Kisah Seribu Pintu Lawang Sewu, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia

Lawang Sewu

“Belum sah ke Semarang kalau belum ke Lawang Sewu,” begitu kata seorang teman beberapa tahun lalu.  Saat itu saya bercerita bahwa sepulang dari road trip ke Bali, kami sempat mampir ke Semarang hanya untuk sarapan lumpia semarang yang terkenal itu.  Dan kami langsun menuju lumpia Gg Lombok yang legendaries.  Setelahnya, cuss tancap gas menuju Bogor.

“Lawang Sewu itu iconnya kota Semarang. Bangunan tua yang punya banyak cerita.  Dari yang seru sampai yang mistis.  Semua ada di sana.  Ayo ke Semarang lagi, nanti kita ketemuan.  Aku antar deh ke Lawang Sewu,” lanjutnya lagi.  Iya, teman saya ini memang tinggal di Semarang, makanya dia semangat 45 promo wisata Semarang.  Selama ini kami kenal via medsos, berlanjut ke WAG dan akhirnya sampai pada obrolan itu.

Obrolan itu terjadi sekitar 3 tahun lalu. Ndilalah, sampai teman saya kemudian pindah kota karena mengikuti tugas suaminya, saya malah belum kesampaian ke Semarang.  Batal deh kopdarnya.  Kabar baiknya,  dalam salah satu agenda jalan-jalan dan tirta yatra yang diadakan oleh emak-emak di Pura AADJ ternyata memasukkan kunjungan ke Lawang Sewu sebagai salah satu tujuan wisata.  Setelah ke beberapa Pura, Candi Gedong Songo, Eling Bening, Rawa Pening dan Klenteng Sam Poo Kong.  Wow pucuk dicinta ulampun tiba. Horeeee

Baca juga : Damai dan Cinta di Klenteng Sam Poo Kong

Kami ke Lawang Sewu setelah paginya berkunjung ke Klenteng Sam Poo Kong. Di sana saja, matahari sudah bersinar cetar sekali, apalagi di Lawang Sewu, dahsyat sekali panasnya.  Bus yang kami naiki ternyata tidak bisa langsung berhenti di depan Lawang Sewu sehingga kami harus turun agak jauh dan berjalan kaki menyusuri jalan raya.  Wow banget deh rasanya.

Setelah membeli tiket masuk, bersama-sama kami masuk ke area gedung tua dengan banyak pintu dan jendela itu. Ya, Lawang Sewu artinya seribu pintu.  Meskipun sebenarnya jumlah pintu di sana tak mencapai seribu, tapi memang jumlahnya banyak sekali.  Saking banyaknya, penduduk setempat akhirnya memberi nama Lawang Sewu.

Lawang Sewu
Lawang Sewu tampak depan. Foto dari heritage.kai.id

Seribu Pintu, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Bangsa

Lawang Sewu berdiri di atas lahan seluas 18.232 m2, dibangun oleh Hindia Belanda sepanjang tahun 1904 – 1907 sebagai Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat Administrasi Kereta Api – NIS).  Rancangan bangunan ini dibuat oleh Prof. Jacob K. Klinkhamer TH Delft) dan  B.J. Quendag sebagai arsiteknya serta dibantu oleh C.G. Cintroen dalam pembangunannya.  Gedung bergaya arsitektur perpaduan Eropa dan tropis ini selesai pada Juli 1907 dengan sebagian besar bahan bangunan diimpor khusus dari Eropa.

Lawang Sewu berada di Simpang Lima Semarang, berdampingan dengan bangunan-bangunan tua lainnya seperti Gereja Katedral Belanda, Museum Mandala Bakti (dulu pengadilan Hindia Belanda), Wisma Perdamaian (dulunya Kantor Residen) dan di tengah-tengah adalah Wilheminaplein (Taman Wilhelmina) tempat berdirinya Tugu Muda.

 

Lawang Sewu
Daun-daun pintu yang menjadi icon Lawang Sewu

Bangunan Lawang Sewu menjadi unik karena memiliki banyak pintu yang bentuknya besar dan tinggi. Satu pintu memiliki daun pintu berlapis yang berbeda-beda, ada yang dua, tiga dan empat.  Bahkan ada satu pintu yang memiliki enam daun pintu.  Nah, daun pintu inilah yang kalau dihitung jumlahnya mencapai 928 daun pintu.  Saking banyaknya, masyarakat setempat menyebutnya sebagai Lawang Sewu.

Membangun gedung dengan banyak pintu ini bertujuan untuk sirkulasi udara yang cukup, mengingat iklim tropis Indonesia yang tentu saja tak meninggalkan gaya arsitektur khas Eropa dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Uniknya lagi, antar ruangan terkoneksi dengan pintu tepat di tengah-tengah yang jika dilihat dari ujung gedung akan tersambung ke ujung lainnya dalam satu garis lurus. Persis seperti rangkaian gerbong kereta api.  Bisa jadi ya memang idenya dari bentuk kereta api itu sendiri.  Namanya juga kantor pusat administrasi kereta api, sampai gedungnya aja dibuat kayak kereta.

Lawang Sewu
Pintu tengah yang hadir semacam penyambung gerbong kereta

Sebuah dinding kaca patri berukuran besar dengan tinggi lebih dari 2 meter merupakan salah satu daya tarik yang juga sayang untuk dilewatkan. Kaca ini terbagi menjadi empat panel besar yang menggambarkan cerita kemakmuran dan keindahan Jawa sekaligus eksploitasi besar-besaran hasil alam nusantara selama masa penjajahan Belanda. Yang menarik di dinding kaca ini hadir Dewi Fortuna, dewi keberuntungan dalam balutan gaun merah yang bersanding dengan Dewi Sri, Dewi Kemakmuran Suku Jawa.  Akulturasi budaya yang unik.

Lawang Sewu
Kaca yang bercerita

Sejuk menyapa kulit saat masuk ke dalam gedung. Saya lupa, apakah ada pendingin udara dalam ruangan-ruangannya.  Tapi kalau melihat arsitektur bangunan dengan banyak pintu besar dan terbuka lebar begini, rasanya tak perlu tambahan AC deh.  Angin sepoi-sepoi dari halaman juga terasa semilir menyapa.

Sebagai kantor pusat administrasi perkeretaapian, gedung ini tentunya sangat sibuk pada zamannya. Bahkan saat zaman pendudukan Jepang, gedung cantik ini juga dimanfaatkan oleh mereka sebagai markas militer Jepang Kempetai dan Kidobutai.  Salah satu peristiwa bersejarah terkait gedung ini adalah pecahnya Pertempuran Lima Hari di Semarang (14 19 Oktober 1945) antara Pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan Kempetai dan Kidobutai. Meski dimenangkan oleh AMKA, namun korban jiwa orang Semarang cukup banyak, mencapai 2000 orang sementara dari pihak Jepang sekitar 80 orang.

Lawang Sewu
Tugu Muda Semarang. Foto dari Wikipedia

Tugu Muda Wilhelminaplein yang didirikan pada tahun 1951 di seberang Lawang Sewu ditujukan untuk mengenang para pahlawan yang gugur di Pertempuran Lima Hari tersebut. Selain itu, ada juga bekas makam di area Lawang Sewu yang diberi penanda berupa potongan rel kereta api yang dibenamkan secara vertical dan menyembul keluar sekitar 20 cm.  Ah, saya telat mengetahui infonya, waktu ke Lawang Sewu kemarin gak sempat lihat penanda ini.  Sepertinya memang harus menjadwalkan kunjungan ulang  ke sana deh.

Perjalanan panjang Lawang Sewu yang berkali-kali beralih kepemilikan dan berganti fungsi, sebagaimana dilansir dalam website heritage.kai.id bisa dilihat dalam ringkasan berikut :

  • Sejak bulan Juli 1907 digunakan sebagai Kantor Pusat Administrasi NIS.
  • Pada tahun 1942-1945 Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang dan digunakan sebagai Kantor Riyuku Sokyoku (Jawatan Transportasi Jepang)
  • Tahun 1945 menjadi Kantor Eksploitasi Tengah DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia).
  • Tahun 1946 dipergunakan sebagai markas tentara Belanda sehingga kegiatan perkantoran DKARI pindah ke bekas kantor de Zustermaatschappijen.
  • Setelah pengakuan kedaulatan RI tahun 1949 digunakan Kodam IV Diponegoro
  • Pada tahun 1994 gedung ini diserahkan kembali kepada kereta api (Perumka) yang kemudian statusnya berubah meniadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).
  • Pada tahun 2009 dilaksanakan restorasi oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero)
  • 5 Juli 2011 dilakukan peresmian Purna Pugar Cagar Budaya Gedung A Lawang Sewu

Lawang Sewu

Lawang Sewu
Salah satu isi ruang pamer Lawang Sewu

Saat ini, Gedung Lawang Sewu lebih banyak dimanfaatkan sebagai museum yang berisi koleksi dari masa ke masa tentang perkeretapian di Indonesia. Beberapa koleksinya antara lain : mesin Edmoson, mesin hitung, replica lokomotif uap, koleksi Alkmaar, dan lain-lain.  Di salah satu bangunan dekat pintu keluar juga terdapat perpustakaan yang berisi bukubuku tentang kereta api.  Selain itu, gedung-gedung ini juga disewakan untuk kegiatan pameran, ruang pertemuan, festival, bazaar, pentas seni dll.

Lawang Sewu
Ruang perpustakaan Lawang Sewu
Lawang Sewu
Maaf, sekali lagi saya numpang narsis

Baca juga : Tips Naik Kereta Membawa Koper

Kisah Suram dari Ruang Bawah Tanah Lawang Sewu

Gedung tua yang satu ini memang menyimpan banyak kisah. Buka sekedar berganti kepemilikan dan fungsi, tapi juga kisah sedih yang menyayat hati.  Kisah itu berasal dari ruang bawah tanahnya.

Pada zamannya, gedung ini dibangun dengan sirkulasi udara dan air yang diatur sedemikian rupa agar penghuninya tidak kepanasan, mengingat cuaca kota Semarang dan iklim tropis yang tentunya jauh berbeda dengan di Belanda sana. Ya khan, calon penghuni gedungnya wong Londo kabeh.  Iso banjir kemringet deh plus misuh-misuh setiap hari.

Nah, ruang bawah tanah gedung ini digunakan sebagai saluran pembuangan air. Bukan sekedar membuang, tapi juga bertujuan menjaga udara ruangan diatasnya tetap lembab.  Kombinasi saluran air di bawah tanah dan pintu-pintu besar sepanjang  gedung inilah yang kemudian menghasilkan udara sejuk didalam ruangan.   Sayangnya, di masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, saluran pembuangan air ini berubah fungsi menjadi penjara bawah tanah.

Lawang Sewu
Lawang Sewu di masa lampau. Foto dari heritage.kai.id

Duuuuh… hati saya gerimis saat menuliskan ini. Doa terbaik buat mereka yang gugur dalam penjara ini.  Pahlawan-pahlawan yang sebagian besar tanpa nama, tak dikenal dan nyaris terlupakan.

Ruang bawah tanah, tanpa penerangan, tanpa sirkulasi udara yang baik, sumpek, sempit, benar-benar menjadi ladang pembantaian yang menggambarkan kekejaman Jepang pada masa itu. Menurut literatur yang saya baca, ada tiga jenis penjara di ruang bawah tanah ini :

Penjara Jongkok : Berupa sebuah ruangan berpetak-petak berukuran kurang lebih selebar 1,5 m dan tinggi  1 m.  Di ruangan ini, tahanan sejumlah 7 – 8 orang harus jongkok terus dengan kondisi kaki terendam air dan terkurung jeruji besi.  Dibiarkan begitu sampai meninggal.

Penjara berdiri : Hampir mirip penjara jongkok, hanya saja ini lebih tinggi ukurannya sehingga tahanan bisa berdiri. Ruangan sempit, lalu dibiarkan berdesakan sampai meninggal.

Penjara Pemasungan Kepala : Tahanan dipasung dengan pedang dan setelahnya badan dan kepalanya ditenggelamkan begitu saja ke aliran air bawah tanah yang mengarah ke sungai.

Tuhaaaaan….

Mengetik bagian ini bikin saya bergidik sendiri. Membayangkan masa-masa itu sungguh saya tak sanggup.  Betapa ini benar-benar masa suram dalam sejarah Indonesia.  Ada jiwa-jiwa yang tersiksa, ada raga dan rasa yang sedih, ada hati yang merintih pilu, ada pula yang pasrah tak berdaya.  Tak heran, konon katanya hingga saat ini banyak kisah mistis di Lawang Sewu yang berasal dari arwah-arwah penasaran di ruang bawah tanah.  Entahlah, percaya atau tidak, kembali pada diri kita masing-masing.

Saya ingat waktu itu ada seorang bapak, sepertinya guide di sana yang menawarkan untuk kunjungan ke ruang bawah tanah. Duh, nyali saya masih secuil.  Tak berani saya.  Membayangkan kondisi gelap dan suram di sana saja saya sudah merinding.  Apalagi masuk ke dalamnya.  Kapan-kapan deh, saya ngumpulin nyali dulu.

Lawang Sewu
Gak usah ke ruang bawah Tanah. Foto bareng aja di halaman Lawang Sewu

Dibikin Asyik Aja, Dangdutan Yuuuk!

Setelah berkeliling dalam gedung-gedung Lawang Sewu plus foto-foto narsis tentunya, saya menuju halaman yang tampak riuh. Rupanya, di bawah pohon rindang tepat di tengah halaman ada sekelompok pemain musik lokal yang menghibur pengunjung dengan lagu-lagu riang.  Bisa jadi untuk menghilangkan kesan seram dan angker dari Lawang Sewu.

Rombongan kami dong, duuuh ya emak-emak ini, kalau udah dengar musik langsung auto joget jadinya. Teringat saat di Eling Bening, sampai maksa para pemain band yang tampaknya ngerock banget buat bawain lagu dangdut karena emak-emak mau joget.  Nah, di sini juga dong.  Cucak Rowo, jadi lagu wajib para emak.

Baca juga : Terkenang Bening di Eling Bening

Lawang Sewu
Ini asyik banget lho mereka nyanyinya
Lawang Sewu
Yuk maaaaak…..!

Dan ya, jadinya seru banget. Pengunjung lain sampai ngumpul nontonin kami hahaha.  Suasana siang yang panas jadi riang.  Sepertinya para mahkluk astral di sekitaran Lawang Sewu melipir sejenak deh, kami pengunjung yang berisik soalnya.  Atau jangan-jangan langsung pada ngungsi ke ruang bawah tanah dan tutup kuping ya #ups.  Maafkan kami ya, mengganggu ketenangan kalian

Begitulah, di tempat seribu pintu ini banyak kisah yang pernah terjadi. Dari masa kejayaan perkeretapian, pertempuran hingga kisah kelam menyayat hati.  Semoga di masa depan, kisah-kisah yang tercipta adalah kisah bahagia.  Biarlah gedung tua berdaun pintu banyak ini terus berdiri tegak, mengiringi perjalanan bangsa ini memasuki era baru setiap waktu dan mencatat prestasi terbaik anak bangsa.  Semoga Lawang Sewu tetap ada dan menjadi pelajaran berharga untuk generasi penerus.  Mencintai bangsa ini, mengetahui sejarahnya dan memetik hikmah dari setiap peristiwa. Karena daun-daun pintu itu akan melihat, mendengar dan kelak bercerita dalam diam.

 

Salam

Arni

 

Sumber Pustaka :

Wikipedia

https://heritage.kai.id/

85 thoughts on “Kisah Seribu Pintu Lawang Sewu, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia

  1. Saya pernah ke Lawang Sewu mb, tapi waktu itu masih masa pemugaran. Menjelang maghrib pula kami sampai di sana. Masuk toiletnya yg besar itu, haduhh rasanya nggak berani sendirian di maghrib itu saat ke toilet ala Belanda itu, hehe.

    Tahu cerita tragis penjara bawah tanah dari acara Jalan2-nya salah satu stasiun televisi.
    Waktu itu dijelasin juga beberapa tempat yg digunakan sebagai penjara berdiri dan tempat pembuangan mayat setelah dipenggal dialirkan ke saluran air keluar dari gedung menuju sungai dekat Lawang Sewu itu.

    Bener mb, semoga arwah para pahlawan di sana. Diterima di sisih-Nya dalam kondisi husnul khotimah dan syuhadah.
    Aamiin.

    • Aku gak sempat ke toiletnya. Haduh, untung pas ke sana gak kebelet pipis. Kayaknya klo beneran pengen BAK pasti minta ditemenin deh hahaha

  2. Ke Semarang harus banget ke Lawang Sewu ya mb, dan wajib foto mainstream di pintunya juga hihi. Saya beberapa kali sudah ke Semarang. Kalau ke Lawang Sewu ini memang terasa auranya gimana gitu ya. Apa cuma perasaan saya aja. Ya karena itu tadi banyak kisah yang membuat Lawang Sewu ini sering menjadi tempat uji nyali bila malam hari.

    • Lokasi foto sejuta umat ituuuu
      Tapi ya gitu, kalau ke sana dan gak foto di pintu legendaris itu pasti rasanya ada yang kurang to

  3. Ooh ternyata awalnya berfungsi sebagai kantor administrasi KAI ya?! Baru tau sayanya. Taunya cuma gedung yang punya banyak pintu.

    Serem banget sih ya, penjaranya kayak gitu, kejam sekali tentara Japan dulu. Pantesan banyak cerita serem di sini, bahkan kalo gak salah pernah dipakai buat syuting uji nyali kan ya??

    Jadi penasaran kayak apa bentuk ruang bawah tanah….

    • Iya mas, kantor pusat administrasi KAI, makanya gedungnya panjang kayak kereta hehe
      Aku gak penasaran sih sama ruang bawah tanahnya, cukup tahu kisahnya aja. Kalau diajak masuk mah ogaaah, takut kebayangbayang malah gak bisa tidur nanti

  4. 2 tahun di semarang, seminggu bisa 2 kali lewat tapi ntah kenapa kakiku berat buat ke lawang sewu, padahal semua temen-temen kesana, maklum penakut

    tapi pas liat keseruan foto dan cerita kakak, ternyata rame juga ya hihi

  5. Saya juga pernah kesini mbak, dan malah ingin menyusuri penjara bawah tanahnya. Tapi ngga boleh sama guidenya karena terlalu beresiko,saya kesana malah hari soalnya. Takutnya bisa masuk ngga bisa keluar lagi.

  6. Saya juga orang semarang mbak, sudah berkali-kali ke tempat ini. Hawanya memang sejuk sekali di sana. Beruntung mbak datang sekarang. Lebih tertata dan cantik. Kalau lawang sewu yang dulu cukup lebih ngeri mbak. Hehehe

  7. Lintang says:

    Saya pernah ke Lawang Sewu ka, tapi ngga pake guide. Iyaa memang saat itu kami melewati lorong ruang bawah tanah. Tapi saya memutuskan ngga turun, entahlah seperti suram, gelap dan menyeramkan. Ternyata memang ada kisah kelam ya di dalamnya. Penjara yang mengenaskan, ngebayangin jongkok dan kaki terendam air.

    • Huaaaa aku lewatin lorongnya aja gak berani mas
      Ngeriiiii. Takut kebayang-bayang dan gak bisa tidur
      Salahnya aku sih, baca sejarah Lawang Sewu malah sebelum ke sini
      Jadi udah ngeri duluan sejak datang

  8. Setuju! Belum ke Semarang kalau belum ke Lawang Sewu. Artinya, aku juga harus balik lagi ke Semarang. Padahal ini kota kelahiran. Sungguh ironis, hahaha …

    Sewaktu kesana, tempat penginapan tuh cuma tinggal nggelinding buat ke Lawang Sewu. Tapi anak-anak demam tinggi dan akhirnya kami ngendon di kamar sampai besoknya waktu pulang, hahaha … Sedih banget.

    Kalau kesana, sepertinya aku pikir-pikir lagi buat menuju ke bawah tanah. Tapi penasaraaan. Turun atau nggak, hayooo?

  9. Dan pada akhirnya sebanyak apapun bangunan modern berdiri di Kota Semarang sekarang, gak ada yg lebih canggih dan lebih ramah lingkungan arsitekturnya seperti Lawang Sewu ya mba. Jadi, totalnya itu ada 928 daun pintu toh. Hihihi. Dulu saya ke Semarang juga cuma numpang lewat depannya doang. Nyesal gak mampir dan belum kesampaian juga sampai sekarang. Semoga setelah kami sekeluarga tinggal di Surabaya, kapan-kapan bisa tur ke sini. Amin.

  10. Mbak hatiku juga ikutan gerimis membayangkan penjara-penjara tersebut, semoga mereka tenang di alam sana ya. ALhamdulillah tulisannya ditutup sama dangdutan ya, hehe. aku belum pernah ke lawang sewu, cm sering lewat aja hehe smg bs kesana

    • Sedih banget memang kalau bayangin masa-masa itu
      Kejam sekali Jepang memperlakukan pribumi hiks
      Semoga nanti sempat ke sana ya mbak

  11. Belum pernah kesana. Tapi selalu penasaran. Apalagi baca cerita mba ini, makin penasaran banget lah ini. Serem tapi bikin penasaran

    • Haha aku juga dari dulu penasaran
      Sempat lihat di acara uji nyali, makin penasaran
      Tapi pas ke sana ya tetap gak berani ke ruang bawah tanah juga sih
      Aku penakuuuuut

  12. Wah, semakin menarik ya Lawang Sewu, ada perpustakaannya. Pernah beberapa tahun yl ke sana, malah ikut-ikut ke bawah juga. Nebeng rombongan orang. Kalau sendiri ya engga berani…Katanya sekrang ada tour malam hari juga ya…

    • Iya, aku sempat lihat ada yang ngadain tour malam hari di Lawang Sewu
      Salut deh sama para pesertanya, emang beneran nyalinya kelas berat semua haha

  13. Aku dari boyolali tapi mau ke lawang sewu belum pernah kesampean sampai sekarang, Setelah baca ini jadi tambah pengen kesana. do’akan ya mbak semoga tahun ini bisa kesana

  14. Lawang sewu memang tempat yang harus dan wajib dkunjungi kalau ke semarang, btw aku kok ga foto perpustakaan ya wkwwk. Aku ke lawing sewu penasaran mau berdiri di Balkon sepertinya hanya untuk prewedd deh..

    • Iya, buat prewed di sini pasti cakep deh
      Latar gedung2 tua. Serasa di Eropa ya
      Perpustakaannya ada di pojok, dekat arah pintu keluar

  15. Bangunan zaman penjajahan kenapa serem2 yak. Aku yg belum pernah kesana aja udah bayangin serem kalo malem kayaknya. Tp bagus bangunannya, instagrammable.

    • Kalau urusan instagramable hampir semua bangunan tua peninggalan Belanda cakep-cakep arsitekturnya. Harus diakui selera seni mereka tinggi juga kalau urusan gedung gini

  16. Ya ampun bener Mbak Arni… saya juga auto-ngerii ngebayangin gimana tuh penjara jongkok kok ya menyiksa banget, gak berprikemanusiaan ya ngalah2in penjara Guantanamo. Nice info Mbak jd “ikutan” ngerasain jalan2 ke Lawang Sewu

  17. Saya ke Lawang Sewu saat museumnya belum difungsikan, masih dalam tahap pengerjaan. Memilih didampingi guide sehingga diajak ke penjara juga ruang lotengnya. Bikin bergidik memang. Dan benar gedung ini tanpa AC, karena jendela besar serta sistem pembuangan/saluran air telah membuat ruangan jadi sejuk.

    • Kalau didampingi guide lebih enak kayaknya
      Jadi bener2 diajak menjelajah
      Aku waktu ke sana gak pakai guide, numpang pepotoan dan dangdutan aja deh haha

  18. Duh belum pernah ke Lawang Sewu, serem aja bawaannya. Tapi liat poto2 nya tmptnya bersih dan rapi ya..trus spot fotonya jg kece2 jadi mupeng..mungkin sy harus beramai 2 perginya hehe..

    • Dulu sih katanya memang serem mbak
      Tapi sekarang sudah jauh lebih bersih dan terawat. Kesan seramnya sedikit demi sedikit memudar. Apalagi letaknya di pusat kota Semarang, jalanan sekitarnya cukup rame

  19. Aku pernah ke lawang sewu sekitar tahun 2008
    Cuma nggak masuk. Makan nasi kucing di sampingnya doang malammalam terus main di taman di tengahtengah itu

  20. Tulisan ini mengobati rinduku. Eh, emangnya pernah ke lawang Sewu. Huhuhu. Aku orang asli semarang mbak, tetapi sejak kecil dibawa merantau dengan orang tua ke Sumatera. Suatu saat semoga bisa jalan jalan dan pulkam ke Semarang. Singgah ke Lawang Sewu.

  21. Saya belum pernah ke Lawang Sewu, semoga bisa kesampaian juga menginjakkan kaki disini , Saya pengen liat penjaranya, ngumpulin nyalinya dari sekarang deh 🙂

  22. Benar banget mbak, nggak sah rasanya ke semarang tanpa mengunjungi lawang sewu. 4 tahun lalu aku pernah diajak kesana, tapi cuma sampai depan pintu doang karena sudah malam dan udah ada yang kesurupan (beneran nyampe kesana cuma buat nonton orang kesurupan doang wkwk). Enak banget kayaknya kalau bisa kesana lagi tapi siang-siang

  23. Wah belum pernah ke sini. Luar biasa ya sejarah dibaliknya. Ternyata ada perang besar 5 hari yang jumlahnya luar biasa itu korban. Aku kok rasanya jadi gimana ya baca yang tadinya buat sirkulasi udara berubah jadi penjara kok magis gitu ya….

  24. Aku ke Semarang baru lewat doang, mba.
    Memang benar banget itu, bisa disebut belum pernah ke Semarang. Lawang Sewu dibalik foto-foto tjantiknya yang bertebaran, ternyata menyimpan kisah yang memilukan juga.

  25. Menarik ya, bisa jalan-jalan ke tempat baru bersama keluarga dan bisa ajak anak-anak pula sambil belajar banyak tentang sejarah bahasa Indonesia.

    Penasaran juga, jadi pengen kesini jika berkunjung ke Semarang lagi.

  26. Lawang sewu, satu sejarah yang menurutku mempunyai banyak makna.
    lawang sewu pertama bangunannya untuk perusahaan kereta dan dipakai buat tahanan juga. atpi mistis juga sih apalagi yang dibawah hehe

  27. Pas ke Semarang, belum jadi berkunjung ke tempat ini. Terkenal banget sih Lawang Sewu. Cerita-cerita tentang gedng ini menarik, bahkan ada film horornya juga dulu tuh.

  28. lawang sewu menjadi saksi sejarah dan cerita perjalanan Indonesia dari masa ke masa. Banyak cerita sjaib dan juga hal menarik yang bisa di tilik dari lawang sewu.
    Tinggal bagaimana merawatnya sehingga bangeunan ini tetap jadi landmark sejarah yang tak lekang dimakan jaman

  29. Sebelum pandemi aku sempat ke Semarang dan diajak teman ke Lawang Sewu krn hotel tempat nginap dekat situ. Pengen sih, tapi takut. Eh ternyata cantik juga ya. Jadi nyesel.. Ntar deh aku ke sana lagi.

  30. Saya beberapa kali melintas di depan Lawang Sewu ini, namun malah belum pernah masuk ke dalamnya. Bangunan ini dan gedung2 lain di kota lama Semarang cukup terawat, salut utk Pemkot nya

  31. Sampai saat ini aku belum pernah kesana mba, dan abis baca ini jadi makin penasaran rasanya. Beneran deh, selama ini aku mikirnya lawang sewu tuh menyeramkan lho mba, tapi rupanya dibalik itu banyak nilai-nilai sejarah Indonesia didalamnya. Proud it!

  32. Kayaknya memang ya, ruang bawah tanan yang kebanyakan di bangun di masa Belanda, dimanfaatkan untuk aliran air biar gedungnya adem. Sementara di jaman Jepang, dijadikan penjara semua.

    Rasanya Jepang memang lebih kejam walau sebentar masanya.

  33. Aseekkk bisa wisata sambil joget. Hahaha. Aku belum pernah ke Semarang. Mau deh nanti foto-foto juga di Lawang Sewu yang penuh kisah.

  34. Visya Al Biruni says:

    Dua kali ke Semarang dua kali ke Lawang Sewu somehow ngga pernah bosan. Mengingatkan pada perjuangan pahwalan tempo dulu yang walaupun namanya ngga tersebut banyak tapi mereka memberikan dampak.

  35. Di Lawang Sewu juga ada ruang bawah tanah ya? Itu sebagai penjara, aku bayanginnya merinding ada penjara pemasungan kepala.
    Tapi aku cukup penasaran jg sama lawang sewu, secara aku blm pernah masuk ke dalamnya, cuma lewat di depannya aja.

  36. Aku baru sekali ke Lawang Sewu dan bayangannya adalah dulu adalah ada zaman2 di mana kantor sangat riuh sekali oleh masing2 pekerjaan, namun lebih luas daripada itu ya. Belum sempet naik ke lantai 2nya juga 🤧

  37. Aku pernah ke Lawang Sewu pagi2 sekali mbak pas baru buka, sendirian.
    Penjaganya di sana masih bersih2, aku keliling sendirian.

    Dan sempat ngalamin kejadian horror hehehehe
    Abis itu duduk deh di bawah pohonnya.
    Sambil nunggu pengunjung lain buat ikut tour bareng hahaha
    takuut

  38. Ahh..kangen Semarang. Terakhir kesana waktu masih kuliah di Yogya duuh so yesterday banget deh. Tadinya mau ke Solo trus mo mampir Semarang sebelum pandemi kemarin tapi gagal. Semoga setelah pandemi ini berakhir bisa ke sana, mau mampir ke Kudus juga.

  39. Membayangkan pembantaian di Ruang Bawah Tanah bikin merinding ya mbak, kebayang merindingnya kalau lihat langsung. Boleh lihat langsung Ruang Bawah Tanahnya nggak mbak?

    Aku tuh 2 kali dinas ke Semarang tapi belum pernah mampir ke Lawang Sewu, cuma sempat lihat dari luarnya saja.

  40. wahyuindah says:

    Yah, kenapa gak jadi ke ruang bawah tanah mbak. lawang sewu kan identik dengan cerita mistik dari sana. ntar kalau nyalinya udah terkumpul ke sana mbak. bismillah… eh wani ora yo… aku aja juga gak berani. hehe…

  41. Dan saya udah ke simpang lima semarang tapi ga ke lawang sewu nya..hiks sedih ..hanya melihat dari luar saja… padahal banyak cerita dan kisah didalamnya..jadin pengen ke semarang

  42. Huwaaaaa…. kukangen Semarang, Lawang Sewuuu hehehe.

    Dulu saya merinding loh pas ada di kaca warna warni itu, ngga tahu kenapa.
    Padahal di siang bolong.

    Mungkin karena udah takut duluan sih, jadinya kayak serem-serem sendiri hehehe

  43. Saya sudah sah ke semarang dong, sudah mampir ke Lawang Sewu. Ke Semarang pas ada kerjaan dari kantor, jam istirahat siang menyempatkan ke Lawang sewu. sekitar 1 jam dengan perjalanannya.

  44. Kalo nanti aku bisa mampir ke Lawang Sewu, sbnrnya tur ke bawah tanahnya yg menjadi incaran utamaku mba :). Krn naikin adrenalin sih, dan aku suka hal2 yg extreme gitu.. walopun pasti ada rasa seram saat ngebayangin kondisinya yaaa. 🙁

    Bangunan2 peninggalan Belanda ini memang banyaaak yg bgs2. Apalagi arsitektur dalamnya.. Yg bisa sejuk walo mungkin ga pake pendingin.

  45. Belum pernah ke Semarang jadi belum banyak tahu tentang Lawang Sewu ini but least dengan postingan ini saya dapat rekomendasi tempat yang bagus nih jika nanti ada kesempatan jalan2 ke sana. Wajib singgah di Lawanng Sewu.

Leave a Reply to Arni Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *