Pesan Toleransi Dari Dusun Jlono Kemuning Karanganyar

Setiap kali traveling, saya belajar banyak hal.  Bertemu hal-hal baru yang memperkaya ruang pikir dan hati.  Apalagi kalau travelingnya ke tempat-tempat yang punya kearifan lokal yang unik, natural dan berbeda dengan kebiasaan di daerah lain pada umumnya, sungguh bikin hati hangat dan bahagia.

Pada dasarnya semua pengalaman traveling sangat berkesan.  Masing-masing memberi warna dan kesan yang berbeda.  Belum banyak memang tempat yang kami kunjungi.  Fyi, tim traveling terbaik saya adalah keluarga kecil kami.  Sejak Prema masih piyik, kami sudah mengenalkannya dengan perjalanan ke banyak tempat di Indonesia.

Libur lebaran tahun ini, kami sekeluarga bertandang ke Dusun Jlono, letaknya di Desa Kemuning, Kec. Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah.   Ikut pulang kampung ke rumah bapak Paryanto dan bu Erna yang kebetulan mau mudik juga.  Beriringan dari Bogor lalu masuk dalam ramainya arus mudik di tol trans Jawa.  Ramai tapi tak macet.  Kondisinya jauh berbeda dengan mudik kami 4 tahun lalu ke Bali atau 3 tahun lalu ke Dieng.  Terjebak macet dimana-mana yang bikin perjalanan terasa sangat melelahkan.

Kami tiba di Jlono saat matahari sudah beristirahat di bilik peraduan.  Mungkin karena posisinya di lereng Gunung Lawu, malam terasa lebih cepat hadir di sini.  Jam 6 sore hari sudah gelap.  Jauh berbeda dengan di Bogor.  Jam 6 mah masih terang, anak-anak baru kelar bermain di lapangan, pulang ke rumah masing.  Hawa dingin langsung menusuk tulang saat kami turun dari kendaraan.  Duuh… kalau gak ingat baru menempuh perjalanan jauh, pasti kami memilih untuk tidak mandi deh.  Airnya sedingin es.  Bikin darah terasa langsung membeku. Usai makan malam yang dimasak dari dapur tradisonal Mbah, karena hari sudah gelap, kami  langsung beristirahat dan belum sempat menikmati keindahan desa.

Memasak dengan tungku begini sungguh sebuah kemewahan di zaman sekarang. Kangen deh jadinya
Dusun Jlono Kemuning Karanganyar
Jlono kala malam

Desa Sejuk dengan Hamparan Kebun Teh, Buah dan Sayur

Brrr… lagi-lagi dingin menyapa saat pintu rumah dibuka saat pagi tiba.  Duuh rasanya saya masih ingin sembunyi dibalik sleeping bag deh.  Tapi khan rugi ya kalau berlibur lantas dipakai buat tiduran saja.  Akhirnya, membulatkan tekad untuk berjalan pagi sekaligus menghangatkan badan dengan bergerak.

Dusun Jlono Kemuning Karanganyar
Ayo main ke kebun teh
Dusun Jlono Kemuning Karanganyar
Mumpung di sini, nikmati udara segar sepuasnya
Dusun Jlono Kemuning Karanganyar
Ayo, panen sayuran!
Dusung Jlono Kemuning Karanganyar
Jeruk segar dari Jlono Kebun jeruk ini menjadi salah satu objek wisata di Jlono. Wisata petik jeruk Kemuning

 

Desa sejuk ini berada di tengah hamparan kebun teh.  Kalau teman-teman pernah melihat kemasan Teh Kemuning, dari sinilah pucuk-pucuk daun teh itu berasal.  Perkebunan teh yang sangat luas dan hijau.  Selain kebun teh, di sini juga ada kebun jeruk, kebun jambu dan aneka sayuran.  Saya ingat, di rumah Mbah (orang tua Pak Paryanto) kami makan sayuran segar yang langsung dipetik dari pohon di belakang dapur.  Rasanya manis, jauh berbeda dengan yang biasa beli di pasar.

Seperti daerah lain dengan hamparan kebun teh yang luas, umumnya menjadi daerah kunjungan wisata.  Sebut saja daerah Puncak di Bogor, kebun teh Rancabali di Bandung, kebun teh Gambung di Ciwidey, kebun teh Tambi di Dieng, kebun teh Pagaralam di kaki Gunung Dempo dan daerah lainnya.  Iya, Indonesia memang punya puluhan kebun teh yang tersebar di berbagai daerah.  Nah, begitupun di Kemuning, desa ini menjadi tujuan wisata yang menarik minat para pelancong.

Selain wisata kebun teh yang selalu menawan, di Jlono juga ada river tubing (keseruannya nanti akan saya tuliskan dalam artikel tersendiri), outbond, dan wisata alam lainnya.

Dusun Jlono Kemuning Karanganyar
Jalan desa yang bersih dan asri

Dusun Jlono Kemuning Karanganyar

Penduduk Dusun Jlono sangat ramah.  Kemanapun kaki melangkah, ada saja yang menyapa kami, minimal dengan senyuman.  Bahkan tak jarang yang mengundang untuk mampir. Dukuh Jlono terdiri dari kurang lebih 60 KK.  Mereka memeluk agama Hindu, Islam dan Kristen.  Kehidupan beragama di desa ini sungguh membuat hati saya terasa begitu damai, terharu dan luar biasa bahagia.

Pesan Toleransi Dari Jlono

Kami sekeluarga beberapa kali berkunjung ke tempat baru saat libur lebaran.   Pernah mengalami lebaran di Dieng, Kendari, Lampung, Cigamea dan lain-lain.  Nah, di Jlono saya menemukan sesuatu yang unik dan beda dari yang lain.

Saat hari raya Idul Fitri tiba, seperti umumnya di daerah lain pasti ada tradisi saling mengunjungi antar sesama warga.  Saling bersalaman dan bermaaf-maafan.  Tapi, di sini yang berkeliling dari rumah ke rumah adalah warga muslim.  Berkunjung ke rumah warga Hindu dan Kristen.  Saat lebaran, yang ramai justru rumah warga non muslim.  Yang menyiapkan hidangan kue kering dan penganan lainnya justru umat non muslim, karena warga muslimlah yang berkunjung dari rumah ke rumah untuk bersilaturahmi dan mohon maaf lahir batin atas kesalahan selama ini.  Ibaratnya, yang “kembali ke nol” adalah yang punya hari raya, karena itu harus rendah hati dengan memohon maaf.

Dusun Jlono Kemuning Karanganyar
Salam Pancasila dari Pura Jonggol Shanti Loka

Rumah Mbah selama 3 hari berturut-turut ramai sekali.  Banyak keluarga dan tetangga yang berkunjung.  Mbah bahkan sengaja “masak besar” untuk menjamu tamu yang datang.  Apalagi, Mbah termasuk tokoh yang dituakan baik dalam silsilah keluarga maupun di lingkungan setempat.

Sebaliknya, saat Nyepi, dimana Mbah dan warga lainnya yang beragama Hindu menjalankan catur brata penyepian (amati geni, amati karya, amati lelungan, amati lelanguan) di Pura, rumah-rumahnya yang kosong dijaga oleh warga muslim.  Setelah brata penyepian selesai, warga muslimlah yang menjamu warga Hindu sebagaimana saat lebaran.

Bahkan saat Nyepi, penduduk desa yang sebagian besar berprofesi sebagai petani rela menghentikan sejenak aktivitas mereka ke kebun dan kegiatan lainnya yang berpotensi ramai.  Menurut Bapak Gimanto, pemangku Pura Jonggol Santi Loka, saat malam tiba Dusun Jlono hening dan gulita.  Warga non Hindu menggunakan penerangan secukupnya. Hanya di dalam rumah, tidak membuat gaduh atau menyetel musik, televisi dan radio.  Sebagian besar warga non Hindu menjalankan ronda, menjaga keamanan dan ketenangan kampung.

Pura Jonggol Shanti Loka Dusun Jlono Kemuning Karanganyar
Ehm! No caption needed

Bahkan, menurut Pak Paryanto, warga yang ingin bepergian untuk sebuah urusan mendesak akan mendorong kendaraannya sampai ke ujung desa, baru menyalakannya di sana.  Agar tidak berisik dan mengganggu ketenangan suasana Nyepi. Selebihnya, mereka memilih untuk tetap berada di rumah.

Saya ingat sekali, saat kami pulang dari Candi Cetho dan Sukuh pada hari Senin, 2 hari sebelum lebaran, warga Hindu sedang sibuk menyiapkan takjil, yang akan dibagikan gratis ke warga muslim sekitar dan terminal bis terdekat, terminal Ngargoyoso.

Lansekap desa berupa perbukitan.  Pura Jonggol Santi Loka terletak tepat di ujung desa.  Posisinya paling tinggi di antara bangunan rumah-rumah penduduk.  Mesjid terletak di ujung lainnya.  Saat pembangunan rumah ibadah, warga di sini bahu membahu saling membantu.  Ucapan selamat hari raya berupa spanduk terpasang manis di sudut jalan.

Di sini, sudah biasa satu rumah berbeda agama.  Anak saya ada yang Kristen. Keluarga besar istri saya Islam.  Sementara kami adalah pemeluk Hindu,” kata salah seorang warga

Pura Jonggol Santi Loka Jlono Kemuning Karanganyar
View cantik dari bale kulkul Pura Jonggol Shanti Loka

Iya.  Mereka memang beragam.  Tapi tetap hidup harmonis satu sama lain.  Perbedaan hadir untuk mengkayakan, bukan menjadi sumber perpecahan.  Inilah aplikasi sila ketiga Pancasila yang sesungguhnya.  Persatuan Indonesia, toleransi yang indah, menggema di dusun kecil di lereng Gunung Lawu.  Dusun Jlono.

Dari banyak tempat yang sudah saya kunjungi, pengalaman di sini sangat berkesan.  Boleh jadi, liburan kali ini paling membekas di hati saya.  Bukan sekedar karena keseruan wisatanya, tapi justru pada kesederhanaan dan bersahajanya warga Jlono.  Sungguh sebuah pelajaran berharga saya dapatkan.

Bahagia sekali berada di sini

Dalam damai tanpa banyak teori

Dalam persaudaraan tanpa sekat

Dalam kerukunan tanpa muatan politik praktis

Bukankah pelangi itu indah karena banyak warna?

Karena kita satu, INDONESIA

Jlono, saya jatuh cinta

I Love you more than 3000, Jlono

 

Salam

Arni

12 thoughts on “Pesan Toleransi Dari Dusun Jlono Kemuning Karanganyar

  1. Toleransinya besar sekali ya Di Jlono, bahkan sampai warga non-muslimnya yang menyambut. Jadi hangat baca ceritanya, semoga toleransi seperti ini bisa menyebar di tanah air. By the way Jeruknya kelihatan enak sekaliiiii 😀

  2. Sungguh sebuah toleransi yang nyata dari lereng Gunung Lawu. Semoga Indonesia kedepannya bisa terlepas dari yang namanya SARA ya mbak. hihi
    Biar hidup kita menjadi lebih bermakna dan tenang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *