Tak Ada Istirahat di Pulau Onrust

Pulau Onrust

“Kita udah mau pulang bu?” Tanya Prema saat kami berjalan kembali ke kapal setelah berkenalan dengan Benteng Martello di Pulau Kelor

Fyi, Prema satu-satunya peserta anak dalam trip kali ini.  Awalnya akan ada 4 orang anak, termasuk dua diantara Maliq dan Diaz, putra Mas Yoki (NDI Kids, penyelenggara trip).  Tapi rupanya pas hari H, mereka berhalangan hadir.  Untungnya Prema gak ngambek dan baper.  Dia tetap semangat ikutan trip, meski tak ada anak-anak lainnya.  Malah jadi paling heboh sendiri sampai kakak-kakak peserta lainnya geregetan, antara gemez dan kesel karena Prema heboh bener hahaha.  Maaf ya semua.

“Oh belum.  Kita mau nyebrang ke Pulau Onrust.  Itu pulau besar yang kelihatan di ujung sana,” Jawab saya sembari mengarahkan telunjuk ke sebuah pulau yang tampak lebih besar dari Pulau kelor, tempat kami akan bertolak.

Baca juga :  Menoreh Jejak di Benteng Martello Pulau Kelor

Naik kapal sekitar 10 menit dari  Kelor, kami tiba di  Onrust saat alarm dalam perut mengirim sinyal.  Waktunya makan siang euy. Mas Yoki mengeluarkan bekal roti tawar dan susu kental manis yang disiapkan untuk peserta.  Oh ya untuk air minum, disediakan juga air mineral dalam galon.  Karena itu peserta diwajibkan membawa tumbler agar bisa diisi ulang.  Buat yang masih lapar, di Onrust ada warung makan yang menyediakan aneka hidangan.  Dari ikan segar, ayam hingga sayuran.  Atau kalau lagi pengen ‘ngemil micin’, bolehlah sesekali makan mie instan di sini hehe.  Ada bapak tua yang menjual kelapa muda juga lho.  Asyik to, makan siang di pulau lalu ditutup dengan kelapa muda.  Segar banget.

Pulau Onrust
Suasana di Pulau Onrust

Usai makan siang dan menjalankan ibadah sholat bagi kawan-kawan muslim, kami memulai perjalanan menjelajah Pulau Onrust.  Di antara pulau-pulau lainnya dalam kawasan Taman Arkeologi ini, Pulau Onrust adalah yang terbesar.  Juga yang paling banyak menyimpan cerita sepertinya, mengingat pada masa lampau Pulau Onrust berkali-kali beralih fungsi.

Pulau Onrust Dari Masa ke Masa

Nama Onrust diberikan oleh Belanda karena aktivitas yang tiada henti di pulau ini.  Un-rest : dalam bahasa Inggris yang artinya tidak beristirahat.  Dalam bahasa Belanda ‘Onrust’ juga memiliki arti yang sama.  Namun, sumber lain juga mengatakan nama Onrust berasal dari nama penghuni pulau yang keturunan Belanda yaitu Baas Onrust Cornelis Van Derk Walck.  Entah mana yang benar, yang pasti di pulau ini terukir banyak kisah.

Pulau Onrust
Gambaran Pulau Onrust dari masa ke masa

Sebelum dikuasai Belanda, pulau ini menjadi tempat peristirahatan raja-raja Banten yang secara geografis dekat dengan wilayah Tangerang dan masuk dalam kekuasaan Kesultanan Banten pada waktu itu.  Dulunya, Pulau Onrust dijadikan sebagai tempat penyimpanan air bersih yang disuling secara alami dari air laut.  Tinggalan arkeologis tempat penyimpanan air di Pulau Onrust masih ada hingga sekarang yang konstruksinya hampir sama dengan Pengindelan di Banten.  Bahkan, setelah dikuasai VOC, tempat penyimpanan air ini masih tetap digunakan.

Saya berdecak kagum mendengar penjelasan mas Ary, arkeolog yang menemani perjalanan kami hari itu.  Bagaimana tidak, di masa ratusan tahun lalu teknologi penyulingan air bersih dari air laut sudah ada lho.  Padahal pada jaman dahulu, air tawar bersih tentunya tak sesulit sekarang.  Masa dimana pohon dan hutan masih banyak dan sungai yang masih jernih.

Pada tahun 1610, ditandatangani perjanjian antara Belanda dan Jayakarta yang isinya mengizinkan Belanda untuk mengambil kayu-kayu untuk pembuatan kapalnya dari Teluk Jayakarta.  Dengan semakain ramainya pelayaran, makin banyak pula kapal yang butuh te,pat berlabuh, baik untuk sekedar beristirahat maupun memperbaiki kapalnya.  Belanda kemudian berinisiatif membangun galangan kapal di Onrust yang pembangunannya dimulai pada tahun 1613.

Pulau Onrust
Reruntuhan bangunan di Pulau Onrust

Rupanya tak cukup membangun galangan kapal, kehadiran tentara VOC yang dipimpin Jan Piterszoon Coen justru menjadikan Onrust sebagai tempat konsolidasi tentaranya untuk membumi hanguskan Jayakarta yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Banten.  Pada tahun 1619, Onrust berkembang menjadi galangan besar,  setelah berhasil menguasai kota Jayakarta dan mengganti namanya menjadi Batavia.

Dikuasainya Batavia menjadikan Onrust sebagai pulau pertahanan terluar.  Pembangunannya terus berlangsung, benteng-benteng kecil sebagai pos pengintai, lalu benteng besar di tiap sudutnya.  Lebih jauh, di tahun 1674 dibangun gudang-gudang komoditi, sebagai pelabuhan transit pengiriman ke Eropa.  Pada tahun yang sama dibangun juga kincir angin untuk kebutuhan penggergajian kayu.  Saat berkunjung ke Onrust, ada replika kincir angin sebagai penanda pulau ini.

Pulau Onrust

Perubahan terjadi pada tahun 1800 ketika Inggris melakukan blockade terhadap Batavia.  Semua bangunan yang ada di Onrust dihancurkan.  Pada tahun 1803, Belanda kembali membangun Onrust dan menjadikannya sebagai Pangkalan Angkatan Laut.  Dibangun juga benteng Martello (menara pengintai), sama dengan di Pulau Kelor seperti yang saya tulis di artikel sebelum ini.  Sayangnya ini tak bertahan lama karena pada 1810, Onrust kembali dikuasai oleh Inggris hingga tahun 1816.  Lagi-lagi semua bangunan diatasnya dihancurkan.

Wew! baru sampai di sini aja saya udah narik nafas panjang.  Onrust benar-benar laksana putri cantik yang jadi rebutan.

Tenang… tenang… ini masih akan panjang.  Silakan minum dulu.  Cemilannya jangan lupa ya.  Jangan sampai gara-gara baca ini trus pada haus dan lapar :-p

Pada tahun 1827, Onrust kembali dilirik dan dijadikan Pangkalan Angkatan laut dengan dok terapung untuk perbaikan kapal yang singgah.  Pulau Kelor, Cipir dan Bidadari juga ikut dibangun sebagai pendukung aktivitas di Onrust.  Sayangnya, lagi-lagi tak berlangsung lama.  Pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun Pangkalan Angkatan Laut yang lebih besar di Surabaya dan Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1883. Ditambah lagi adanya letusan Krakatau yang meluluhlantakkan pulau ini.  Peran Onrust kemudian meredup di dunia pelayaran dan perkapalan.

Duh.. saya kok sedih ya.  Semacam habis manis sepah dibuang gitu deh.

Tahun 1933, Onrust kembali dilirik ketika Pemerintah Hindia Belanda membangun karantina haji dan rumah sakit untuk penyakit menular di sini.  Jejak bangunannya masih tersisa hingga kini.  Sebagian besar berupa puing-puing.  Yang masih berdiri tegak dan kokoh adalah bekas rumah dokter, aula dan penjara.

Pulau Onrust

Pulau Onrust
Tempat duduk kami itu dulunya adalah bekas barak-barak calon jemaah haji

“Museum ini dulunya adalah rumah sakit dan rumah dokter.  Di sebelah sana ada aula, dulunya adalah gereja dan dapur umum.  Nah, kalau penjara masih ada juga, didalamnya dijadikan ssemacam museum penjara.  Tapi kita sekarang gak ke sana,” kata mas Ary saat kami tiba di depan museum

Selain berfungsi sebagai karantina haji, sepanjang tahun 1933 – 1940, Onrust juga dijadikan sebagai tempat tawanan para pemberontak yang terlibat dalam “Peristiwa Kapal Tujuh” (HNLMS Zeven Provincien).  Bahkan konon makam para pemberontak ini juga ada di Onrust.  Meski sebagian informasi juga mengatakan kalau makamnya ada di Kelor.   Saat pecah PD II pada tahun 1839, Onrust juga dipakai oleh Belanda sebagai kamp tawanan orang-orang Jerman yang dicurigai sebagai mata-mata.

Bukan hanya Belanda yang memanfaatkan Onrust.  Saat pendudukan Jepang di tahun 1942, Onrust dijadikan sebagai penjara untuk criminal kelas berat.  Bangunan bekas penjara ini juga masih berdiri tegak.  Sayang kami tak sempat mengunjunginya.  Pada tahun 1945 – 1946, Onrust kembali dijadikan tempat tawanan Jerman oleh Sekutu.

Setelah Indonesia merdeka, perjalanan Onrust masih berlanjut.  Di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI, hingga tahun 1960 Onrust kembali dijadikan sebagai Rumah Sakit Karantina untuk penyakit menular.  Pasien yang meninggal kemudian dikuburkan di Pulau kelor.  Inilah sebabnya Kelor sebut sebagai pulau kuburan/pemakaman.  Hingga tahun 1965, Onrust juga dijadikan sebagai tempat penampungan gelandangan dan pengemis sekaligus sebagai tempat latihan militer.

Perjalanan panjang Onrust berakhir dengan pelestarian Gugusan Pulau Onrust oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan.  Tahun 1972, dikeluarkan SK oleh Gubernur Ali Sadikin yang menetapkan gugusan ini sebagai pulau bersejarah dan hingga kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah Jakarta.

Hohoho panjang ya perjalanannya pulau satu ini.  Gimana, masih mau lanjut gak nih? Masih ada cerita horornya lho tentang Onrust.  Yang penakut,  bacanya siang-siang aja ya hahaha

Kisah Horor dari Onrust

Dari museum, perjalanan kami berlanjut ke bagian belakang.  Ada komplek pemakaman Belanda di salah satu sisi.  Ditengahnya tumbuh rindang sebuah pohon besar dengan sulur-sulur panjang seolah memberi tahu bahwa usianya sudah sangat tua.

Yang paling terkenal dari komplek pemakaman ini adalah makam Maria Van De Velde (1693 – 1721).  Ada beragam cerita tentang gadis Belanda ini.  Meski begitu, semuanya berupa kisah tragis.  Tentang seorang gadis dalam penantian yang tak sampai.  Tentang cinta yang tak berujung indah.  Perempuan yang mati muda.  Bahkan konon katanya, hingga kini sosok Maria masih sering menampakkan diri, duduk di bawah pohon besar seolah sedang menanti kedatangan sang kekasih.

Err.. saya kok jadi merinding sendiri nulis ini ya.

Selain makam Maria, ada beberapa makam lain dalam komplek ini.  Umumnya adalah makam para bangsawan Belanda pada masa itu.  Makam Maria menjadi paling terkenal, selain karena kisah tragisnya, bisa jadi karena memang paling jelas penulisan identitasnya.  Makam yang lain, hampir semua tanpa identitas.  Mungkin sudah terhapus oleh berbagai peristiwa atau lapuk dimakan waktu.

Pulau Onrust
Komplek Pemakaman Belanda

Selanjutnya kami berjalan kembali ke ujung pulau.  Masih ada satu komplek pemakaman lagi.  Kali ini makam pribumi.  Konon katanya, merupakan makam para awak kapal Zeven Provincien yang dianggap sebagai pemberontak dan ditawan di Onrust.  Lagi-lagi, tak ada identitas di makam-makam tersebut.

Yang menarik, ada makam yang dibuat secara istimewa.  Dengan ‘rumah’ dan berkeramik.  Didepannya tertulis “Makam Keramat”.  Sebagaian orang percaya ini adalah makam Kartosuwiryo, pentolan DI/TII yang terkenal itu.  Namun, pendapat lain mengatakan ini makam istrinya, Kartosuwiryo sendiri dimakamkan di Pulau Ubi, tak jauh dari Onrust namun sekarang sudah tenggelam.  Makam siapapun itu, saya melihat khusus untuk makam ini tampak bersih dan sering dikunjungi peziarah.

Pulau Onrust
Komplek Pemakaman Pribumi. Makam keramat berada tepat disamping makam pribumi ini

Sejarah  memang selalu menyisakan misteri.  Sejujurnya menelusuri tiap jengkal pulau ini, saya merasakan aura yang, ah tak bisa saya ceritakan deh.  Mungkin karena sudah dijejali kisah-kisah sebelumnya, jadi saya membayangkan sedang berjalan di atas puing reruntuhan, kuburan dan sejenisnya.  Rasanya setiap batu, ranting pohon, dedaunan bahkan hembusan angin sedang berbisik menceritakan kisah dari masa lalu.

Onrust Tak Lagi Bekerja Keras

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa tak ada yang abadi.  Kejayaan akan berakhir pada masanya.  Waktu terus berjalan dan menyajikan kisah-kisah baru.  Onrust yang dulunya tak pernah beristirahat, akhirnya menjadi tua dan lelah.  Kini saatnya Onrust cukup diam, menyimpan kenangan untuk jadi pelajaran bagi anak cucu.  Pulau ini punya pemandangan yang indah.  Di satu sisi, saya melihat sekelompok orang sedang memancing ikan.  Di sisi lain, tampak ada yang mendirikan tenda untuk camping.  Iya, di Onrust diijinkan untuk camping.

Pikiran saya menerawang ke masa lampau.  Tak ada yang kebetulan.  Perjalanan panjang Onrust pastinya dihadirkan untuk sebuah cerita.  Tentang ambisi, tentang kekuasaan, tentang keserakahan, pertahanan, juga tentang cinta dan bahkan kematian.

Mari nikmati setiap jejak ini.  Kelak kita juga akan mengukir kisah untuk anak cucu.  Semoga itu adalah kisah yang baik untuk dikenang.

Sampai ketemu di Pulau Cipir

 

Salam

Arni

 

Referensi :

Penjelasan dari Mas Ary Sulistyo (arkeolog)

Wikipedia Indonesia

 

One thought on “Tak Ada Istirahat di Pulau Onrust

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *