13

Damai dalam Senandung Sunyi Candi Sukuh

Candi Sukuh

Hari sudah menjelang sore ketika kami tiba di Candi Sukuh. Perjalanan melintasi jalur yang cukup meliuk-liuk dengan lereng terjal mengantarkan kami ke candi yang terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyaso, Karanganyar, Jawa Tengah ini.  Bersyukur banget saat kami tiba sepertinya alam cukup bersahabat, ditandai dengan kabut yang hanya tipis-tipis saja melingkupi komplek candi.  Padahal sebelum ke sini, kami sempat hopeless mengingat sebelumnya di Candi Cetho yang berjarak sekitar 10 km dari Sukuh, kami berangkat saat kabut tebal telah turun melingkupi candi sehingga membuat jarak pandang terlampau pendek.

Setelah melapor dan mohon ijin ke kantor pengelola, bersama-sama kami memasuki area candi.  Sama seperti di Cetho, tujuan kami melakukan persembahyangan di altar utama yang terletak di mandala ketiga, mandala tertinggi Candi Sukuh.  Karena sudah mengenakan pakaian adat (kemben, kebaya, blangkon dll), maka kami tak perlu mengenakan kain kotak-kotak yang umumnya dibagikan kepada pengunjung yang mengenakan pakaian biasa.  Continue reading “Damai dalam Senandung Sunyi Candi Sukuh”

13

Jelajah Rasa Katsu Istimewa di Kimukatsu Bersama Treats By Traveloka Eats

“Bu, Prema lapar. Makan yuk!” ajak Prema, putra saya, sore itu sesaat setelah kami keluar dari bioskop.

Sejak pagi kami memang baru makan (berat) sekali. Selebihnya ngemil-ngemil manja usai berolahraga di GBK.  Jangan salah, ngemilnya juga lumayan berat sebenarnya. Ada jagung rebus, ubi dan aneka kue-kue.  Tapi dasar perutnya ndeso, kalau belum kena nasi rasanya masih aja ada yang kurang #curhat

Sepedaan sampai belasan putaran mengelilingi GBK itu bikin lapar, Jenderal!

Dari GBK, sekalian arah pulang, kami melipir ke Lippo Mall Kemang, Kemang Village. Sambil intip-intip film bagus di bioskop.  Maksud hati sih, beli tiket aja dulu, trus makan baru kemudian nonton.  Ndilalah saat beli tiket, waktunya udah mepet banget dengan pemutaran filmnya.  Kalau nunggu jadwal berikutnya, masih sekitar 2,5 jam kemudian.  Akhirnya kami memutuskan untuk langsung nonton aja.  Makanya tak heran, begitu keluar studio, Prema langsung minta makan. Continue reading “Jelajah Rasa Katsu Istimewa di Kimukatsu Bersama Treats By Traveloka Eats”

13

Patah Hati Menjadi Energi untuk Seniman Ini Semangat Berkarya!

Sumber : Suara.com

Halo sahabat ngiringmelali….

Kalian kalau lagi patah hati, lagi bete, atau lagi bosan akan sesuatu biasanya ngapain? Kalau saya biasanya memilih makan, nonton atau traveling yang jauh. Kata seorang teman, traveling adalah obat patah hati yang paling manjur.  Lewat traveling, kita akan menemukan suasana baru, bahkan tak menutup kemungkinan bertemu dengan hati yang baru sebagai pengobat patah hati.  Setuju nggak?

Nah, lain lagi dengan Didi Kempot. Siapa yang tak kenal penyanyi lawas  pembuat lagu campursari dari Surakarta yang telah berkarir sejak era 90-an ini.  Sosok yang sukses mewarnai blantika musik tanah air dengan karya-karya lagunya yang viral.  Walau terkenal dengan lagu-lagu campursari, karya Didi saat ini bukan cuma dinikmati oleh orang dewasa dan orang tua saja, tapi anak-anak muda juga ikut menggandrungi lagu-lagunya.  Lirik lagunya banyak bercerita tentang patah hati lho, tapi tetap saja enak dan nyaman didengar.  Patah hati justru jadi inspirasinya. Continue reading “Patah Hati Menjadi Energi untuk Seniman Ini Semangat Berkarya!”

13

Kearifan Lokal Desa Sade, Lombok Tengah

Desa Sade

Saat berkendara menuju Pantai Kuta Mandalika lalu ke Tanjung Aan dan Bukit Merese kami melintasi sebuah desa yang dari luar tampak sangat unik. Sekilas ramai oleh pengunjung.  “Ini Desa Sade, desa tradisional yang jadi desa wisata karena masih memelihara adat istiadat dan budayanya. Nanti kita ke sini, sekarang ke pantai aja dulu,” kata Ari, guide kami hari itu yang kemudian melajukan kendaraan menuju pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese

Dan jadilah setelah berpanas-panas ria di pantai, dalam perjalanan menuju ke penginapan kami mampir sejenak ke Sade yang terletak di Rembitan, Pujut, Lombok Tengah.  Makanya wajah kami udah yang super kucel deh pas ke Sade hahaha.  Harap maklum yaaaa

Bangunan tradisional khas Lombok menyambut kedatangan kami di Sade, bentuknya mengerucut dan dikenal sebagai lumbung. Dalam perjalanan selanjutnya di kota Mataram dan sepanjang jalan di Lombok, kami menemukan banyak sekali bentuk-bentuk bangunan serupa, bahkan di bangunan permanen sekalipun, selalu ada bentuk lumbung di atasnya. Continue reading “Kearifan Lokal Desa Sade, Lombok Tengah”

13

Update Medsos Saat Traveling, Yay or Nay?

Dieng

“Wah kamu mah liburan meluluuuu…,”

“Wuih dah ngebolang lagi aja. Perasaan jalan terus deh. Bagi oleh-oleh dong,”

“Perasaan kemarin kita baru ketemuan. Kok sekarang dah di pantai A aja nih?”

“Wah mbak lagi di sini to. Sampai kapan, nginep di mana, ketemuan yuk,”

Hayoooo siapa yang sering dapat komen begitu saat posting foto liburan di media sosial?

Saya sih ngacung deh. Sering banget dapat komen seperti itu aku tuuu.  Padahal saya kalau posting foto liburan, biasanya setelah pulang dan tiba di rumah dengan selamat.  Beberapa kawan yang kenal baik sudah hafal sama kebiasaan ini, jadi mereka udah tahu kalau postingan-postingan saya memang seringnya late post. Continue reading “Update Medsos Saat Traveling, Yay or Nay?”

13

Suatu Hari di Tanjung Aan dan Bukit Merese

Tanjung Aan Bukit Merese

“Kak Ari, habis ini kita mau ke mana?” tanya Prema saat kami kembali ke  mobil setelah puas menikmati keindahan Pantai Kuta Mandalika

Masih ke pantai juga, namanya Tanjung Aan. Tapi yang ini lebih indah pemandangannya karena ada bukitnya juga.  Namanya Bukit Merese, kalau naik sampai ke puncak nanti dari atas bakalan indah sekali,” Kak Ari langsung promo nih.  Cocok deh jadi guide.

“Nanti di sana kita berenang, bu?” Tanya Prema lagi.  Dia memang sudah tak sabar pengen berenang.  Sejak awal memutuskan Lombok sebagai destinasi liburan kali ini, Prema sudah kegirangan saat tahu bakalan banyak ketemu pantai.

Gak dulu deh ya. Kita berenangnya nanti aja, sekalian snorkeling di Gili Trawangan,” Saya mencoba bernegosiasi dengannya

“Jiaaah… kirain mau berenang, kalau cuma lihat-lihat aja khan gak asyik ” huhuhu Prema kecewa Continue reading “Suatu Hari di Tanjung Aan dan Bukit Merese”

13

Menikmati Keindahan Pantai Kuta Mandalika Lombok

Pantai Kuta Mandalika

“Aku tidak bisa memilih salah satu di antara kalian.  Aku sudah memutuskan bahwa aku adalah milik semua  orang.  Milik kerajaan ini dan milik seluruh rakyat,” kata Putri Mandalika dari tepi tebing di Pantai Seger.

Hari itu Putri Mandalika tampak begitu cantik dalam balutan kain sutra.  Putri memang mengundang seluruh pemuda dan pangeran agar berkumpul di Pantai Seger di pagi buta pada tanggal 20 bulan kesepuluh (menurut penanggalan Sasak) untuk mengumumkan pilihannya atas lamaran dari para pangeran-pangeran kerajaan lain.

Putri Mandalika bingung.  Dia tahu, jika memutuskan memilih salah satu pangeran, dipastikan akan terjadi pertumpahan darah dan perang  yang pada akhirnya akan mengorbankan rakyat  dan menimbulkan kerugian besar. Continue reading “Menikmati Keindahan Pantai Kuta Mandalika Lombok”

13

Damai dan Cinta di Klenteng Sam Poo Kong

Sam Poo Kong

Hari masih pagi ketika kami tiba di Klenteng Sam Poo Kong, salah satu bangunan bersejarah di kota Semarang yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat peribadatan umat Tri Dharma (Konghucu, Tao dan Buddha).  Suasana meriah menyambut kedatangan kami, lampion merah tampak menggantung di banyak tempat.  Para petugas klenteng tampak bersiap-siap.  Kebetulan kami datang beberapa hari sebelum upacara Cap Go Meh, maka tak heran, suasana di sini meriah sekali.

Seperti klenteng-klenteng pada umumnya, bangunan di sini sangat kental nuansa negeri Cinanya.  Atap bersusun dua atau tiga dengan ujung runcing, dilengkapi ornamen-ornamen oriental dengan warna cerah  yang menjadi ciri khasnya.  Klenteng Sam Poo Kong terletak di daerah gedung Batu, Simongan, Semarang.  Tak terlalu sulit untuk menuju ke sini, meski merupakan tempat ibadah, namun Klenteng ini sangat terbuka untuk kunjungan wisatawan juga.  Yang paling penting sebagai pengunjung, kita harus bisa menjaga sikap dan tutur kata untuk tetap sopan dan saling menghargai. Continue reading “Damai dan Cinta di Klenteng Sam Poo Kong”

13

Jelajah Sangiran, Mengintip Jejak Nenek Moyang Manusia

Museum Sangirang

Besok kita ke mana?” tanya Cah Bagus saat kami sejak bersantai menikmati dinginnya malam di lereng Gunung Lawu.  Menyusuri kebun teh yang terhampar di sepanjang jalan Dusun Jlono, Kemuning.

“Bagaimana kalau kita ke Sragen saja. Ke Museum Sangiran.  Ayah udah cek maps, perjalanan sekitar 1 jam dari sini.  Gak terlalu jauh kok,” Usul Ayah.

Mau… mauuuu….,” Kami langsung setuju

Mumpung sedang liburan di Karanganyar, masih ada waktu sehari sebelum kembali ke Jakarta. Meski berangkat tiga keluarga dari Bogor tapi sepertinya kali ini kami akan ke Sragen sekeluarga saja.  Sepulang dari Candi Cetho dan Sukuh tempo hari, keluarga Pak Agus Widodo melanjutkan perjalanan ke Blitar.  Sedangkan keluarga Pak Paryanto, berencana bertandang ke rumah keluarganya di Tawangmangu.  Continue reading “Jelajah Sangiran, Mengintip Jejak Nenek Moyang Manusia”

13

Suara Alam dari Candi Cetho Untuk Pelestarian Cagar Budaya Indonesia

Menapakkan kaki menaiki satu demi satu anak tangga menuju tingkatan-tingkatan teras Candi Cetho, hati saya bertanya-tanya, kira-kira seperti apa perasaan Van de Vlies, arkeolog Belanda yang pada tahun 1842 menemukan 14 teras atau punden bertingkat memanjang dari Barat ke Timur yang meski tertutupi oleh lumut, namun kemegahannya tetap tak dapat disembunyikan. Di tengah hutan, di lereng Gunung Lawu, dalam sebuah perjalanan tiba-tiba bertemu bangunan kuno yang entah kapan dibangun, berdiri megah di ketinggian. Membayangkannya saja saya sudah merinding.  Seperti nonton film-film penemuan harta karun.

Sejak pagi di Dusun Jlono, tempat kami menginap, saya excited sekali mengingat perjalanan hari itu adalah ke Candi Cetho, sebuah destinasi yang saya impikan sejak lama untuk dikunjungi.  Agenda ke Candi Cetho sudah lama kami rencanakan, bahkan beberapa kali rasanya sudah di depan mata banget, lalu karena sesuatu dan lain hal kemudian batal.  Ah, rupanya saya baru berjodohnya kali ini.  Semesta tahu kapan waktu yang tepat. Continue reading “Suara Alam dari Candi Cetho Untuk Pelestarian Cagar Budaya Indonesia”