Mengejar Matahari Terbit di Puncak Sikunir

Hari masih gelap saat alarm di HP berbunyi kencang di pukul 03.00 WIB,  membangunkan kami dari mimpi indah.  Beringsut membuka selimut dan menampilkan wajah imut agar tak diledekin semut *ehk* Dari balik tembok penginapan, kami mendengar suara kendaraan yang melintas menuju arah yang sama.  Bergegas menyiapkan diri agar tak ketinggalan, bahkan Prema yang masih tertidur saya gotong.  Lumayan juga rasanya menggendong dari lantai 2 menuju mobil yang parkir di seberang jalan.  Demi satu tujuan, mengejar golden sunrise di Puncak Sikunir.

Puncak Sikunir Dieng

Lintas Kegelapan Malam

Jujur saja, kami bahkan tak tahu arah. Jalanan masih begitu gelap hingga petunjuk jalanpun tak nampak.  Jadi yang kami lakukan adalah mengikuti kendaraan di depan, pede jaya bahwa mereka juga akan ke Sikunir.  Sambil berdoa tentu saja, semoga arah kami benar.  Sampai akhirnya kami melintasi gerbang Desa Sembungan, desa tertinggi di pulau Jawa.  Ah.. sepertinya arah kami sudah benar.  Tak lama kemudian kami bertemu petugas parkir yang mengarahkan kami ke area dimana ternyata sudah begitu banyak kendaraan yang terparkir.  Wow, area parkir ini lebih mirip terminal jadinya.  Tampak para pedagang sweater, kupluk dan sarung tangan siap memberi layanan.  Pun demikian para pedagang makanan dan minuman.  Saya takjub, ini masih subuh dan di sini sudah begitu ramai layaknya pasar.

Prema, 6 tahun yang baru saja (terpaksa) bangun, langsung kami ajak berjalan.  Udara dingin menggigit tulang.  Ratusan manusia berjalan beriringan mendaki ke arah puncak.  Saya bahkan melihat ada ibu-ibu yang menggendong bayinya ikut serta dalam pendakian.  Oma opa yang sudah lanjut usia juga tak mau ketinggalan.  Seru juga rasanya jalan rame-rame seperti ini.  Terakhir kali kami melakukan perjalanan begini dini hari tanggal 2 April lalu, saat terjebak macet hendak sembahyang di Pura Ulun Danu Batur, hingga kami tiba tengah malam dan berjalan kaki, berame-rame penuh semangat.

Puncak Sikunir Dieng
Mendaki dan menanti dalam gelap

Sembari meraba-raba pijakan kaki, saya menggandeng Prema mendaki bukit.  “Ibu, sebenarnya kita ini mau kemana, kok jalan kaki malam-malam gini?” tanya Prema

“Kita mau ke puncak sayang, mau lihat matahari terbit seperti yang kemarin itu,” Saya menjawab sembari mengingatkan apa yang kami lakukan sehari sebelumnya di Gardu pandang Tieng

“Tapi kemarin gak pake jalan kaki.”Protesnya

“Iya khan ini tempatnya beda.”

Baca juga : Jelajah Pesona Dieng ; Negeri di Atas Awan

Awal perjalanan kami melintasi jalan setapak yang sudah lumayan rapi sehingga bisa beriringan berame-rame.  Makin ke atas, jalanan makin kecil, menapak tangga dan di beberapa titik bertemu dengan akar pepohonan. Harus berhati-hati saat melintas, apalagi hari memang masih gelap. Beberapa pengunjung membawa senter, sementara kami memanfaatkan cahaya dari HP untuk menerangi perjalanan.

“Bu… dingin,” Berkali-kali Prema mengeluhkan hal yang sama.  Padahal kami semua memakai baju hangat, kupluk, syal dan sarung tangan.  Tapi udara memang super dingin. Rasanya menyusup hingga ke tulang.

“Prema capek, bu. Masih jauh ya?” Lagi-lagi cah bagus merajuk.  “Sebentar lagi nyampe kok.  Yuk Semangaaaaaat!” Saya meyakinkan dia untuk terus berjalan.  Berkali juga Prema minta gendong, tapi medan yang terjal gak memungkinkan kami untuk menggendongnya, jadi ya mau gak mau harus jalan deh.

Tepat pukul 5.15 kami tiba di puncak.  Dan lagi-lagi saya terkejut, puncak sudah rame banget.  Masing-masing orang sudah mencari posisi paling strategis untuk menyambut datangnya sang fajar.

Detik-detik Kehadiran Sang Surya

Semua orang menunggu.  Kami yang kebetulan hanya bertiga dengan mudah nyelip diantara kelompok-kelompok pengunjung.  Seorang kakak baik hati dari Semarang menawarkan tempat duduknya diatas batu buat saya dan Prema *terimakasih kak*

Perlahan ufuk timur mulai bercahaya. Semburat jingga mulai muncul.  Kamera terpasang dimana-mana. Dari HP hingga DSLR.  Ini rasanya lebih tegang daripada penantian untuk berkenalan dengan calon ibu mertua deh.  Jadi buat kamu Mblo, yang mau nyari pasangan, rasain dulu tegangnya disini, ntar pas ketemu calon mertua tegangnya pasti ilang deh #uhuk

Puncak Sikunir Dieng
Foto (1) dan (2) Semburat jingga di ufuk timur
Foto (3) dan (4) Awan-awan yang berkolaborasi menutupi hadirnya mentari

Tenang.  Tunggu.  Tunggu.  Dan tunggu. Putri tidur berwarna jingga mulai bangun.  Lalu entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba angin berbisik pada awan yang menggumpal untuk bergerak menutupi mentari.  Ah… si putri tidur masih malu rupanya.  Baru bangun, belum dandan yang kece, maka ngumpetlah dia dibalik awan. Satu hal yang terbukti nyata, Dieng benar-benar negeri di atas awan. Posisi kami di puncak bukit, di desa tertinggi Pulau Jawa dan nyata, awan-awan ada di bawah kami.  Indah.  Sungguh indah.

Hiks. Penonton kecewa.

Sementara dari balik awan, cahayanya makin benderang.  Hari juga makin terang.  Sebagian pengunjung bubar. Lalu tanpa disangka, tirai awan yang menutupi tadi tersibak menghadirkan kecantikan sang putri. Meski tak lagi bulat sempurna, tapi pesonanya tak luntur.  Aih kamera-kamera kembali beraksi.  Tak mau ketinggalan, acara narsis juga jalan.  Cekrek, cekrek, cekrek.  Riuh sekali dengan suara tombol-tombol yang dipencet.

Puncak Sikunir Dieng

Puncak Sikunir Dieng

Puncak Sikunir Dieng
Akhirnya yang dinanti hadir juga

“Kau mainkan untukku, sebuah lagu tentang negeri di awan

Dimana kedamaian, menjadi istananya

dan kini kau bawa aku menuju kesana……….”

Lagu indah dari Katon Bagaskara mendadak terngiang ditelinga.  Kalau tak malu dengan suara cempreng saya, rasanya pengen bikin video nyanyi deh saat itu.  Tapi banyak orang kakaaak, hayati maluuuuu.

Yuhuuu.... Bisa foto bertiga
Yuhuuu…. Bisa foto bertiga

 

Puncak Sikunir Dieng
Yeaaaay Wefie kita

 

“Ibu, Prema lapar…” suara Prema memecah lamunan saya

Waduh. Piye iki.  Bekal kue pancong yang dibeli Ayah di parkiran tadi udah tandas dalam perjalanan.  Sekarang cah bagus malah lapar.  Beruntung, tak jauh dari “tempat pertunjukan” ada area datar yang cukup luas dan rame oleh para pedagang.  Gorengan, mie instan, kopi atau teh tinggal pilih. Semua ada.  Masalahnya adalah cah bagus minta roti. Hiks, tak ada roti, Nak. Maka cukuplah dia pagi itu mengganjal perutnya dengan segelas energen dan semangkuk p*p mie #maafkanIbu

Yuk, isi perut dulu sementara.  Rotinya nanti nyari di bawah
Yuk, isi perut dulu sementara. Rotinya nanti nyari di bawah

Ou satu yang saya salut di Dieng ini, sanitasi sangat baik.  Toilet umum tersedia di setiap tempat wisata, bersih dan terawat.  Meski harus bayar, saya sangat rela merogoh kocek Rp.2000,- untuk setiap memakai toilet.  Ini lokasi kami di puncak lho.  Dan ada toilet. Bersih. Air tersedia cukup. Sungguh saya mengapresiasi pengelolaan toilet umum ini.

Puncak Sikunir benar-benar menjadi catatan indah dalam benak saya.  Wisata mata dan hati.  Menghirup kesegaran udara gunung sekaligus olahraga pagi.  Semoga suatu hari saya bisa kembali ke sini.

Lho gak bosan? Ndaklah.  Hayati sudah jatuh cinta.

10 thoughts on “Mengejar Matahari Terbit di Puncak Sikunir

    • Iya mbak, itu sunrise. Sayangnya gak bulat sempurna karena sempat tertutup awan saat merangkak naik.
      Btw mba Sari gerak cepet bener ya, ini postingan belum kelar sebenarnya, masih proses editing, keburu kepencet publish hehe

      Terimakasih sudah mampir ya mbak

    • Bisa. Pasti bisa. Mas Aim khan udah bisa jalan sendiri, tinggal diawasi aja sama Papa Ihwan. Nah mama tinggal gendong Aira deh.
      Waktu itu, pas barengan aku ada ibu2 yang naik sembari gendong bayi dan gandeng balita juga. Dan dia nyampe lho di puncak

    • Sensasinya berbeda liat sunrise dari puncak gunung
      apalagi kalau naiknya dengan penuh perjuangan
      Mudah2an suatu hari nanti bisa ajak Aim dan Aira menikmati sunrise langsung ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *