Telisik Sejarah Bali di Bajra Sandhi

Monumen Bajra Shandi Bali

Bali identik dengan pantai, sawah terasering, aneka kerajinan dan budayanya yang khas.  Berkali-kali ke Bali *namanya juga pulang kampung*  membuat kami sesekali ingin mencari wisata yang agak berbeda agar mendapat kenangan tentang Bali dari perspektif yang baru.

Sebenarnya sudah sejak lama kami ingin masuk ke dalam Bajra Sandhi, monumen perjuangan rakyat Bali yang terletak di Lapangan Puputan Renon, tepat di depan kantor Gubernur Bali. Bangunannya sangat artistik,  berbentuk Bajra/genta yaitu alat yang digunakan oleh para pemangku/pinandhita/pedanda (para pemuka agama Hindu) dalam memimpin prosesi upacara keagamaan.  Sayangnya, beberapa kali mampir, waktunya kurang pas karena museum sedang tutup.  Kali ini kami beruntung, museumnya buka.  Bisa deh intip-intip bagian dalamnya.

Sebagaimana umumnya bangunan di Bali, Bajra Sandhi juga menggunakan kosep Tri Mandala yaitu :

  1.  Utama Mandala, berupa bangunan utama yang berbentuk Bajra raksasa.  tepat berada ditengah-tengah kawasan monumen.  Didalamnya adalah ruang pamer, perpustakaan dan kantor pengelola.
  2. Madya Mandala, yaitu bagian pelataran yang mengitari Utama Mandala.  Madya Mandala ini dihiasi dengan taman-taman indah yang sangat nyaman untuk bersantai bersama keluarga tercinta.  Seringkali kawasan ini digunakan untuk aneka kegiatan
  3. Nista Mandala, yaitu bagian terluar dari kawasan monumen.  Sebagian lahannya digunakan untuk lahan parkir.  Di sisi utaranya, digunakan untuk lapangan sepakbola.  Setiap sore hari, lapangan ini ramai oleh para pemain sepakbola yang berlatih.

Baca juga : Mengenal Konsep Tri Mandala di Desa Penglipuran

Memasuki Bajra Raksasa

Kami membeli tiket masuk seharga Rp.  10.000,-/orang.  Cukup murah.  Meski demikian, saat kami datang, pengunjung monumen ini tak terlalu banyak dan sebagian besar adalah wisatawan asing.  Seingat saya, hanya bertemu dengan 2 keluarga Indonesia selama berada disini.  Sungguh sayang, minat orang kita untuk ke museum memang masih sangat rendah.

Monumen Bajra Shandi Bali
Sudut-sudut cantik Bajra Shandi

Bajra Sandhi, nama yang dipilih untuk monumen ini, sesuai dengan bentuk bangunannya. Dibangun pada tahun 1987 dan baru diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 14 Juni 2003.

Karena mengambil bentuk Bajra maka bangunannya tampak sama dari segala sisi. Ada empat pilihan tangga untuk naik ke atas monumen ini dan semua tampak sama.  Masing-masing sudutnya terdapat air mancur dan kolam besar yang membuat suasana menjadi sejuk.  Ukiran-ukiran khas Bali tampak menghiasi dinding Bajra Sandhi.  Terkait sejarah, bangunan ini berisikan  17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter.

Monumen Bajra Shandi Bali
Denah dan tangga melingkar menuju menara pandang

Ruang pamer terdapat di lantai 2. Tepat di bagian tengahnya, terdapat anak tangga melingkar menuju menara pandang di puncak bangunan.  Lumayan pegel juga naiknya, kalau tak salah hitung, sekitar 75 anak tangga, ditambah memang harus antri karena tangga ini tak terlalu besar.  Rasa pegal itu terbayar saat kita sampai di puncak monument dimana kita bisa menyaksikan kota Denpasar dari segala sisi.  Taman-taman, perkantoran, pemukiman, Pura dan lain-lain.  Tak terlalu tinggi memang, karena pakem pembangunan gedung di Bali bahwa setiap bangunan tak boleh melebihi tinggi pohon kelapa.  Ini berlaku untuk semua jenis bangunan termasuk hotel berbintang.

Monumen Bajra Shandi Bali
Halo… salam dari menara pandang
Monumen Bajra Shandi Bali
View dari menara pandang

Meski begitu, untuk sekedar bersantai dan narsis-narsis asyik juga kok.  Ups… udah bawaan orok kakaaak, ketemu tempat kece dikit langsung cekrek hahaha.  Tapi buat saya ini menarik, dari beberapa museum yang pernah saya kunjungi, baru Monas dan Bajra Sandhi yang menyediakan menara pandang seperti ini.

Bali dalam Balutan Sejarah

Difungsikan sebagai museum, monumen Bajra Sandhi memberi gambaran sejarah Bali dari masa ke masa. Diorama-diorama tertata apik dan memberi gambaran kehidupan Bali tempo dulu.  Mulai dari jaman pra sejarah hingga masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah.  Total ada 33 Diorama yang tersedia di ruang pamer ini.

Monumen Bajra Shandi Bali

Monumen Bajra Shandi Bali

Monumen Bajra Shandi Bali
Bali Tempo Doeloe

Saya, yang nota bene berdarah Bali, bahkan baru tahu periode-periode sejarah Bali setelah mengunjungi museum ini.  Sepanjang yang saya tahu, dan memang ini paling terkenal, dulu di Bali terjadi perang puputan Margarana.  Ternyata, ada perang-perang lain seperti perang Jagaraga pada tahun 1848 – 1849, perang Kusamba pada tahun 1849.  Kemudian ada episode Sagung Wah pada tahun 1906 yang terjadi di Tabanan, lalu ada puputan Klungkung pada tahun 1908. Bahkan pada tahun 1946, setelah Indonesia merdeka sempat terjadi pertempuran laut di Selat Bali.  Wah, panjang deh sejarahnya.  Silakan berkunjung langsung untuk info lebih lengkapnya.

Monumen Bajra Shandi Bali

Monumen Bajra Shandi Bali

Monumen Bajra Shandi Bali
Beberapa Diorama yang menggambarkan perjuangan Bali mempertahankan NKRI

Prema excited sekali melihat diorama-diorama ini.  Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari bibir mungilnya.  Nah, kalau sudah begini, biasanya emak melipir aja deh jadi seksi dokumentasi, urusan menjawab pertanyaan serahkan pada bapake hahaha.

Sejak dulu, saya selalu menyukai kunjungan ke museum.  Mempelajari sejarah sebuah bangsa, daerah dan segala hal dari masa lalu membuka wawasan dan cara pandang kita terhadap sesuatu.  Setidaknya, dari sini kita belajar menghargai bahwa apa yang kita peroleh sekarang adalah hasil perjuangan dengan tetes darha dan keringat para pahlawan.  Rasanya malu kalau semua itu kemudian kita sia-siakan demi ego pribadi yang berujung pada pecah belah sesama anak bangsa.

Pelangi di Bajra Sandhi

“Ibu… Lihat ada pelangi!” Seru Prema heboh

“Haaa?! Pelangi, dimana?”tanya saya bingung. Soalnya khan ini cuaca cerah ceria, bahkan cenderung panas banget. Tak ada hujan sama sekali. Biasanya khan pelangi hadir setelah hujan.

Itu disana, diair mancurnya, bagus sekali ibu. Ibu lihat ndak?”jawab Prema sambil mengarahkan telunjuknya ke air mancur disisi kanan tangga yang akan kami turuni.

Pandangan saya langsung mengikuti telunjuk Prema.  Benar saja, pelangi hadir disana, terselip diantara butiran air mancur.  Pelanginya bergerak dinamis mengikuti pergerakan butiran air yang terpapar cahaya matahari.  Cantik sekali.

Monumen Bajra Shandi Bali

Monumen Bajra Shandi Bali

Saat itu kami turun dari sisi Timur Bajra Sandhi, sekitar pukul 11.30 WITA dimana matahari hampir berada tepat diatas kepala.  Sinarnya yan jatuh di air mancur ini menghasilkan bias warna cantik berbentuk melengkung itu.  Dan kami berhenti disana, bersama beberapa pengunjung lainnya, untuk menonton pelangi.

Kami beruntung, berada pada waktu dan tempat yang tepat.  Di sisi lain Bajra Sandi belum tentu ada fenomena ini.  Bahkan kalau kami datang lebih pagi atau sore hari, rasanya kami juga tak akan mendapat bonus pelangi.  Jadi buat yang berencana ke Bajra Sandhi, bolehlah dicoba kesananya siang hari sebelum jam 12 ya.  Jangan lupa, main-main ke sisi Timurnya juga kalau ingin menonton pelangi seperti kami.

Konsep Sama Sisi, Pelajaran Buat Cah Bagus

“Ayah, Prema mana?” Tanya saya pada suami saat melihat Prema tak bersamanya

Lho gak tahu, khan tadi bareng ibu!”

“Tadi dia mau nyusulin Ayah, kirain udah ketemu sama Ayah,” Saya mulai panik.  Cah bagus “menghilang”!

Jadi, sesaat sebelum kami pulang, Ayah prema sempat dimintai tolong untuk memotret rombongan wisatawan  yang berkunjung.  Lokasinya agak bergeser dari air mancur pelangi tadi.  Sementara saya dan Prema menunggu di salah satu sudut Bajra Sandhi sembari menikmati bias-bias air mancur yan berpendar menimpa wajah kami.  Tak sabar menunggu, Prema bermaksud menyusul Ayahnya.  Saya melihatnya sudah berlari ke arah yang benar, tapi ternyata saat Ayah kembali, Prema tak bersamanya.  Huaduh.  Bagaimana ini.  Akhirnya kami berpencar, saya ke Barat, Ayahnya ke Utara.  Sampai akhirnya di salah satu sudut kami menemukan Prema yang sedang terisak.

Rupanya, karena bentuk bangunan ini sama persis dari semua sisi, saat bertemu air mancur, ukiran-ukiran, patung dan ciri-ciri lain yang sama persis dengan titik awal perjalanannya, Prema merasa sudah berada di tempat yang tepat.   Saat menyusul Ayah,  Prema justru melewatinya dan merasa akan bertemu saya di sisi yang lain.  Tapi ternyata, tak ada Ayah dan Ibu disana.  Bingung.  Panik.  Dan menangis.  Untung saja kami segera menemukannya.

Monumen Bajra Shandi Bali

Dari sini, pelan-pelan kami menjelaskan konsep sama sisi.  Bahwa bangunan ini sebenarnya berbentuk lingkaran dengan dasarnya berupa segi empat sama sisi.  Itulah sebabnya, dia akan menemukan semua hal yang sama persis di keempat sisi yang dilalui.  Paham konsepnya, malah membuat dia jadi tertantang untuk membuktikannya.  Ealah Cah bagus, malah semangat mengulang petualangannya.  Kali ini dia berlari sendiri dan meminta kami menunggunya di tempat yang sama.  “Nanti Prema kembali kesini, Ayah sama ibu tunggu aja ya,” begitu katanya.  Dan saat dia benar-benar kembali, senyum lebar menghiasi wajahnya.  Selamat Nak, bertambah satu lagi pelajaranmu hari ini.

Puas jelajah museum, saatnya kembali pulang.  Waktunya makan siang nih, mari berburu kuliner Bali yang siap memanjakan lidah.  Tak lupa, sebelum pulang, belum sah rasanya kalau belum mengambil gambar sekali lagi.

Cekrek! Upload!

 

30 thoughts on “Telisik Sejarah Bali di Bajra Sandhi

    • Biasanya kunjungan ke museum gak termasik dalam paket wisata soalnya
      Yang paling sering ya pantai dan tempat2 wisata umum lainnya termasuk wisata belanja

      Untuk museum, hanya jadi konsumsi anak sekolah huhuhu

  1. ini bangunannya mirip candi ya?

    bagus banget,

    hebat ya prema, bisa lihat pelangi dan ga takut buat ngulang dan muterin sendiri yaa 🙂

    • Sekilas iya mirip candi. Tapi sebenarnya berbentuk Genta.
      Ou soal menghilangnya Prema, sekarang kalau dikenang sih lucu aja, tapi waktu kejadian mah tetep aja panik

  2. pas ke Bali meski dinas ke Tabanan doank tp memang aku jatuh hati betul mba teraseringnya kemudian tiap pagi aku liat ritual sembahyangnya dg pake baju kek kebaya gtiu klo cewe n itu unik bgt pemandangan yg ga aku dpt di cimahi hahaha.
    dan cerita mba ttg Bajra jd bikin penasaran apalagi unik y mba pke filosofi tgl kemerdekaan.
    btw Kisah prema ilang jadi bahan yg plg dikenang y mba ahaha

    • Di Bali mah liat orang pakai kebaya udah jadi pemandangan biasa setiap hari. Dimana-mana banyak yang pakai kain dan kebaya, naik motor kadang sambil nyunggi sajen pula. Aku aja sampai terkagum-kagum liatnya, soalnya aku gak bisa begitu

      Iya, ini Bajra Sandi memang pakai filosofi kemerekaan mungkin biar makin berasa nasionalisme dan semangat juangnya ya

  3. Hai Mbak Arni..
    Saya baru tahu ada museum bernama Bajra Sandhi.
    Cara Mbak menceritakan museum ini informatif sekali, meskipun kekurangan gambar-gambar.

    Sejarah tentang perang di Bali tidak banyak saya ketahui. Jaman saya sekolah dulu, cuma ada dua macam perang yang saya tahu tentang Bali, yaitu perang yang melibatkan Kerajaan Buleleng pada jaman Patih Djelantik dan perang Puputan Margarana yang melibatkan Ngurah Rai.

    Museum Bajra Sandhi memberikan dokumentasi yang lebih jelas ketimbang buku pelajaran PSPB saya. 😀

    Sayang saya baru tahu ya. Di situs-situs travelling juga jarang disebut-sebut tentang museum ini.
    Apakah museum ini punya musholla? Atau kantin penjual makanan? Atau tour guide?

    • Saya juga, jujur saja banyak mendapatkan informasi baru di museum ini. Berasa banget saya tak tahu banyak sejarah Bali huhuhu
      Nah, saya juga kurang tahu nih soal mushola dan kantinnya, karena memang kebetulan saat kesana tidak mencari dua hal itu. Kalu untuk tour guide, petugas ada setiap saat, siap untuk memberi keterangan yang dibutuhkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *