Melipur Lara di Desa Penglipuran Bali

Halo Sahabat ngiring melali

Dalam rangka menikmati pesona Indonesia, kali  ini saya akan mengajak kita melali (pelesiran) ke Desa adat Penglipuran yang terletak di kabupaten Bangli, sekitar 45 km dari kota Denpasar.  Sebuah desa yang ditata sedemikian rupa sesuai dengan konsep tata ruang tradisional Bali (TRTB)  yang mengandung filosofi tinggi.  Penglipuran sendiri berasal dari kata “Pengeling” yang berarti pengingat dan “Pura” yang berarti tempat pemujaan.  Sehingga Penglipuran artinya tempat suci untuk memuja Tuhan Maha pencipta dan mengingat leluhur.

Desa Penglipuran yang damai dan sejuk
Desa Penglipuran yang damai dan sejuk

Memasuki wilayah desa adat, suasana sejuk dan damai langsung menyergap rasa. Kita akan disambut oleh ornamen-ornamen khas Bali. Mulai dari bentuk bangunan, wangi dupa, aneka bunga dan tentu saja bentuk bangunan rumah dan Pura.  Desa Penglipuran ini memang benar-benar dibangun sesuai dengan TRTB yang kental dengan konsep Tri Mandala atau tiga pembagian wilayah.

Pura Desa Bale Agung dan Kulkul Desa
Pura Desa Bale Agung dan Kulkul Desa

 

Utama Mandala, adalah wilayah  Pura Desa Bale Agung (Penataran) terdapat di bagian hulu desa (utara), lalu tepat didepannya terdapat bale banjar untuk sekedar tempat berkumpul dan bercengkerama.  Tak ketinggalan bale kulkul, yaitu sarana yang digunakan untuk melakukan panggilan aktifitas warga desa.  Ada dua bale kulkul di sini, satu di dalam Pura untuk panggilan kegiatan spiritual, satu lagi diluar Pura, tepat didepan jalan masuk menuju desa sebagai panggilan untuk kegiatan Desa.

Madya Mandala tepat di depan utama mandala, berupa pemukiman dengan rurung gede (jalan desa) dan  rumah-rumah yang berjajar rapi dalam satu garis lurus di sebelah Barat dan Timur. Di Desa Penglipuran, setiap kepala keluarga mendapat jatah lahan dengan luas yang sama.  Di bagian depan terdapat angkul-angkul yang berfungsi sebagai gerbang masuk menuju rumah.  Angkul-angkul ini menjadi satu kesatuan dengan penyengker (pagar) yang mengelilingi rumah.  Arsitektur angkul-angkul di sini sangat kental dengan sentuhan tradisional Bali.  Pola tumpukan batu-batu dan ukiran yang menyertainya menunjukkan kearifan lokal dan sangat ramah lingkungan.  Batu dan kayu yang digunakan tampak sangat alami dan telah berusia tua, terbuat dari tanah liat yang dipadatkan lalu dikeringkan kemudian disusun layaknya batu bata.  Tanpa sentuhan cat atau ornamen-ornamen modern lainnya.

Angkul-angkul dan Penyengker
Angkul-angkul dan Penyengker

 

Trip Libur 20157

Nista Mandala, adalah bagian paling hilir atau selatan desa.  Digunakan untuk kuburan atau di Bali disebut setra.

Jangan kaget kalau baru masuk wilayah desa kita akan disapa dengan sangat ramah oleh para pemilik rumah. “mampir pak/bu, lihat-lihat ke dalam,” Iya. Begitulah cara mereka menyapa pengunjung.  Kenapa kita diajak masuk? Karena di dalam kita akan mendapatkan pengalaman baru, melihat dari dekat bangunan tradisional Bali dan mencicip aneka penganan khas desa Penglipuran.  Sesuai awig-awig (peraturan) desa, warga desa Penglipuran tidak diperkenankan menjajakan dagangannya di luar pagar pekarangan.  Itu sebabnya, jika masuk Desa, kita akan melihat jalan desa yang sangat asri, bersih, rapi dan teratur.  Mereka menata aneka dagangannya di dalam pekarangan masing-masing, baik makanan maupun aneka hasil kerajinan tangan khas Bali.

Dalam konsep TRTB, yang sayangnya saat ini makin banyak tergerus oleh konsep tata ruang modern (TRM), peletakan bangunan dan pekarangan diatur sesuai fungsinya, dimana satu sama lain menjadi perpaduan yang menghasilkan kekuatan yang mendukung terwujudnya lingkungan yang harmoni.  Penataannya memenuhi tiga aspek utama kehidupan masyarakat Bali (Tri Hita Karana) yaitu  Parahyangan, Pawongan dan Palemahan.

Parahyangan

Konsep ini menyangkut wilayah untuk melakukan segala aktifitas spiritual. Biasanya terdiri dari Merajan/Sanggah (Pura keluarga) dan Bale adat (tempat melakukan kegiatan keagamaan lainnya).  Terletak di posisi kaja kangin (utara timur), atau hulu rumah sebagai tempat pemujaan kepada Tuhan.   Merajanpun umumnya diberi pagar sebagai “batas suci” untuk lebih menjaga kesuciannya. Bahkan, jika memungkinkan, wilayah spiritual ini dibangun pada lokasi yang lebih tinggi dari bangunan-bangunan lainnya.

Sisi luar Merajan

Pawongan

Dalam hal ini terkait pada aktifitas sehari-hari penghuni rumah.  Umumnya terdiri atas bangunan rumah tinggal,  jineng/lumbung padi, dapur dan sumur.  Penataan lokasinya disesuaikan dengan konsep Dewata Nawa Sanga misalnya : Dapur, karena berhubungan dengan api ditempatkan di selatan.  Sumur, karena berhubungan dengan air ditempatkan di utara.  Begitupun bangunan-bangunan rumah tinggal atau bale, akan ditempatkan ditengah-tengah karena disinilah pusat kegiatan para penghuni rumah.

Salah satu bentuk bangunan rumah tinggal di Desa Penglipuran
Salah satu bentuk bangunan rumah tinggal di Desa Penglipuran

 

Bale dan Dapur
Bale dan Dapur

 

Jalan penghubung antar rumah
Jalan penghubung antar rumah

Pawongan juga menggambarkan konsep hubungan antar sesama manusia dalam satu lingkungan.  Di Desa Penglipuran, kita akan menemukan antar rumah satu dan lainnya terdapat jalan penghubung, agar memudahkan dalam berinteraksi.  Tak perlu keluar melintasi jalan desa untuk sekedar berkunjung ke rumah tetangga yang terletak dalam satu jajaran.

Palemahan

Palemahan adalah hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya.  Menjaga keasrian pekarangan.  Menatanya dalam taman-taman yang cantik, memelihara hewan dan seterusnya yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Dalam pola TRTB, tata letak kandang hewan misalnya, diatur sedemikian rupa agar posisinya tak mengganggu kenyamanan kegiatan penghuni rumah.  Umumnya kandang ternak diletakkan jauh dari lumbung padi dan dapur dengan tujuan agar penghuni rumah terhindar dari penyakit yang mungkin saja terbawa oleh ternak, begitu pula agar terhindar dari polusi udara dalam bau kotoran ternak.

****

Saat kami berkunjung ke sana, kebetulan masih dalam suasana hari raya Galungan.  Desa Penglipuran tampak sangat meriah dengan jajaran penjor melengkung sepanjang jalan desa.  Penjor sendiri memiliki filosofi yang mengingatkan kita bahwa semakin tinggi sebuah pencapaian, janganlah menjadikan kita sombong dan mendongak.  Sebaliknya teruslah rendah hati, karena merunduk bukan berarti kalah atau malu.  Merunduk adalah simbol kebesaran hati untuk menyadari bahwa kita hanya titik kecil di tengah semesta raya ini.

Konsep harmoni alam tampak benar-benar dipraktekkan disini.  Tak ada sampah berserakan sepanjang jalan desa.  Seluruh warga (dan pengunjung) dengan kesadaran sendiri menjaga kebersihan desa indah ini sepenuh hati.  Tempat-tempat sampah tersedia di banyak tempat, langsung dipisahkan antara organik dan anorganik.  Tak mengherankan jika tahun lalu Penglipuran dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia.

Karang Memadu

Karang Memadu Desa Penglipuran
Karang Memadu Desa Penglipuran

Keunikan lain yang dapat kita temukan di Desa Penglipuran adalah Karang Memadu.  Dalam awig-awig adat Bali, tidak ada secara tegas penolakan terhadap poligami.  Meski demikian diatur pula bagaiman perlakuan terhadap mereka yang memilih untuk berpoligami.  Karang Memadu, yang ditempatkan di ujung desa, berupa lahan yang disiapkan untuk mereka yang berpoligami.  Meski tak dilarang, namun dengan ditempatkan pada lahan khusus, ini adalah sanksi moral dan psikologis bagi pelaku poligami.  Saat kunjungan saya ke sana, karang memadu ini masih berupa lahan kosong yang ditumbuhi semak belukar, pertanda tak ada warga Desa Penglipuran yang berpoligami.

Kuliner Desa Penglipuran

Loloh Cem ceman, Klepon dan donat ketela
Loloh Cem ceman, Klepon dan donat ketela

Lelah berjalan menyusuri desa, istirahatlah sejenak sembari menikmati aneka kuliner yang disajikan penduduk setempat.  Ada minuman khas Penglipuran bernama cem ceman, terbuat dari remasan daun cem-ceman, berfungsi untuk menyegarkan dan menyembuhkan panas dalam.  Rasanya asem sepet segar.  Diminum dalam kondisi dingin tentunya lebih nikmat.

Untuk cemilannya, ada donat ketela dan kue klepon.  Ini rasanya nikmat sekali.  Donatnya empuk dengan aroma dan rasa ketela yang kental.  Begitu pula klepon, kue tradisional yang selalu memikat lidah.  Letusan gula merah cair di setiap gigitannya membuat kita tak berhenti sebelum habis *ehm… itu mah saya, yang memang hobinya makan hahahaha*

Tipat cantok khas Bali
Tipat cantok khas Bali

Masih lapar? Butuh makan berat? Cobalah tipat cantok.  Sejenis gado-gado dengan taburan kacang mentik (kacang merah kecil yang direndam hingga tumbuh tunas kecil lalu digoreng).  Harganya Rp. 5000 saja/porsi.  Murah. Sangat murah malah untuk ukuran sebuah desa wisata dengan jumlah kunjungan yang tinggi seperti ini.

*****

Saya, selalu menyukai wisata heritage.  Mencari tahu filosofi di balik sebuah bangunan dan budaya.  Selalu ada keluhuran yang menjadi pelajaran berharga di sana.  Khusus untuk Bali, sesungguhnya hampir semua desa mempunyai konsep bangunan adat yang sama.  Bedanya, desa-desa lain tidak dikemas sebagai desa wisata.  Jadi, jangan heran kalau berkunjung ke Bali, lantas hampir di setiap tempat menemukan pola tata ruang yang sama, terutama di desa-desa tradisional.  Sayangnya, makin kesini, pola tata ruang tradisional Bali ini makin tergerus pola tata ruang modern, terutama di daerah perkotaan.  Selain karena sempitnya lahan, banyak orang yang “gengsi” dengan bangunan tradisonal.  Sedih rasanya.  Semoga kedepannya kesadaran untuk mempertahankan nilai-nilai budaya, adat dan agama yang sangat luhur ini semakin meningkat.  Karena itulah kekayaan kita, Indonesia.

Jadi, tunggu apalagi?

Mau melipur lara, mainlah ke desa Penglipuran yang tenang dan damai.

Yuk, buka koper, siapkan perlengkapan. Jalan-jalan kita menikmati pesona Indonesia

 

Salam

Arni

33 thoughts on “Melipur Lara di Desa Penglipuran Bali

    • Hmmm klo dari nusa dua sih lumayan jauh ya. Beda kabupaten. Nusa dua masuknya kab Badung, sedangkan Penglipuran masuknya Bangli

      Tapi semoga saja salah satu trip bareng oriflamenya jalan2 kesini ya mbak 🙂

    • Hampir semua Desa di Bali mengikuti pola TRTB mbak, bedanya penataan jalan dan letak rumahnya gak se-rapi penglipuran yang memang dibuat seragam semuanya. Tapi kalau tentang tata letak dan ragam bangunan/bale secara umum semua sama

      Tentang karang memadu, biasanya tergantung awig-awig/peraturan desa setempat

      Semoga membantu
      Terimakasih udah mampir 🙂

    • Untuk tata ruang desa, gak semua persis begini. Tapi kalau tata ruang rumah2 keluarga hampir semua seperti ini. Bahkan, keluarga Bali di daerah transmigrasi seperti sulawesi, lampung dll biasanya mengadopsi konsep TRTB ini juga lho

  1. Wah kalau dibali itu rumahnya masih tradisional ya dan tempatnya bagus dan yang paling saya inginkan adalah makanannya saya belum pernah coba makanan khas bali mbak jadi penasaran deh sama makanan khas bali.

    • Di desa masih mas, rumah2 dengan konsep seperti ini. Tapi kalau di kota, udah susah nemuin yang kayak gini, tergerus konsep rumah modern yang semua bangunan nyampur jadi satu. Rumah2 di kota tumbuh ke atas. Bisa jadi karena lahan yang terbatas 🙂

  2. Wah, makasih informasinya Mbak Arni. Beneran bermanfaat inih. Kalau ke Bali kan kami sukanya dateng ke yang itu lagi dan yang itu lagi. Huehehehe… Sepertinya menarik banget berkunjung ke desa Panglipuran ini.

  3. Keren mah kalo sampe dinobatkan jadi desa terbersih di dunia.
    Lingkungan desa yg masih memegang kental budaya tradisional itu seperti adem ayem ngeliatnya yah mbak.. hhee
    Smoga suatu saat nanti bisa melali kesini hee

  4. Bagus ya mbak konsep awig2 ttg perdagangannya
    Tetap rapi dan tidak perlu ada ribut kalau pemerintah pengen menata ruang kota/desa Krn dari awal sudah tertib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *