarah.  Menjadi saksi perjalanan bangsa ini selama puluhan hingga ratusan tahun.  Selain itu, mengingat sejarah perjuangan bangsa pada jaman dahulu, benteng-benteng pertahanan adalah jenis bangunan yang wajib ada.  Di masa kini, beberapa benteng masih berdiri kokoh dan menjadi bukti nyata sejarah.  Sebut saja Benteng Fort Rotterda, Benteng Portugis di Jepara, Benteng Fort Rotterdam di  Makassar dan masih banyak lagi.  Kunjungan ke benteng-benteng seperti ini menjadi jenis wisata favorit saya juga. 

Baca juga : Perjalanan ke Pulau Onrust, Cipir dan Kelor

Merenda Identitas Nusantara dari Megahnya Keraton

Wisata sejarah yang tak kalah menarik adalah berkunjung ke Keraton-keraton.  Sebut saja Keraton Jogja, Surakarta, Buton, Tidore, Kasepuhan Cirebon dan lain-lain.  Sejarah panjang Indonesia sebelum menjadi negara kesatuan adalah banyaknya kerajaan-kerajaan yang tersebar di berbagai wilayah. 

Keraton-keraton adalah cikal bakal nusantara.  Kisah kepemimpinan para raja menjadi pelajaran berharga bagi generasi penerus.  Adat budaya yang masih dipertahankan menjadi corak indah dalam bingkai kebhinekaan dan menjadi identitas nusantara yang mengharumkan nama Indonesia.

Membaca Perjalanan Sebuah Negeri dari Monumen Bersejarah

Banyak peristiwa penting sebuah negara yang ditandai dengan mendirikan monumen sebagai peringatannya agar kelak menjadi catatan sejarah bagi generasi mendatang.  Yang paling terkenal tentu saja icon Indonesia yang terletak di pusat ibukota negara, Monumen Nasional (Monas).  Jika beruntung dan waktunya pas, berkunjung ke Monas berkesempatan untuk naik hingga ke puncak lalu menikmati ibukota dari ketinggian.  Saat malam hari lebih asyik dan menarik.  Pengalaman luar biasa pastinya. 

Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali di Taman Nasional Bali Barat

Ada puluhan monumen di Indonesia.  Kalau saja saat ini kita tidak dalam masa pandemi, ingin rasanya mengunjungi tiap monumen yang ada dan belajar banyak tentang sejarah bangsa ini.  Sebut saja Monumen Yogya Kembali di Yogyakarta, Monumen Bajrasandhi di Bali,  Monumen Palagan Ambarawa, Monumen Bandung Lautan Api, Monumen Mandala, Monumen Merpati Perdamaian, Monumen Pembebasan Irian Barat dan masih banyak lagi. Masing-masing menyimpan kisah yang menjadi pelajaran bagi anak cucu.

Mencintai Sejarah, Merawat Kisah Masa Silam Nan Agung

Masa lalu adalah pelajaran.  Masa kini adalah kenyataan.  Masa depan adalah impian dan harapan.  Bangsa yang besar adalah  bangsa yang menghargai sejarahnya.  Bukan hanya tugas arkeolog atau sejarahwan untuk merawat peninggalan sejarah, kita semua bisa mengambil peran itu.

Pesan bijak di salah satu dinding Keraton Kasepuhan Cirebon

Tetap menjaga etika dan kesopanan saat berkunjung, mematuhi peraturan yang berlaku, tetap menghormati dan memberi ruang ibadah bagi pengunjung yang menjalankan ibadah agamanya pada bangunan bersejarah yang masih difungsikan sebagai tempat peribadatan, tidak melakukan vandalisme, mengambil gambar/video sewajarnya dan banyak peran lain yang bisa kita lakukan.  Sekecil apapun itu, setiap peran akan memberi makna.

Lewat tulisan sederhana ini, saya melangitkan mimpi, doa dan harapan. Semoga peninggalan sejarah, dimanapun, tetap berdiri kokoh selamanya, hingga ratusan bahkan ribuan tahun di masa depan.  Kita tak bisa membangunnya, minimal jangan merusaknya.  Di masa depan setiap generasi akan bercerita dengan bangga tentang keagungan mahakarya masa lampau dan mengambil pelajaran berharga dari sana.

Semoga

Salam

Arni

54 thoughts on “Wisata Sejarah, Menapak Jejak Masa Silam

  1. AKu juge sering penasaran sama kisah di balik sebuah bangunan, atau prasasti,.

    Bener juga Arni, dulu waktu dibuat pertama kali gimana ya, kan belum ada alat alat berat?

  2. Ulsan cerita perjalanannya menarik. Aku sudah pernah ke museum manusia purba sangiran. Wah banyak sekali ya kak manusia purba di sana yang didokumentasikan dan lekat dengan pelajaran sejarah saat duduk di bangku sekolah. Seandainya manusia purba mereka bisa berbicara pastinya bisa mengungkap takbir masa silam yang penuh cerita…

  3. Aku pun suka tuh sama suami jalan-jalan ke tempat bersejarah, museum, candi, dll. Bikin herang orang lain sih malah…haha…
    Kayak ke Sangiran itu, driver mobil yg kami carter ter-heran2, ngapain ke sana? Kata suami, nengok saudara tua…hehe…
    Bagus banget padahal kan…

  4. Seru kalo bisa jalan-jalan gini lagi. Saya suka berwisata ke bangunan sejarah. Ada sesuatu yang bisa dibayangkan tentang masa lalu dengan bangunan yang masih ada hingga sekarang. Semoga pandemi cepat berlalu biar bisa berwisata lagi.

  5. Wisata keren nih bisa jadi referensi buat mengisi waktu selama liburan, saya juga kalau jalan2 suka banget ke Museum, Candi, atau bangunan bersejarah karena biar bisa tahu gmn perjuangan atau kisah dibalik kota atau negara yang saya kunjungi

  6. Hendra says:

    Setiap Candi di Indonesia pasti menyimpan sejarah panjang ya. Makanya dijaga dan dirawat dengan sangat baik agar tidak rusak. Senang sekali bisa mengunjungi secara langsung Candi-candi tersebut, saya aja belum pernah sekalipun mengunjungi Candi secara langsung, cuma bisa liat dari TV atau internet saja.

  7. Sejarah panjang bangsa tertulis dan ada jejaknya di setiap candi ya kak..jadi ingat pelajaran sejarah nih..menarik ya kalau dicermati dan dipelajari

  8. Fadli says:

    Membaca untaian kata Mbak Arni tentang sejarah selalu apik dan menarik. Nyatanya mengunjungi wisata sejarah itu dan menyaksikan dengan mata kepala akan memberikan nilai yang lebih baik, ketimbang membaca di internet saja ya Mbak

  9. Di antara banyak tempat bersejarah itu, baru Benteng Fort Rotterdam di Makassar, Lawang Sewu di Semarang, candi Borobudur, Prambanan, Penataran, Mendut, Monumen Jogja kembali, Monas yang udah saya kunjungi.

    Masih banyak tempat bersejarah yang belum sempat dikenalkan pada anak-anak

  10. Keren banget mbak, aku juga suka dengan wisata sejarah. Sudah beberapa kali saya dan suami mengajak anak-anak berkunjung ke candi, museum dan sejenisnya. Soalnya dari sana anak-anak bisa lebih banyak belajar dibandingkan pergi ke mall.

  11. Hihihi saya jadi malu sendiri nih. Pasalnya saya orang Indramayu yang dekat banget dengan Cirebon belum pernah sama sekali singgah ke Keraton Kasepuhan Cirebon. Padahal disitu banyak jejak sejarah masa lalu yang mesti diketahui oleh masyarakat Indonesia, termasuk saya.

  12. Dari semua wisata sejarah favorit Mba Arni, benang merahnya saya lihat NARASI ya mba. NARASI itulah yang membuat Mba Arni menyukainya (mungkin). Saya juga suka menikmati beberapa tipe wisata di atas.

  13. Saya tertarik soal daya tahan bangunan masa lalu ini kak. Sering bertanya2, knapa bangunan masa lalu dengan alat yg masih sederhana bisa tahan ribuan tahun? Sedangkan skrng yaaahhh… begitu lah.. sekali kena gempa langsung rata tanah….. Hmmm… sprtinya ini bukan cuma perkara bahan bangunan tapi juga niat yg baik.

  14. Mulai menyukai berburu bangunan tua saat bepergian ketika saya tahu bahwa Indonesia kaya dengan peninggalan warisan budaya mbak. Di situ rasa penasaran sama semakin tinggi. Cukup terbantu dengan artikel mbak Arni yang cukup detail membahas tentang bangunan2 tua. Btw, saya sering ke Cirebon, tapi belum pernah mampir ke keraton kasepuhan. Hahaha

  15. Nurul Mutiara R.A says:

    Seneng kalau ngelihat pembahasan lokasi-lokasi bersejarah tuh. Apalagi kalau berhubungan dengan bangunan-bangunan masa lalu. Serasa kita diajak membayangkan bagaimana mereka dibangun 🙂

  16. Andayani says:

    Dari tempat bersejarah di atas ternyata sudah ada beberapa yang saya kunjungi. tempat” seperti itu ngangenin sekali sih mba vibesnya pengen traveling lagi sayangnya masih pandemi

  17. Sama dong. Aku juga suka wisata sejarah. Bahkan, aku bercita2 utk wisata sejarah ke Eropa. Banyak bangunan tua nan kece di sana. Semangat nabung dulu!

  18. Firdaus Deni Febriansyah says:

    Berwisata ke tempat wisata sejarah menjadi salah satu cara terbaik belajar sejarah tanpa harus membaca buku sejarah yang sangat tebal.

  19. uwaaaah sering jelajah museum ya mbaaak, asik sekaliii
    aku pengen ke museum stovia

    dari wisata sejarah yg diceritain di sini, aku baru pernah ke candi cetho, lainnya belom pernah

  20. Ehh asyikk yaa mbaa.
    Aku tertarik ke museum Purba Sangiran-nya. Belum pernah kesana, seriuss jadi wishlist nih nanti setelah pandemi

  21. Saya suka banget berwisata ke tempat bersejarah, karena dengannya kt bisa melihat dan mempelajari peradaban masa lalu. Suka sedih klu misal ada monumen sejarah yg gk dirawat dengan baik

  22. Aku juga suka loh mba berkunjung ke bangunan bersejarah. Menelusuri sejarah bangsa merupakan hal yang menyenangkan. Kita jadi tau dulunya leluhur kita telah melakukan apa saja di masa kejayaannya.

  23. Sebenarnya banyak manfaat posiif ketika kita berwisata ke cagar budaya ya kak salah satunya bisa mengenal terbentuknya bangunan atau lokasi tersebut

  24. Samleinad says:

    Berkunjung ke tempat bersejarah memang mengasyikkan ya. Selain tempatnya yg artistik, kita jadi tahu & bangga akan kehebatan nenek moyang kita yg bisa menciptakan karya besar tsb

  25. Kalau dulu, saya selalu menganggap museum memang tempat yang membosankan, bahkan menyeramkan. Karena faktanya memang banyak yang terawat. Terlihat kusam dan terkesan spooky.

    Tetapi, sekarang udah berubah, deh. Semakin banyak museum yang bagus. Malah seneng juga belajar sejarah dengan jalan-jalan ke museum

  26. Aku kalo berkunjung ke wisata sejarah ini akan lebih senang kalau ada guidenya. Diceritain sejarah karena seru dengernya. *terdeteksi anak yang malas* 😅

  27. Kangen sekali bisa explore seperti ini, apalagi kalau tujuannya untuk mengetahui sejarah. Aku terakhir explore sebelum pandemi itu ke Penang. Nanti habis pandemi mau ah explore lagi Indonesia lebih dalam lagi.

  28. Hmm…saya pribadi sih nggak terlalu suka dengan situs-situs seperti ini, beda selera aja kali ya. Lebih suka main ke tempat-tempat yang eksploratif dan fun.

  29. Nur Asiyah says:

    Kangen liburan, termasuk di tempat-tempat yang mengandung sejarah seperti wisata candi dan museum. Semoga pandemi lekas berlalu, biar bisa berwisata dengan hati yang tenang. Meskipun beberapa tempat wisata sudah dibuka, tetapi tetap waspada juga.

  30. Bundabiya.com says:

    aku termasuk yang menggemari wisata sejarah, mbaa.. karena kadang membuatku sangat terpesona, melihat bagaimana kondisi zaman dulu dan bagaimana tempat2 ini masih kokoh dan bertahan sampai sekarnag. banyak cerita2 menarik yang biasanya bisa kita temukan di sekitar lokasi wisata.

  31. Toss. Sama-sama suka wisata sejarah ni. Sayangnya, di Lombok jarang ada museum.
    Tapi, sebaliknya banyak banget situs-situs bersejarah asli. Plus banyak acara adatnya juga.

  32. sama mbak, aku juga suka jalan jalan ke tempat tempat bersejarah seperti museum dan candi.
    Menarik karena bisa aku jadikan bahan diskusi dengan murid muridku di kelas, maklum aku guru sejarah, hehe
    aku juga sudah pernah ke museum sangiran, bagus dan pas buat belajar masa prasejarah

  33. Ketika ada istilah yang mengatakan kalau kita perlu belajar dari sejarah, benar adanya ya, mbak. Krn sejarah mengajarkan banyak hal. Baik dari segi arsitektur, sosial, maupun kisah-kisahnya.

  34. Mengunjungi tempat-tempat wisata sejarah, menarik sekali untuk mengetahui latar belakang di balik sebuah bangunan atau apapun itu bentuknya ya, Mbak. Lebih menarik lagi jika kita sudah pernah membaca sejarahnya sebelum berkunjung ke sana. Jadi ada bekal ilmu lalu mencocokkan sejarah itu dengan apa yang kita saksikan di depan mata.
    Terima kasih sharingnya, Mbak Arni. Selalu menarik 🙂

  35. Wah, nanti daku juga pengen nulis tentang cerita2 sejarah yang aku dapat di kota ku. Seru banget ini 🤗 Daku juga menyukai kawasan2 sejarah, dan cukup penasaran dengan Sangiran, ini wilayah udah masuk buku sejarah sejak aku SMP coba, sefamous itu. Kapan yaa bisa bener2 menjejakkan kaki kesana.

  36. Tosss….aku paling suka wisata sejarah, tapi bukan ke museum. Doyan banget liat bangunan yang ada nilai sejarahnya, sampe kubela-belain ke perbatasan mesir yang berkonflik demi melihat kuil Abu Simbel. Wkwk….

  37. Mengulik sejarah ialah hal yang sangat menyenangkan. Kita bisa belajar dan mengagumi masa lampau yg begitu indah dan agung. Semoga tetap lestari . Ya, minimal kita tidak membuatnya rusak.

  38. lama banget nggak masuk museum lagi
    di jember nggak ada museum yang bisa dijadikan tempat untuk belajar juga soalnya
    pergi ke museum sangiran tapi belum kesampaian, sepertinya menarik

  39. Setuju banget Mbak,, apa pun peran kecil kita dalam berpartisipasi merawat cagar budaya pastinya memiliki makna ya. Tidak melakukan vandalisme dan mengambil foto/video sewajarnya ya, noted. Btw suka banger sama pesannya Sultan Sepuh bahwa kita harus merawat warisan leluhur masa lalu ya, karena kita ada juga karena mereka.

  40. Aku juga penyuka wisata sejarah btw, termasuk candi dan museum. Di kota ku sendiri, jogja, banyak banget tuh wisata sejarah seperti candi dan museum. Tapi belum semuaya dikunjungi dan nggak semua aku tuliskan di blog…

  41. Sepakat kak, berwisata ke museum dan bangunan-bangunan masa lampau itu emang punya kesan yang berbeda. Kita kayak dibawa ke zaman dulu dan pastinya dapat ilmu berharga. Aku pengen ke Sangiraan sama candi Gedong Songo huihuhuu. Terakhir wisata museum aku ke Colomadu kalau nggak salah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *