Abhiseka Siwa Grha 1166 Candi Prambanan

 

Rikala nikanang saka wualung gunung sang wiku samarggacira suklapaksa sawelas ya na tang titihi wrehaspati wagai lawan mawurukung …………. sinima ya na tang humet trima harang huma sahiyang alih tampah taikang huma tumama rikeng Siwagrha”.

Begitu kira-kira isi Prasasti Siwagraha yang berisi sejarah peresmian bangunan suci untuk Dewa Siwa, yaitu Siwagrha dan Siwalaya yang berarti “Rumah Siwa” atau “Kuil Siwa” sehingga memberikan uraian terperinci yang menandai puncak kebangkitan kerajaan Mataram Kuno di bawah kepemimpinan Rakai Pikatan.

Wualung Gunung Sang Wiku yang dibaca sebagai angka tahun 778 Caka atau sama dengan 12 November 856 M adalah hari bersejarah itu. Yang kemudian selama ribuan tahun tenggelam, hanya tercatat sebagai sejarah tanpa peringatan apa-apa. Hingga 4 tahun lalu, 12 November 2019, bertepatan dengan bulan Purnama sasih kalima (Margasira Masa) untuk pertama kalinya setelah sekian lama, upacara Abhiseka digelar kembali sebagai upacara penyucian dan peringatan diresmikannya Candi Prambanan oleh Rakai Pikatan Dyah Seladu pada jaman dahulu.

Menurut  bacaan saya di Museum Candi Prambanan, Prasasti ini dikeluarkan oleh Dyah Lokapala (Rakai Kayuwangi) segera setelah berakhirnya masa pemerintahan Rakai Pikatan sebagai bentuk penghormatan sekaligus catatan sejarah dan peristiwa penting selama masa pemerintahan Rakai Pikatan.

Upacara Abhiseka 2019

Baca juga : Pesona Candi Prambanan, Warisan Mahakarya Indonesia Untuk Dunia

Menuju Abhiseka 2022

“Saya masukkan di WA grup penari Prambanan ya,” kata mbak Prapti, senior saya di KMHDI lewat chat pribadi tempo hari. Tawaran yang langsung saya setujui tanpa ragu.

Sejak masuk WAG, saya merasa mendapat charge energy yang menjadikan lebih bersemangat. Membayangkan bisa menghaturkan tarian di Candi terbesar umat Hindu di Indonesia ini saja sudah membuat saya deg-degan. Hari-hari berjalan, berusaha menyelaraskan pikir, ucap, laku dan hati agar rencana ngayah kali ini berjalan lancar tanpa halangan.  

Bukan tanpa alasan saya deg-degan. Sebenarnya di Abhiseka pertama yang digelar pada tahun 2019 saya dan beberapa teman dari Bogor juga sudah terdaftar tapi karena sesuatu dan lain hal akhirnya kami batal mengikuti upacara tersebut.  Jadi, ini serasa mewujudkan mimpi yang tertunda.

Bersama WHDI DKI, ada 3 tarian yang akan ditampilkan yaitu Sekar Jagat, Belibis dan Rejang Sari. Masing-masing untuk Atur Piuning, baksos dan acara puncak Abhiseka.  Latihan demi latihan di gelar. Awalnya kami di Bogor latihan sendiri, Ciangsana latihan sendiri, DKI juga latihan di Rawamangun. Baru menjelang keberangkatan dilakukan latihan gabungan untuk mengatur formasi dan keselarasan gerak.

Rencana perjalanan sudah disusun. Dress code sudah ditentukan. Haha emak-emak usia 40 tahun ke atas emang lagi lucu-lucunya, seneng narsis dan seragaman. Tapi di sinilah serunya. Harap maklum yaaa, nikmati aja. And then…here we go! Prambanan we are comiiiiiing…..!

Abhiseka Samapta Diwyottama 1.166 Candi Prambanan

Sebagai salah satu cagar budaya nasional, kawanan Prambanan telah ditetapkan menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO sejak tahun 1991. Adalah kebanggaan bagi kita semua, bahwa mahakarya ini ada di bumi nusantara.

Berdasarkan pembacaan Casparis, sebagaimana saya tuliskan dalam pembukaan artikel maka diketahui Candi Prambanan diresmikan pada 12 November 865 M sehingga pada tahun 2022 genap berusia 1166 tahun.  Sedangkan upacara Abhiseka kali ini adalah penyelenggaraan yang keempat.  Mengambil tema Purwadaksina Siwa Grha”  rangkaian upacara dilaksanakan 2 hari yaitu tanggal 11 November 2022 untuk Atur Piuning dan 12 November 2022 sebagai acara puncaknya. Jadi Abhiseka ini adalah peringatan ulang tahun Candi Prambanan. Kalau untuk Pura, biasa disebut Pujawali.

Baca juga : Pujawali, Sebuah Sinergi Antara Religi, Tradisi dan Seni Dalam Harmoni

Purwadaksina berasal dari kata purwa (asal muasal/jati) dan daksina (sumber/diri) yang berarti untuk senantiasa sadar, ingat, dan kembali pada kesadaran diri yang netral, sentral, dan transendental, kapan pun kita menyadarinya.  Mapurwa Daksina adalah prosesi ritual untuk mengelilingi atau mengitari sebanyak tiga kali dari arah timur ke selatan yang dalam pengider-ider bhuwana, Mapurwa Daksina dalam Stiti Dharma Online disebutkan artinya dalam bahasa Kawi :  purwa = timur,  daksina = selatan.

Maka mapurwa daksina merupakan bagian dari ritual smarana dengan berjalan melingkar dari arah timur ke selatan atau dari kiri ke kanan sesuai dengan arah jarum jam sebanyak tiga kali sebagai symbol  Tri Kona: utpati, stiti, pralina (lahir, hidup, mati) sambil menyanyikan kidung-kidung  pujaan sebagai simbol “peningkatan status” dalam upacara-upacara.

Abhiseka  merupakan salah satu bentuk wujud bhakti umat Hindu dalam menjaga kesucian dan keluhuran Candi Prambanan, memuliakan, menjaga dan meningkatkan vibrasi spiritual sekaligus melestarikan budaya dan tradisi Hindu sesuai adat istiadat setempat.

Baca juga : Telusur Warisan Sejarah di Candi Gedong Songo

Atur Piuning dan Nuur Tirtha Abhiseka, 11 November 2022

Kami tiba di Prambanan sekitar pukul 14 WIB untuk mengikuti kegiatan Atur Piuning yaitu ritual permohonan ijin dan restu secara spiritual untuk kelancaran pelaksanaan Abhiseka keesokan harinya.  Atur Piuning ditandai dengan “Mendhak Tirta” (membawa air suci) yang dibawa dari Candi-candi dan Prasasti di sekitar Yogya – Jateng, Tirtha dari beberapa Pura di Bali dan Tirta dari Prasasti Ciaruteun dan Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Gunung Salak.

Upacara Atur Piuning dan Nuur Tirtha
Foto : Kemendikbud

Karena Candi Prambanan ini berada di Jawa, sesaji persembahan yang melengkapi upacara adalah sesaji ala Jawa. Beginilah Hindu, kami mengenal konsep Desa, Kala, Patra (tempat, waktu dan keadaan). Pelaksanaan ritual-ritual keagamaan menyesuaikan dengan tradisi dan adat istiadat daerah setempat. Di Jawa, pakai sesaji Jawa. Hindu di Kalimantan (Kaharingan) juga menggunakan sesaji ala Kaharingan, begitupun di tempat lainnya. Jadi tidak harus Balisentris.

Kami membawakan tari Sekar Jagat di area Councourse menyambut datangnya tirtha yang akan di bawa ke Candi Utama. Menari Sekar Jagat di sore yang teduh, dalam alunan musik yang lembut, merasakan aura yang hangat, ada haru dan bahagia menyeruak di dada.  Usai menari, kami masuk ke area utama dan mengikuti prosesi ritual.  Di sini, Tirta disambut oleh Pemangku (pemimpin upacara dalam Agama Hindu) dan diiringi oleh tari Bedoyo Amertha Suci yang dibawakan oleh anak-anak manis dari umat Hindu Klaten dan sekitarnya.

Jujur ya, saat menyaksikan tari Bedoyo Amertha Suci, saya merasakan suasana magis yang memberi rasa tenang. Padahal Prambanan sore itu cukup ramai oleh pengunjung, tapi suasana sakral tetap bisa terjaga dengan baik. Entah perasaan saya saja atau gimana, ada rasa yang tak bisa diwakili dengan kata-kata. Saya sempat terpaku beberapa saat, terbawa suasana, ini adalah ramai yang hening, riuh yang tenang. Ah entahlah… saya tak menemukan kata yang tepat.  Saya mungkin masih akan terdiam cukup lama jika tak dicolek oleh salah satu teman penari.

“Udahan nih. Foto yuk! Ngapain bengong aja!”

Yah, bubar deh lamunan saya. Akhirnya kami lanjut foto-foto cantik. Bahkan sempat ditarik sana sini oleh beberapa pengunjung yang minta foto bareng. Aih… begini rasanya jadi artis. Banyak yang ngajak foto hahaha. Seleb dadakan ceritanya nih.

Acara Puncak Abhiseka, 12 November 2022

Sejak pagi, ruang rias di hotel tempat kami menginap sudah ramai. Hari ini ada dua tarian yang dibawakan yaitu Tari Belibis sebagai bagian dari seremonial Baksos yang digelar pagi hari berupa pemeriksaan kesehatan gratis dan pembagian paket sembako pada para petugas kebersihan Candi Prambanan. Tari yang kedua yaitu Tari rejang Sari, tari sakral sebagai bagian dari kegiatan utama Abhiseka.

Baca juga : Tari Rejang, Persembahan Tanda Cipta Pada Sang Pencipta

Sekitar jam 9 pagi kami sudah siap di Pendopo Museum Candi Prambanan. Saya tidak ikut menari Belibis, belum pernah latihan soalnya. Jadi gak pede. Kapan-kapan pengen ikutan deh, lihat teman-teman yang pada nari saya yo jadi pengen juga.  Meski begitu, sejak pagi sudah ikutan bersiap juga karena kami akan mengisi tari Rejang Sari pada sore harinya, dengan jumlah penari yang lebih banyak , sekitar 35 orang. Yup, ini memang jenis tari massal.

Usai menggelar baksos, seluruh panitia dan penari bersiap untuk acara utama. Para tamu undangan mulai berdatangan, perlengkapan ritual juga telah disiapkan.  Turut hadir pada kegiatan ini Ketua PHDI Pusat, Pembimas Hindu Prov. Jateng, DI Yogyakarta dan DKI Jakarta, Ketua Tim Pemanfaatan Candi Prambanan,  PHDI Prov. Jateng, PHDI Prov  DI Yogyakarta, WHDI Prov. Bali, umat Hindu Jabodetabek, Jateng serta DI Yogyakarta.

Lagi-lagi keharuan yang tak bisa saya ungkapkan langsung terasa menyergap. Melihat iring-iringan umat yang hadir, menyaksikan wajah teduh penuh rasa bhakti dan cinta pada Sang Pencipta, merasakan damai dalam harmoni yang begitu indah.

Kami kembali menari di area Councourse untuk menyambut kedatangan Sang Hyang Lingga dari Pura Wisnu Sakti. Jelang upacara puncak, gerimis kecil hadir menyejukkan bumi. Saya menatap langit, memandang mega yang tampak berarak begitu cepat, berkumpul tepat di atas candi. Entahlah, saya merasa awan-awan ini seperti berkumpul hanya di area upacara. Mungkin mereka juga ingin jadi saksi upacara ini.

“Kayaknya bakal seperti 4 tahun lalu deh. Hujan pas upacara,” seorang kawan penari berujar

Saya tak berani berkomentar. Tapi jujur deg-degan juga, hembusan angin mulai membawa dingin yang disertai titik air. Sedikit demi sedikit.  Iring-iringan Sang Hyang Lingga terlihat makin mendekat. Kami pun mulai membawakan tarian penyambutan.  Di menit  keempat kami menari, begitu Sang Hyang Lingga tiba di depan kami, tiba-tiba angin berhembus kencang dan hujan turun begitu deras seakan tumpah dari bendungan besar. Deras sederas-derasnya.  Alampun turut  bersaksi.

Berhenti menari? Tentu tidak!

Kami  tetap lanjut menari, lalu membuka barisan untuk masuknya Sang Hyang Lingga menuju Pelataran Utama.  Sampai dengan iring-iringan berakhir, kami melanjutkan tarian hingga tuntas. Basah kuyup, tapi bahagia. Kedinginan tapi damai. Gigil terasa tapi haru lebih besar.

Usai menari, sejujurnya kami galau. Lanjut ikut rangkaian upacara ke Pelataran Utama atau kembali ke hotel.  Rombongan memutuskan kembali ke hotel. Jika memungkinkan, berganti pakaian lalu kembali ke Prambanan untuk mengikuti persembahyangan. 

Saya sempatkan bersimpuh sejenak, mencakupkan tangan ke arah candi.  Tak terasa air mata mengalir bersatu dalam rinai hujan.  Sejujurnya, ada ragu di hati saat jalan pulang. Ada ego berbisik bahwa tugas belum usai. Ini belum tuntas. Tapi begitulah, ini bukan saatnya mengedepankan ego. Mungkin memang belum saatnya. Mungkin kali ini, baru sampai di sini kesempatan itu. Setiap orang punya rasa, cerita dan kesempatan yang berbeda. Menerima dan mensyukuri tiap peristiwa yang terjadi akan menjadikan lebih tenang. Yakin saja, ini sudah digariskan.

Sebagian penari rejang sari
Para penari Bedoyo Maha Puja

Begitulah, kami akhirnya kembali ke hotel. Maksud hati memang berganti pakaian dan ikut upacara, namun ternyata situasi tak memungkinkan. Jadi ya, mari belajar berbesar hati. Mencoba memahami maksud-Nya. Semoga tidak mengurangi sradha dan bhakti kami pada Sang Pencipta. Semoga apa yang kami persembahkan dari hati tetap tercatat sebagai karma baik.

Karena tak ikut rangkaian upacara hingga tuntas, tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang ritualnya. Hanya ada beberapa foto dan video yang saya kumpulkan dari berbagai sumber. Semoga bisa memberi gambaran tentang kegiatan Abhiseka Candi Prambanan 2022.

Beberapa rangkaian upacara Abhiseka 2022
Foto dari berbagai sumber

Kontemplasi Diri

Terkadang hidup tak berjalan sesuai yang kita pikirkan
Terkadang rencana tak terealisasi seperti yang kita mau
Terkadang impian tak terwujud seperti yang kita kehendaki

Waktunya ada
Kesempatannya ada
Rencana sudah rapi, Peluangnya terbuka
Tapi batal karena faktor X

Begitulah, kegagalan hadir sebagai ujian. Untuk melihat seberapa kuat kita, seberapa gigih kita menggenggam impian, seberapa bulat tekad mewujudkan.

Bisa jadi dibalik kegagalan, ada hal lain yang terwujud. Ada rencana yang lebih besar di sana. Ada peluang kebaikan yang berbeda namun mungkin bernilai lebih dari sebelumnya.

Kesempatan tetap terbuka
Mungkin sempat tertunda, hanya menunggu diketuk dengan lebih kuat, lebih semangat, lebih santun. Dia akan tertutup ketika kita memilih berhenti dan berbalik arah

Mari panjatkan doa-doa baik
Ucapkan kalimat-kalimat baik
Lakukan hal-hal baik
Agar waktu, kesempatan, peluang dan hasil menjadi selaras membawa kita pada kebaikan

Sampai bertemu di Abhiseka 2023

Semoga kita diberi kesehatan dan kesempatan untuk kembali.

Salam

Arni

23 thoughts on “Abhiseka Siwa Grha 1166 Candi Prambanan

  1. YSalma says:

    Walaupun tidak dapat menghadiri acara sampai selesai, tapi kehadiran di Prambanan dengan tariannya merupakan sebuah syukur ya mba. Semoga di tahun depan bisa mengikuti semua ritual hingga selesai.

  2. MasyaAllah keren bangett aku dulu sempet mau mampir sini yg pertunjukan Ramayana itu lho kak, tapii pas mainnya malam bangett haha dan lagi bawa anak kecil, ngeri kalo dia masuk angin dan bakal jadi repot gendonginnya karena udah pasti tidur dehh akhirnya batal deh :((

  3. Fenni Bungsu says:

    Benar kak Arni, panjatkan doa yang baik.
    Apalagi impian yang tertunda itu bisa terwujud ya kak jadi bisa menari pada kesempatan yang indah.
    Semoga terus berkelanjutan acaranya

    • Eka Murti says:

      Wow keren Mbak ikut terlibat sebagai penari dalam acara Abhisheka. Saya suka juga lihat kegiatan seperti ini, nuansa sakralnya terasa banget.

  4. Nur Asiyah says:

    Beberapa kali saya sempat tidak sengaja datang ke tempat wisata Bali saat ada upacara. Senang sekaligus merasa bangga bisa melihat upacara besar. Bagaimana pun itu adalah cara umat untuk beribadah. Kalau di Prambanan belum pernah. Sepertinya upacara meriah dan berjalan lancar meski hujan.

  5. Sekarang acara sakral di Prambanan sudah bisa diakses dan disaksikan umum ya. Seru itu pastinya menyaksikan semua gelaran acaranya. Bangga banget nih Indonesia punya acara budaya seperti ini. Tahun depan semoga lebih meriah dan bisa menyaksikannya juga

  6. Wah sepertinya seru banget, kalo nyimak langsung di sana. Sudah lama sekali belum datang ke Prambanan lagi, biasanya lewat saja kalo ke Jogja. Alhamdulillah, saat itu acaranya lancar ya. Semoga saya pun ada kesempatan untuk mampir ke sana saat liburan

  7. Penasaran banget pengen hadir ke acara Upacara Abhiseka ini. Waktu ke Jogja 2 tahun lalu, ternyata salah bulan dan belum ada jadwalnya. Memangnya upacara ini selalu terselenggara setiap bulan November tidak sih, kak? Cari tahunya bagaimana ya?

  8. saya suka dengan Tari Belibis, kostumnya bagus dan tariannya indah. Turut sedih mba nya gak bisa lanjut karena hujan tapi hebat masih tetap menari dalam keadaaan diguyur hujan. semoga pada Abhiseka selanjutnya bisa kembali menari dan tanpa terhalang hujan ya

  9. Sukaaaaa banget! Wah andai tahu, kayaknya bakalan ke sana deh. Karena saya sangat tertarik dengan sejarah candi tapi kurang network. Kalau ikutan upacara Abiseka ini, wah, ada kesempatan ketemu orang-orang yang tepat.

  10. Aku baru tahu kalau ritualnya sesuai adat daerahnya. Ah, serunya acaranya. Aku kemarin kudet,tahu ada acara ya mau dong ke Prambanan, kan enggak jauh-jauh banget. Dan emang udah jadi wishlist, pengen nonton tari-tarian di Prambanan.

  11. Mba Arni, bisa baca bahasa sansekerta? Makin takjub sama Mba Arni, bisa nariiiiiii. Ini baru asli wanita Bali.

    Mba, yang benar itu atur piuning atau matur piuning sih mba? di Bali pun saya sering menemukan orang memakai keduanya. Mana yang benar sebenarnya?

    Foto-fotonya kece abissss, khususnya foto terakhir, para penari dengan baju warna-warni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *