13

Telusur Warisan Sejarah di Candi Gedong Songo

Gedong Songo

“Ibu-ibu sudah dulu selfie-selfienya ya, angkotnya sudah datang. Nanti di Gedong Songo lagi kita lanjut foto-foto yang banyak,” bu Made Ayu, koordinator rombongan kami mengingatkan.  Begitulah.  Harap maklum ya kalau emak-emak udah ngumpul, rame-rame, udah pada rapi dan cakep, bawaannya pasti pengen foto-foto  melulu.  Haha.

Perjalanan saya kali ini memang ramai-ramai dalam rombongan besar. Ber-50 orang.  Naik bus gede dari Bogor.  Nah, masalahnya bus gak bisa naik ke  Gedong Songo yang memang jalurnya menanjak banget.  Berada di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.  Di kaki Gunung Ungaran, pada ketinggian 1.200 mdpl.  Karena itu, bus cukup parkir cantik di hotel tempat kami menginap lalu perjalanan ke atas akan dilanjutkan dengan angkot.

Benar saja, medannya ajiiib. Kebetulan saya dan Prema kebagian duduk di depan, di samping pak supir yang sedang bekerja, mengendali angkot yang terus menerus harus digas namun tetap berhati-hati.  Beberapa kali berkunjung ke candi di beberapa daerah, memang jalurnya butuh kendaraan dengan kondisi prima.  Seingat saya candi yang paling gampang jalurnya hanya Candi Prambanan deh.  Benar-benar di tengah kota dan di tepi jalan utama antar propinsi.  Continue reading “Telusur Warisan Sejarah di Candi Gedong Songo”

13

Damai dan Cinta di Klenteng Sam Poo Kong

Sam Poo Kong

Hari masih pagi ketika kami tiba di Klenteng Sam Poo Kong, salah satu bangunan bersejarah di kota Semarang yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat peribadatan umat Tri Dharma (Konghucu, Tao dan Buddha).  Suasana meriah menyambut kedatangan kami, lampion merah tampak menggantung di banyak tempat.  Para petugas klenteng tampak bersiap-siap.  Kebetulan kami datang beberapa hari sebelum upacara Cap Go Meh, maka tak heran, suasana di sini meriah sekali.

Seperti klenteng-klenteng pada umumnya, bangunan di sini sangat kental nuansa negeri Cinanya.  Atap bersusun dua atau tiga dengan ujung runcing, dilengkapi ornamen-ornamen oriental dengan warna cerah  yang menjadi ciri khasnya.  Klenteng Sam Poo Kong terletak di daerah gedung Batu, Simongan, Semarang.  Tak terlalu sulit untuk menuju ke sini, meski merupakan tempat ibadah, namun Klenteng ini sangat terbuka untuk kunjungan wisatawan juga.  Yang paling penting sebagai pengunjung, kita harus bisa menjaga sikap dan tutur kata untuk tetap sopan dan saling menghargai. Continue reading “Damai dan Cinta di Klenteng Sam Poo Kong”

13

Nostalgia Kejayaan Masa Lampau Pabrik Gula Gembongan di The Heritage Palace

The Heritage Palace

“Masih siang nih, mau langsung bablas pulang atau mampir kemana dulu?” tanya pak suami saat kami baru saja lepas dari wilayah Jawa Timur menuju Jawa Tengah.  Hari itu kami sedang dalam perjalanan kembali ke Bogor setelah berlibur ke Bali.  Perjalanan via darat, karena penasaran pengen menjajal tol Trans Jawa yang fenomenal itu.

“Sebentar.  Ibu intip-intip wisata Solo dan sekitarnya dulu ya.  Siapa tahu ada yang gak jauh dari pintu tol,”  Cepat-cepat saya jawab.  Mau diajak ngebolang mah hayuk aja kakaaak.

Saya kemudian lanjut browsing.  Sembari membuka sosmed.  Lalu mata saya tertumbuk pada postingan seorang teman di laman Facebooknya.  Dia memposting foto keluarga di “The Heritage Palace”.  Awalnya saya kira dia sedang berlibur ke luar negeri, menilik dari arsitektur bangunan megah di belakangnya.  Ternyata di Solooo.  “Wah asik nih,” pikir saya

Cek maps, ternyata lokasinya tak jauh dari pintu tol Kartasura.  Bertempat di Jl. Permata Raya Dukuh Tegal Mulyo, Pabelan, Kec. Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.  Selain dekat pintu tol, lokasinya juga dekat dengan bandara Adi Soemarmo.  Cusslah kita ke sana.  Meski letaknya agak ke dalam, melintasi jalan pedesaan yang  asri, jalanannya kecil tapi cukup baik dan aman kok untuk kendaraan roda empat.  Dari jauh, cerobong asap yang menjulang tinggi sudah terlihat sebagai penanda bangunan tua ini. Continue reading “Nostalgia Kejayaan Masa Lampau Pabrik Gula Gembongan di The Heritage Palace”

13

Terkenang Bening di Eling Bening

Eling Bening Ambarawa

“Kita harus pergi dari sini.  Sejauh-jauhnya.  Ayah dan Ibu bermaksud menjodohkan aku dengan Pangeran Brahmana dari Kerajaan Bawen. Aku tidak mau!” sembari menahan tangis Eling Bening menarik Sanggara, pemuda dari kalangan rakyat biasa yang sangat dicintainya

“Tapi, sejauh manapun kita pergi, pasukan kerajaan pasti akan mencari kita.  Bahkan itu akan mengancam keselamatan kita,” Jawab Sanggara

Aku tidak peduli.  Aku mencintaimu.  Aku hanya mau menikah denganmu,” Bening terus memaksa Sanggara untuk segera meninggalkan Kerajaaan Ambarawa. Continue reading “Terkenang Bening di Eling Bening”